RSS

Batik Pohon: Menyesap Warna Asli Dari Alam

13 Mar

Semenjak batik diakui oleh UNESCO sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, semakin besar peluang bisnis di bidang ini. Candra Diana melakukan diversifikasi dengan menghadirkan batik dengan pewarnaan asli dari bagian-bagian pohon.

Terdengar klise memang alasan seorang Candra Diana untuk memutuskan menjadi seorang entrepreneur. Selain memiliki keinginan mengelola dan memiliki usaha sendiri serta kebebasan yang tidak dimiliki oleh karyawan, ternyata ada alasan lain. “Saya ingin ikut berkontribusi pada upaya pelestarian batik dengan nilai tradisional yang baik,” papar Candra, mantap.

Batik pun menjadi pilihan bidang bisnis Candra karena ia mengaku memiliki kecintaan pada batik. Latar belakang pendidikan Candra yang menekuni dunia arsitektur justru menjadi modal utamanya. Gagal menjadi pegawai negeri dan berhenti bekerja di sebuah konsultan arsitek, tak menyurutkan langkahnya untuk menciptakan bisnis sendiri. Bersama Suroso, suami, guru, sekaligus mitra kerjanya, Candra memulai bisnisnya dengan mendesain batik.

Kerumitan Proses Produksi

Demi merintis bisnis yang akan ditekuninya, Candra pun mulai mengumpulkan dan menggambar desain batik sejak 2007. Saat itu, Candra hanya bermodalkan meja gambar arsitek yang dimilikinya dengan sedikit modifikasi. Wanita yang menyandang sarjana dari Teknik Arsitektur, Universitas Diponegoro ini pun memperkaya referensi motif batik dari sumber mana pun. Mulai dari berburu buku di pasar buku bekas di pasar Senen hingga buku-buku impor di sejumlah toko buku ternama. Berburu ke balai besar kerajinan batik di Yogyakarta pun dijabaninya demi meluaskan khazanah motif batik Candra. Berkat rajinnya memburu motif batik, kini Candra telah berhasil mengoleksi 150 gambar motif batik yang siap diaplikasikan di atas secarik kain.

Dua tahun kemudian, Candra mulai percaya diri untuk membangun sebuah bisnis batik yang dinamainya Batik Pohon. Bermodalkan uang Rp60 juta yang dipergunakan untuk belanja bahan baku dan tenaga kerja.

Ia menyadari, belakangan, banyak bisnis batik bermunculan. Bak cendawan di musim hujan. “Saya harus berinovasi dan menciptakan diferensiasi agar produk saya diburu konsumen,” kenang Chandra. Perempuan kelahiran Kudus, 26 Januari 1969 ini memilih bahan pewarna alami dari bagian-bagian pohon, seperti kulit buah Jalawe, Kayu Tingi, Kayu Tegeran, dan kulit kayu Jambal. Penggunaan material ini yang kemudian mengilhami Candra untuk menamai produknya dengan brand Batik Pohon.

Selain itu, Candra berdalih, pemilihan bahan pewarna alami karena isu lingkungan hidup. “Workshop kami berada di kawasan pemukiman. Bila kami menggunakan pewarna kimia, pasti akan timbul masalah limbah. Makanya, kami memakai pewarna alami yang ramah lingkungan,” tegas dia. Workshop milik Candra berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Tak cuma itu, pehobi membaca ini bersikukuh menggunakan proses produksi secara tradisional. “Proses ini mendekati pembuatan batik di zaman pewarna kimia belum masuk Indonesia,” kata Candra. Untuk proses fiksasi (penguatan warna), misalnya, ia hanya memanfaatkan larutan kapur dan larutan serbuk karat besi yang cukup ramah lingkungan.

Kuatnya prinsip dan idealisme pasangan ini untuk menggunakan material pewarna natural ini tidak lepas dari tantangan. “Kesulitan terbesar membuat batik pewarna alam dengan kualitas bagus memiliki tantangan berat. Untuk mendapatkan hasil pencelupan warna seperti yang diinginkan, membutuhkan waktu kurang lebih enam bulan untuk proses uji coba,” paparnya.

Belum lagi proses pembuatan yang relatif lebih panjang dibandingkan proses biasanya. Ibu dari Furia dan Gigih ini menjelaskan untuk mendapatkan warna yang diinginkan membutuhkan 30 hingga 40 kali proses celup dan jemur. Dengan proses yang sedemikian rupa, tidak heran bila tenaga kerja dan bahan baku menjadi bagian utama yang menghabiskan modalnya berbisnis.

Menciptakan Pasar

Pantang menyerah, Candra optimis dengan prinsip yang diyakininya membuat produknya mampu menciptakan segmen pasar tersendiri. Dirinya mengakui bahwa produknya membidik para pecinta batik yang bukan hanya sekedar memburu kain bermotif batik. Namun, dirinya justru menyasar pada pecinta batik yang menghargai proses pembuatan batik secara tradisional dengan dominasi kandungan bahan lokal dan proses pembuatan yang tidak merusak lingkungan.

Makanya, kalangan hi-end merupakan sasaran yang tepat untuk produk Candra ini. Tapi, meskipun sudah berhasil menemukan celah pasar yang terbuka untuk Batik Pohon miliknya bukan hal yang mudah untuk mengeruk pasar tersebut. Butuh usaha keras dari pecinta makanan gado-gado ini untuk terus membuka pasar ke kalangan hi end tersebut.

Untuk meraih target pasarnya, Candra rajin mengikuti berbagai pameran. Tujuannya agar produknya semakin dikenal masyarakat. Sang suami pun mendukung penuh bisnisnya dengan membantu kegiatan pemasaran lewat internet. “Membangun dan mengelola website yang bukan hanya sekedar menjual produk Batik Pohon. Tapi kami juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang batik warna alam buatan Batik Pohon ini lewat internet,” ungkap Candra.

Mereka pun memasang target dalam kurun waktu satu tahun ke depan berkonsentrasi pada peningkatan kualitas produk dan menghemat biaya produksi demi menjangkau pasar yang lebih luas. Untuk mengembangkan jaringan, Candra juga tengah mempersiapkan kerjasama dengan beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta agar Batik Pohon semakin dikenal oleh masyarakat.

Perlahan namun pasti, Candra tetap optimis dan selalu berpikir positif. Menurutnya, dengan jumlah penjualan yang belum banyak, maka koleksi Batik Pohon akan bertambah banyak setiap bulannya. Kalau dikumpulkan, dalam satu tahun ke depan, pilihan yang akan ditawarkan ke konsumen pun menjadi semakin banyak dan variatif. Yang pasti, Candra memiliki impian yang cukup mulia. “Keinginan saya bukan sekedar mengembangkan bisnis yang layak di masa depan, namun juga memiliki nilai kebaikan lain yang bisa di dapat,” pungkasnya. $$$ LALA KRISMANTARI (KONTRIBUTOR)

 

Batik Pohon
Jl. Benda Gg. Bambu Kuning No. 7E
Kemang, Cilandak Timur
Jakarta Selatan
www.batikpohon.com

Sekilas Usaha Batik Pohon
Berdiri                    : 2007
Modal                     : Rp60.000 (plus tambahan modal Rp40 juta)
Kapasitas produksi   : 20-25 pieces per bulan
Harga                     : Rp600.000 hingga Rp3,5 juta
Omzet                    : Rp10 juta per bulan

(As published on Majalah DUIT! edisi 08/VI/Agustus 2011)

 
1 Comment

Posted by on March 13, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , , ,

One response to “Batik Pohon: Menyesap Warna Asli Dari Alam

  1. uman

    December 4, 2014 at 9:49 am

    Cilandak sebelah mana ya?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: