RSS

Sehat Sutardja: Namanya diabadikan di UC Barkeley

21 Aug

Sehat Sutardja, Pantas Sutardja, dan Weili Dai mendirikan Marvell Technology Group Ltd., perusahaan semikonduktor yang berpusat di California, AS. Karena memasok produk untuk pabrikan, nama Marvell kurang familiar dengan masyarakat awam. Tapi, produk mereka tertanam di ponsel iPhone, BlackBerry, atau PSP Sony.

Masa kecil Sehat dan Pantas Sutardja tak beda jauh dengan kehidupan anak laki-laki pada umumnya. Mereka hobi banget ngoprek alat-alat elektronika. Bedanya, kalau Sehat senang membongkar radio transistor. Seperti dikutip Forbes, Sehat mengaku, di usia 12 tahun dia mempelajari sinyal analog secara otodidak dari kegemarannya membongkar-pasang enam radio transistor merek Phillips milik keluarga. Sedangkan Pantas lebih memilih membongkar mesin Air Conditioner (AC). Meski masih bocah, keduanya mampu menyusun kembali radio maupun AC itu seperti sedia kala, dan tetap berfungsi normal. Sehat pun pernah bilang ke orang tuanya bahwa ia ingin berkarir di bidang elektronik. Dalam benak Sehat, hal itu berarti menjadi tukang reparasi TV atau radio.

Sehat dan Pantas cukup beruntung, mereka datang dari keluarga kaya di Jakarta. Ayah mereka mempunyai bisnis cuku cadang Mercedes-Benz. Ini yang menyebabkan keduanya memiliki akses pendidikan yang maksimal. Saat sekolah menengah atas, Pantas dikirim ke Singapura. Sedangkan Sehat menyelesaikan pendidikan di SMA Kolese Kanisius Jakarta.

Lulus SMA, keduanya sama-sama beremigrasi ke Amerika Serikat. Untuk gelar kesarjanaan, Sehat yang lahir pada 1961 ini mendalami Teknik Elektro di Iowa State University. Sedangkan Pantas mengambil gelar BS di University of California (UC) Berkeley. Untuk gelar master dan doktoral, keduanya kompak mengambil program Teknik Elektro dan Ilmu Komputer di UC Berkeley.

Sebagai mahasiswa Berkeley, Sehat dan Pantas amat giat belajar. Sehat sempat bekerja untuk Paul Gray, mantan profesor EECS sekaligus ahli analog integrated circuit design. “Dekat dengan profesor ternama membuat kami terpecut untuk bekerja lebih keras. Kami harus menunjukkan hasil lebih baik dari teman-teman,” kata Sehat.

Nah, di Berkeley ini lah Sehat tak cuma mendapatkan ilmu. Dia juga menemukan tambatan hati, seorang mahasiswa programmer asal Shanghai bernama Dai Weili. Singkat kata, Sehat dan Weili menikah.

Lulus dari Berkeley pada 1988, ketiganya berpencar. Sehat bekerja pada perusahaan cip analog yang baru berdiri, 8×8. Pantas bergabung dengan lab riset Almaden milik IBM. Sedangkan Weili mengabdi pada Canon Inc.

Setelah beberapa tahun bekerja, Sehat dan Pantas menyadari bahwa analog dan digital tak bisa dipisahkan begitu saja. “Kami berdua selalu memadu keahlian dan kemampuan masing-masing di bidang analog dan digital. Sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar global,” tegas Sehat, seperti dikutip Bloomberg. Tahun ketujuh bekerja untuk orang lain, ketiganya memendam mimpi untuk menjadi entrepreneur. “Pantas merasa bosan bekerja di IBM,” seloroh Sehat, dengan tawa berderai.

Pada 1995, Sehat, Weili, dan Pantas mendirikan Marvell Technology. Waktu itu, mereka hanya memiliki modal awal US$200.000 dari hasil melisensikan desain sirkuit cip, plus beberapa ratus dolar dari hasil saweran kawan dekat dan keluarga. Di awal pendirian, Marvell menggunakan peralatan yang dikembangkan oleh UC Berkeley, almamater mereka.

Selama dua tahun pertama, ketiganya berkerja tanpa digaji. Pendapatan perusahaan mereka gunakan untuk reinvestasi, dan tentu saja, menggaji karyawan, tapi bukan ketiga pendiri usaha. Baru setelah Marvell mendapatkan suntikan dana US$1 juta dari Diosdado “Dado” Banatao, pengusaha berdarah Filipina sekaligus pendiri S3 (perusahaan cip grafik untuk PC yang paling top di zamannya, sebelum akhirnya bangkrut setelah kalah bersaing dengan ATI dan NVidia. S3 pun akhirnya menjadi pemodal ventura), tiga pendiri Marvell baru menggaji diri sendiri. Gaji yang mereka terima pun hanya US$40.000. Masih lebih rendah dari karyawan Marvell di level menengah. Dado pula lah yang memberi nama Marvell yang berasal dari kata marvellous (luar biasa).

Memasok Pabrikan

Sehat dan Pantas memproduksi cip analog yang super cepat. Tapi, mereka butuh pasar. “Apa gunanya punya produk canggih tapi tak punya pasar yang menyerapnya?” tanya Sehat. Berbekal jaringan saat bekerja untuk Canon, Weili Kenneth Burns, ilmuwan dari Seagate yang putus asa dengan kecepatan cip analog yang tengah ia pakai. Weili lalu memperkenalkan produk cip besutan Marvell Technology, perusahaan baru yang dimiliki keluarga Sutardja.

Kenneth tertarik dengan penawaran Weili dan meminta Sutardja bersaudara untuk presentasi di kantor Seagate di Minnesota. Tak dinyana, hanya dalam hitungan jam, dua saudara itu pulang ke Santa Clara dengan membawa nota kesepakatan.“Padahal, chip yang dibawa ke Seagate itu belum sepenuhnya lulus uji lab. Tapi Kenneth puas dengan kinerja cip itu setelah dites di Seagate,” aku Weili, terbahak, seperti yang dikutip Forbes. Sutardja bersaudara membutuhkan satu tahun untuk mendesain cip yang memiliki kinerja 20% lebih cepat daripada Texas Instruments (TI), cip yang semula dipakai Seagate.

Setelah mendapatkan kontrak dengan Seagate, Marvell kemudian mengejar NEC, Infineon, dan produsen disk drive lainnya. Kini, Marvell menyuplai cip untuk 90% produsen disk drive dan data storage. Tapi, karena Marvell lebih banyak memasok produk untuk industri, alias business-to-business (B2B), nama perusahaan yang terdaftar di papan bursa Nasdaq ini tidak terlalu dikenal masyarakat awam. Padahal, kalau Anda iseng membongkar switch buatan Cisco Systems, iPod dan iPhone bikinan Apple Computer, BlackBerry, Xbox keluaran Microsoft Corp., PSP dari Sony, atau disk drive apa pun produksi raksasa manufaktur mana pun; di dalamnya kita pasti bakal menemukan cip berlogo Marvell.

Hingga pertengahan 2006, saham perusahaan dengan kode perdagangan MRVL ini belum tergolong blue chip. Baru ketika mereka membeli unit bisnis prosesor komunikasi dan aplikasi Intel, yakni teknologi XScale, pada 9 November 2006, nama Marvell baru diperhitungkan.

Menurut Sehat, keberhasilan utama Marvell adalah menerjemahkan sinyal analog, yang biasanya melalui kabel atau udara, ke program digital dengan menggunakan kode-kode binari. Pelajaran mendasar yang Sehat dapatkan dari hobi membongkar radio transistor milik keluarga, belasan tahun silam.

Menjadi Nama Aula di Kampus Almamater

Meski tak memiliki pabrik, Marvell memiliki pusat desain di Aliso Viejo, Arizona, Colorado, Massachusetts, San Diego, dan Santa Clara. Sedangkan di luar negeri, perusahaan ini memiliki pusat desain di Jerman, India, Israel, Italia, Jepang, Singapura, dan Taiwan. Tiap kuartal, Marvell mampu mengapalkan 250 juta cip ke negara konsumen.

Sehat dan Weili mengelola perusahaan dengan obsesi dan gaya mereka sendiri. Sepasang suami istri ini, menurut Forbes, tak pernah mengambil liburan dan tak memiliki hobi. Hal yang menurut mereka adalah ‘kegemaran’ adalah menghabiskan waktu bepergian dengan pesawat jet ke berbagai negara, untuk bertemu 5.000 karyawan sekaligus mengunjungi klien.

Beberapa mantan karyawan Marvell sempat mengeluh karena tekanan kerja yang begitu tinggi dari para pendiri perusahaan tersebut. Kendati demikian, Sehat, Pantas, dan Weili masih memiliki kehidupan pribadi. Sehat dan Weili memiliki dua buah hati yang kini berusia 21 dan 19 tahun. “Mereka terbiasa hidup mandiri,” kata Sehat. “Mereka tahu caranya memasak,” celutuk Weili, terkekeh. “Kami tak bisa bilang ke mereka, ‘Ini saatnya main golf’. Hidup itu penuh perjuangan. Dan, apa yang kami capai saat ini hanya awal dari perjuangan itu,” urai Sehat.

Atas kegigihan mereka dalam berinovasi, kepemimpinan teknologi, kesuksesan bisnis, dan kemampuan memadukan keahlian, Ernst & Young Amerika Serikat memberi anugerah Entrepreneur of the Year 2003 kepada Sehat, Weili, dan Pantas. Agar menjadi sukses, kata Sehat, seseorang tidak boleh hanya mengandalkan keahlian pada satu bidang pengetahuan tertentu saja, tapi juga ilmu dari bidang-bidang lain. “Banyak orang berhenti belajar ketika mereka sudah terjun menjadi pengusaha. Saya kira, keputusan ini merupakan kesalahan besar,” kata Sehat.

Sejak 2006, Sehat Sutardja tak pernah terlempar dari daftar 400 orang terkaya di AS versi Forbes. Nilai kekayaannya ditaksir mencapai lebih dari US$1 miliar alias setara Rp9 triliun. Dan, pada Maret 2009, almamater mereka, UC Berkeley mengabadikan nama ketiganya menjadi nama salah satu aula di kampus tersebut, yaitu Sutardja-Dai Hall.

Ari Windyaningrum

(was published on Majalah DUIT! ed 2/Februari 2010)

 
Leave a comment

Posted by on August 21, 2010 in Smartpreneur

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: