RSS

Nilou: Sepatu made in Bali yang Berkilau di Aussie

19 Jul

Berawal dari obsesi masa kecil untuk memiliki sepatu yang pas di kaki, ketika dewasa Ni Luh membangun bisnis alas kaki. Semula, ia berkongsi dengan mitra. Tapi ambruk. Ia lalu mendirikan usaha sendiri, dan berhasil. Kini, sepatu tumit tinggi bermerek Nilou sudah dipajang di ratusan etalase yang tersebar di 20 negara.

Apa yang dirasakan di masa kecil, kadang terus membekas hingga dewasa. Obsesi Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik di masa kecil sungguh sederhana: ia hanya ingin memakai sepatu yang pas di kaki. Sewaktu sekolah, Ni Luh harus memakai sepatu tiga hingga empat nomor lebih besar dari ukuran kaki mungilnya. “Saya harus menyumpal ujung sepatu dengan kapas biar pas dan tidak terjengkang ketika melangkah,” kenang dia, tergelak.

Sebenarnya, Ni Luh bukan berasal dari keluarga miskin. Namun, karena sang ibu, Ni Nyoman Palmi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah mahal, maka mereka harus menyesuaikan pengeluaran dana. Sepatu, kata Ni Luh, tidak termasuk dalam daftar barang yang wajib dibeli di tiap tahun ajaran baru. “Waktu itu, saya tidak bisa berkata kalau hidup kami kekurangan,” kata Ni Luh, seperti dikutip Jakarta Post. “Kami hanya menyesuikan gaya hidup demi mendapatkan pendidikan terbaik,” imbuh dia. Dahulu, ibunda Ni Luh yang seorang janda itu, dengan gigih menyekolahkan anak-anaknya di Saraswati, sekolah terbaik di Bali, pada waktu itu.

Saking sebalnya memakai sepatu yang selalu kegedean, suatu ketika, Ni Luh berjanji ke ibundanya bahwa bila kelak ia akan membeli sepatu yang ukurannya pas dengan kakinya. Setamat SMA, Ni Luh hijrah dari Kintamani ke Jakarta. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma sambil bekerja di sebuah perusahaan tekstil asal Jerman. Waktu itu, ia bekerja serabutan. Mulai dari resepsionis, kasir, sampai menjadi asisten dari beberapa sekretaris.

Begitu mendapatkan gaji pertama, ia pun langsung melaksanakan nazar membeli sepatu yang sesuai ukurannya di sebuah toko di kawasan Blok M, Jakarta. Ia memilih sepatu bertumit tinggi (high heel) seharga Rp15.000. “Sepatu pertama saya yang pas di kaki, sungguh tak nyaman dipakai,” kata dia, kesal. Rasanya, sambung dia, kaki seperti disiksa. Padahal, saat itu Ni Luh harus berdiri di kereta selama dua jam dan delapan jam berdiri di kantor, sebelum menuju kampus untuk mengambil kuliah malam.

Seiring dengan membaiknya kondisi keuangan, Ni Luh pun akhirnya mampu membeli sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati. Satu tahun setelah lulus kuliah pada 1999, Ni Luh pulang kampung ke Bali dengan menentang 200 pasang sepatu! Sepatu-sepatu itu ia beli di Jakarta selama periode 1994 sampai 1999.

Di Bali, ia kembali mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion, tapi kali ini milik pengusaha Amerika. Tapi, passion pembaca setia novel-novel karya John Grisham ini tak pernah lepas dari sepatu tumit tinggi.

Ia benar-benar terobsesi oleh “kekurangan” dia di masa lalu. “Saya punya prinsip bahwa tiap perempuan seharusnya bisa memakai sepatu dengan tumit setinggi 12 cm dengan nyaman,” tegas dia, seperti dikutip Villa and Yacht Magazines.

Kini, Ni Luh memiliki brand sepatu sendiri bertajuk Nilou. Sejumlah selebriti Hollywood papan atas, seperti Uma Thurman, Julia Roberts, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, dan Robyn Gibson (mantan istri Mel Gibson) merupakan sebagian perempuan yang fanatik memakai sepatu Nilou. Sepatu made in Bali ini kini dipajang di ratusan etalase di 20 negara di dunia, selain di kantor pusat Nilou di Denpasar. “Kalau Uma beli sepatu Nilou di Saint Barth.” bisik Ni Luh, merujuk ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Karibia.

Tiga Pasang Untuk Pajangan

Cerita Ni Luh membangun bisnis sepatu tak semudah membalik telapak tangan. Ia sempat mengalami jatuh bangun sebelum akhirnya menuai kesuksesan. Pada 2003, ketika menjabat sebagai direktur pemasaran di sebuah perusahaan garmen terkemuka di Bali, Ni Luh ingin berpindah kuadran. Bersama rekannya dari Perancis yang juga pecinta sepatu, ia mendirikan usaha pembuatan sepatu. Tapi, sayangnya, bisnis patungan itu ambruk.

Tidak terlalu lama tenggelam dalam kesedihan, Ni Luh kembali mencoba peruntungan di bisnis sepatu. Kali ini ia berjuang sendiri. Pecinta shopping dan travelling ini menggunakan uang tabungan sebesar Rp3 juta untuk modal awal, kebanyakan ia gunakan untuk menyewa tempat usaha. Penampilan toko pertamanya jauh dari kesan eksklusf. Temboknya kusam, beberapa bagian kayu sudah mulai lapuk, dan sebagian ruangan masih berdinding anyaman bambu (gedhek).

Di awal pendirian, Ni Luh membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk menyelesaikan satu desain sepatu. Alokasi waktu paling lama untuk berdiskusi dengan tukang. Biasanya, ia menunjukkan sepatu mahal koleksinya ke tukang. “Saya tanya ke mereka, bisa nggak bikin yang lebih bagus dari ini,” kata penggemar alas kaki karya Manolo Blahnik dan Christian Louboutin ini. Ia lalu memberi gambaran detail apa saja yang harus ditempel dan bahan apa yang dipakai untuk hiasan.

Saking tipisnya modal usaha, anak pasangan Ni Nyoman Palmi dan I Putu Djelantik ini hanya mampu memajang tiga sepatu di etalase toko. Biar tak merugi, Ni Luh menyiasati baru akan membuat sepatu kalau ada yang memesan. Tak cuma sepatu, Ni Luh pun menerima pesanan tas dan ikat pinggang.

Seiring dengan berjalannya waktu, untuk membesarkan usaha, Niluh nekat meminjam Rp15 juta dari bank. Modal tambahan itu sebagian besar digunakan untuk memperbaiki penampilan toko, dan tentu saja belanja modal. Kala itu, ia sudah memiliki dua pekerja. Satu tukang sepatu dan satu lagi pelayan toko. Ia pun menggunakan slang namanya, Nilou sebagai brand dan nama toko.

Pada 2004, Ni Luh mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris. Ini membuat pintu perdagangan ke Eropa terbuka lebar.

Keberuntungan tampaknya kembali menaungi perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini. Pada suatu hari, di tahun yang sama, datang seorang perempuan berkewarganegaraan Australia ke gerai Nilou di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di Negeri Kanguru.

“Semula, saya hanya berpikir Nilou sekedar toko sepatu mungil untuk pasar lokal. Siapa yang ingin pesan sepatu cantik, bisa datang ke gerai saya,” kenang dia. Tapi, setelah Sally berkunjung ke tokonya, Ni Luh merasa tertantang untuk membuktikan bahwa karya Indonesia tak seburuk seperti apa yang dibayangkan orang. “Kadang, masih banyak orang asing yang mempertanyakan kualitas produk lokal. Saya ingin buktikan bahwa produk Indonesia memiliki kualitas jempolan,” kata dia, seperti dikutip Tempo.

Fokus Tumit Tinggi

Untuk membedakan dengan produsen sepatu lainnya, Nilou hanya fokus ke pembuatan sepatu dengan tumit antara 10 cm hingga 12 cm, tapi belakangan ia juga menggarap sepatu tanpa hak tinggi. Menurut Ni Luh, sepatu tumit tinggi yang baik adalah sepatu yang tetap nyaman dipakai meski sudah dipakai selama delapan jam. Bukan sepuluh menit.

Itu sebabnya, Ni Luh begitu peduli pada proses pembuatan. Satu tukang, kata dia, bertanggung jawab untuk menyelesaikan satu pasang sepatu. Dari memotong bahan, menjahit, hingga membentuk hak sepatu. “Kalau saya melihat lima pasang sepatu yang berjajar di etalase, saya tahu siapa pembuat masing-masing sepatu itu,” kata Ni Luh. Sebab, antara satu tukang dan tukang lain memiliki gaya yang berbeda, meski hal itu hanya akan tampak di mata Ni Luh seorang.

Menurut Ni Luh, tak masalah jika dalam satu hari workshop-nya hanya bisa memproduksi satu pasang sepatu saja. Sebab, ia begitu peduli soal kualitas produk, bukan kuantitas. Untuk sepatu dengan model tak begitu njlimet, seorang tukang bisa menyelesaikannya dalam waktu tiga jam. Workshop Nilou hanya berjarak 50 meter dari gerai Nilou, yang letaknya persis di tikungan Jalan Raya Seminyak menuju Kerobokan ini.

Kalau di awal pendirian Ni Luh hanya mampu memproduksi tiga pasang sepatu, itu pun hanya untuk barang pajangan, kini Nilou memiliki kapasitas produksi 200 pasang sepatu per bulan. Dahulu, ia hanya memiliki dua karyawan. Kini, ibu satu anak ini dibantu oleh 22 karyawan dan tiga asisten kepercayaan.

Ni Luh mengaku terinspirasi oleh alam dan grafis. Sepatu-sepatunya kebanyakan memakai bahan baku kulit asli, yang kemudian dikombinasikan oleh karung goni, kuningan, kayu, hingga manik-manik. Atas nama eksklusivitas, Nilou menghargai satu pasang sepatunya antara Rp700.000 hingga Rp4 juta.

Jangan khawatir, harga itu sudah termasuk garansi seumur hidup. Katakan, dalam tiga tahun mendatang sepatu yang Anda beli solnya rusak, Nilou akan mengganti karet sol tanpa tambahan biaya apapun. Atau, Anda bisa mendapatkan diskon khusus bila ingin membeli sepatu baru. Setiap bulan, seperti yang dikutip Tempo, omzet perusahaan ini mencapai Rp800 juta. “Kami memang menyasar segmen yang berbeda dengan produksi pabrik, yang begitu sensitif terhadap harga,” terang dia.

Selain mendesain untuk label Nilou miliknya, Ni Luh juga mengerjakan desain untuk sejumlah brand Australia dan Eropa. Secara khusus, Ni Luh mengungkapkan bahwa dirinya membutuhkan waktu delapan bulan untuk memikirkan desain musim yang akan datang. Adapun workshop milik Ni Luh, selain mengerjakan produk Nilou, mereka juga menyelesaikan pesanan untuk sejumlah desainer Australia, seperti Nicola Finetti, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill.

Pasar dalam negeri memang belum begitu familiar dengan Nilou. Sebab, brand ini hanya memiliki tiga gerai di Indonesia, antara lain di jalan Raya Kerobokan, Kuta; Alun-alun Grand Indonesia dan Pasaraya Grande, keduanya di Jakarta. Bandingkan dengan di Australia, di mana Nilou memiliki 35 gerai. Kini, sepatu Nilou mejeng di 20 negara di dunia, di antaranya AS, Perancis, Inggris, Karibia, Jepang, dan Uni Emirat Arab. “Bangga rasanya sepatu kita bisa sejajar dengan produk asing,” kata Ni Luh.

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 01/Januari 2010)

Nilou’s Shoes Emporium.  Jl. Kerobokan 144, Seminyak, Bali. Telp: 0361-7446068. http://www.nilou.com.au

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers

%d bloggers like this: