RSS

Monthly Archives: March 2012

Undercover Boss

Laporan di atas kertas seringkali tak sama dengan kondisi di lapangan. Dan, begitu ‘pakbos‘ memutuskan sesuatu berdasarkan data-data yang tersedia di atas kertas, kadangkala, dampak di lapangan (jauh lebih) buruk ketimbang hasil perhitungan komputer.

Setiap Minggu malam, saya tak pernah absen mantengin BBC Knowlegde. Ada satu serial yang sepertinya patut ditonton orang-orang yang mengaku menduduki jabatan tertinggi di perusahaan atau instansinya, Undercover Boss. Garis besar reality show ini adalah ‘pakbos’ atau ‘bubos’ harus turun langsung ke garda depan. Bukan mengenakan identitas sebagai petinggi perusahaan, tapi mereka harus menyamar!

Bagi CEO atau direksi yang wajahnya familiar, mereka harus rela mengecat rambut atau menumbuhkan kumis dan jambang. Berbahagialah pemimpin baru yang menyamar, karyawan bawah biasanya belum kenal (atau merasa gak penting banget kenal ama bos, yang penting gajian lancar tiap akhir bulan hehehe..).

Menarik. Bagaimana melihat ekspresi CEO Subway diomelin anak buahnya karena sama sekali tidak terampil meracik hotdog, Presdir Clugston Group yang ternganga karena keputusan memecat orang justru akan membuatnya bekerja ekstra keras di lapangan, atau Managing Director Poundworld yang dimaki konsumen yang tak puas dengan pelayanan toko ‘epriting-goceng’ ini.

Acara ini bukan soal ‘kelucuan’ para petinggi perusahaan yang ternyata tak cakap menyelesaikan pekerjaan kasta bawah. Tapi, lebih dari itu. Kita bisa melihat komunikasi perusahaan selama ini tidak lancar seringkali menjadi biang keladi permasalahan perusahaan. Ada buffer komunikasi antara atasan dan bawah. Ada aspirasi dari bawah tidak sampai ke atas. Ada masalah di level grass root tidak sampai puncak karena mereka yang berada di posisi tengah juga ingin aman – atau tidak tahu bagaimana cara meneruskan informasi tersebut sampai ke meja direksi tanpa harus mengorbankan karir mereka.

Banyak ironi yang terjadi. Ada perusahaan yang begitu mendewakan pelayanan pelanggan tapi mereka tidak pernah melayani karyawannya. Para karyawan harus makan siang di ruangan sempit (yang disebut sebagai ruang makan) dengan peralatan serba rusak dan kursi tak layak untuk diduduki. Bagaimana mungkin karyawan bisa melayani pelanggan setulus hati jika hati mereka dongkol?

Sementara itu, banyak ide-ide segar berasal dari bawah. Karena mereka yang selama ini berada di garda depan, berhadapan langsung dengan konsumen atau klien. Seperti Dick, manajer konstruksi Clugston yang akan pensiun tahun depan, menyayangkan tak adanya pekerja muda yang masuk industri konstruksi. Menurut Dick ini karena perusahaan konstruksi dipandang tak menggiurkan dari sisi pendapatan. “Dengan penghasilan yang sama setiap jam, anak muda jaman sekarang tentu lebih memilih bekerja di McDonald’s daripada harus mengaduk semen atau mengangkat batu,” kata dia. Di jam makan siang, tanpa tahu bahwa yang sedang makan burger di seberang mejanya adalah presdir perusahaannya, Dick mengusulkan perusahaan konstruksi memberikan stimulus khusus untuk anak muda agar banyak ‘darah segar’ yang masuk.

Sementara itu, karyawan lain merasa tak tahu nasibnya minggu depan karena perusahaan sedang rajin memecat orang demi efisiensi. “Mengapa hanya pekerja kelas bawah yang dipangkas habis? Pekerjaan kami menjadi makin berat tapi mereka menaikkan standar pelayanan. Mengapa bukan karyawan yang berada di kantor saja yang dikurangi? Toh, mereka mendapatkan gaji lebih tinggi daripada kami..”

Tulisan ini bukan untuk mereview acara Undercover Boss. Tapi sekadar mengingatkan para (calon) bos bahwa karyawan bukan sekadar angka. Mereka juga manusia yang memiliki pikiran, hati, dan suara. Ketika kalian, para (calon) bos puyeng mengadapi masalah dengan regulasi pemerintah atau penjualan yang tak kunjung mencapai target, para karyawan bawah juga puyeng mengatur uang yang masuknya tak seberapa tapi kebutuhan tetap sama (bahkan makin tinggi akibat inflasi).

Tak ada salahnya pemimpin turun langsung ke lapangan, tanpa membuat jarak, tanpa harus menggunakan jasa para penjilat yang ABS. Bukan untuk pencitraan! Dengarkan suara mereka. Bukan tidak mungkin, ide-ide segar dari bawah akan memberikan solusi jitu yang menyelamatkan perusahaan dari hantaman krisis.

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Big Mac dan Nilai Rupiah

Jangan membeli Big Mac – salah satu produk McDonald’s – di Jenewa, Swiss. Di sana, harganya (kalau dikurs) mencapai Rp63.000. Sebaiknya, Anda terbang ke Ukraina. Di Kiev, ibukota Ukraina, harga Big Mac hanya Rp19.400, tidak terlalu jauh dari di Jakarta sebesar Rp22.400. Mengapa harga barang yang identik ini bisa sedemikian berbeda di berbagai tempat? Apa artinya untuk nilai rupiah?

Terdapat dua jenis komponen burger. Pertama, barang yang diperdagangkan di pasar internasional, seperti tepung, gula, wijen, dan daging sapi. Istilahnya tradables. Harga tradables cenderung mirip di berbagai tempat dalam mata uang internasional, misalnya dolar AS. Namun, di pasar domestik, terpengaruh mata uang lokal.

Kedua, barang tidak dapat atau sulit diperdagangkan antarnegara. Misalnya buruh, bangunan, dan listrik. Istilahnya non-tradables. Selain itu ada pula perbedaan tingkat pajak antarnegara. Jika dibandingkan Swiss, umumnya harga non-tradables lebih murah di Indonesia. Dan, lebih murah lagi di Ukraina. Inilah yang menjelaskan mengapa harga Big Mac di Kiev bisa sangat murah.

Jika kita asumsikan di dunia hanya ada satu barang, harga Big Mac dapat dipakai untuk menakar, apakah mata uang suatu negara mahal (overvalued) atau murah (undervalued) dibandingkan dolar AS. Pertama kita lihat perbedaan harga Big mac di AS dengan negara-negara lain. Lalu, dengan perbedaan tersebut dibandingkan dengan nilai tukar nominal yang berlaku.

Sejak 1986, majalah Economist secara rutin mempublikasikan harga Big Mac di kota-kota besar dunia. Pada Juli 2011, terlihat bahwa nilai franc Swiss 63% lebih mahal dibandingkan dolar AS. Sebaliknya, rupee India 53% lebih murah, adapun rupiah 35% di bawah dolar AS.

Sebelum penggunaan Big Mac sebagai alat ukur nilai tukar, ada konsep yang lebih tua, yakni purchasing power parity (PPP). Intinya, jika tidak ada hambatan perdagangan internasional, harga barang identik di berbagai tempat akan konvergen. Harga Big Mac seharusnya sama di semua negara. Agar harga Big Mac di Indonesia sama dengan di AS, rupiah harus menguat ke Rp5.540 per dolar AS.

Memakai PDB

Tentu Big Mac hanya satu di antara ribuan barang di pasar global. Oleh karena itu jauh dari memadai sebagai satu-satunya dasar untuk mengatakan rupiah kuat atau lemah. Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah komponen non-tradables. Contohnya, upah buruh di negara maju umumnya lebih maju umumnya lebih tinggi dan sewa bangunan lebih mahal ketimbang di negara berkembang. Kita dapat memakai produk domestik bruto (PDB) per kapita untuk mengoreksi perbandingan harga Big Mac.

Dengan koreksi ini, peringkat franc Swiss sebagai mata uang termahal di dunia jatuh ke peringat ke-6. Mata uang termahal di dunia adalah real brasil, yakni 1,5 kali nilai dolar AS. Mata uang yang termurah adalah dolar Hongkong, 43% di bawah dolar AS. Dan, rupiah justru 24% lebih kuat dari dolar AS. Untuk mencapai paritas dengan dolar AS, di Juli 2011, rupiah harus turun ke nilai Rp11.215.

Meskipun sederhana, penggunaan Big Mac sebagai ilustrasi lemah-kuatnya mata uang suatu negara terbukti akurat. Misalnya, pada Juli 2011, rupiah terlalu kuat, yang terjadi selanjutnya rupiah melemah. Tentunya hal ini terjadi karena banyak sebab. Namun, perlu disadari, nilai rupiah sekarang di posisi Rp9.200 per dolar AS masih ditopang derasnya arus masuk valuta asing ke saham dan obligasi pemerintah.

Mengingat inflasi di Indonesia umumnya lebih tinggi dari hampir semua negara rekan dagang kita, wajar jika rupiah melemah dari waktu ke waktu. Jadi, penguatan nilai tukar dari Rp9.000 di awal 2011 ke posisi Rp8.500 di pertengahan 2011 tidak lain karena arus modal yang masuk. Sebaliknya, pelemahan yang terjadi belakangan ini, juga karena keluarnya sebagian dana tersebut.

Meski neraca perdagangan kita umumnya positif, neraca berjalan sering nol atau minus. Ini karena arus dana keluar untuk membayar jasa transportasi, asuransi, dan imbalan modal asing di Indonesia. Ke depan, kita harus meningkatkan porsi domestik, paling tidak di asuransi, transportasi perdagangan internasional, dan penyediaan jasa lain. Sebelum itu terjadi, nilai tukar rupiah akan terus bergejolak seiring arus dana jangka pendek.

Namun, di jangka pendek, jika Anda ingin menikmati Big Mac, sebaiknya membeli di Jakarta saja untuk menghemat biaya perjalanan ke Kiev.

(writen by Kahlil Rowter, chief economist PT Bakrie and Brothers Tbk. As published on Kompas, 3 Februari 2012).

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2012 in Random Thought

 

Tags:

10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Sejak Jadi Menteri BUMN

Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapkan, saat ini ada dua pejabat di Indonesia yang ‘pandai’ menyedot perhatian publik lewat aksi-aksinya. Mereka adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dengan segala aksinya dan Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dengan memindahkan PKL dan mobil Esemka.

Nah, berbicara Dahlan Iskan, banyak orang sudah tahu kalau gaya menteri satu ini sangat khas dengan berbagai celetukan dan terobosannya yang lain dari yang lain. Berikut ini beberapa aksi fenomenal yang pernah dilakukan oleh mantan Dirut PLN tersebut dikumpulkan dari berbagai pemberitaan detikFinance, Kamis (22/3/2012).

1. Jadi Sopir Wakil Menteri BUMN

Ini ia lakukan sebagai resep agar bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan Wakil Menteri BUMN Mahmudin Yasin. Ia juga menciptakan model komunikasi moderen dengan para pejabat eselon I di lingkungannya.

Dahlan mengaku sebelum dilantik sebagai menteri BUMN tidak mengetahui siapa yang akan menjadi wakilnya. Pertemuan pertama Dahlan dengan Yasin adalah saat pelantikannya 19 Oktober 2011 lalu. Dahlan pun mencoba akrab dengan Yasin dengan mengajaknya mengendarai mobil bersama dari kantor presiden ke kementerian BUMN.

2. Naik Kereta Demi Rapat di Istana Bogor

Dahlan melakukannya demi memenuhi janjinya menggunakan KRL Commuter Line untuk melihat langsung perubahan fasilitas kereta api Jakarta-Bogor. Aksinya ini bersamaan ketika ia bermaksud ke Istana Bogor guna menghadiri rapat kabinet.

Layaknya penumpang biasa, Dahlan memilih memutar di sekitar lokasi, tidak ada satu pun ajudan yang ada di sampingnya. Dahlan ingin tahu perubahan-perubahan yang sudah dilakukan PT KAI. “Kita jangan cuma ngomel-ngomel, tapi nggak pernah nggak naik. Saya juga termasuk yang memang pencinta kereta,” jelasnya.

Lewat aksinya itu ia nyaris telat rapat di Istana Bogor hingga harus menyewa ojek, dan harus berlari-lari kecil karena khawatir terlambat.

3. Menyetir Mobil 40 Km Hanya Demi Melihat Sapi

Peristiwa ini Dahlan lakukan saat peringatan hari pers nasional Februari lalu. Ia mengunjungi tempat peternakan sapi di pinggiran Kota Jambi, seperti biasa tidak ada pejabat yang mendampingi dan voorijder. Dia hanya didampingi dua staf khususnya dan wartawan senior Ishadi SK.

Dahlan mengemudikan mobil Ford Everest BH 1962 dari Kota Jambi menuju lokasi PTPN VI (PT Perkebunan Nusantara) yang berjarak sekitar 40 KM. PTPN VI berada di kabupaten Batanghari.

4. Ngamuk di Tol Semanggi

Nah, aksi yang satu ini masih begitu hangat dan menjadi pembicaraan publik dua hari lalu. Dahlan Iskan ngamuk di pintu tol dekat Jembatan Semanggi menuju arah Slipi. Penyebabnya, antrean di tol tersebut sangat panjang tetapi loket yang dibuka hanya dua dari empat pintu yang ada.

5. Rapat Wajib seluruh Direksi BUMN tiap Selasa Pagi

Ia mewajibkan rapat pimpinan setiap Selasa pagi. Rapat berfungsi untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi BUMN, mengevaluasi dan memutuskan langkah yang dilakukan. Menurutnya, pola rapat pimpinan ini berhasil membawa kinerja yang apik bagi PLN.

Pola rapat semacam ini, tidak hanya di jajaran Kementerian, para BUMN juga dianjurkan melakukan hal yang sama. Lalu, kenapa Selasa menjadi hari pilihan Dahlan? Mantan Bos Jawa Pos ini beralasan, bahwa Senin merupakan rapat konsolidasi intern berupa komunikasi antar staf. Dalam rapat awal pekan akan dibawa ke rapat pimpinan di hari Selasa.

6. Test Drive Mobil GEA dan Esemka

Dahlan menjadi salah satu sekian pejabat yang mencicipi mobil Esemka besutan pelajar SMK Solo. Selain Esemka, di juga ke Madiun untuk menyambangi kantor PT Industri Kereta Api (INKA) guna mencoba mobil buatan BUMN tersebut yang bermerek GEA.

Dahlan dijemput pihak INKA untuk meninjau pembuatan kereta di pabrik BUMN tersebut, dan akhirnya meninjau bengkel pembuatan mobil GEA. Salah satu mobil GEA yang dicoba Dahlan sempat mogok sehingga dia harus mengganti dengan mobil yang baru. Dahlan pun menggunakan mobil GEA untuk mengunjungi sebuah pesantren di Kelurahan Takeran, Magetan, Jawa Timur

7. Tolak Lift dan Ruang Kerja Pribadi dan Tak Pakai Mobil Dinas

Dahlan pernah menolak menggunakan lift pribadi di kantornya saat ia pertama kali jadi menteri BUMN ketika menyambangi para pegawai BUMN. Ia juga sempat menolak ruang kerja pribadi menteri BUMN dan memilih ruang rapat. Sosok unik ini juga jarang memakai mobil dinas, memilih mobil Jaguar pribadinya berplat L 1 JP.

8. Jalan Kaki ke Kantor Jero Wacik

Tak seperti kebiasaan menteri-menteri lainnya, Dahlan memang terlihat beda. Misalnya saat ia rapat ke Kementerian ESDM, Dahlan pernah berjalan kaki dengan sepatu kets kesayangannya dan didampingi oleh 2 asistennya. Kejadian itu terjadi pada Selasa (25/10/2011) beberapa hari setelah ia dilantik jadi Menteri BUMN.

Kantor Kementerian BUMN letaknya di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Memang jaraknya dengan kantor Kementerian ESDM hanya sekitar 300 meter karena berada di ruas jalan yang sama.

9. Menginap di Rumah Petani Miskin di Sragen

Kejadian ini ia lakukan saat kunjungan kerja ke Sragen, Jawa Tengah pertengahan Maret 2012. Mantan Direktur Utama PLN ini memilih menginap di rumah seorang warga di Dusun Karang Rejo, Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen.

Bukan hanya itu saja, selama di rumah warga, Dahlan menyempatkan berdialog seputar kehidupan buruh tani. Dahlan juga melihat kandang sapi dan mengambil telur ayam, bahkan ikut menanam benih pada di sawah.

10. Rapat dengan Direksi BUMN Pakai ‘BBM’

Dahlan perintahkan pola rapat seperti ini sekitar dua bulan terakhir kepada direksi BUMN, ini dilakukan sebagai cara baru untuk rapat. Ia dan anak buahnya tak perlu membuang waktu datang ke kantor Kementerian BUMN, tapi cukup melalui BlackBerry Messenger (BBM).

DetikFinance: Kamis, 22/03/2012 07:22 WIB

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Negeri Ini Butuh Pemimpin Galak!

Seperti biasa, sebelum memulai pekerjaan, saya selalu mengawali denganritual mengecek tiga akun e-mail, satu akun facebook, dan detik.com. Ketika membaca portal berita itu, mata saya langsung tertuju pada salah satu judul berita: 10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Sejak Jadi Menteri BUMN. Setelah membaca, saya manggut-manggut tanda setuju.

Segera saya unggah tautan berita itu di akun facebook dan memberinya kalimat penjelas. Begini kalimatnya:

Bukan masalah mengidolakan atau tidak mengidolakan DI. Bukan masalah gaya kepemimpinannya emosional atau tidak emosional. Tapi, sepertinya bangsa ini butuh pemimpin yang sedikit ‘nyeleneh dan meledak-ledak’. Butuh seseorang yang berani mengatakan, “Kamu salah! Perbaiki itu!” dan bukannya membiasakan diri dengan hal-hal buruk yang sudah terjadi sejak lama, atau dengan senyum yang dipaksakan untuk mengatakan, “Saya turut prihatin.”

Pemimpin seperti DI tujuannya satu: mengkondisikan agar seluruh anak buahnya lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang diembannya.

Meski saya selalu menjunjung tinggi nilai demokratis, saya selalu berkata bahwa Indonesia masih butuh pemimpin “diktaktor”. Jangan bayangkan diktaktor seperti Hitler atau Husni Mubarrak. Diktaktor yang saya maksud adalah pemimpin yang punya visi, galak, dan berani “memaksakan kehendak” demi masa depan yang lebih baik, contoh mudahnya adalah Ali Sadikin atau kini Dahlan Iskan.

Negeri ini tak butuh pemimpin lembek yang hayuk aja kalau ada pihak-pihak lain yang membisiki. Tak cuma di ranah pemerintahan, tapi juga perusahaan, dan bahkan organisasi terkecil macam geng akamsi (anak kampung sini) yang suka nongkrong di pengkolan jalan.

Saya sempat memberikan jempol tanda suka pada status Dev Chatterjee, seorang sahabat yang bermukim di Mumbai. Dev sempat mengunggah status “A leader who gets influenced by cronies is a fool and not worthy of leadership.” Bisa jadi, ia mengungkapkan kekesalan pada salah satu pemimpin di India. Tapi, sebagai sesama jurnalis yang hidup di negara berkembang, sepertinya status itu cocok juga untuk menggambarkan kondisi kepemimpinan di negeri ini.

Kembali ke gaya kepemimpinan Dahlan Iskan, yang banyak orang menilai terlalu emosional dan koboian, mungkin tipe pemimpin seperti itu yang dibutuhkan negeri ini. Pemimpin yang berani mengatakan “Kamu salah!” dan menantang anak buahnya untuk memikirkan cara memperbaiki keadaan. Bukan menerima hal-hal salah sebagai keadaan yang – memangsudahterjadidaridulusehinggasusahdiperbaikikarenasemuasudahterbiasa. Untuk urusan banting kursi, sebagai mantan premanwati (halah!), saya setuju-setuju saja. Menurutku itu memberikan efek jera.

Kita butuh pemimpin yang bisa bertindak sebagai agen perubahan (agent of change). Tak mudah untuk mengubah keadaan, apalagi jika kita berhadapan dengan orang-orang yang selama ini menikmati keadaan tersebut. Mungkin, ini sedikit ekstrem, menurutku, untuk menjadi pemimpin yang baik – saat ini – kita harus rela dibenci orang. Tapi, di masa depan, keadaan akan terbalik, mereka akan menyayangi pemimpin itu karena berhasil menciptakan kondisi lebih baik bagi orang-orang yang dipimpinnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags:

IMF warns of oil risk from Iran

IMF chief Christine Lagarde warned Tuesday that crude oil prices may spike by up to 30 percent if Iranian supplies were disrupted, causing “serious consequences” for the global economy.

The standoff between Iran, the world’s second-largest supplier of oil, and the West over the Islamic Republic’s nuclear program is seen as a flashpoint that could sharply increase world crude prices. “Clearly it would be a shock to economies if there was a major shortage of exports of oil out of Iran, it would certainly drive up prices for a period of time,” Lagarde told reporters in New Delhi, wrapping up a two-day visit.

The International Monetary Fund (IMF) has calculated that an interruption in oil supplies from Iran could increase oil prices by 20 to 30 percent, said Lagarde, who arrived in India at the weekend from neighbouring China.  “A sudden and brutal rise in the price of oil” from Brent crude’s current levels of $125 a barrel “would have serious consequences on the global economy” until other oil-exporting nations were able to bridge the gap, she added.

Iran has repeatedly rejected accusations by Western nations that it is developing an atomic bomb but the United States and the European Union have imposed stiff sanctions to persuade Tehran to abandon its nuclear programme. Iran has threatened retaliation for tightening Western sanctions over its nuclear programme, including a possible disruption of shipping through the Strait of Hormuz, a Gulf chokepoint for global oil shipments.

Apart from concern over tensions with Iran, Lagarde said the world financial situation was not as grave as it was at the start of this year.  “We are further away from the abyss than we were three months ago,” she said.

Steps by the European Central Bank and some European countries had helped stabilise the overall situation, she said, but there were still areas “that need to be attacked with vigour”, such as shoring up financial institutions.  “Financial institutions were high contagion agents for this crisis — this tells us where reforms have to focus. Financial institutions have to be agents for growth, not a threat to growth,” she said.

The latest global financial crisis had been a “huge catalyst” to get European political leaders to take politically unpopular measures to restore economic health in the eurozone, she added. “Crisis was a major agent of change but you don’t want to have to go there,” Lagarde said.

 

(20-Mar-12, 9:43 PM | Penny MacRae, Agence France-Presse)

 

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2012 in Dunia Dalam Berita

 

Tags: ,

Lazuli Sarae: Ketika Warisan Budaya Tertoreh di atas Denim

Sekumpulan alumni ITB ini merintis bisnis yang menorehkan batik di atas bahan denim (jins). Mereka berhasil mewujudkan bisnis dari hasil Tugas Akhir, dan menjadikan sesuatu yang menguntungkan.

Ide itu mahal. Apalagi jika sudah berbentuk sebuah produk yang unik. Mungkin hal sangat tepat untuk sebuah usaha yang dilakoni Ivan Kurniawan dan Maretta Astri Nirmanda. Betapa tidak, kreativitas mereka tertuang pada produk jadi berupa batik on denim yang rupanya memiliki nilai seni yang tinggi dan yang pasti dengan nilai jual yang setimpal pula. Terlebih jiwa muda yang menaungi diri mereka menjadi nilai tambah dalam mengeksplorasi ide-ide yang ada di dalam benaknya.

Seperti dikisahkan Ivan, yang kini fokus pada Business and Marketing Development Lazuli Sarae. keinginannya memulai sebuah usaha sudah terbesit sejak bangku kuliah. Namun lantaran keterbatasan modal dan belum berani untuk memulainya, niat tersebut pun diurungkannya. “Kebetulan saya dan Retta satu angkatan. Sedari kuliah kami sudah memiliki rencana untuk memulai usaha. Tapi, sampai akhirnya kami lulus dan masing-masing bekerja, belum juga kesampaian untuk mendirikan bisnis sendiri,” terang Ivan.

Hingga kemudian keinginan memulai bisnis timbul lagi setelah melihat pengumuman Kompetisi menyusun Business Plan, sebagai bagian dari Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan, pada 2010. Nah, dari situ, Ivan menghubungi Retta. “Waktu itu, kami memilih untuk mewujudkan bisnis dari Tugas Akhir salah seorang kawan kami, Gilang. Waktu itu, judul TA-nya menarik, yakni Eksplorasi Reka Batik pada Bahan Denim. Kami pun sepakat mengekplorasi ide tersebut,” urai Ivan.

Tak salah memilih, ide bisnis itu terpilih menjadi Ide Terbaik dengan menyabet gelar juara Kedua, sekaligus memenangkan The Best Presentation Award pada kompetisi tersebut. Sebagai bentuk penghargaan, Ivan dan Retta mendapatkan hadiah senilai Rp10 juta, yang kemudian digunakan sebagai modal awal dalam mengembangkan ide bisnis. “Awalnya, kami mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan konsep batik di atas bahan demin. Tapi, itu bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi,” tegas pria pemegang Sarjana Teknik Informatika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Berbekal modal dari hasil kompetisi itu, Ivan dan Reta mulai menyusun strategi, membuat alur produksi, serta melakukan riset terhadap produk yang ingin diciptakannya. Di tengah perjalanan, Ivan mengaku semangat bisnisnya sempat memudar. “Semangat kami sempat pudar karena kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” aku dia. Hingga kemudian, pada Januari 2011, keduanya sepakat untuk mengundurkan diri dari tempat pekerjaan masing-masing dan fokus mengembangkan bisnis batik on denim dengan brand Lazuli Sarae.

Untuk mendapatkan nama brand Lazuli Sarae, Ivan seakan ingin menunjukkan adanya perpaduan dua budaya. Kata ‘Lazuli’ berasal dari bahasa Persia yang berarti biru. “Warna biru menggambarkan warna bahan denim,” jelas Ivan. Adapun kata ‘Sarae’ berasal dari bahasa Sunda yang artinya mengagumkan. “Kami ingin memadukan denim dan batik, yang secara kultural berasal dari dua budaya berbeda, modern dan tradisional,” imbuh dia.

Bagi Ivan, industri fashion di Indonesia terbilang sangatlah maju dan memiliki peran besar dalam pembangunan perekonomian. Karenanya, Ivan pun optimistis dengan keunggulan dan keunikan produk yang ditawarkannya, Lazuli Sarae dapat diterima pasar. “Kami amat terkesan ketika melihat masyarakat mengapresiasi produk yang kami buat. Luar biasa! Umpan balik dari para apresiator dan kunjungan masyarakat saat pameran, memberikan pelajaran sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menciptakan produk bernilai tinggi,” ujar Ivan bersemangat.

Singkat cerita, Lazuli Sarae pun mulai eksis dengan mengikuti beragam pameran-pameran, seperti INACRAFT 2011 (Jakarta International Handicraft Trade Fair), PPKI 2011, dan semacamnya demi mengenalkan produk batik on denim juga brand usahanya. Kini, produk Lazuli Sarae selain dijual di gerainya di Bandung, juga melalui media online. Selain itu, mereka juga meka juga berkonsinyasi dengan sejumlah gerai pusat di Jakarta, seperti SMESCO Gallery, Pendopo Rumah Batik dan Kerajinan Alam Sutera, Sarinah Thamrin, serta Pejaten Village.

Akulturapolis

Dijelaskan Ivan, produk yang ditawarkan Lazuli Sarae memang mengedepankan konsep perpaduan nilai tradisional (batik) dan modern (denim). Produk yang dibuatnya pun murni hasil pembatikan secara tradisional, dan memiliki motif yang unik. Tak ayal, harga yang ditawarkannya pun disesuaikan dengan hasil kerja keras mereka dalam menuangkan ide kreatifnya, yakni berkisar Rp350.000 hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

“Orang beranggapan batik kami ditempel di atas bahan denim. Padahal, kami membatik di atas bahan denim. Itu sebabnya, dari segi proses membutuhkan waktu lama, kadang sampai satu bulan,” kata Ivan. Ia menuturkan proses pembuatan batik on denim memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena banyak detail.

Ketika disinggung omzet yang diperoleh selama ini, Ivan mengatakan sangat fluktuatif. Namun, ia menyebutkan rata-rata yang didapatkan Lazuli Sarae mencapai Rp14 juta setiap bulan. “Pernah kami mendapatkan satu pesanan yang nilainya puluhan juta. Tapi, itu tidak terjadi setiap waktu,” katanya. Ivan menuturkan Lazuli Sarae membidik segmen menengah atas.

Pada koleksi terbarunya, Lazuli Sarae mengedepankan busana dengan tema kehidupan urban, baik untuk lini busana formal dan non formal. Secara spesifik. Ivan ingin mengusung tema Akulturapolis yang berarti kota yang penuh percampuran budaya, Ivan menginginkan produknya bisa seperti kota tersebut. “Tema Akulturapolis seperti konsep batik on deman Lazuli Sarae, yakni memadukan nilai tradisional dan modern sehingga menghasilkan sesuatu yang indah tanpa menghilangkan kedua nilai tersebut,” jelas pria yang pernah bekerja menjadi Apprentice at Business Partner Organization di IBM Indonesia ini.

Ivan mengungkapkan inovasi adalah sebuah kunci dalam mengembangkan sebuah usaha. Karenanya, ia akan terus melakukan pengembangan produk yang ditawarkannya. Ivan mengaku membutuh waktu lama dalam menuangkan ide-idenya,. Dalam satu sesi desain, misalnya, tim Lazuli Sarae membutuhkan waktu minimal enam bulan untuk menciptakan desain-desain barunya. “Kami akan terus melakukan penelitian dan pengembangan dari sisi produk dan pasar untuk menghasilkan inovasi dan diferensiasi. Ke depannya kami berharap Lazuli Sarae dapat menjadi bagian dalam memperkuat ekonomi kreatif di Indonesia,” pungkasnya.

Untuk itu, Ivan memiliki vendor dan pengrajin terpercaya untuk membuat setiap produknya. Menurutnya, dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan pasar yang dituju, keahlian dan kelihaian mereka sangat dibutuhkan. “Saya melakukan pendekatan dengan bekerja sama dengan vendor yang mau belajar dan berkembang bersama. Sebab, vendor yang sudah mapan biasanya mematok harga tinggi dan kuantitas minimal pesanan yang belum cocok untuk kami. Justru ketika Lazuli Sarae bekerja sama dengan vendor yang juga sedang berkembang, akan tercipta banyak pembelajaran bagi kedua belah pihak untuk mencapai hasil yang diinginkan bersama,” urai dia. $$$ IMAM ARIF MAULANA

 

Lazuli Sarae
Jl. Plesiran No. 10
Bandung, Jawa Barat
Telp : 0812 203 0607
E-mail : ivan@lazulisarae.com
http://www.lazulisarae.com

(Will be published on Majalah DUIT! ed 04/April 2012)

 
1 Comment

Posted by on March 20, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , , , ,

Life Time Achievement Award untuk Pembatik Senior

Akhir Januari 2012, empat pembatik senior di wilayah Jawa Barat mendapatkan penghargaan Life Time Achievement dari Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB). Penghargaan ini merupakan apresiasi atas pengabdian lima pembatik senior yang sudah menggoreskan cantingnya sejak usia muda. Keempat pembatik senior itu adalah Ny. Kenah (yang kini berusia 69 tahun) asal Kab. Garut, Ny. Tapiah (70) asal Kab. Indramayu, Ny. Muraci (72) asal Kota Cirebon, dan Ny. Siti Khodijah (81) asal Kab. Tasikmalaya.

Keempatnya didatangkan langsung dari kotanya ke Kota Bandung untuk menerima penghargaan dari Shendi Rahmania Yusuf, ketua YBJB. Menurut Shendi, mereka pantas mendapatkan apresiasi atas pengabdian mereka. Selain mendapatkan penghargaan, keempatnya mendapatkan bantuan tunai Rp2,5 juta dan seperangkat kompor gas untuk membatik dari Kementerian Koperasi dan UKM. “Penghargaan ini merupakan apresiasi atas pengabdian keempat pembatik senior yang sejak muda hingga usia tua masih menekuni batik,” tutur Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat

Menurut Shendy Yusuf, untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas industri batik, pihaknya melakukan pelatihan batik, pembekalan manajemen wirausaha, dan bantuan desain. Dalam kesempatan itu, PT Indonesia Power juga menyalurkan dana bergulir bagi 10 perajin batik di Jawa Barat senilai masing-masing Rp10 juta. Dana bantuan bergulir itu diambilkan dari dana CSR PT Indonesia Power.

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,