RSS

Motor Keluarga Sakinah

13 Sep

Bagi orang kota, merayakan hari raya Idul Fitri tanpa mudik ke kampung halaman, rasanya tak afdol. Sialnya, tarif angkutan umum menjelang Lebaran naik gila-gilaan.

Padahal, tahun ini pemerintah jelas-jelas tak menentukan tarif Tuslah. Pengusaha angkutan aja yang pengen nyari untung gede…

Tapi, tak ada rotan, akar pun jadi. Bukan orang Indonesia namanya kalo tidak cerdas bin kreatif, meski kadang ngawur.

Tak mampu membayar ongkos naik bus, kereta api, apalagi pesawat terbang, para warga urban ini memilih mudik naik sepeda motor!

Beberapa tahun terakhir, mudik menggunakan sepeda motor menjadi pilihan jitu. Alasannya, tentu saja soal pengiritan dan efisiensi waktu akibat kemacetan lalu lintas.

Cuma modal bensin, biaya makan minum bisa disiasati dengan membawa bekal, para pemudik bisa pulang ke kampung halaman. Kalau terjebak macet, motor bisa melakukan manuver canggih: nyelip-nyelip di antara mobil yang pasrah terkena macet.

Tak perlu khawatir tersesat. Peta, apalagi piranti navigasi canggih macam Global Positioning System (GPS), tak diperlukan. Sebab, biasanya para pemudik motor berjalan berombongan. Kalau tak menciptakan rombongan, ya bertemu rombongan yang searah.

Menurut Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, seperti dikutip Tempo Interaktif, pemudik dengan moda sepeda motor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Hatta memperkirakan jumlah pemudik motor ini mencapai 3,6 juta jiwa. Juta booo… Naik dari “hanya” 3,1 juta jiwa pemudik motor pada 2009.

Perkiraan Menteri Hatta ini dianggap terlalu konservatif oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Lembaga tersebut memperkirakan jumlah pemudik dengan motor mencapai lebih dari 7 juta jiwa. Sedikit lebih kecil dari total penduduk DKI Jakarta (yang tersensus Juni 2010 lalu) yang mencapai 8,5 juta jiwa.

Meski sudah berulang kali dilarang, dan banyak pihak menyediakan mudik bareng. Para pemudik motor ini tetap membandel. Alasannya macam-macam, dari ribet mendaftar acara mudik bareng sampai alasan fleksibilitas waktu.

Seberapa irit sih mudik pakai motor itu? Kenapa banyak orang tergiur menggas motor dari Jakarta ke Jawa Tengan (bahkan Jawa Timur atau Lampung)?

Sebagai gambaran, terima kasih untuk pak sopir Putra yang bersedia berbagi pengalaman, untuk Jakarta-Purworejo cuma butuh biaya tak lebih dari selembar uang Rp100.000.

Begini perhitungannya, jarak kedua kota itu kurang lebih 630 km (melalui jalur tengah: Jakarta-Subang-Indramayu-Bumiayu-Purworejo). Kalau konsumsi BBM rata-rata 40 km/liter, maka dibutuhkan sekitar 15,75 liter bensin.

Nah, kalau harga bensin per liternya Rp4.500, para pemudik motor ini Cuma butuh ongkos bensin Rp70.875 saja.

Sebagai perbandingan, harga tiket bus kelas bisnis AC jurusan Jakarta-Purworejo yang biasanya Rp65.000 per orang, naik menjadi Rp150.000 per orang. Tarif lebaran ini berlaku sejak H-7 sampai H+7.

Lha kalau mudiknya satu keluarga berisi empat orang, yakni bapak, ibu, dan dua anak, ongkos mudik dengan naik bus apa nggak menelan biaya Rp600.000 sendiri? Bandingkan dengan mudik dengan motor yang hanya Rp70.000an itu. Nyaris sepersepuluhnya.

Aha! Itu sebabnya, banyak sekali “Motor Keluarga Sakinah”. Satu motor berisi ayah, ibu, dua anak, dan tas-tas bawaan berisi baju dan oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman.

Soal keamanan dan kenyamanan?  Ah, itu urutan ke sekian. Yang penting sampai kampung halaman. Benar-benar gaya orang Indonesia…

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2010 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: