RSS

Saatnya Tenun Berjaya di Mancanegara

13 Mar

Tak hanya sekadar menjual produk berbasis tenun ke luar negeri, House of Lawe juga menjalankan program Sisterhood of Lawe untuk membantu perempuan perajin yang tertarik mengembangkan tenun tradisional Indonesia.

Selain batik, Indonesia memiliki aneka ragam kain tradisional, seperti songket, tenun ikat, ataupun lurik. Sayangnya, selama ini baru batik yang mendapatkan perhatian melimpah. “Saya melihat Lurik kurang mendapatkan perhatian masyarakat, terlebih bila dibandingkan dengan Batik,” keluh Adinindyah. Ia berpendapat Lurik hanya sekadar menjadi kain tradisional pelengkap upacara adat. Berawal dari keprihatinan itu, Adinindyah dan empat sahabatnya mengembangkan tenun menjadi produk yang memiliki kualitas tinggi. Tujuannya satu: agar masyarakat makin mengenal lurik dengan baik.

Semuanya berawal ketika Adinindyah, yang aktif di organisasi nirlaba, bertugas ke Kepulauan Sumba, NTT, pada pertengahan 2004. Di tempat itu, ia memberikan pelatihan mengenai pewarnaan alami kepada para perajin tenun ikat Sumba yang mendiami wilayah Waingapu, Sumba Timur. Sayangnya, karena peminat tenun ikat Sumba terbatas, para perajin pun kesulitan memasarkan produk. Padahal, tenun ikat Sumba amat cantik. “Saya jatuh hati pada keindahan tenun ikat Sumba,” kata Nindyah.

Ia lalu mengirim belasan meter kain ikat Sumba ke Bogor, kota tempat tinggalnya. Kebetulan, salah satu sahabatnya, Westiani, pandai membuat kerajinan tangan, seperti agenda dan boks cantik. Hanya saja, Ani, sapaan akrab Westiani, berdomisili di Yogyakarta. Maka, kain ikat itu pun harus dikirimkan ke kota gudeg itu. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Ani mengirimkan produk-produk cantik yang berasal dari kain ikat Sumba. “Lewat cara ini, kami mencoba menunjukkan kepada perajin bahwa kain tenun bisa dipasarkan dengan cara lain yang lebih menarik dan modern,” kata Nindyah.

Tak berapa lama kemudian, Nindyah menyelesaikan tugasnya di NTT. Kebetulan, suaminya pun pintah tugas ke Yogyakarta. Di kota itu, Nindyah melirik lurik yang banyak dipasarkan di Yogyakarta dan Solo. Beruntung, ia kembali bisa sekota dengan empat sahabatnya, Ita Natalia, Paramita Iswari, Rina Anita, dan Westiani Agustin. Kelimanya tak ingin kekayaan budaya Indonesia justru diklaim milik negara lain, seperti yang sempat terjadi pada batik.

Alhasil, pada 3 Agustus 2004, di Yogyakarta, kelimanya sepakat mendirikan Perhimpunan Lawe. Kegiatan ekonomi merupakan unit bisnis dari Perhimpunan Lawe. “Kami tak sekadar memperkaya kehidupan. Pada dasarnya Lawe ingin melestarikan tradisi, mempromosikan budaya, dan memberdayakan perempuan,” tegas Nindyah, sapaan akrab Adinindyah. Kelima sahabat itu menggunakan merek Lawe, diambil dari Bahasa Jawa, yang berarti serat alam untuk bahan tenun.

Berbekal uang patungan, sekitar Rp3 jutaan, Nindyah dan Westiani berburu kain lurik. Mereka lalu memborong kain lurik dari seorang perajin di daerah Nanggulan, Kulonprogo, Yogyakarta. Sejurus kemudian, kain-kain lurik itu pun menjelma menjadi selendang, agenda, tas, sarung bantal, bed cover, produk fashion, kantong ponsel, dan sebagainya. Hingga saat ini, Nindyah masih bertanggung jawab untuk desain produksi.

Peninggalan Sejarah

Lurik merupakan kain tenun tradisional Jawa, khususnya Yogyakarta dan Solo. Kain tradisional ini dibuat dengan melewati beberapa tahapan yang rumit dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya. “Lurik merupakan peninggalan sejarah yang sangat kuno. Namun, masih banyak masyarakat yang belum peduli atas keberadaannya saat ini,” kata Nindyah, prihatin.

Untuk menarik perhatian, Nindyah melakukan serangkaian inovasi, seperti memilih warna-warna cerah, motif beragam, dan membuatnya menjadi produk yang banyak dipakai masyarakat. Sebelum dimodifikasi, lurik hanya tersedia dalam warna gelap. “Kami ingin mengangkat lurik yang selama ini hanya dijual sebagai kain selendang agar bisa menyentuh generasi muda,” kata Fitria Werdiningsih, manajer bisnis Lawe.

Kendati ada inovasi produk, Lawe tetap mempertahankan proses produksi. Mereka bersikukuh menggunakan cara tradisional, yakni menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Oleh karena berbentuk perhimpunan, Lawe bekerja sama dengan 50 penenun tradisional di Bantul dan 20 penjahit. “Proses produksi lurik Lawe melibatkan banyak kelompok produk perancang, penjahit, pengrajin dan tentu saja penenun tangan komunitas yang mayoritas adalah perempuan,” jelas Fitria. Meski memberdayakan puluhan penenun, Lawe menjaga kualitas dengan melakukan quality control (QC) yang ketat.

Kekhasan corak dan proses pembuatan yang masih menggunakan tangan menyebabkan nilai jual produk turunan lurik lebih tinggi. Tak hanya di pasar dalam negeri, lurik pun mulai merambah pasar luar negeri. Karena membidik segmen menengah atas, Lawe membanderol produk di kisaran harga mulai Rp30.000 hingga Rp1,1 juta.

Fitria mengatakan Lawe memiliki misi untuk memberdayakan dan mendorong perempuan untuk berkontribusi dalam memperbaiki penghidupan mereka, serta ambil bagian dalam membawa kesejahteraan bangsa. “Ada nilai tambah yang kami tawarkan kepada konsumen. Dengan membeli produk Lawe berarti mereka sudah membantu keberlanjutan hidup tenun tradisional Indonesia dan hidup perempuan perajin yang tergabung dalam perhimpunan Lawe. Para perempuan perajin ini ikut menopang kehidupan ekonomi keluarga,” urai Fitria.

Sisterhood of Lawe

Saat ini produk Lawe sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali konsumen dari luar negeri. Selain langsung berkunjung ke House of Lawe untuk membeli produk dalam jumlah banyak, untuk kemudian dijual lagi, Lawe juga mengirimkan produk ke luar negeri. “Baru dalam hitungan boks, belum kontainer. Negara tujuannya Belgia, Jepang, dan Australia,” kata Fitria, merendah. Selama ini, sebagian besar produk Lawe yang dijual di luar negeri dibawa oleh ekspatriat yang kembali ke negaranya.

Nindyah mengungkapkan ada satu perempuan berkebangsaan Australia yang rutin datang ke workshop Lawe untuk membeli produk terbaru. “Tiap tiga bulan sekali, ia datang dan membeli produk dalam jumlah besar. Ia berkata akan menjual lagi di negaranya,” imbuh Nindyah. Perusahaan yang berpusat di Yogyakarta ini memiliki omset Rp800 juta per tahun.

Fitria mengakui ketidakpopuleran lurik sebagai material utama membuat Lawe harus bekerja keras menjelaskan produk mereka. Apalagi jika segmen pasarnya perempuan yang sudah mandiri secara ekonomi, dengan kelas ekonomi menengah atas. “Selain itu adanya asumsi mengenai handicraft Indonesia terutama Yogya biasanya murah, maka barang kami yang memang harganya lebih tinggi agak susah menembus pasar yang massal,” aku Fitria.

Saat ini, Lawe tengah menjalankan program Sisterhood of Lawe yang membantu perajin, terutama komunitas perempuan, yang memiliki ketertarikan mengembangkan tenun tradisional Indonesia. Selama ini, Lawe telah menjalin kerja sama dengan komunitas perempuan perajin di Sumba Barat, Bali, Sumatera Utara, Palembang, dan Lampung. “Kami tengah menjajaki kerja sama dengan perajin kain tenun Molo dari Nusa Tenggara Timur,” ungkap Fitria. Ke depan, Lawe berharap kain tradisional mendapatkan tempat dan mampu bersaing, baik di pasar lokal maupun internasional. $$$ ARI WINDYANINGRUM DAN SETYOWATI

 

House of Lawe
Kompleks AMRI Museum & Art Galery
Jl. Prof. DR. Ki Amri Yahya No. 6
Yogyakarta
Telp : 0274-7178833, 0816 489 5432
Faks : 0274-555968
twitter : @houseoflawe
FB : Lawe Jogja
http://www.houseoflawe.com

(As published on Majalah DUIT! edisi 04/VII/April 2012)

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: