RSS

Monthly Archives: September 2010

Bisnis Urine Palsu

Untuk mengetahui apakah seseorang menggunakan obat-obatan terlarang atau tidak biasanya dilakukan tes urine. Tapi kini dijual urine palsu untuk mengelabui hasil tes pemeriksaan.

Beberapa produk urine palsu sudah marak dijual di Selandia Baru. Biasanya urine palsu ini digunakan oleh para karyawan untuk mengelabui hasil pemeriksaan penggunaan obat-obatan terlarang di tempatnya bekerja.

Salah satu urine palsu yang dijual adalah QCARBO32 yang menawarkan hasil ‘100 persen lulus tes’ dengan jaminan uang kembali.

Paul Fitzmaurice dari New Zealand’s Environmental Science and Research menuturkan bahwa urine palsu yang banyak dijual ini sulit dibedakan dengan urine asli yang keluar dari dalam tubuh.

Praktek pemeriksaan urine di tempat kerja menjadi hal yang umum di hampir pelosok negeri Selandia Baru. Karyawan akan diberitahu untuk menampung urinenya di wadah tertentu untuk menguji apakah karyawannya menggunakan obat-obatan atau tidak.

Selain itu tes ini juga untuk melihat apakah seseorang cocok dengan pekerjaannya. Namun banyak orang di Selandia Baru yang melihat hal tersebut sebagai salah satu pelanggaran privasi.

“Urine palsu ini memberikan kembali privasi seseorang, karena pemeriksaan obat-obatan tersebut bertentangan dengan Bill of Rights and the Privacy Act, serta melanggar keadilan praduga tak bersalah,” ujar Chris Fowlie, salah satu pemilik perusahaan yang menjual produk urine palsu ini, seperti dikutip dari News.com.au, Jumat (17/9/2010).

Urine palsu ini sulit untuk diprediksi, karena ia juga mengandung natrium yang memiliki berat jenis sama dengan urine asli sehingga laboratorium tidak dapat membedakan bahwa urine tersebut adalah palsu.

Penggunaan urine palsu ini tidak sederhana karena seseorang perlu mengguncangkannya sebentar sebelum ditempatkan di microwave dan menaikkan suhunya. Hal ini dilakukan untuk membuat urine palsu seolah memiliki suhu tubuh yang sama untuk lulus tes. Meskipun tidak terlalu sederhana, tapi banyak orang yang rela menyimpan urine palsu panas di dalam sakunya demi sebuah privasi.

Harga sebotol kecil urine palsu ini tidak murah yaitu sekitar US$70 (sekitar Rp630.000), tapi diyakini bahwa seseorang akan memiliki tingkat kelulusan sebesar 100% dengan urine palsu.

Meski hingga kini belum diketahui dengan pasti apa saja senyawa yang dicampurkan dalam pembuatan urine palsu, namun banyak orang yang menggunakannya.

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2010 in Smartpreneur

 

Tags:

Mudik Membawa Triliunan Rupiah

Baiklah, selain soal beli baju baru, mudik, makan ketupat dan opor ayam, serta sungkeman, Idul Fitri juga identik dengan bagi-bagi angpao. Terlebih bagi mereka yang – syukur Alhamdulillah – kelebihan rezeki.

Tradisi bagi-bagi angpao ini, tentu saja memicu peredaran uang ke daerah lebih gencar. Pihak Bank Indonesia belum merilis data resmi, tapi tak ada salahnya kita menghitung sendiri. Belajar jadi pengamat ekonomi boleh dong hehehehe…

Menurut Sofyan Basir, direktur utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI), seperti dikutip VIVAnews.com, lebaran pasti memberi dampak pada peredaran uang di daerah. “Saya belum mendapatkan laporan angka resminya, tapi biasanya ada peningkatan simpanan di daerah,” tutur Sofyan.

Hanya saja, berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, kenaikan simpanan di daerah meningkat 10% hingga 20% saat perayaan Idul Fitri. “Peningkatan simpanan di daerah terjadi sejak Ramadhan,” ungkap Sofyan.

Itu sebabnya, BRI gencar mengiklankan program Simpedes beberapa saat menjelang Ramadhan.

Katakan, jika jumlah pemudik mencapai 20 juta orang dan membawa dana Rp2-5 juta per keluarga (prediksi paling konservatif), maka jumlah uang yang dibawa, dibagikan, dan dibelanjakan di kampung halaman mencapai sekitar Rp10 triliun.

Maka, tak mengherankan kalau BI secara khusus menyiapkan tambahan pasokan uang senilai Rp50 triliun, hanya untuk mengantisipasi kebutuhan Lebaran.

Berdasarkan siaran pers BI, pasokan uang lebaran terdiri atas pecahan besar (nominal di atas Rp20.000) senilai Rp44 triliun dan pecahan kecil sebesar Rp6 triliun. Jumlah ini meningkat 17% bila dibandingkan tahun 2009.

Jadi, “Jumlah ketersediaan uang untuk Lebaran lebih dari cukup,” tegas Budi Rochadi, deputi gubernur Bank Indonesia, seperti dikutip VIVAnews.

Lebih lanjut Budi mengungkapkan bahwa persediaan uang secara nasional pada momen Idul Fitri mencapai sekitar Rp139,62 triliun.

Akan tetapi, Budi mensinyalir bahwa uang beredar di daerah (yang berasal dari tambahan pasokan Rp50 triliun itu) bakal kembali ke brankas bank sentral dua bulan setelah Lebaran usai. Walah…

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2010 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Motor Keluarga Sakinah

Bagi orang kota, merayakan hari raya Idul Fitri tanpa mudik ke kampung halaman, rasanya tak afdol. Sialnya, tarif angkutan umum menjelang Lebaran naik gila-gilaan.

Padahal, tahun ini pemerintah jelas-jelas tak menentukan tarif Tuslah. Pengusaha angkutan aja yang pengen nyari untung gede…

Tapi, tak ada rotan, akar pun jadi. Bukan orang Indonesia namanya kalo tidak cerdas bin kreatif, meski kadang ngawur.

Tak mampu membayar ongkos naik bus, kereta api, apalagi pesawat terbang, para warga urban ini memilih mudik naik sepeda motor!

Beberapa tahun terakhir, mudik menggunakan sepeda motor menjadi pilihan jitu. Alasannya, tentu saja soal pengiritan dan efisiensi waktu akibat kemacetan lalu lintas.

Cuma modal bensin, biaya makan minum bisa disiasati dengan membawa bekal, para pemudik bisa pulang ke kampung halaman. Kalau terjebak macet, motor bisa melakukan manuver canggih: nyelip-nyelip di antara mobil yang pasrah terkena macet.

Tak perlu khawatir tersesat. Peta, apalagi piranti navigasi canggih macam Global Positioning System (GPS), tak diperlukan. Sebab, biasanya para pemudik motor berjalan berombongan. Kalau tak menciptakan rombongan, ya bertemu rombongan yang searah.

Menurut Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, seperti dikutip Tempo Interaktif, pemudik dengan moda sepeda motor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Hatta memperkirakan jumlah pemudik motor ini mencapai 3,6 juta jiwa. Juta booo… Naik dari “hanya” 3,1 juta jiwa pemudik motor pada 2009.

Perkiraan Menteri Hatta ini dianggap terlalu konservatif oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Lembaga tersebut memperkirakan jumlah pemudik dengan motor mencapai lebih dari 7 juta jiwa. Sedikit lebih kecil dari total penduduk DKI Jakarta (yang tersensus Juni 2010 lalu) yang mencapai 8,5 juta jiwa.

Meski sudah berulang kali dilarang, dan banyak pihak menyediakan mudik bareng. Para pemudik motor ini tetap membandel. Alasannya macam-macam, dari ribet mendaftar acara mudik bareng sampai alasan fleksibilitas waktu.

Seberapa irit sih mudik pakai motor itu? Kenapa banyak orang tergiur menggas motor dari Jakarta ke Jawa Tengan (bahkan Jawa Timur atau Lampung)?

Sebagai gambaran, terima kasih untuk pak sopir Putra yang bersedia berbagi pengalaman, untuk Jakarta-Purworejo cuma butuh biaya tak lebih dari selembar uang Rp100.000.

Begini perhitungannya, jarak kedua kota itu kurang lebih 630 km (melalui jalur tengah: Jakarta-Subang-Indramayu-Bumiayu-Purworejo). Kalau konsumsi BBM rata-rata 40 km/liter, maka dibutuhkan sekitar 15,75 liter bensin.

Nah, kalau harga bensin per liternya Rp4.500, para pemudik motor ini Cuma butuh ongkos bensin Rp70.875 saja.

Sebagai perbandingan, harga tiket bus kelas bisnis AC jurusan Jakarta-Purworejo yang biasanya Rp65.000 per orang, naik menjadi Rp150.000 per orang. Tarif lebaran ini berlaku sejak H-7 sampai H+7.

Lha kalau mudiknya satu keluarga berisi empat orang, yakni bapak, ibu, dan dua anak, ongkos mudik dengan naik bus apa nggak menelan biaya Rp600.000 sendiri? Bandingkan dengan mudik dengan motor yang hanya Rp70.000an itu. Nyaris sepersepuluhnya.

Aha! Itu sebabnya, banyak sekali “Motor Keluarga Sakinah”. Satu motor berisi ayah, ibu, dua anak, dan tas-tas bawaan berisi baju dan oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman.

Soal keamanan dan kenyamanan?  Ah, itu urutan ke sekian. Yang penting sampai kampung halaman. Benar-benar gaya orang Indonesia…

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2010 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Everything Seems Smaller…

When you finally go back to your old hometown, you find it wasn’t the old home you missed, but your childhood.

(Sam Ewing)

Hari ini aku berkelana ke tempat-tempat “jajahan”-ku zaman dahoeloe. Ada perasaan aneh di dadaku. Ah, mungkin pikiran ini teringat kisah cinta monyet yang masih juga belum berevolusi sempurna, sesuai Teori Darwin hehehe..

Aku menyusuri rute-rute yang biasanya aku tempuh saat menuju sekolah dasarku, sekitar seperempat abad lalu. Ada perubahan, tapi tak terlalu menyolok.

Beberapa ruas jalan berubah, kalau dulu masih jalan tanah (benar-benar jalan setapak, karena di pinggir sawah) kini sudah berubah  menjadi jalan aspal, hebatnya jalur itu menjadi akses alternatif utama ke luar wilayah kami. *Nah, bingung kan? “Alternatif utama” hehehe..* . Sementara beberapa ruas jalan beralih rupa, dari jalan aspal menjadi hamparan paving block.

Rumah kawan-kawanku juga tak banyak berubah. Maklum, usia orang tua kami rata-rata sebaya.  Dahulu, kami adalah anak-anak penghuni perumahan baru – rumah karyawan departemen tertentu. Kini, orang tua kami sudah pensiun, dan ya.. tentu tak mungkin mengubah rumah sederhana kami menjadi istana megah. Kecuali berhasil korupsi di akhir masa jabatan, dan tak tertangkap KPK hahaha…

Namun, hal yang berubah adalah semuanya menjadi lebih pendek dan kecil.

Dahulu, perjalanan dari dan ke sekolah tampak panjang dan lamaaa… Setelah aku besar, jarak yang 2 km itu ternyata tak ada apa-apanya bila dibanding jarak yang harus aku tempuh setiap hari menuju kantor.

Rupanya kaki mungil yang dulu berjalan kaki dan naik sepeda itu sudah menjelma menjadi kaki besar yang kini tinggal tekan gas untuk sampai ke mana-mana.

Pagar sekolah yang dulu tampak tinggi itu, kini ternyata tak begitu tinggi. Begitu pula dengan langit-langit ruang kelas kami dan pohon-pohon peneduh di pinggir lapangan. Tak cuma itu, bangku-bangku sekolah pun tampak menjadi lebih mungil.

Oh, semua menjadi tampak mengerut!

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2010 in Random Thought

 

Tags: ,

Setiap Detik Bermakna…

The month of Ramadhan is the month of learning. The month of Syawal is the month of victory. Whoever learns something in the name of Allah, seeking that which is with Him, (s)he will win.

(the hadith – Al-Hasan Al-Basree (ra) {related by Ibn Al-Jawzee)

Waktuku tak banyak. Setiap detik terlewat, maka berkuranglah jatah hidupku di dunia ini…

Semakin hari, semakin aku menyadari bahwa sebenarnya aku telah banyak menyia-nyiakan hidupku dengan menunggu, menggerutu, dan berjibaku untuk hal-hal tak bermutu.

Aku menjadi alpa untuk menikmati apa yang telah Tuhan berikan kepadaku, dan berterima kasih kepadaNya untuk segala kenikmatan dan ketidaknikmatan hidup ini.

Aku tak tahu berapa sisa jatah hidupku. Demikian juga kamu, dan mereka. Di sisa usiaku ini, aku mencoba untuk menikmati segala yang kulewati.

Aku menikmati setiap udara yang kuhirup. Thank GOD I don’t have to pay every breath I took.

Aku menikmati bau tanah yang baru tersiram air hujan. Thank GOD I live in tropical country, not in a country in Sahara desert.

Aku menikmati saat matahari bersinar, meski harus sibuk menutup sebagian muka dengan telapak tangan, agar mata tak silau. Thank GOD I don’t have to wait ’til summer to enjoy sun shine.

Aku menikmati asap nasi goreng yang menyeruak masuk ke kamarku tanpa izin. *Gara-gara si Toyib tukang nasgor yang mangkal tepat di bawah jendela kamarku. Haduh!* But, thank GOD I still can afford to buy -that- nasgor, umm..

Aku menikmati saat menunggu bus yang membawaku ke kantor, yang hanya lewat 45 menit sekali. Thank GOD I am not a jobless and still have (a small but homy) apartment.

Aku menikmati segala kekacauan di Jakarta, morat-maritnya sistem transportasi, banjir, kekumuhan, ketimpangan ekonomi, acak adul politik, bla bla bla bla…  Thank GOD I was born in Indonesia, not in a country at war.

Aku mulai bisa menikmati hal-hal yang nikmat dan yang tidak-nikmat dengan senyum. Because, I will miss these days.

Esok, tahun depan, lima tahun mendatang, sepuluh tahun lagi, ketika aku mengingat masa-masa ini, senyumku akan makin terkembang. Karena aku tak tahu, kelak di kemudian hari apakah aku berada pada kondisi lebih baik, atau justru lebih buruk dari saat ini.

Aku ingin mengenang semua detik yang kulalui dengan lapang dada, emosi yang stabil, serta hati yang ridha dan ikhlas. Sebuah perjuangan berat, memang. Sebab, aku ingin menikmati setiap episode hidup ini sembari berikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang Dia ridhai.

Semoga Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu Ramadhan mendatang. Amin.

 
Leave a comment

Posted by on September 11, 2010 in Random Thought

 

Copy Paste Maaf

Baiklah.. Tsunami pesan Maaf telah dimulai, seiring dengan mulai menggemanya Takbir menjelang Idul Fitri.

Dan, seperti tahun-tahun belakangan, ketika pesan singkat (baca: SMS) berhasil menggusur keberadaan kartu-kartu lebaran. Maka, di hari yang fitri ini, udara pun seakan dipenuhi pesan.

Ponsel tak henti-hentinya bergetar, menandakan adanya pesan masuk.*Bukannya banyak bertakbir, tapi jari jemari justru sibuk mengirim, membuka, dan membalas SMS. Haduh!*

Keberadaan Facebook, Twitter, dan BBM membuat orang punya keinginan makin besar untuk lebih eksis.

Tapi, sayang seribu sayang… Pesan-pesan permohonan maaf dan ucapan Selamat Idul Fitri itu kini hanya sebatas ucapan pendek. Sekadar formalitas dan kebiasaan. Bukan ucapan yang terkirim dari lubuk hati yang paling dalam –dan diterima oleh hati yang paling dalam pula.

Sebab, saat momen Idul Fitri, puluhan – bahkan ratusan, atau ribuan pesan – tertulis hal yang nyaris seragam: “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin” atau bila ingin ber-Arab-ria tuliskan “Minal aidin wal faidzin”.

Tapi, sialnya, sekarang ada kecenderungan sebagian dari kita untuk meng-copy paste ucapan. Entah dari SMS yang ia terima atau searching internet (kalo yang terakhir masih perlu dihargai, sebab masih ada usaha).

Bagiku, rasanya ganjil menerima SMS yang begitu puitis dari seorang kawan yang kesehariannya cuek bebek. *Hellooo.. apakah puasa sebulan telah mengubah seseorang menjadi lebih puitis?*

Atau, ucapan dalam bahasa Jawa dari seorang kawan yang kutahu pasti tak fasih berbahasa Jawa. *Mhm, mungkin dia menghargaiku yang terlahir di keluarga Raja Jawa hehehe..*

Kalau ada SMS yang isi pesannya menarik, kadang jemari tergelitik untuk meneruskannya kepada kawan kita yang lain. Dan, begitu seterusnya. Ucapan MAAF yang seharusnya luhur dan dari lubuk hati yang terdalam itu pun menjadi sekadar kegiatan COPY PASTE dan FORWARD pesan. Ah..

Maafkan aku, kawan

 
Leave a comment

Posted by on September 9, 2010 in Random Thought

 

Tags: ,

Mudik Gratis oh Mudik Gratis…

Seminggu sebelum hari raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia pasti sudah kasak-kusuk untuk kembali pulang ke kampung halaman. Pilihan moda transportasinya pun beragam, mau lewat darat, laut, atau udara.

Pilihan harga tiket pun beragam, tapi yang pasti sudah melambung akibat tuslah (biaya tambahan). Padahal, tahun ini Pemerintah tidak menetapkan adanya tuslah. But, business is business.. Pengusaha enggan rugi.

Kenaikan harga menjelang Idul Fitri, sudah dimaafkan terlebih dahulu hehe.. 😉

Buat yang berkantong cekak, selain mudik menggunakan sepeda motor, bisa juga menggunakan bajaj! *Jangan kaget, kawan.. tahun-tahun lalu, bajaj mudah ditemukan di Jawa Tengah dan sekitarnya, ikut si empunya bajaj mudik ke Jawa. Piye yo rasane mudik pake kendaraan roda tiga yang berisik itu? Mhm…*

Tapi, kalau mau aman dan nyaman, pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang sadar lingkungan (baca: menerapkan CSR dengan baik) menggelar acara mudik bareng. Mereka menyewa bus-bus pariwisata untuk dikerahkan ke daerah-daerah tujuan mudik, seperti ke Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur, maupun Lampung. Masyarakat umum pun bisa lenggang kangkung mudik tanpa harus keluar dana sepeserpun.

Tak cuma gratis, peserta mudik bareng pun kadang masih mendapatkan uang saku, seragam, paket hadiah (biasanya sih berupa produk perusahaan yang bersangkutan), hingga paket makanan & minuman, plus hiburan dari artis. Pokoknya enak deh…

Yang nggak enak itu, warga Jakarta, penumpang bus yang masih tersisa. Pasalnya, bus-bus kota banyak dicarter untuk mudik gratis 😦

Seperti Mayasari Bhakti 134-ku itu, yang biasanya ada delapan armada, tinggal tersisa tiga yang beroperasi. Alhasil, waktu tunggu bus pun makin lamaaaaaaaaaa… *hiks.. hiks..*

 
Leave a comment

Posted by on September 6, 2010 in Wheels on the Road

 

Tags: ,