RSS

Beautypreneur: Kemilau Bisnis yang Bikin Cantik

12 Mar

Industri kecantikan tak lekang oleh waktu. Peluang bisnis di jalur ini masih terbuka karena masyarakat makin menyadari arti penampilan.

Siang itu, langit cerah tanpa awan, membuat terik mentari seakan mencekam kulit tanpa basa-basi. Benar saja, termometer digital menunjukkan angka 34 derajat celcius. Pendingin udara di kendaraan, yang sudah disetel di angka maksimum, hanya terasa seperti semilir kipas angin.

Namun, ketika kaki melangkah masuk ke sebuah bangunan di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, suasana benar-benar berubah. Sayup-sayup alunan gending Jawa membuai indera pendengaran, sementara aroma dupa dan wangi bunga menentramkan pikiran. Resepsionis yang menyambut dalam Bahasa Indonesia, menyadarkan para tamu bahwa mereka masih berada di Jakarta, bukan di tengah Keraton Yogyakarta. Memasuki areal Taman Sari Royal Heritage Spa memang membuat para tamu serasa “menghilang sejenak” dari hiruk pikuk Ibukota.

Dalam tradisi Indonesia, kecantikan identik dengan putri Keraton. Mereka dianggap mewakili penampilan sempurna orang Indonesia dengan rambut terawat, wajah cantik, kulit halus dan bersih, serta bentuk tubuh ideal. Rahasia kecantikan mereka terletak pada kebiasaan merawat tubuh. Tak sekadar menggunakan ramuan tradisional, tapi juga tata cara perawatan holistik yang rahasianya terjaga turun temurun.

Kini, zaman berubah. Putri Keraton keluar istana dan berbagi rahasia dengan masyarakat umum. Setidaknya, itu yang dilakukan BRAy Mooryati Soedibjo, cucu Susuhan Paku Buwono X, dengan grup Mustika Ratu-nya.

Manajemen memahami bahwa masyarakat modern menginginkan gaya hidup kembali ke alam dan mengikuti tradisi. Itu sebabnya, pada akhir 1997, mereka memperkenalkan Taman Sari Royal Heritage Spa yang menawarkan layanan spa dengan tradisi Keraton Jawa. Kendati kini mereka juga menawarkan sensasi spa modern, seperti perawatan Sugar Up & Chocolate Refining (spa coklat) yang dipercaya manjur untuk mengusir bad mood.

Perubahan zaman pun memungkinkan masyarakat awam memiliki bisnis perawatan tubuh ala Putri Keraton itu. Pasalnya, Taman Sari Royal Heritage Spa menawarkan sistem franchise. Dengan Rp1,5 miliar, masyarakat bisa membeli franchise spa tersebut. Jika merasa terlalu mahal, perusahaan menawarkan second brand Java Princess dengan investasi Rp750 juta. Menariknya, gerai franchise pertama Taman Sari bukanlah di Indonesia, melainkan di Malaysia!

Meski sudah merambah pasar internasional dan omset perusahaan mencapai Rp700 miliar, Mustika Ratu dimulai dari bisnis skala rumahan. Mooryati memulainya dengan memproduksi jamu, sampo merang, dan lulur di garasi rumah, pada 1975. Modal awalnya Rp25.000. Waktu itu, Mooryati melabeli produk buatannya dengan merek Ts Beauty Secret. “T itu dari Tati, nama panggilan saya di keluarga,” aku Mooryati, seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Di negeri ini, peluang bisnis kecantikan masih terbuka lebar, karena pasar yang besar dan beragam, ditambah keinginan masyarakat (tak hanya kaum perempuan) untuk tampil lebih mempesona. Liputan Beautypreneur kali ini tidak hanya difokuskan pada bisnis-bisnis yang berkaitan dengan kecantikan kulit, wajah, dan rambut semata. Tapi juga bisnis-bisnis yang mendukung kecantikan, termasuk aksesoris, parfum, fashion, hingga pembuatan wig maupun bulu mata palsu.

Industri Evergreen

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, sekitar 230 juta jiwa, Indonesia merupakan target prospektif bagi produsen produk kecantikan, tak hanya pabrikan kelas dunia, tapi juga pengusaha lokal. Berbagai kalangan menilai, industri kecantikan di negeri ini, dalam arti luas, memiliki nilai transaksi mencapai US$5 miliar (setara Rp43,35 triliun), per 2010. Angka ini melonjak 12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut catatan Ikatan Wanita Pengusaha (IWAPI), secara nasional, saat ini terdapat sekitar 10.000 unit usaha. Bukan tidak mungkin, angka itu hanya puncak gunung es. Jumlah itu baru berasal dari perusahaan yang mencatatkan bisnisnya. Masih banyak beautypreneur yang tidak tercatat, namun memiliki bisnis yang luar biasa manis.

“Bisnis kecantikan dan perawatan kesehatan akan terus berkembang, apalagi sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat,” ungkap Putri Kuswisnuwardhani, presiden direktur PT Mustika Ratu Tbk. Menurut Putri, peran perempuan yang semakin besar di luar rumah dan meningkatnya kebutuhan perawatan kesehatan secara umum menjadikan sektor ini sebagai industri evergreen.

Selain rasio penduduk Indonesia lebih didominasi perempuan, yang membuat permintaan semakin banyak, kaum lelaki pun belakangan makin gandrung mempercantik diri. Lihat saja, pabrikan kosmetika pun kini merilis produk untuk pria untuk pasar Indonesia, seperti sampo dan hair tonic, hingga gel, facial scrub, body foam, dan parfum.

Untuk menarik perhatian, bintang iklan produk maskulin ini pun dihadirkan dari jagat olah raga, seperti pesepakbola Bambang Pamungkas, Kim Kurniawan, dan Irfan Bachdim, perenang Glen Victor Sutanto, hingga pembalap Rio Haryanto.

Dus, salon khusus pria juga mulai menjamur. “Sebenarnya, salon khusus pria sudah ada sejak jaman dahulu, namanya “barbershop”. Salon ini memang pelanggannya benar-benar pria yang bertujuan untuk memotong rambut. Namun dalam perkembangannya salon ini dilengkapi juga dengan layanan mewarnai rambut, menikur dan pedikur,” urai Freddy Rangkuti, pengamat pemasaran.

Menurut Freddy, karena meningkatnya permintaan, kebutuhan, dan gaya hidup, maka salon-salon pria ini, melengkapi pelayanannya dengan berbagai fasilitas sama seperti yang diberikan pada salon-salon wanita. Konsep metroseksual menunjukkan kaum Adam sudah rajin merawat tubuh.

Salah satu salon pria yang eksis adalah Di Hoek Barbershop. Selain melayani jasa potong rambut (cutting), Di Hoek juga melayani cuci rambut (washing), creambath, pewarnaan (coloring), hingga cukur jenggot, kumis, dan jambang (shaving).

Si empunya bisnis, Wenda Wildayan menuturkan keistimewaan bisnisnya terletak pada pada kebersihan dan kerapian. “Ada beberapa pelanggan mencukur rambut dulu sebelum ke kantor. Kami menjamin tidak akan meninggalkan potongan rambut di pakaian pelanggan,” janji Wenda. Ia menyebut nama sejumlah selebritis, pengusaha, pejabat, dan ekspatriat merupakan pelanggan salon yang berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini.

Memang, agar tak tergilas waktu, para pelaku bisnis kecantikan harus kreatif dan memiliki diferensiasi produk/layanan. Untuk bisnis salon, misalnya, kini sudah ada yang lebih spesifik, ada salon khusus wanita muslimah, salon khusus untuk bayi dan anak-anak, salon khusus untuk pria, salon khusus perawatan kuku, bridal (rias pengantin), hingga salon yang hanya melayani waxing (menghilangkan bulu).

Caramello Sugar-Waxing Shop, misalnya, fokus memberikan pelayanan waxing. Bisnis yang dirilis Januari 2009 ini bermula dari keluhan tiga pemiliknya, Merry Salim, Rosan, dan Judy Sinurat akan higienitas peralatan di sejumlah salon yang menyajikan perawatan waxing. Alhasil, gerai yang berada di La Codefin, Kemang dan Epicentrum Walk itu hanya menggunakan peralatan disposable (sekali pakai), contohnya spatula kayu untuk mengoles cairan wax dan kain blacu untuk menarik bulu rambut.

Kebersihan dan kesehatan konsumen menjadi pertimbangan utama dalam penyediaan perangkat higienis. “Dari pengalaman dan pengamatan kami, kalau salonnya tidak spesialis, treatment-nya juga tidak akan maksimal,” kata Merry, seperti dikutip Media Indonesia. Caramello menggunakan bahan-bahan alami, seperti gula (karamel) dan lemon sehingga aman untuk kulit. “Tidak akan menyebabkan alergi dan meninggalkan residu, seperti cairan lilin,” imbuh dia. Biaya yang dipatok antara Rp20.000 hingga Rp395.000 untuk menghilangkan bulu di seluruh tubuh.

Hal yang perlu diperhatikan, pasar selalu membentuk kerucut. Makin spesifik target pasarnya, makin kecil jumlah pelanggannya.

Diferensiasi Kreatif

Untuk mendapatkan tempat di hati konsumen, para pengusaha sudah makin menyadari arti pentingnya diferensiasi yang kuat. Terutama, jika produk dan jasa bersaing di pasar yang ketat. Menurut pengamat pemasaran Hermawan Kartajaya, definisi adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk menciptakan perbedaan di antara pesaing dengan tujuan memberikan nilai yang terbaik untuk konsumen.

Akan tetapi, Hermawan mengingatkan bahwa dalam membuat diferensiasi, seorang pengusaha harus memperhatikan dua hal, yakni kreatif dan positif. Kreatif artinya menghasilkan keunikan untuk menghindari produk komoditas. Sedangkan Positif berarti diferensiasi yang dibangun harus memberikan dan memberi nilai tambah pada produk atau layanan.

Atas nama sebuah diferensiasi bisnis, Salma Dian Prihajati membuka usaha salon kecantikan dengan menitikberatkan pada terapi totok membuka aura, yang kemudian dikenal dengan sebutan “totok aura”. Terbukti, dengan diferensiasi itu, salon Dian Kenanga ramai dipadati pelanggan. Nama si empunya bisnis pun kini diidentikkan dengan perawatan totok aura. Ia dikenal sebagai Sang Pelopor totok aura di Indonesia.

Ternyata, langkah menuju sebuah kesuksesan tidak mudah. Di awal usaha, pada 2004, masyarakat masih mengernyitkan dahi ketika mendengar jasa perawatan totok aura. Banyak yang menganggap bisnis Dian berkaitan dengan mistis. “Konyolnya, dulu, ada saja pelanggan yang bertanya mengenai pemasangan susuk,” jelas istri Aria Abiasa Taufik ini, tertawa. “Tapi, sekarang sudah tidak ada lagi,” imbuh dia.

Dian menjelaskan bahwa aura, bila dijelaskan dalam bahasa sains, adalah medan elektromagnetik yang ada di seluruh tubuh, termasuk wajah. “Bila energi dinamis, maka aura yang terpancar akan positif,” jelas direktur utama PT Dian Kenanga Mandalawangi ini. Setelah tujuh tahun berdiri, bisnis Dian mulai menunjukkan hasil. Bila di awal pendirian hanya ada delapan pelanggan yang datang ke salon Dian Kenanga, per minggunya. Kini, ada lebih dari 110 pelanggan yang datang, setiap hari.

Soal pemilihan bisnis yang unik dilakoni Audrie Soekoco dan Yohanes Ferry. Keduanya, lewat PT Bintang Mas Triyasa (BMT) memproduksi bulu mata palsu. Hebatnya, sejak berdiri pada 2008 silam, BMT langsung melakukan ekspor bulu mata ke sejumlah negara. “Di luar negeri, bulu mata palsu bukan produk eksklusif, melainkan komoditas,” jelas Ferry, seperti dikutip SWA. Sebab, di luar negeri, dan kini mulai menular ke dalam negeri, bulu mata palsu sudah seperti kebutuhan pokok, seperti menggunakan bedak dan lipstik.

Saat ini, BMT mampu menghasilkan 1,5 juta hingga 2 juta bulu mata palsu per bulan. Untuk ekspor, mereka melakukan dengan dua cara, yakni memproduksi bulu mata untuk merek asing untuk dikirim ke negara-negara Eropa Barat dan Amerika, serta menggunakan merek sendiri D’eyeko untuk pasar tujuan negara-negara Eropa Timur.

Bila Audrie dan Ferry memilih bulu mata untuk ekspor, Adinindyah justru bersikukuh menciptakan produk unik dari kain lurik untuk tujuan ekspor. Tak hanya produk fashion, seperti bandana, belt, sandal, atau kalung; tapi juga produk-produk interior, tas dan dompet, serta stationery yang berupa wadah laptop, komputer tablet, maupun agenda. “Kami berinovasi menggabungkan motif lurik dengan warna yang lebih playful dan berani, karena lurik identik dengan warna gelap dan kusam,” ungkap Nindyah. Perusahaan yang berawal dari bisnis rumahan ini kini mulai mengekspor produknya ke Australia, Belgia, Jepang, dan Belanda.

Kecantikan Timur

Keinginan untuk tetap tampil cantik, ternyata justru membuat Laila Asri menjadi beautypreneur. Sejak remaja, ia sering menggunakan merek perawatan tubuh. Biasanya, ia memilih produk-produk impor karena tertarik dengan kemasannya yang cantik. Hanya saja, “Lama-lama, saya merasa produk impor harganya mahal,” keluh Laila. Ia pun mulai mengamati bahan-bahan yang terkandung di produk kecantikan tersebut dan mempelajarinya lewat internet.

Untuk bereksperimen membuat body lotion, ia menggunakan bahan sederhana, seperti tepung beras, garam kasar, dan rempah-rempah. Hasil eksperimen, ia coba pakai sendiri. Lambat laun, kawan-kawan terdekat menyukai body lotion buatan Laila, yang membuat ia memberanikan diri memulai bisnis skala rumahan. Apalagi setelah ia menemukan hasil riset ACNielsen yang mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen bahan baku pembuatan body care untuk produk-produk ternama di dunia.

Karena tak memiliki latar belakang di bidang produk kecantikan, Laila merangkul mitra yang khusus mengawasi bagian produksi dan farmasi untuk melakukan pengujian produk sebelum dipasarkan secara massal. Soal merek, Laila memilih nama Pourvous, yang dalam Bahasa Perancis artinya “Untuk Anda”. “Saya memilih merek Pourvous karena kecenderungan masyarakat Indonesia gandrung dengan merek impor,” ungkap dia.Saat ini, produk body and skin care Pourvous sudah dipasarkan di seluruh Indonesia, bahkan sudah memiliki jaringan distribusi internasional di Filipina dan Jerman.

Usaha Laila diamini Martha Tilaar, founder PT Martina Bertho. Menurut Martha, seorang beautypreneur harus mengeksplorasi kekayaan Indonesia dan menghasilkan produk terbaik agar mampu mengubah mindset masyarakat. “Kita harus bangga dengan produk dan identitas kita, serta mengubah mindset bahwa yang dari Barat pasti bagus,” tandas Martha, di sela-sela acara Marta Tilaar Beautifying Indonesia Conference, Oktober lalu.

Namun, bagi Anda yang tak memiliki keahlian di bidang kecantikan, masih bisa terjun ke dalamnya. Misalnya dengan menjual alat kecantikan dan kosmetika atau bahan-bahan yang biasa digunakan di salon. Jadi, masih ada ribuan cara untuk menjadi beautypreneur. Berani mencoba? $$$ ARI WINDYANINGRUM, AGUSTAMAN, YOHANA NOVIANTI H., RUSIAN WAHYU H.

Boks:

BEAUTYPRENEUR

A. Salon/perawatan:

  1. 1. Salon Konvensional (umum)
  2. 2. Salon Khusus:
  • salon muslimah
  • salon khusus pria
  • salon khusus bayi/anak
  • bridal
  • waxing
  • nail art

B Beauty Clinic

  • spa
  • v-spa
  • klinik pelangsingan (slimming)
  • klinik perawatan wajah (termasuk bedah plastik)
  • totok, thermal, akupuntur, cakra
  • gigi (orthodenstist)

 

C. Fashion/apparel

  • baju
  • sepatu, tas
  • aksesoris
  • bulu mata palsu, wig, konde
  • pakaian dalam
  • parfum
  • frame kaca mata
  • jilbab

(As published on Majalah DUIT! edisi 12/VI/Desember 2011)

 

 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: