RSS

5 Langkah Sebelum Menentukan Merek

09 Mar

Merek adalah aset tak berwujud (intangibles asset). Nilai dari sebuah merek bisa jadi berlipat ganda dari nilai bisnis yang sesungguhnya. Perkiraan nilai dari merek-merek terkenal di dunia, seperti Coca Cola atau IBM melebihi US$50 miliar setiap mereknya. Sementara itu, Philip Morris harus menyiapkan dana empat kali lebih tinggi dari nilai yang dimiliki Kraft, ketika Philip Morris membeli Kraft senilai US$12,9 miliar. Angka yang fantastis itu karena konsumen menilai merek, reputasi, citra, dan kualitas yang didapatkan dari produk tersebut.

Sebagai start up entrepreneur, memilih dan menentukan merek bukan hanya soal mencomot nama. Namun, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Sebab, merek yang tepat dan dipilih secara hati-hati merupakan sebuah aset bisnis.

Memenuhi Persyaratan Hukum. Ketika memilih sebuah merek, seorang pengusaha harus menghindari kata-kata umum. Merek KURSI untuk produk kursi, tentu akan ditolak Ditjen HAKI. Begitu pula merek yang bersifat menerangkan, misalnya merek SWEET atau MANIS terutama untuk produk makanan manis. Hindari pula merek yang berpotensi membingungkan konsumen, terutama yang berkaitan dengan sifat, kualitas atau asal daerah/geografis produk tersebut, misalnya merek SAPI untuk produk margarin.

Tidak Sama atau Mirip Merek yang Sudah Didaftarkan Sebelumnya. Ketika memilih merek, seorang pengusaha harus melakukan penelusuran merek untuk memastikan bahwa merek yang hendak dipakainya belum didaftarkan oleh pihak lain. Penelusuran merek bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan jasa konsultan HAKI. Coba juga cek www.dgip.go.id atau www.arbiter.wipo.int/trademark milik World Intellectual Property Organization (WIPO) bila ada keinginan untuk melakukan ekspor produk di kemudian hari.

Mudah Dibaca, Ditulis, Dieja, dan Diingat. Fungsi utama merek agar konsumen bisa membedakan produk/jasa milik sebuah perusahaan dengan milik perusahaan lain. Konsumen yang puas biasanya akan membeli atau memakai produk tersebut di masa datang. Kalau konsumen lupa atau sulit mengingat merek tersebut, mereka tidak akan melakukan pembelian ulang. Jika seorang pengusaha berniat untuk melakukan ekspor, pastikan juga bahwa masyarakat di negara lain mampu membaca, mengeja, dan mengingat produk tersebut. Merek SONY sering dijadikan contoh merek yang memenuhi kriteria mudah dieja konsumen yang menggunakan beragam bahasa.

Tidak memiliki konotasi negatif. Nama merek harus bisa diterima di semua kawasan, baik di pasar lokal maupun di negara-negara yang merupakan pasar potensial ekspor. Jangan sampai merek menimbulkan penafsiran ganda dalam budaya dan bahasa yang dapat merugikan merek. Sebuah merek kudapat sempat dituntut masyarakat Nusa Tenggara Timur karena nama merek memiliki konotasi negatif dalam bahasa mereka. Contoh terkenal lainnya adalah merek pasta gigi DARKIE yang dianggap berbau rasial dan harus diubah menjadi DARLIE.

Nama Domain Internet Belum Didaftarkan Pihak Lain. Dari waktu ke waktu, nama domain internet telah menjadi penentu bisnis dan sering berkaitan dengan merek. Jangan memilih nama domain internet yang merupakan merek dari perusahaan lain, terutama merek terkenal. Jika seorang pengusaha membuat nama domain yang mirip dengan merek perusahaan lain (yang sudah didaftarkan), pengadilan bisa saja mengenakan pasal pelanggaran merek, yang dikenal dengan cybersquatting.

 

Sumber: Membuat Sebuah Merek: Pengantar Merek untuk UKM. World Intellectual Property Organization (2006)

 

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2012 in How to..

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: