RSS

Mengubah atau Merubah?

14 Mar

ImageBahasa Indonesia tidak serumit bahasa asing. Sayangnya, masih banyak ‘orang kita’ yang enggan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa sih yang membuatnya rumit?

Pekerjaan menjadi jurnalis, mau tak mau membuatku harus bersentuhan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ini berarti terbiasa (fase setelah terpaksa) menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau ada kawan yang menggunakan bahasa yang salah, dengan tersenyum manis, aku akan mencoba mengoreksi kata yang digunakan. Tapi, kalau yang salah itu pak politisi di TV atau mas-mas penyanyi yang lagunya diputer di radio, aku hanya bisa nyengir kuda. Mau digimanain lagi? Mau protes juga gak bisa hehehehe..

Memang susah untuk mengubah (bukan merubah) kebiasaan. Yup, kata “merubah” amat sering digunakan orang. Padahal, itu jelas salah. Kata yang benar adalah “mengubah”. Sebab, mengubah berasal dari kata dasar “ubah”, bukan “rubah”. Kalau rubah itu nama hewan ya teman-teman… Kebiasaan baik (yang kadang sering dianggap buruk) ini sering menimbulkan protes. “Memang susah kalau ngobrol ama editor,” keluh seorang kawan. Sementara yang lain memilih pasrah dengan suka rela membetulkan kalimatnya, “Ya, ya, mengubah, bukan merubah.”

Sebenarnya, kalau bukan kita sendiri yang bangga berbahasa Indonesia, siapa lagi? Mengapa kita begitu berat mengikuti kaidah EYD dan struktur bahasa Indonesia? Padahal, bahasa Indonesia itu – kalau dipikir-pikir – mudah, dalam artian struktur bahasanya tidak njelimet, tidak ada kata kerja (verba) yang berubah berdasarkan waktu dan subjek. Bandingkan saja saat kita mempelajari bahasa asing, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, atau Bahasa Perancis.

Bahasa Indonesia dibilang njelimet karena ada beberapa aturan yang berubah, misalnya kata yang berawalan K, P, T, S harus luluh. Lalu, mana yang benar memperhatikan atau memerhatikan, mempedulikan atau memedulikan, mempunyai atau memunyai? Semasa SMA, aku sepakat dengan guru Bahasa Indonesia bahwa kata berimbuhan yang benar adalah “memperhatikan” dari kata dasar “hati”, dan mendapat imbuhan gabungan memper-kan, seperti halnya “memperjuangkan” dari kata dasar “juang”.

Insting jurnalis pun mencuat. Buru-buru aku mengecek KBBI. Menurut KBBI edisi III, yang benar adalah memerhatikan, memedulikan, dan memunya. Kata dengan awalan K, P, T, S akan luluh ketika diberi imbuhan me-, dengan aturan huruf kedua adalah vokal (bukan konsonan). Kalau huruf keduanya konsonan, maka huruf pertama kata dasar itu tidak luluh, alias tetap, seperti kata “mengkritik” bukan “mengeritik”. Media nasional seperti Kompas dan Tempo pun mengikuti kaidah tersebut.

Sialnya, saat iseng aku membuka KBBI edisi IV, kata “memerhatikan” telah dihapus dan digantikan dengan “memperhatikan”. Gubrak!

Baiklah, harus aku akui bahwa ini yang membuat Bahasa Indonesia dipandang sulit. Lebih sulit daripada belajar bahasa asing. Bukan soal harus mengingat struktur kalimat yang rumit dan verba yang berubah, tapi karena Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang berarti rujukan mahapenting bahasa kita, justru sering melakukan revisi. Berubah-ubah tergantung penyusunnya. Well, I must say, di negeri ini telah terjadi inkonsistensi yang konsisten hahahaha..

Sebagai bahasa yang selalu berkembang, Bahasa Indonesia selalu terbuka. Bahasa Indonesia – sesuai namanya, ‘nesia’ yang ‘indo’ – adalah bahasa kemempelaian yang bersanak-saudara banyak. Artinya, Bahasa Indonesia terbentuk, kemudian dibentuk, di atas wilayah Bahasa Melayu sebagai bagian bahasa-bahasa Austronesia. Yakni, lingua franca antar wilayah perlintasan suku, sukubangsa, bangsa, dan ras yang silih berganti mendatangi negeri ini.

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: