RSS

Sistem Voucher, Alternatif Pemberian Zakat

06 Sep

Voucher akan mengubah cara pemberian zakat. Tak perlu antrean panjang yang memakan korban.

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri prihatin dengan pola pembagian zakat yang ada sekarang. Dia menilai metode yang sekarang dilakukan tidak manusiawi. Para penerima zakat kerap berebutan, berdesakan, dan akhirnya jatuh korban.

Dia berharap pemberi zakat mengubah polanya menjadi lebih baik. “Yang terjadi di masyarakat kita adalah antrean panjang, berhimpit-himpitan, panas-panasan. Itu tidak manusiawi,” ujar Salim di Jakarta, Minggu, 5 September 2010.

Menurut Salim pemberian zakat, infak, dan sedekah harus dikelola dengan baik, agar tak sampai memakan korban tewas dan luka-luka sebagaimana yang pernah beberapa kali terjadi. “Salah satu caranya memberikan voucher kepada fakir miskin, sehingga fakir miskin dapat menentukan sendiri barang sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Sebuah badan penyalur zakat yang berbasis di Condet, Jakarta timur, Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), telah mempraktikan sistem voucher itu bagi para penerima zakat. Mereka menggunakan voucher sebagai pengganti uang atau barang (natura).

Dengan sistem voucher, para penerima zakat tidak lagi harus antre apalagi berebutan untuk mendapatkan uang atau barang. Dalam program voucher zakat ini, PKPU telah bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan Rohis Lintasarta, Carrefour dan sejumlah lembaga lainnya.

Menurut Direktur Utama PKPU Agung Notowiguno, dengan pola ini para pemberi zakat dapat mendiskusikan sasaran zakatnya dengan langsung mengontak lembaga itu. “Misalnya minta zakatnya disalurkan ke para pemulung, kami akan memberikan data titik-titik pemulung yang ada,” ujar Agung.

Setelah itu dihitung jumlah zakat yang hendak disalurkan, PKPU lalu membuat voucher melalui kerja sama dengan pusat grosir seperti Carrefour, Giant, Lotte Mart atau yang lainnya. Voucher itu akan dikeluarkan dengan nilai tertentu, semisal Rp 200 ribu, dan dibagikan kepada yang berhak, atau dibagikan ke titik atau simpul kemiskinan.

Pola ini, kata Agung, akan mengubah cara distribusi zakat. “Artinya tidak lagi penerima zakat yang mendatangi, tetapi pemberi zakatlah yang aktif,” ujarnya. Cara itu, kata Agung, akan dapat mencegah jatuhnya korban, seperti 21 orang tewas di Pasuruan dua tahun lalu. Atau, tiga orang tewas di Pasar Minggu tujuh tahun silam.

Menurut Agung, pola itu sudah mereka terapkan sejak tiga tahun lalu. Pada 2009 lalu, misalnya, PKPU berhasil menyalurkan Rp 60 miliar. Sampai Agustus 2010, mereka sudah menyalurkan Rp 20 miliar. “Selama Ramadan ini sudah tersalur Rp 4 miliar,” kata Agung.

PKPU juga bekerja sama dengan banyak panti asuhan, dan menjadi fasilitator bagi orang yang ingin menyalurkan zakatnya.

Menteri Segaf Al Jufri memuji langkah PKPU dalam membagi zakat. Menurutnya, cara seperti ini telah diterapkan negara-negara lain, dan terbukti lebih efektif. “Kalau di luar negeri, jaminan sosial tidak boleh berupa barang yang tidak sesuai peruntukannya,” katanya.

Menurut Salim, zakat melalui voucher tidak akan serta merta membuat orang lebih konsumtif. Voucher zakat tidak diberikan setiap hari, dan benda itu dimaksudkan mendorong orang membeli barang keperluan sehari-hari sesuai kebutuhan. “Jadi, orang miskin merasa dimanusiakan, dan dunia usaha juga diuntungkan,” kata Menteri Salim.

(Was published on Vivanews.com, 6 September 2010)

Sejumlah Insiden Pembagian Zakat

4 September 2010. Pembagian zakat dan sembako di Pendopo Kantor Bupati Sampang, Madura. Antrean panjang tukang becak terjadi untuk memperoleh Rp50 ribu.

3 September 2010. Pembagian zakat di Masjid Jami di Makassar, Sulawesi Selatan. Ratusan orang berdesakan untuk masuk masjid demi Rp50 ribu. Panitia akhirnya membatalkan pembagian zakat.

29 September 2009. Pembagian zakat Pondok Pesantren Sabilillah, Lamongan, Jawa Timur, asuhan KH Ghofar. Sekitar 20 ribu orang berebut zakat senilai Rp 20 ribu sampai 50 ribu. Sejumlah warga miskin pingsan.

15 September 2009. Pembagian zakat di Mataram, Nusa Tenggara Barat, membuat ribuan warga miskin antre dan saling dorong. Puluhan anak-anak dan orangtua terinjak-injak. Seorang di antaranya pingsan.

15 September 2008. Pembagian zakat di rumah Haji Syaichon, Pasuruan, Jawa Timur. Sebanyak 21 orang tewas, 16 luka berat dan ringan.

7 November 2003. Pembagian zakat di rumah Habib Ismet Al Habsyi, Pasar Minggu. Tiga orang tewas, dua koma, dan puluhan lain luka-luka.

 
Leave a comment

Posted by on September 6, 2010 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: