RSS

Monthly Archives: August 2010

Musim Kawin, Permintaan Emas di India Melonjak Tajam

Permintaan emas di India menekuk dua kali lipat lebih besar menjadi 365 metrik ton pada semester pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Hal ini ditegaskan oleh World Gold Council, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/8).

Permintaan untuk investasi juga menekuk lebih dari tiga kali lipat lebih besar menjadi 92,5 ton pada enam bulan per 30 Juni 2010 lalu dari 25,4 ton pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, permintaan emas untuk perhiasan juga melejit 67% menjadi 272,5 ton.

“Kami mencermati permintaan emas akan terus melonjak hingga akhir tahun 2010 mendatang,” kata Ajay Mitra, Managing Director World Gold Council untuk Timur Tengah dan India. Lonjakan permintaan ini terlebih disurung oleh adanya musim pernikahan dan adanya gelaran festival di India.

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2010 in Dunia Dalam Berita

 

Tags: , ,

Journalist Should Practise What They’ve Preached

You remember the time when mom used to tell not to talk on the phone while ironing clothes lest you make a mistake and burn yourself. And then one day she forgot to practice what she was preaching and… Well a funny situation like this has occurred in the business world too.

Journalists have been warning their readers against the hazard of not taking backups of computer files. So much so that in article published by them. However, they ‘likened backups to flossing – everyone knows it’s important, but few devote enough thought or energy to it. And one fine day, the magazine’s editorial system crashed, nullifying the work done for the latest issue. The backup server failed to back up. The page layouts had to be totally redone from scratch.

Or, when journalists have been warning their readers not to keep all eggs on one basket. As a business magazine readers, you might understand what I meant. But, yes, journalists do not have enough.. ummhh.. money to invest. Some of Indonesian journalists still underpaid. So it would be quite difficult for such a financial journalist to do what they wrote, such as buy 24K gold, blue chips shares, bonds etc.

Sometimes, it seems ridiculous when we’re writing about a trillion rupiah business deal or income, however we’ve never kept 0,01% of it. The best thing we can do is imaging that we’re as rich as those businessman haha..

Believe me, journalists are not a liar. We just write what to be written. We just do our daily business 🙂

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2010 in Random Thought

 

Aku dan Televisi Beriklan

Aku masih ingat betul, 24 Agustus dua puluh tahun yang lalu aku bela-belain bolos sekolah hanya demi menyaksikan siaran perdana SCTV.

Jarum jam menunjuk pukul 12 siang. Setelah diawali lagu kebangsaan Indonesia Raya, SCTV pun resmi mengudara di Surabaya.

Waktu itu, SCTV masih merupakan stasiun siaran relay RCTI. Jadi, apa yang ditayangkan RCTI di Jakarta, juga ditayangkan oleh SCTV untuk wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoardjo dan Lamongan).

Nama SCTV pun bukan singkatan dari Surya Citra Televisi, melainkan Surabaya Centra Televisi.

Setelah menyaksikan dengan takzim lagu kebangsaan, dengan penuh penasaran aku melihat gaya anchor berita televisi swasta yang lebih keren dan modern, ketimbang para penyiar TVRI yang kaku bin lugu itu hehehe..

Beritanya lebih seru, dan ada iklan!

Omaigot! Waktu itu, sudah sepuluh tahun hidup di bumi, baru pada 24 Agustus 1990 aku menyaksikan iklan di televisi. Waktu itu, aku ingat betul yang ditayangkan perdana oleh SCTV adalah iklan sabun LUX.

Dengan terbengong-bengong (halah, ndeso tenan, bleh…) aku melihat bagaimana Ida Iasha memuji-muji kulit halusnya berkat sabun wangi. Sayangnya, aku lupa iklan apa yang ditayangkan berikutnya. Sebab, bagiku, kesan pertama begitu menggoda.

Sekitar tiga tahun kemudian, Surabaya mendapatkan siaran televisi swasta baru: RCTI. Ya, stasiun televisi pertama di Indonesia itu baru menyapa warga Jatim tiga tahun setelah SCTV, sang adik. Padahal, RCTI sudah lebih dulu eksis ketimbang SCTV. Akan tetapi, untuk beberapa waktu, dua stasiun televisi itu menyiarkan program yang sama.

Hingga kemudian, pada suatu hari di 1993, SCTV resmi berpisah dengan RCTI.

Pada suatu acara di malam hari, aku lupa judul acaranya, kedua televisi “kakak-beradik” itu menyiarkan acara yang sama. Hingga di tengah acara, setelah ada seremoni khusus, SCTV resmi berpisah dengan RCTI dengan menyiarkan acara berbeda.

Ternyata, “perpisahan” itu membuat kantor pusat SCTV pindah dari Surabaya ke Jakarta. Sebab, SCTV, seperti halnya sang kakak RCTI, juga menyiarkan program ke seluruh Nusantara.

Bagi warga Surabaya, SCTV masih meninggalkan “jejak” berupa Bunderan SCTV (bukan Bunderan HI, rek hehe..). Jalanan di depan bekas kantor pusat SCTV itu sempat menjadi kawasan favorit untuk balap motor liar.

Kini, kedua stasiun yang semula kakak-beradik itu benar-benar menjadi dua entitas yang berbeda. Keduanya memiliki program dan gaya siaran yang berbeda. Dan, tentu saja, saling berkompetisi untuk merebutkan rating paling bagus.

Happy Birthday SCTV (dan RCTI, tentunya)!!

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2010 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , , ,

Tips dan Trik Berkebun di Farmville

Baiklah, sekarang kita bicara soal berkebun di dunia maya. Di mana lagi kalo bukan di Farmville, salah satu games paling happening saat ini yang ditawarkan situs jejaring sosial Facebook. Bahkan, saat ini ada sekitar 78 juta orang dari selusuh dunia berkebun di jagat maya. Wow!

Buat mereka yang awam, pasti kedengerannya aneh ketika ada kawan yang bilang, “Eh, bentar ya.. aku berkebun dulu” atau “Aku panen cabe dulu ya..”

Lha apa mereka punya kebun? Wong jelas-jelas mereka masyarakat urban, yang rute sehari-harinya dari rumah di pinggiran Jakarta lalu menembus kemacetan untuk nyampai di tengah Jakarta, lokasi kantornya. Seharian juga di kantor. Tapi, itulah Farmville, games dengan setting ndeso yang berhasil mencuri hati orang-orang kota.

Baiklah, let’s start from a new beginning:

1. Untuk mulai bermain Farmville, pastikan Anda punya akun Facebook. Di sisi kiri Wall, cari tulisan “games” lalu pilih games Farmville. Biasanya di situ ada juga Cafe World, Mafia Wars, Fishville, dsb.

2. Kalau sudah punya kebun, mulai dengan membuat petak-petak sawah. Satu petak sawah hargaya seketar 15 poin. Jangan terlalu banyak membuat petak, nanti modal nggak cukup buat beli bibit.

3. Oya, Anda juga bisa create avatar petaninya. Mau bergender laki atau perempuan. Mau warna kulitnya item, sawo matang, kuning, atau putih kebule-bulean hehehe.. Ada juga pilihan model rambut sampe model hidung.

4. Setelah selesai plowing (membajak), tanami petak sawah dengan bibit. Bibit (seeds) bisa dibeli di “Market“. Nah, di kotak bibit yang dijual, selain ada harga juga ada waktu panen.

5. Kalau punya banyak waktu dan ingin cepat naik level, pilih bibit yang masa tanamnya pendek (sekitar 2 jam). Tapi kalau nggak ada banyak waktu, bisa pilih bibit yang punya masa tanam paling lama 3-4 hari.

6. Kalau sudah ditanami, tunggu waktu panen. Jangan terlambat memanen kalau tak ingin tanaman busuk. Tiap panen, petani (farmer) bakal dapet tambahan poin. Tapi kalau tanaman busuk ya nggak dapet apa-apa, rugi jadinya.. udah keluar modal buat plowing dan beli seeds tapi nggak dapet poin. Dan, begitu seterusnya.

7. Kalau punya dana cukup, Anda bisa beli pohon, hewan, pagar, bahkan rumah, traktor, dan hal-hal gak jelas lainnya (biasanya mulai muncul hedonisme di level 20an, seperti beli kotak pos, lampu, ayunan, kastil, dsb). Seperti seeds, Anda bisa dapet tambahan poin saat memanen pohon dan hewan.

8. Di bar bagian bawah, perhatikan ada kolom untuk Neighbor (tetangga). Makin banyak tetangga semakin baik. Sebab, Anda bisa dapat tambahan poin kalau rajin membantu tetangga. Caranya, rajin-rajin membantu memberi pupuk atau mengumpulkan telur di kandang ayam atau sekedar menyapu daun-daun yang berserakan dan mengusir raccoon.

9. Untuk mempercepat naik level, selain memilih tanaman yang cepat panen, pastikan area kebun produktif lebih luas (atau sama) dengan area non produktif.

10. Di level 20an ke atas, saat kebun sudah terlalu luas, sepertinya capek kalau harus panen, membajak, dan menanami bibit dengan tangan. Gunakan traktor! Alokasikan dana untuk membeli traktor. Sebab, kalau ada traktor sekali klik akan mengerjakan 2×2 petak (bahkan kalau level sudah lebih tinggi bisa 4×4 kotak sekaligus).

Itu hal-hal mendasar dari berkebun di Farmville. Oya, jangan salahkan saya kalau Anda jadi ketagihan berkebun hahahaha.. Have fun!


 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2010 in How to..

 

Tags: , , , ,

Ronny Lukito: Antara Exxon, Exsport, dan Ekspor

Tak punya uang untuk melanjutkan kuliah, Ronny Lukito bekerja di toko tas milik ayahnya. Berbekal dua mesin jahit, ia merintis bisnis pembuatan tas. Kini, ia mampu mengekspor tas-tas bikinannya ke sejumlah negara.

Ronny Lukito merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarga Lukman Lukito-Kumiasih, pasangan asal Jakarta dan Buton (Sumatera) yang merantau di Bandung. Untuk menyambung hidup, orang tua Ronny memiliki sebuah toko tas. Ya, toko tas. Di era 1970an, toko spesialis semacam itu belum lazim. “Biasanya, orang punya toko kelontong yang jual macam-macam produk. Bukan toko yang menjual satu jenis barang saja,” kenang Ronny.

Pria kelahiran Bandung, 15 Januari 1962 ini masih ingat betul toko Nam Lung, milik sang ayah, yang berdiri di jalan ABC No. 3 Bandung. Maklum, Ronny kecil sering membantu kegiatan dagang orang tuanya, terutama saat ia dan kakak-adiknya libur sekolah. Kadang, ia membantu menjaga kasir. Sementara di waktu lain, ia membantu membungkus tas atau membereskan tas-tas yang terpajang di etalase maupun tergantung di dinding toko.

Toko tas milik ayahnya berukuran 2,5 x 14 meter. Memanjang ke belakang. Selain menjual tas produk perusahaan lain, ada juga tas-tas sederhana hasil jahitan sendiri. “Mereknya Butterfly. Namanya diambil dari merek mesin jahit buatan Cina yang kami pakai,” kata Ronny, dalam buku 10 Pengusaha yang Sukses Membangun Bisnis Dari 0. Saat Ronny duduk di bangku STM, pada 1976, ayah Ronny merintis usaha penjahitan tas sederhana. Alat kerjanya hanya satu mesin jahit bermerek Butterfly.

Selain membantu di toko, Ronny juga berdagang kecil-kecilan. Saban hari, sebelum berangkat sekolah, ia berkeliling menjajakan susu murni. Setiap harinya, ia hanya mengambil 5-10 liter susu murni dari peternak sapi, yang kemudian ia kemas ke dalam kantong-kantong plastik kecil. Sepulang sekolah, Ronny tak langsung pulang, ia bekerja di dulu di sebuah bengkel motor di jalan Sumatera. Gajinya: Rp5.000 per minggu. Lumayan.

Saat sekolah, Ronny tak pernah berpikir untuk menjadi pengusaha. Sang ayah pun tak pernah mengarahkan putra satu-satunya untuk menjadi pengusaha. Hingga kemudian, ia lulus STM pada 1979. “Saya ingin melanjutkan kuliah, tapi orang tua tak mampu membiayai,” ucap Ronny, getir. Ia mencoba realistis melihat kondisi keuangan keluarganya. Apalagi sebagai satu-satunya anak lelaki, ia ingin bekerja untuk membantu orang tua.

Seperti remaja pada umumnya, Ronny ingin bekerja untuk orang lain. Menjadi karyawan. Ia berencana menggantungkan hidup dari gaji bulanan. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengirimkan surat lamaran pekerjaan, Ronny mendapatkan petuah dari orang tua sahabatnya. Si Bapak ini berkata, “Nak, buat apa kamu kerja buat orang lain? Orang tuamu dagang apa? Kenapa kamu tak membantu orang tuamu saja?”

Dasar Ronny, yang waktu itu masih ABG, secara spontan ia tak mau bekerja untuk orang tuanya karena ia tak menyukai jenis usaha orang tuanya. Kurang keren. Selain itu, ia ingin mendapatkan pengalaman bekerja di tempat lain. Alasan yang dikemukakan Ronny tak menyurutkan si Bapak untuk tetap memberinya masukan. “Nak, sebagai anak lelaki satu-satunya, om sarankan kamu membantu orang tuamu saja. Siapa lagi kalau bukan kamu yang membantu? Kamu bisa saja bekerja di perusahaan milik om, tapi buat apa?”

Semalaman Ronny mencerna nasihat dari orang tua sahabatnya itu. Petuah bijak itu akhirnya masuk ke hati Ronny. Hari berikutnya, ia memutuskan untuk bekerja di toko ayahnya. “Saya menyadari posisi saya di keluarga. Tak baik mementingkan ego sendiri,” tandasnya. Tak hanya membantu operasional toko, ia juga belajar proses produksi tas, termasuk membuat pola dan menjahit.

Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu dari sang ayah, Ronny ingin hidup mandiri. Ia ingin mengembangkan bisnis tasnya sendiri. Keputusan yang cukup membuat ayahnya melongo.

Mental Baja, Wajah Stainless

Masih di tahun yang sama saat Ronny mendapatkan ijasah kelulusan STM, ia memulai bisnis pembuatan tas. Anak ketiga dari enam bersaudara ini merintis bisnis dengan modal tak lebih dari Rp1 juta, yang berbentuk dua mesin jahit, peralatan, dan bahan baku secukupnya. “Uangnya hasil dari menjual tape recorder, hasil menang arisan, dan tabungan hasil menjual susu,” tutur Ronny, tersenyum.

Beruntung, ia mampu mempekerjakan tukang jahit yang sudah terpercaya kualitas jahitannya, yaitu Mang Uwon. Setiap kali ada ide yang terbersit di benak, Ronny menjelaskan secara lisan dan goresan sederhana di kertas kepada Mang Uwon. Nantinya, Mang Uwon yang akan menerjemahkan ide ke dalam bentuk tas yang sudah jadi. Kalau sudah cocok, baru kemudian diproduksi secara masal.

Ronny tak menampik, di awal usaha, ia banyak mengambil ide dari tas Jayagiri, yang saat itu tengah ngetren. “Saya bukan meniru. Saya hanya mengambil kreasinya saja, lalu dimodifikasi sesuai dengan kemampuan dan selera saya,” kelitnya.

Agar berbeda dengan produk milik sang ayah, Ronny memberi merek Exxon untuk tas produksinya. “Waktu itu, saya pikir merek Exxon sangat bagus. Keren!” kata dia. Nama itu ia dapatkan dari sebuah buku milik kawannya yang baru pulang dari AS.

Bagi Ronny, merek Exxon memiliki peruntungan cukup bagus. Terbukti, omzet perusahaan yang berada di Jalan Saad, Bandung itu terus melonjak. Dari semula hanya dua karyawan, menjadi 100 karyawan. Begitu juga mesin jahit, dari dua menjadi 100. Semuanya berjalan sesuai perkiraan hingga pada 1982/1983, Ronny tak ingat pasti, ia menerima sepucuk surat dari Amerika Serikat.

Ternyata, Exxon Mobil Corporation, perusahaan minyak asal AS, mengajukan komplain ke pihak Ronny karena menggunakan nama Exxon untuk merek tas tanpa seizin mereka. Tak mau ambil risiko, Ronny pun mengalah. Ia lalu memilih nama baru, yakni Exsport. Menurut dia, nama itu berasal dari kata Exxon dan Sport. Tambahan kata “Sport” itu, kata Ronny, menunjukkan bahwa produk tasnya cocok untuk kalangan muda yang sportif. Ia juga berharap tasnya bisa diekspor ke mancanegara.

Perlahan tapi pasti, usaha tas merek Exsport milik Ronny terus berkembang. Tapi ada satu hal yang masih diingat Presdir PT Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), produsen tas Exsport ini, yaitu merasakan sulitnya menembus pasar. Untuk memasukkan tas buatan pabriknya ke jaringan ritel Matahari, misalnya, Ronny harus mengalami penolakan hingga 13 kali! Tapi ia tak patah arang. “Untuk menjadi pengusaha tangguh, kita harus gigih, bermental baja, dan berwajah stainless,” kata dia, seperti dikutip Tempo. Bahkan, sambung dia, pengusaha harus siap dipermalukan sebelum akhirnya menuai keberhasilan.

Pada 1987, Ronny memindahkan pabrik dari Jalan Saad ke Kopo. Hal ini harus dilakukan karena di tempat yang lama tak mampu memenuhi kapasitas jahitan. Pabrik yang baru ini luasnya 6.000 meter persegi, memiliki 400 mesin jahit, dan menampung 600an karyawan. Kini, B&B Inc., memiliki empat pabrik tas dengan total luas pabrik 25.000 meter persegi, dan mempekerjakan sekitar 2.000 karyawan.

Untuk menjaga kualitas, ayah empat anak ini mengaku masih mendatangkan bahan baku dari LN, prosentasenya bahkan mencapai 75%. “Saya mengakui masih tergantung dengan impor. Sebab, untuk bahan baku tas, belum ada pemasok yang bagus di pasar lokal. Berbeda dengan industri garmen,” keluh suami Meiliana, seperti dikutip Tempo.

Tiap tahun, perusahaan Ronny mampu memproduksi hingga 2,5 juta tas dengan 8.000 desain yang berbeda. Tak cuma ransel, tapi ada juga tas casual, post man bag, hingga tas laptop. Dari total produksinya, sekitar 10% dipasarkan ke mancanegara, seperti Singapura, Filipina, Jepang, Libanon, Kanada, Australia, dan Jerman. Perusahaan yang bertahan dari dua kali serangan krisisi ini mengaku menerapkan keuangan secara mandiri alias emoh kredit bank.

Untuk menyiasatinya, Ronny melakukan diversifikasi usaha. Perusahan induk B&B Inc., memiliki empat anak usaha yakni PT Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), PT Eigerindo MPI, PT EMPI Senajaya, dan CV Persada Abadi. Mereknya pun beragam, selain Exsport, ada juga Eiger, Bodypack, Neosack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, hingga Broklyn. Masing-masing punya segmen pasar sendiri.

Katakan, bila Exsport untuk pasar kelas A dan dengan target pelajar /mahasiswa, maka beda lagi dengan Eiger. Sebab, merek yang diambil dari nama gunung di Swiss ini hanya fokus melayani produk yang berkaitan dengan kegiatan alam dan petualangan, seperti peralatan mendaki gunung, camping, maupun panjat tebing dengan harga premium. Kalau ingin peralatan mendaki dengan harga lebih miring? Ronny menyediakan dengan merek Nordwand. “Biar produk tak saling memakan, pangsa pasar harus dibedakan secara tegas,” pungkas penerima Penghargaan Upakarti 1992 ini.

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 3/Maret 2010)

 
1 Comment

Posted by on August 21, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

The Power of Kepepet: Bila Keterpaksaan Mengalahkan Segalanya

Dalam kondisi terdesak, seseorang cenderung akan memutar otak lebih keras. Seseorang mampu mencetuskan ide brilian dan memiliki semangat untuk mewujudkan mimpinya.

Suatu malam, saya ngobrol dengan seorang kawan lama via online messenger. Si kawan ini curhat masalah pekerjaan, dia bilang sistem kerja di kantornya amburadul. Sudah begitu, bosnya galak sekali. Kesalahan sekecil apa pun bisa membuat Pak Bos marah besar. Belum lagi, belakangan ini dia mendengar desas-desus bakal ada pengurangan jumlah karyawan, karena pesanan dari negeri seberang berkurang. Si kawan ini bekerja di industri garmen.

Menurut dia, kondisi perusahaan yang kurang menguntungkan itu karena daya beli pasar luar negeri yang belum pulih akibat krisis ekonomi global dan ketakutan atas pemberlakuan ASEAN China Free Trade Area (ACFTA), atau bahasa sederhananya: perdagangan bebas di antara negara-negara ASEAN dan China. Dampak perjanjian yang mulai berlaku per 1 Januari 2010 lalu itu membuat pasar lokal makin dibanjiri produk Cina.

“Pokoknya, aku udah nggak betah kerja lagi. Nggak enak,” gerutu si kawan.

Kening saya berkerut. Kalau memang sudah tidak nyaman dengan sesuatu, seharusnya dia keluar dari ketidaknyaman itu. Bukan justru membiasakan diri dengan ketidaknyaman itu. “Ya udah, resign aja. Bikin usaha sendiri,” saran saya.

Tapi, si kawan ini menangkis, “Kalau aku resign sekarang, anak dan istriku makan apa?”.

Aduh!

Semua Butuh Proses

Kita sudah sering mendengar kisah sukses pengusaha besar. Dan, sering pula, kita membayangkan bakal sukses seperti mereka. Tapi, ada sisi lain yang terlupakan. Untuk mencapai kesuksesan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar. Bahkan kadang menyakitkan. Ibaratnya, mereka pernah menjalani proses ‘Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala’. Sebagai penghargaan (setelah sukses menjalani proses yang tidak mengenakkan itu), mereka kini dikenal dengan embel-embel ‘pengusaha sukses’.

Sukamdani Sahid Gitosardjono, salah satunya. Ketika merantau ke Jakarta, pada 1952, pendiri dan pemilik jaringan Hotel Sahid Group ini hanya membawa sebuah kopor dan sepeda. Sebagai anak seorang pedagang, ia begitu bangga ketika bekerja di Departemen Dalam Negeri. Tapi, karena penghasilan kurang mencukupi, Sukamdani memutuskan mundur dan bekerja di sebuah percetakan. Tentu saja, pilihan itu cukup membuat resah orang tuanya. Karena zaman dahulu, menjadi PNS merupakan status yang cukup dihormati.

Dengan penghasilan masih pas-pasan, Sukamdani menikahi Juliah, gadis dari trah Mangkunegaran, kekasihnya semasa di Solo. Pasangan muda ini lalu menyewa rumah berdinding gedhek. Karena keuletan, plus pinjaman uang Rp25.000 dari mertua, Sukamdani akhirnya bisa membuka usaha percetakan sendiri.

Di rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar seluas 3 x 3 meter persegi itu, Kam, panggilan karibnya, merintis bisnis percetakan. Waktu itu, dia memulainya hanya dengan dua mesin cetak hand press. “Saya sendiri yang membeli kertas, mengantarkan dan menjemput pesanan cetak, termasuk menagih biaya cetak. Waktu itu, saya ke mana-mana naik oplet,” kenang Kam, seperti dikutip tokohindonesia.com.

Dari keuntungan usaha yang ditabungnya sedikit demi sedikit, ia berhasil membeli tanah tempat ia menyewa rumah itu. Cikal bakal rumah kontrakan itu kini menjelma menjadi Hotel Sahid yang berada di Jalan Sudirman, Jakarta. “Dulu, rumah saya di sini,” kenang Sukamdani, pada sebuah kesempatan.

Kalau saja Sukamdani tidak berhenti bekerja dari tempatnya yang lama, tidak merasa kepepet butuh uang untuk menghidupi keluarga yang baru dibinanya, kemungkinan besar pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 14 Maret 1928 ini tak bakal memiliki jaringan hotel, selain memiliki pabrik semen, properti, akademi pendidikan, media massa, hingga pesantren.

Gunakan Otak Kanan

Ada dua alasan yang membuat orang tidak tergerak untuk berubah, yakni impian kurang kuat dan kurang kepepet. Dua hal itu seringkali disebut sebagai “motivasi”. Kepepet berasal dari Bahasa Jawa yang artinya terpaksa. Hanya saja, kadar keterpaksaannya sudah sangat.. sangat.. sangat terpaksa. Sudah tidak ada pilihan lain, alias tidak boleh tidak.

Kebanyakan manusia, kalau berada dalam kondisi kepepet dan tak ada pilihan lain, mereka akan cenderung memutar otak lebih keras untuk mencari jalan keluar. Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan potensi yang luar biasa, di luar apa yang kita pikirkan. Hanya saja, potensi tersebut baru akan muncul saat kondisi kepepet. Seperti seorang nenek yang berani melompat dari lantai tiga, saat kebakaran melanda. Coba dalam kondisi normal, seseorang akan berpikir berpuluh kali lipat untuk melompat dari ketinggian.

John Paul Kotler, profesor dari Harvard Business Review mengemukakan establishing sense of urgency adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam sebuah organisasi. Seorang pengusaha, setelah melihat ancaman persaingan yang makin menggila atau kondisi krisis, pasti akan membuat keputusan-keputusan penting. Mereka tergerak untuk melakukan hal terbaik. Di sini lah muncul the power of kepepet alias kekuatan dari kondisi kepepet.

Seperti per atau pegas (sekadar mengingat ilmu Fisika zaman sekolah menengah), ketika ditekan lebih keras, maka akan muncul gaya tolak yang lebih besar. Semakin kepepet, maka seseorang akan semakin kreatif.

Menariknya, banyak pengusaha yang memulai bisnis dari kondisi kepepet, entah itu karena menjadi korban (atau bakal jadi korban) PHK, akan memasuki masa pensiun, tak kunjung diterima bekerja di perusahaan setelah lulus kuliah, terpaksa drop out dari perguruan tinggi karena orang tua tak mampu lagi membiayai, mengalami sakit/kecelakaan yang membuat kemampuan fisik tak lagi sempurna, atau karena tiba-tiba berubah status menjadi single parent yang memaksa seseorang harus menghidupi keluarga secara mandiri.

Ketika akan memulai usaha, hal pertama yang muncul di pikiran adalah: modalnya dari mana? Setelah mendapatkan modal, biasanya Anda akan kembali berpikir, bisnis apa yang cocok untuk usaha baru ini? Kalau sudah menemukan bisnis yang cocok, biasanya Anda akan memulai perhitungan yang lumayan njlimet untuk keperluan bisnis, seperti sewa tempat, stok barang, biaya promosi, dan sebagainya.

Selanjutnya, biasanya lagi, Anda akan mulai menghitung kemungkinan untung rugi dai bisnis yang bakal Anda mulai. Lalu, berturut-turut muncul pertanyaan seperti ini, bagaimana kalau usaha restoran saya sepi pengunjung? Bagaimana kalau usaha warnet saya tiba-tiba punya pesaing baru? Bagaimana kalau karyawan saya nanti korupsi? Bagaimana kalau nanti bisnis ekspedisi ini bangkrut?

“Kalau Anda masih berpikir seperti itu, berarti Anda masih berpikir dengan otak kiri,” tegas Purdi E. Chandra, pemilik lembaga bimbingan belajar Primagama sekaligus pendiri Entrepreneur University. Seharusnya, sambung Purdi, kalau sudah punya keinginan untuk merintis usaha seharusnya Anda mulai menggunakan otak kanan.

Sebenarnya, seperti apa sih otak kanan itu? Menurut literatur, otak kanan merupakan gudangnya kreativitas dan spontanitas. Sedangkan otak kiri sebaliknya, yakni otak yang suka menganalisis dan mempertimbangkan.

“Kalau mau mulai usaha, gunakan otak kanan. Action, dulu! Jangan dulu mikir begini begitu,” kata Agus Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono. Menurut dia, bila seseorang sudah berniat untuk menjadi entrepreneur harus memiliki pikiran positif. Selalu optimistis, tekun, sabar, dan bersemangat.

Mono lalu menceritakan bagaimana dia dulu langsung action begitu melihat lahan kosong di seberang Universitas Sahid, tempat dia mangkal berjualan gorengan. Mono lalu mencari tahu bagaimana dia memperoleh sepetak lahan kosong yang di kiri-kanannya sudah ada warung rokok dan warung seafood. “Saya langsung kepikiran bikin usaha ayam bakar. Karena, banyak orang suka makan nasi dan ayam. Selain itu, di wilayah tersebut banyak anak-anak kuliah, pekerja kantoran, maupun orang-orang yang lewat Jalan Soepomo. Usaha pasti bisa ramai. Dan, yang pasti, bisa ngasih keuntungan lebih besar daripada sekadar jualan gorengan,” urai Mono.

Benar saja, dalam hitungan bulan, warung ayam bakar milik pemuda asli Madiun itu banyak peminatnya. Bahkan, setiap harinya, Mono, dengan enam karyawannya, mampu melayani pesanan ratusan nasi kotak untuk beberapa stasiun televisi swasta.

Namun, Christovita Wiloto, CEO & Managing Partner Wiloto Corp., mengingatkan bahwa pengusaha sebaiknya tidak menggunakan ilmu the power kepepet saat bisnis sudah berjalan. Menurut Christov, the power of kepepet adalah the power of survive (kekuatan untuk bertahan hidup). Ia khawatir karena terus-terusan berada dalam kondisi kepepet, pengusaha tidak memperhatikan soal strategi mengembangkan usaha secara jangka panjang. Tapi hanya membuat keputusan-keputusan jangka pendek untuk bisa bertahan hidup. “Jangan kepepet terus-terusan. Bisnis harus dikelola dengan menggunakan strategi yang baik, biar bisa berkembang dan menguntungkan,” urai mantan Agency Secretary Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ini.

Adapun Helmi Yahya, pemilik rumah produksi Triwarsana dan Dreamlight ini mengaku bahwa semangat, yang berasal dari faktor kepepet tadi, bisa menjadi bola salju bila dibarengi perencanaan bisnis dan persiapan yang matang. “Semangat, passion, niat, dan strategi adalah modal yang luar biasa bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur sejati,” kata adik kandung Tantowi Yahya ini.

Ciptakan Kondisi Kepepet

Memang, kondisi terhimpit biasanya akan memunculkan ide brilian dan membuat orang lebih berani untuk memulai usaha. “Kondisi kepepet itu mengalahkan semua tantangan, seperti rasa malu, malas, tidak percaya diri, atau tidak berani beresiko,” kata Elly Susilowati, pemilik PT Ethree Abadi, pembuat sepatu buatan tangan.

Sebaliknya, bila keadaan terasa aman damai sejahtera, maka seseorang kurang mendapatkan semangat untuk memulai usaha. “Ketika seseorang sudah biasa dalam kondisi ketidakpastian, ia akan lebih berani untuk berbisnis daripada temannya yang terbiasa hidup dalam dunia yang selalu pasti,” kata Purdy.

Menurut Jaya Setia Budi, penulis buku The Power of Kepepet, selama ini banyak mitos yang salah mengenai entrepreneurship. “Selama ini, seringkali orang terjebak mitos bahwa berbisnis itu sulit, butuh modal besar, butuh bakat dan pengalaman, atau entrepreneurship itu diwariskan lewat garis keturunan,” keluh Jaya.

Hal ini membuat banyak orang, termasuk jutaan mahasiswa tingkat akhir lebih memilih untuk mengirimkan surat lamaran pekerjaan ketimbang menyusun proposal bisnisnya sendiri. Padahal, memulai bisnis bisa dilakukan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, selama ada niat yang kuat. Sialnya, niat yang luar biasa kuat ini kadang baru muncul bila dalam kondisi kepepet.

Jadi, bila Anda masih berana dalam zona nyaman, belum akan di-PHK, belum akan digusur, atau belum akan sakit, setidaknya mulailah “menciptakan” kondisi kepepet versi Anda sendiri. Misalnya, menggunakan dana pinjaman untuk modal usaha. Otomatis, Anda akan merasa “kepepet” untuk mengembalikan dana pinjaman tersebut. Atau, susun target (atau bisa juga disebut impian) yang memacu Anda untuk meraihnya. Misalnya, target memiliki rumah sendiri, ketimbang mengontrak sana-sini, dalam lima tahun.

Menyitir perkataan Anggun, penyanyi Indonesia yang sudah mendunia, bila Anda punya mimpi, bangun dari tidur, mandi, lalu bekerja ekstra keras untuk mewujudkan mimpi itu. Selamat berjuang!

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 2/Februari 2010)

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Sehat Sutardja: Namanya diabadikan di UC Barkeley

Sehat Sutardja, Pantas Sutardja, dan Weili Dai mendirikan Marvell Technology Group Ltd., perusahaan semikonduktor yang berpusat di California, AS. Karena memasok produk untuk pabrikan, nama Marvell kurang familiar dengan masyarakat awam. Tapi, produk mereka tertanam di ponsel iPhone, BlackBerry, atau PSP Sony.

Masa kecil Sehat dan Pantas Sutardja tak beda jauh dengan kehidupan anak laki-laki pada umumnya. Mereka hobi banget ngoprek alat-alat elektronika. Bedanya, kalau Sehat senang membongkar radio transistor. Seperti dikutip Forbes, Sehat mengaku, di usia 12 tahun dia mempelajari sinyal analog secara otodidak dari kegemarannya membongkar-pasang enam radio transistor merek Phillips milik keluarga. Sedangkan Pantas lebih memilih membongkar mesin Air Conditioner (AC). Meski masih bocah, keduanya mampu menyusun kembali radio maupun AC itu seperti sedia kala, dan tetap berfungsi normal. Sehat pun pernah bilang ke orang tuanya bahwa ia ingin berkarir di bidang elektronik. Dalam benak Sehat, hal itu berarti menjadi tukang reparasi TV atau radio.

Sehat dan Pantas cukup beruntung, mereka datang dari keluarga kaya di Jakarta. Ayah mereka mempunyai bisnis cuku cadang Mercedes-Benz. Ini yang menyebabkan keduanya memiliki akses pendidikan yang maksimal. Saat sekolah menengah atas, Pantas dikirim ke Singapura. Sedangkan Sehat menyelesaikan pendidikan di SMA Kolese Kanisius Jakarta.

Lulus SMA, keduanya sama-sama beremigrasi ke Amerika Serikat. Untuk gelar kesarjanaan, Sehat yang lahir pada 1961 ini mendalami Teknik Elektro di Iowa State University. Sedangkan Pantas mengambil gelar BS di University of California (UC) Berkeley. Untuk gelar master dan doktoral, keduanya kompak mengambil program Teknik Elektro dan Ilmu Komputer di UC Berkeley.

Sebagai mahasiswa Berkeley, Sehat dan Pantas amat giat belajar. Sehat sempat bekerja untuk Paul Gray, mantan profesor EECS sekaligus ahli analog integrated circuit design. “Dekat dengan profesor ternama membuat kami terpecut untuk bekerja lebih keras. Kami harus menunjukkan hasil lebih baik dari teman-teman,” kata Sehat.

Nah, di Berkeley ini lah Sehat tak cuma mendapatkan ilmu. Dia juga menemukan tambatan hati, seorang mahasiswa programmer asal Shanghai bernama Dai Weili. Singkat kata, Sehat dan Weili menikah.

Lulus dari Berkeley pada 1988, ketiganya berpencar. Sehat bekerja pada perusahaan cip analog yang baru berdiri, 8×8. Pantas bergabung dengan lab riset Almaden milik IBM. Sedangkan Weili mengabdi pada Canon Inc.

Setelah beberapa tahun bekerja, Sehat dan Pantas menyadari bahwa analog dan digital tak bisa dipisahkan begitu saja. “Kami berdua selalu memadu keahlian dan kemampuan masing-masing di bidang analog dan digital. Sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar global,” tegas Sehat, seperti dikutip Bloomberg. Tahun ketujuh bekerja untuk orang lain, ketiganya memendam mimpi untuk menjadi entrepreneur. “Pantas merasa bosan bekerja di IBM,” seloroh Sehat, dengan tawa berderai.

Pada 1995, Sehat, Weili, dan Pantas mendirikan Marvell Technology. Waktu itu, mereka hanya memiliki modal awal US$200.000 dari hasil melisensikan desain sirkuit cip, plus beberapa ratus dolar dari hasil saweran kawan dekat dan keluarga. Di awal pendirian, Marvell menggunakan peralatan yang dikembangkan oleh UC Berkeley, almamater mereka.

Selama dua tahun pertama, ketiganya berkerja tanpa digaji. Pendapatan perusahaan mereka gunakan untuk reinvestasi, dan tentu saja, menggaji karyawan, tapi bukan ketiga pendiri usaha. Baru setelah Marvell mendapatkan suntikan dana US$1 juta dari Diosdado “Dado” Banatao, pengusaha berdarah Filipina sekaligus pendiri S3 (perusahaan cip grafik untuk PC yang paling top di zamannya, sebelum akhirnya bangkrut setelah kalah bersaing dengan ATI dan NVidia. S3 pun akhirnya menjadi pemodal ventura), tiga pendiri Marvell baru menggaji diri sendiri. Gaji yang mereka terima pun hanya US$40.000. Masih lebih rendah dari karyawan Marvell di level menengah. Dado pula lah yang memberi nama Marvell yang berasal dari kata marvellous (luar biasa).

Memasok Pabrikan

Sehat dan Pantas memproduksi cip analog yang super cepat. Tapi, mereka butuh pasar. “Apa gunanya punya produk canggih tapi tak punya pasar yang menyerapnya?” tanya Sehat. Berbekal jaringan saat bekerja untuk Canon, Weili Kenneth Burns, ilmuwan dari Seagate yang putus asa dengan kecepatan cip analog yang tengah ia pakai. Weili lalu memperkenalkan produk cip besutan Marvell Technology, perusahaan baru yang dimiliki keluarga Sutardja.

Kenneth tertarik dengan penawaran Weili dan meminta Sutardja bersaudara untuk presentasi di kantor Seagate di Minnesota. Tak dinyana, hanya dalam hitungan jam, dua saudara itu pulang ke Santa Clara dengan membawa nota kesepakatan.“Padahal, chip yang dibawa ke Seagate itu belum sepenuhnya lulus uji lab. Tapi Kenneth puas dengan kinerja cip itu setelah dites di Seagate,” aku Weili, terbahak, seperti yang dikutip Forbes. Sutardja bersaudara membutuhkan satu tahun untuk mendesain cip yang memiliki kinerja 20% lebih cepat daripada Texas Instruments (TI), cip yang semula dipakai Seagate.

Setelah mendapatkan kontrak dengan Seagate, Marvell kemudian mengejar NEC, Infineon, dan produsen disk drive lainnya. Kini, Marvell menyuplai cip untuk 90% produsen disk drive dan data storage. Tapi, karena Marvell lebih banyak memasok produk untuk industri, alias business-to-business (B2B), nama perusahaan yang terdaftar di papan bursa Nasdaq ini tidak terlalu dikenal masyarakat awam. Padahal, kalau Anda iseng membongkar switch buatan Cisco Systems, iPod dan iPhone bikinan Apple Computer, BlackBerry, Xbox keluaran Microsoft Corp., PSP dari Sony, atau disk drive apa pun produksi raksasa manufaktur mana pun; di dalamnya kita pasti bakal menemukan cip berlogo Marvell.

Hingga pertengahan 2006, saham perusahaan dengan kode perdagangan MRVL ini belum tergolong blue chip. Baru ketika mereka membeli unit bisnis prosesor komunikasi dan aplikasi Intel, yakni teknologi XScale, pada 9 November 2006, nama Marvell baru diperhitungkan.

Menurut Sehat, keberhasilan utama Marvell adalah menerjemahkan sinyal analog, yang biasanya melalui kabel atau udara, ke program digital dengan menggunakan kode-kode binari. Pelajaran mendasar yang Sehat dapatkan dari hobi membongkar radio transistor milik keluarga, belasan tahun silam.

Menjadi Nama Aula di Kampus Almamater

Meski tak memiliki pabrik, Marvell memiliki pusat desain di Aliso Viejo, Arizona, Colorado, Massachusetts, San Diego, dan Santa Clara. Sedangkan di luar negeri, perusahaan ini memiliki pusat desain di Jerman, India, Israel, Italia, Jepang, Singapura, dan Taiwan. Tiap kuartal, Marvell mampu mengapalkan 250 juta cip ke negara konsumen.

Sehat dan Weili mengelola perusahaan dengan obsesi dan gaya mereka sendiri. Sepasang suami istri ini, menurut Forbes, tak pernah mengambil liburan dan tak memiliki hobi. Hal yang menurut mereka adalah ‘kegemaran’ adalah menghabiskan waktu bepergian dengan pesawat jet ke berbagai negara, untuk bertemu 5.000 karyawan sekaligus mengunjungi klien.

Beberapa mantan karyawan Marvell sempat mengeluh karena tekanan kerja yang begitu tinggi dari para pendiri perusahaan tersebut. Kendati demikian, Sehat, Pantas, dan Weili masih memiliki kehidupan pribadi. Sehat dan Weili memiliki dua buah hati yang kini berusia 21 dan 19 tahun. “Mereka terbiasa hidup mandiri,” kata Sehat. “Mereka tahu caranya memasak,” celutuk Weili, terkekeh. “Kami tak bisa bilang ke mereka, ‘Ini saatnya main golf’. Hidup itu penuh perjuangan. Dan, apa yang kami capai saat ini hanya awal dari perjuangan itu,” urai Sehat.

Atas kegigihan mereka dalam berinovasi, kepemimpinan teknologi, kesuksesan bisnis, dan kemampuan memadukan keahlian, Ernst & Young Amerika Serikat memberi anugerah Entrepreneur of the Year 2003 kepada Sehat, Weili, dan Pantas. Agar menjadi sukses, kata Sehat, seseorang tidak boleh hanya mengandalkan keahlian pada satu bidang pengetahuan tertentu saja, tapi juga ilmu dari bidang-bidang lain. “Banyak orang berhenti belajar ketika mereka sudah terjun menjadi pengusaha. Saya kira, keputusan ini merupakan kesalahan besar,” kata Sehat.

Sejak 2006, Sehat Sutardja tak pernah terlempar dari daftar 400 orang terkaya di AS versi Forbes. Nilai kekayaannya ditaksir mencapai lebih dari US$1 miliar alias setara Rp9 triliun. Dan, pada Maret 2009, almamater mereka, UC Berkeley mengabadikan nama ketiganya menjadi nama salah satu aula di kampus tersebut, yaitu Sutardja-Dai Hall.

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 2/Februari 2010)

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , , , , , ,