RSS

Ronny Lukito: Antara Exxon, Exsport, dan Ekspor

21 Aug

Tak punya uang untuk melanjutkan kuliah, Ronny Lukito bekerja di toko tas milik ayahnya. Berbekal dua mesin jahit, ia merintis bisnis pembuatan tas. Kini, ia mampu mengekspor tas-tas bikinannya ke sejumlah negara.

Ronny Lukito merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarga Lukman Lukito-Kumiasih, pasangan asal Jakarta dan Buton (Sumatera) yang merantau di Bandung. Untuk menyambung hidup, orang tua Ronny memiliki sebuah toko tas. Ya, toko tas. Di era 1970an, toko spesialis semacam itu belum lazim. “Biasanya, orang punya toko kelontong yang jual macam-macam produk. Bukan toko yang menjual satu jenis barang saja,” kenang Ronny.

Pria kelahiran Bandung, 15 Januari 1962 ini masih ingat betul toko Nam Lung, milik sang ayah, yang berdiri di jalan ABC No. 3 Bandung. Maklum, Ronny kecil sering membantu kegiatan dagang orang tuanya, terutama saat ia dan kakak-adiknya libur sekolah. Kadang, ia membantu menjaga kasir. Sementara di waktu lain, ia membantu membungkus tas atau membereskan tas-tas yang terpajang di etalase maupun tergantung di dinding toko.

Toko tas milik ayahnya berukuran 2,5 x 14 meter. Memanjang ke belakang. Selain menjual tas produk perusahaan lain, ada juga tas-tas sederhana hasil jahitan sendiri. “Mereknya Butterfly. Namanya diambil dari merek mesin jahit buatan Cina yang kami pakai,” kata Ronny, dalam buku 10 Pengusaha yang Sukses Membangun Bisnis Dari 0. Saat Ronny duduk di bangku STM, pada 1976, ayah Ronny merintis usaha penjahitan tas sederhana. Alat kerjanya hanya satu mesin jahit bermerek Butterfly.

Selain membantu di toko, Ronny juga berdagang kecil-kecilan. Saban hari, sebelum berangkat sekolah, ia berkeliling menjajakan susu murni. Setiap harinya, ia hanya mengambil 5-10 liter susu murni dari peternak sapi, yang kemudian ia kemas ke dalam kantong-kantong plastik kecil. Sepulang sekolah, Ronny tak langsung pulang, ia bekerja di dulu di sebuah bengkel motor di jalan Sumatera. Gajinya: Rp5.000 per minggu. Lumayan.

Saat sekolah, Ronny tak pernah berpikir untuk menjadi pengusaha. Sang ayah pun tak pernah mengarahkan putra satu-satunya untuk menjadi pengusaha. Hingga kemudian, ia lulus STM pada 1979. “Saya ingin melanjutkan kuliah, tapi orang tua tak mampu membiayai,” ucap Ronny, getir. Ia mencoba realistis melihat kondisi keuangan keluarganya. Apalagi sebagai satu-satunya anak lelaki, ia ingin bekerja untuk membantu orang tua.

Seperti remaja pada umumnya, Ronny ingin bekerja untuk orang lain. Menjadi karyawan. Ia berencana menggantungkan hidup dari gaji bulanan. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengirimkan surat lamaran pekerjaan, Ronny mendapatkan petuah dari orang tua sahabatnya. Si Bapak ini berkata, “Nak, buat apa kamu kerja buat orang lain? Orang tuamu dagang apa? Kenapa kamu tak membantu orang tuamu saja?”

Dasar Ronny, yang waktu itu masih ABG, secara spontan ia tak mau bekerja untuk orang tuanya karena ia tak menyukai jenis usaha orang tuanya. Kurang keren. Selain itu, ia ingin mendapatkan pengalaman bekerja di tempat lain. Alasan yang dikemukakan Ronny tak menyurutkan si Bapak untuk tetap memberinya masukan. “Nak, sebagai anak lelaki satu-satunya, om sarankan kamu membantu orang tuamu saja. Siapa lagi kalau bukan kamu yang membantu? Kamu bisa saja bekerja di perusahaan milik om, tapi buat apa?”

Semalaman Ronny mencerna nasihat dari orang tua sahabatnya itu. Petuah bijak itu akhirnya masuk ke hati Ronny. Hari berikutnya, ia memutuskan untuk bekerja di toko ayahnya. “Saya menyadari posisi saya di keluarga. Tak baik mementingkan ego sendiri,” tandasnya. Tak hanya membantu operasional toko, ia juga belajar proses produksi tas, termasuk membuat pola dan menjahit.

Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu dari sang ayah, Ronny ingin hidup mandiri. Ia ingin mengembangkan bisnis tasnya sendiri. Keputusan yang cukup membuat ayahnya melongo.

Mental Baja, Wajah Stainless

Masih di tahun yang sama saat Ronny mendapatkan ijasah kelulusan STM, ia memulai bisnis pembuatan tas. Anak ketiga dari enam bersaudara ini merintis bisnis dengan modal tak lebih dari Rp1 juta, yang berbentuk dua mesin jahit, peralatan, dan bahan baku secukupnya. “Uangnya hasil dari menjual tape recorder, hasil menang arisan, dan tabungan hasil menjual susu,” tutur Ronny, tersenyum.

Beruntung, ia mampu mempekerjakan tukang jahit yang sudah terpercaya kualitas jahitannya, yaitu Mang Uwon. Setiap kali ada ide yang terbersit di benak, Ronny menjelaskan secara lisan dan goresan sederhana di kertas kepada Mang Uwon. Nantinya, Mang Uwon yang akan menerjemahkan ide ke dalam bentuk tas yang sudah jadi. Kalau sudah cocok, baru kemudian diproduksi secara masal.

Ronny tak menampik, di awal usaha, ia banyak mengambil ide dari tas Jayagiri, yang saat itu tengah ngetren. “Saya bukan meniru. Saya hanya mengambil kreasinya saja, lalu dimodifikasi sesuai dengan kemampuan dan selera saya,” kelitnya.

Agar berbeda dengan produk milik sang ayah, Ronny memberi merek Exxon untuk tas produksinya. “Waktu itu, saya pikir merek Exxon sangat bagus. Keren!” kata dia. Nama itu ia dapatkan dari sebuah buku milik kawannya yang baru pulang dari AS.

Bagi Ronny, merek Exxon memiliki peruntungan cukup bagus. Terbukti, omzet perusahaan yang berada di Jalan Saad, Bandung itu terus melonjak. Dari semula hanya dua karyawan, menjadi 100 karyawan. Begitu juga mesin jahit, dari dua menjadi 100. Semuanya berjalan sesuai perkiraan hingga pada 1982/1983, Ronny tak ingat pasti, ia menerima sepucuk surat dari Amerika Serikat.

Ternyata, Exxon Mobil Corporation, perusahaan minyak asal AS, mengajukan komplain ke pihak Ronny karena menggunakan nama Exxon untuk merek tas tanpa seizin mereka. Tak mau ambil risiko, Ronny pun mengalah. Ia lalu memilih nama baru, yakni Exsport. Menurut dia, nama itu berasal dari kata Exxon dan Sport. Tambahan kata “Sport” itu, kata Ronny, menunjukkan bahwa produk tasnya cocok untuk kalangan muda yang sportif. Ia juga berharap tasnya bisa diekspor ke mancanegara.

Perlahan tapi pasti, usaha tas merek Exsport milik Ronny terus berkembang. Tapi ada satu hal yang masih diingat Presdir PT Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), produsen tas Exsport ini, yaitu merasakan sulitnya menembus pasar. Untuk memasukkan tas buatan pabriknya ke jaringan ritel Matahari, misalnya, Ronny harus mengalami penolakan hingga 13 kali! Tapi ia tak patah arang. “Untuk menjadi pengusaha tangguh, kita harus gigih, bermental baja, dan berwajah stainless,” kata dia, seperti dikutip Tempo. Bahkan, sambung dia, pengusaha harus siap dipermalukan sebelum akhirnya menuai keberhasilan.

Pada 1987, Ronny memindahkan pabrik dari Jalan Saad ke Kopo. Hal ini harus dilakukan karena di tempat yang lama tak mampu memenuhi kapasitas jahitan. Pabrik yang baru ini luasnya 6.000 meter persegi, memiliki 400 mesin jahit, dan menampung 600an karyawan. Kini, B&B Inc., memiliki empat pabrik tas dengan total luas pabrik 25.000 meter persegi, dan mempekerjakan sekitar 2.000 karyawan.

Untuk menjaga kualitas, ayah empat anak ini mengaku masih mendatangkan bahan baku dari LN, prosentasenya bahkan mencapai 75%. “Saya mengakui masih tergantung dengan impor. Sebab, untuk bahan baku tas, belum ada pemasok yang bagus di pasar lokal. Berbeda dengan industri garmen,” keluh suami Meiliana, seperti dikutip Tempo.

Tiap tahun, perusahaan Ronny mampu memproduksi hingga 2,5 juta tas dengan 8.000 desain yang berbeda. Tak cuma ransel, tapi ada juga tas casual, post man bag, hingga tas laptop. Dari total produksinya, sekitar 10% dipasarkan ke mancanegara, seperti Singapura, Filipina, Jepang, Libanon, Kanada, Australia, dan Jerman. Perusahaan yang bertahan dari dua kali serangan krisisi ini mengaku menerapkan keuangan secara mandiri alias emoh kredit bank.

Untuk menyiasatinya, Ronny melakukan diversifikasi usaha. Perusahan induk B&B Inc., memiliki empat anak usaha yakni PT Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), PT Eigerindo MPI, PT EMPI Senajaya, dan CV Persada Abadi. Mereknya pun beragam, selain Exsport, ada juga Eiger, Bodypack, Neosack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, hingga Broklyn. Masing-masing punya segmen pasar sendiri.

Katakan, bila Exsport untuk pasar kelas A dan dengan target pelajar /mahasiswa, maka beda lagi dengan Eiger. Sebab, merek yang diambil dari nama gunung di Swiss ini hanya fokus melayani produk yang berkaitan dengan kegiatan alam dan petualangan, seperti peralatan mendaki gunung, camping, maupun panjat tebing dengan harga premium. Kalau ingin peralatan mendaki dengan harga lebih miring? Ronny menyediakan dengan merek Nordwand. “Biar produk tak saling memakan, pangsa pasar harus dibedakan secara tegas,” pungkas penerima Penghargaan Upakarti 1992 ini.

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 3/Maret 2010)

 
1 Comment

Posted by on August 21, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

One response to “Ronny Lukito: Antara Exxon, Exsport, dan Ekspor

  1. endang

    September 29, 2012 at 11:27 am

    Hebat,….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: