RSS

Bisnis Otomotif: Masih Menggelinding Manis

15 Jul

Kalau dibandingkan dengan bisnis kuliner, hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup memasuki bisnis otomotif. Maklum, tak semua orang mau memperbaiki kendaraan. Namun, jika masih banyak pria yang terobsesi dengan mobilnya atau masyarakat yang enggan berdesakan dalam angkutan umum, berarti bisnis otomotif masih bakal terus melaju.

Bagi Anda yang berdomisili di Jakarta, coba tebak, berapa jumlah kendaraan bermotor di ibukota? Menurut data Dinas Perhubungan DKI Jakarta (2009), jumlah kendaraan bermotor di ibukota mencapai 9,99 juta. Adapun tingkat pertumbuhannya mencapai 10,9% per tahun.

Sialnya, jumlah kendaraan bermotor ini ternyata lebih banyak ketimbang warga Jakarta, yang tercatat “hanya” 8,51 juta jiwa. Pantas saja kemacetan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Maka, jangan heran jika warga Jakarta harus rela berangkat pukul 5.00 pagi dan sampai kembali ke rumah pukul 21.00 malam, alias 5 to 9. Kebalikan dari office hour yang 9 to 5 itu. Belum lagi badan pegal-pegal karena harus mengendarai mobil/motor, atau berdiri dan berdesakan di kendaraan umum.

Akan tetapi, kemacetan ibukota ini justru menjadi berkah bagi entrepreneur cerdik macam Rahmat Pujianto. Ia melihat banyak karyawan yang sengsara akibat kemacetan. Tapi, di lain sisi, ia melihat perusahaan seakan “tak mau tahu”, yang penting karyawan mereka bekerja setiap hari dan datang tepat waktu. Itu sebabnya, Rahmat merintis bisnis antar jemput karyawan. Perusahaan yang berdiri sejak 2005 ini kemudian diberi nama PT Puji Kurnia Sejati (PKS).

Saban pagi, puluhan bus milik Rahmat setia menjemput karyawan di titik-titik pertemuan yang telah disepakati sebelumnya, untuk menuju pabrik/kantor klien. Saat ini, jasa Rahmat sudah digunakan oleh 30 klien perusahaan. Area antaran mereka melingkupi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, bahkan Bandung.

Bagi klien, tawaran jasa antar jemput milik Rahmat cukup “masuk akal”, yakni antara Rp300.000 hingga Rp700.000. Perbedaan biaya ini tergantung ukuran bus dan jarak antar antara titik penjemputan karyawan hingga pabrik/kantor klien. Angka itu sudah termasuk honor pengemudi, bensin, dan uang tol.

Dalam satu hari, omzet perusahaan antar jemput milik Rahmat mencapai Rp15 juta.

Spesialisasi Unik

Jika Anda tahu banyak tentang kendaraan bermotor dan aksesorisnya, bahkan terobsesi olehnya, Anda memiliki peluang besar untuk menjadi otopreneur (entrepreneur di bidang otomotif). Anda bisa memilih bisnis penitipan kendaraan, cuci kendaraan, cuci helm, rental mobil, kursus stir mobil, antar jemput karyawan/anak sekolah, hingga bengkel.

Semakin banyak orang, terutama pria – yang merupakan target market bisnis ini, terobsesi dengan roda, maka usaha Anda bakal melaju dan terus melaju.

Tak bisa dimungkiri, perputaran uang di jalanan memang besar. Simak saja, selain Rahmat yang sukses mendapatkan omzet sekitar Rp400 juta per bulan dari bisnis antar jemputnya, ada juga Henry Indraguna, pemilik AutoBridal, yang sukses menerima omzet hingga Rp7,5 miliar per bulan dari bengkel cuci mobilnya.

Henry memang fenomenal. Maklum, ia tak sekadar membuka bengkel cuci mobil biasa. Namun, pria kelahiran Bandung, 28 Agustus 1973 ini mampu mengemas layanan cuci mobil dengan gimmic menarik, seperti cuci mobil dengan “ice cream” dan “salju”, atau “spa” untuk mobil. Calon konsumen mana yang tak penasaran untuk mencoba?

Padahal, Henry tidak mengimpor salju dari Eropa atau negeri empat musim lainnya. Melainkan hanya menggunakan racikan sampo mobil tertentu sehingga saat dipakai mencuci dapat menimbulkan efek seolah mobil diselimuti salju. Oleh karena bisnis cuci mobil milik Henry ramai pengunjung, kompetitor pun latah meniru layanan sejenis. Tapi, Henry cuek bebek. “Saya sih nggak khawatir kalau ada yang meniru, karena jelas mereka tidak bisa meniru otak saya,” ujar ayah satu putri ini.

Saat ini, AutoBridal memiliki 90-an gerai, yang mayoritas dikelola dengan sistem franchise. Tak cuma di Indonesia, gerai AutoBridal pun mudah ditemui di Malaysia. Menurut Henry, peluang bisnis cuci mobil (dan motor) masih amat besar. Sebab, “Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia selalu bertambah. Tidak pernah mengalami pengurangan. Berbeda dengan di luar negeri, dalam sepuluh tahun selalu ada pengurangan kendaraan. Tapi tidak di negeri ini,” papar Henry.

Menyusul kesuksesan layanan cuci mobil AutoBridal, Henry pun merilis layanan cuci motor dengan nama MotorBridal, empat tahun silam.

Tak ubahnya pilihan bisnis di bidang lainnya, para otopreneur membutuhkan proses yang panjang untuk bisa eksis dan menjadi pilihan pelanggan. Sedikit berbeda dengan bidang bisnis lainnya, bidang otomotif memiliki entry barrier yang relatif ketat, alias tidak terlalu mudah untuk dimasuki pemain baru. Sebab, di beberapa pilihan bisnis, calon otopreneur butuh skill khusus saat memulai bisnis, misalnya kemampuan mekanika.

Selain itu, para otopreneur juga harus mahfum bahwa bidang bisnis ini memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.

Dengar komentar Ammar Sail, salah satu pemilik sekolah stir mobil YP Ar Rahman, “Namanya juga hidup di jalanan. Kadang, pengeluaran tak bisa diprediksi.” Ia memaparkan, setiap bulannya, bisnis sekolah stir mobil sebenarnya sudah bisa memetik keuntungan hanya dengan membina 25 siswa (dengan biaya pendidikan rata-rata Rp500.000 per siswa). Dari Rp12,5 juta itu sebenarnya sudah mampu menutup biaya operasional satu gerai YP Ar Rahman, seperti biaya bensin, honor pelatih, sewa tempat, dan angsuran kendaraan.

Tapi, namanya juga “Belajar”, tak jarang siswa menyerempet atau menabrak sesuatu. Kalau sudah begini, mau tak mau, pihak YP Ar Rahman harus menanggung biaya-biaya yang mungkin timbul.

Untuk menekan biaya, YP Ar Rahman memilih untuk memperbaiki kendaraan di bengkel langganan. Bila tak ada aral melintang, dalam waktu dekat Ammar dan Ahmad Ramdani berencana untuk mendiversifikasi usaha, dari hanya kursus stir mobil hingga menambah bengkel. “Kalau punya bengkel sendiri lebih nyaman. Berbeda bila kami memperbaiki kendaraan di bengkel rujukan asuransi, kendaraan harus menginap selama beberapa hari. Padahal, kendaraan latih kami terbatas. Kalau satu kendaraan berkurang, satu cabang bisa berhenti beroperasi,” urai Dani, panggilan akrab Ahmad Ramdani. Pasalnya, di YP Ar Rahman menganut sistem, satu gerai cabang, satu mobil. Bila ada satu mobil mengalami kerusakan, maka kursus di gerai tersebut harus ditiadakan.

Memang, bicara soal otomotif, tentu tak afdol jika tak menyinggung usaha bengkel. Sejatinya, bengkel sendiri dibedakan menjadi dua, yakni bengkel perbaikan dan modifikasi.

Meski sudah banyak bengkel yang berdiri, bahkan kadang berdiri berderetan di pinggir jalan, bukan berarti peluang bisnisnya menyusut. “Kita bisa lihat, di sebuah lokasi ada bengkel-bengkel yang ramai. Bahkan, konsumen rela mengantre demi mendapatkan layanan mereka,” tutur Anton Prasetyo, pemilik bengkel modifikasi Bucos. Biasanya, selain cocok dengan kualitas layanan, konsumen merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan.

Anton menuturkan, bengkel Bucos, yang namanya ternyata merupakan singkatan dari Brain Auto Concept and Styling ini, memiliki pelanggan dari kalangan pelajar sekolah menengah atas, selain kawan-kawan nongkrong Anton. “Kami hanya menggunakan word of mouth dalam berpromosi. Kadang, gara-gara ikut kawan nongkrong di bengkel kami, besoknya dia ikutan modif motor di Bucos,” tutur pria kelahiran Solo ini.

Selain menjual aksesoris motor, Bucos juga melayani cat bodi motor, airbrush, chrome, dan tentu saja modifikasi motor, seperti mengganti kaki-kaki motor. Biaya yang dipatok untuk modifikasi berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta, per motor.

Menurut Anton, untuk menarik perhatian pasar, yang kebanyakan adalah generasi muda, Bucos sering ikut perlombaan modifikasi motor, seperti kelas bebek funky atau matic funky. Kalau berhasil menjadi pemenang, nama bengkel Bucos ikut melambung.

Anton mengingatkan, karena persaingan semakin ketat, para otopreneur harus makin kreatif. Misalnya, untuk bengkel bisa melakukan spesialisasi. Misalnya, perkembangan motor skuter otomatic (skuter matic, skutic), tak ada salahnya membuka bengkel spesialisasi skutik. Kalau mau lebih spesifik lagi, Anda bisa merintis bengkel khusus up grade CVT skutic, misalnya. Semakin spesifik, semakin asyik. Sebab, Anda bakal melayani ceruk pasar khusus (niche market).

Jalan Tol Menjadi Otopreneur Sukses

Selain melayani ceruk pasar khusus, Anda harus paham bahwa konsumen sekarang makin ingin dimanja. Bisa jadi karena kemacetan yang makin parah, mereka ingin mendapatkan layanan privat di rumah. Jika bengkel ATPM ternama memiliki bengkel berjalan (mobile service), yang mendatangi lokasi mobil Anda yang mogok di jalan tol, misalnya, maka tak ada salahnya jika bisnis Anda melakukan hal serupa. Bila entrepreneur di bidang kuliner memiliki divisi pesan antar (delivery), rasanya tak berlebihan jika Anda pun memiliki layanan serupa.

Simak gaya bisnis Paul Gunawan dalam merengkuh pasar. Sebenarnya, usaha Paul biasa saja, yakni membuat jok mobil. Bedanya, Paul menawarkan bisnisnya di dunia maya, alias secara online dengan alamat www.jok-mobil.com.

Konsumen tak perlu keluar rumah untuk mengganti jok mobil, cukup klik alamat tersebut, memilih jok yang diinginkan, dan memesannya. Nantinya, tim Jok-mobil.com akan mendatangi rumah pelanggan untuk melepas jok mobil dan membawanya ke workshop mereka di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Barat. Setelah urusan pengerjaan selesai, tim Gunawan bakal memasang kembali jok di rumah pelanggan.

Lalu, bagaimana jika pesanan datang dari luar Jakarta? Jangan khawatir, tim Gunawan akan mengirim cover jok ke alamat pemesan. “Pemesan tinggal mencari tukang pasang jok di kota mereka, dan membayar ongkos pasang,” kata alumnus Universitas Tarumanegara, Jakarta ini.

Bagi Gunawan, tantangan terbesar dari bisnis pesan jok secara online adalah jika konsumen meminta model khusus (customized) atau mengorder jok mobil keluaran terbaru. “Kalau pola jahitannya belum ada, saya harus membuat polanya dulu,” imbuh dia.

Tapi, jika Anda ingin segera memiliki bisnis di bidang otomotif (meski tak punya kemampuan di bidang mekanika), Anda bisa memilih melaju di “jalur cepat”, yakni dengan membeli franchise otomotif. Anda tinggal menjalankan standar operasional yang sudah dipersiapkan franchisor. Seperti memiliki mekanik/montir yang sudah mendapatkan pelatihan sebelum bertugas. Dengan sigap mereka bisa memperbaiki mesin, mengganti aki, atau mencuci mobil dengan baik dan benar. Soal pasokan suku cadang atau stok sampo mobil pun tak perlu khawatir, sebab pihak franchisor akan mengirim secara berkala.

Namun, sekali lagi, meski membeli franchise terlihat mudah, Anda harus tetap jeli dalam menentukan pilihan. Dan, seperti halnya memiliki bisnis sendiri, sebelum memilih franchise tertentu, akan lebih baik jika Anda memiliki passion di bidang otomotif.

Sayangnya, tak banyak franchise yang fokus di bidang otomotif. Sungguh kontras dengan franchise di bidang kuliner. Dari sekitar 500 franchise dan business opportunity (BO) yang masuk daftar Majalah DUIT!, hanya ada sekitar 15 yang bergerak di bidang otomotif. Pilihan bisnisnya pun beragam, ada cuci kendaraan (AutoBridal, MotorBridal, GwGuyur), bengkel (Fast & Drive, HMTC, LJMC), hingga ritel suku cadang dan aksesoris kendaraan (Shop N Drive, Raja Motor, Jago Aki).

Franchise di sektor usaha otomotif memang belum banyak,” ungkap Burang Riyadi, konsultan franchise International Franchise Business Management (IFBM). Meski demikian, Burang mengungkapkan bahwa prospek bisnis di bidang otomotif sungguh menggiurkan. Pasalnya, masih ada gap antara produsen (franchise) dan permintaan konsumen di sektor bisnis ini.

Ari Windyaningrum

(published on Majalah DUIT! edisi 7/Juli 2010)

This is my Jakarta. Nggak di jalan tol, nggak di jalur busway, nggak di jalan biasa, semua macet!

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2010 in Smartpreneur

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: