RSS

Entrepreneur dan Roller Coaster

16 Mar

Malam sudah larut ketika saya mengecek lini masa akun jejaring sosial. Kolumnis Majalah DUIT!, Beni Bevly yang berdomisili di San Fransisco, California, Amerika Serikat baru saja mengunggah status. Ia menulis, “For you who never run a business and want to know how it feels. I would say it feels like riding on a roller coaster. You may feel exciting, fun, powerless, scared, or you do not feel anything because you are numb already.” Saya pun memberi ikon jempol tanda suka.

Lewat status itu, Beni mencoba mengatakan bahwa menjadi entrepreneur ibarat naik roller coaster. Kadang merasa senang, tak berdaya, takut, atau.. malah tak merasakan apa-apa karena sudah mati rasa. Ya, menjadi entrepreneur memang memberikan pengalaman luar biasa. Adrenalin seakan terpacu ketika kita berusaha mewujudkan ide menjadi sebuah produk/jasa bisnis, berhasil melakukan deal bernilai besar, atau saat kompetitor menjiplak karya kita.

Belakangan, menjadi entrepreneur seakan menjadi gaya hidup – terutama di kalangan anak muda. Siapa yang tak bangga memiliki bisnis sendiri? Kalau boleh membandingkan dengan kondisi 10 tahun lalu, kini terasa lebih mudah menyebutkan nama-nama pemilik bisnis yang usianya belum genap 40 tahun. Sebaliknya, para pensiunan juga tak ragu untuk mulai merintis bisnis. Ini mengindikasikan bahwa semangat entrepreneurship sudah mulai tumbuh di Indonesia.

Tumbuh suburnya semangat entrepreneurship juga menciptakan peluang baru: sekolah entrepreneur.

Di sekitar kita, makin banyak lembaga pendidikan non formal yang menawarkan program entrepreneurship, mulai kelas reguler yang durasinya beberapa semester hingga kursus singkat yang bisa ditempuh dalam hitungan minggu. Mereka mengklaim diri mampu meningkatkan jiwa entrepreneurship atau – bahkan, ini menariknya – mencetak entrepreneur baru!

Tak salah, memang. Namun, harus disadari bahwa lebih penting menciptakan entrepreneur yang memang bercita-cita menjadi entrepreneur, ketimbang mengubah seseorang menjadi entrepreneur karena faktor keterpaksaan. Menurut tokoh pendidikan Arief Rahman Hakim, menjadi entrepreneur memang butuh persiapan dan harus disiapkan.

Akan tetapi, inti dari pendidikan entrepreneurship bukan semata soal teori bisnis, melainkan melatih siswa untuk jeli melihat peluang bisnis dan berani mengambil risiko. Insting bisnis tak bisa dipelajari, tapi bisa diasah. Selamat mengasah kemampuan berbisnis!

 

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: