RSS

Negeri Ini Butuh Pemimpin Galak!

22 Mar

Seperti biasa, sebelum memulai pekerjaan, saya selalu mengawali denganritual mengecek tiga akun e-mail, satu akun facebook, dan detik.com. Ketika membaca portal berita itu, mata saya langsung tertuju pada salah satu judul berita: 10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Sejak Jadi Menteri BUMN. Setelah membaca, saya manggut-manggut tanda setuju.

Segera saya unggah tautan berita itu di akun facebook dan memberinya kalimat penjelas. Begini kalimatnya:

Bukan masalah mengidolakan atau tidak mengidolakan DI. Bukan masalah gaya kepemimpinannya emosional atau tidak emosional. Tapi, sepertinya bangsa ini butuh pemimpin yang sedikit ‘nyeleneh dan meledak-ledak’. Butuh seseorang yang berani mengatakan, “Kamu salah! Perbaiki itu!” dan bukannya membiasakan diri dengan hal-hal buruk yang sudah terjadi sejak lama, atau dengan senyum yang dipaksakan untuk mengatakan, “Saya turut prihatin.”

Pemimpin seperti DI tujuannya satu: mengkondisikan agar seluruh anak buahnya lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang diembannya.

Meski saya selalu menjunjung tinggi nilai demokratis, saya selalu berkata bahwa Indonesia masih butuh pemimpin “diktaktor”. Jangan bayangkan diktaktor seperti Hitler atau Husni Mubarrak. Diktaktor yang saya maksud adalah pemimpin yang punya visi, galak, dan berani “memaksakan kehendak” demi masa depan yang lebih baik, contoh mudahnya adalah Ali Sadikin atau kini Dahlan Iskan.

Negeri ini tak butuh pemimpin lembek yang hayuk aja kalau ada pihak-pihak lain yang membisiki. Tak cuma di ranah pemerintahan, tapi juga perusahaan, dan bahkan organisasi terkecil macam geng akamsi (anak kampung sini) yang suka nongkrong di pengkolan jalan.

Saya sempat memberikan jempol tanda suka pada status Dev Chatterjee, seorang sahabat yang bermukim di Mumbai. Dev sempat mengunggah status “A leader who gets influenced by cronies is a fool and not worthy of leadership.” Bisa jadi, ia mengungkapkan kekesalan pada salah satu pemimpin di India. Tapi, sebagai sesama jurnalis yang hidup di negara berkembang, sepertinya status itu cocok juga untuk menggambarkan kondisi kepemimpinan di negeri ini.

Kembali ke gaya kepemimpinan Dahlan Iskan, yang banyak orang menilai terlalu emosional dan koboian, mungkin tipe pemimpin seperti itu yang dibutuhkan negeri ini. Pemimpin yang berani mengatakan “Kamu salah!” dan menantang anak buahnya untuk memikirkan cara memperbaiki keadaan. Bukan menerima hal-hal salah sebagai keadaan yang – memangsudahterjadidaridulusehinggasusahdiperbaikikarenasemuasudahterbiasa. Untuk urusan banting kursi, sebagai mantan premanwati (halah!), saya setuju-setuju saja. Menurutku itu memberikan efek jera.

Kita butuh pemimpin yang bisa bertindak sebagai agen perubahan (agent of change). Tak mudah untuk mengubah keadaan, apalagi jika kita berhadapan dengan orang-orang yang selama ini menikmati keadaan tersebut. Mungkin, ini sedikit ekstrem, menurutku, untuk menjadi pemimpin yang baik – saat ini – kita harus rela dibenci orang. Tapi, di masa depan, keadaan akan terbalik, mereka akan menyayangi pemimpin itu karena berhasil menciptakan kondisi lebih baik bagi orang-orang yang dipimpinnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: