RSS

Tag Archives: sejarah kantor pos

Antara Chatting dan Cething

retro socmed - crop

Eyang eyang kita di jaman dahoeloe kala mungkin ngiri setengah mati melihat kecanggihan komunikasi jaman sekarang. Dulu di jaman penjajahan Belanda, untuk ngobrol ama gebetan harus lewat surat yang dianter oleh pasukan berkuda (postillons) – yang kelak di kemudian hari, pos-pos pemberhentian kuda itu menjadi cikal bakal kantor cabang PT Pos Indonesia.

Sekarang ngobrol bisa lewat telepon atau chatting. Provider chatting aja macem-macem, bisa lewat SMS, YM, BBM, WA, Line, dan sebutkan sederet instant messenger yang bejibun itu. Mau nelepon juga macem-macem caranya, bisa ke telepon rumah, telepon seluler, sampe via skype yang memungkinkan ngobrol sambil liat bentuk rupa orangnya di layar. Sepertinya gak nyampe seperempat abad silam hal-hal seperti ini cuma ada di film fiksi ilmiah. Kecanggihan teknologi memang cepet buanget cyynn..

Sepertinya pengalaman saya membawa satu kantong (literally) berisi duit receh Rp100 buat nelepon gebetan di Telepon Umum Koin yang tudungnya warna biru – terus berubah oranye (eh, apa kebalikannya ya?) dengan tulisan “TELKOM” itu jadi berasa jadul banget. Sebelum nelpon pun harus survei lokasi. Nyari telepon umum yang lokasinya sepi dan gak pake antre. Saya ngalamin sendiri harus antre telepon berderet-deret. Soalnya ada orang pacaran yang lagi menguasai gagang telepon. Biyuhhh.. Cepetan po-o..

Tapi percayalah, usaha PDKT ke gebetan di masa itu jadi terasa lebih indah. Ada usahanya. Gak kayak jaman sekarang, tinggal pencet dikit langsung nyambung. Hayo, siapa yang inget nomer telepon gebetan? Saya yakin gak banyak. Soalnya si gadget udah menyimpan semuanya.

Soal skype ada cerita sendiri. Seorang kawan bete setengah modar gara-gara budhe-nya sok pamer kalo dia udah bisa skype-an. Laptopnya yang warna pink itu lagi kesambung ke anaknya yang lagi kuliah di Amrik sono. “Eh, itu si Novi lagi di laptop tuuh..,” kata si budhe. Kawan saya bersungut-sungut. Katanya, “Biasa aja kali, budhe..” Yah, harap maklum, bagi sebagian orang, ada hal-hal yang sudah kita anggap biasa menjadi hal luar biasa di mata orang lain.

Saya jadi ingat pengalaman KKN ke sebuah desa di kaki gunung Lawu. Waktu itu, kami menyumbang komputer dan laptop untuk sekolah di desa itu. Pada saat itu, milenium belum berganti. Mata warga desa tampak berbinar-binar melihat sebuah benda kecil kayak map yang dibuka bisa keliatan gambar. Kayaknya wow banget bisa liat film di laptop kecil sumbangan mahasiswa Korea Selatan.

Bagi kawan-kawan dari negeri seberang, sepertinya laptop dan internet adalah hal biasa. Tapi, bagi saya, di jaman itu, untuk mengakses internet harus bersusah payah antre di Lab Komputer kampus (biar gratis) atau ke warnet yang tarifnya udah mahal tapi koneksinya lemot jaya abadi. Bahkan, saat itu, bagi saya yang kuliah di kampus paling muahal di Surabaya aja masih suka bingung membedakan “chatting” dengan “cething” – wadah nasi dari stainless steel itu hehehehe.. #lebay!

Well, baiklah, saya (atau kita) memang pernah bego di masa lalu. Itu wajar. Sebab, sesungguhnya, tidak ada yang lebih tahu di antara kita. Hanya lebih dulu tahu saja, tidak lebih, tidak kurang.

“Any sufficiently advance technology is indistinguishable from magic.” (Arthur C. Clarke)

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers