RSS

Big Mac dan Nilai Rupiah

26 Mar

Jangan membeli Big Mac – salah satu produk McDonald’s – di Jenewa, Swiss. Di sana, harganya (kalau dikurs) mencapai Rp63.000. Sebaiknya, Anda terbang ke Ukraina. Di Kiev, ibukota Ukraina, harga Big Mac hanya Rp19.400, tidak terlalu jauh dari di Jakarta sebesar Rp22.400. Mengapa harga barang yang identik ini bisa sedemikian berbeda di berbagai tempat? Apa artinya untuk nilai rupiah?

Terdapat dua jenis komponen burger. Pertama, barang yang diperdagangkan di pasar internasional, seperti tepung, gula, wijen, dan daging sapi. Istilahnya tradables. Harga tradables cenderung mirip di berbagai tempat dalam mata uang internasional, misalnya dolar AS. Namun, di pasar domestik, terpengaruh mata uang lokal.

Kedua, barang tidak dapat atau sulit diperdagangkan antarnegara. Misalnya buruh, bangunan, dan listrik. Istilahnya non-tradables. Selain itu ada pula perbedaan tingkat pajak antarnegara. Jika dibandingkan Swiss, umumnya harga non-tradables lebih murah di Indonesia. Dan, lebih murah lagi di Ukraina. Inilah yang menjelaskan mengapa harga Big Mac di Kiev bisa sangat murah.

Jika kita asumsikan di dunia hanya ada satu barang, harga Big Mac dapat dipakai untuk menakar, apakah mata uang suatu negara mahal (overvalued) atau murah (undervalued) dibandingkan dolar AS. Pertama kita lihat perbedaan harga Big mac di AS dengan negara-negara lain. Lalu, dengan perbedaan tersebut dibandingkan dengan nilai tukar nominal yang berlaku.

Sejak 1986, majalah Economist secara rutin mempublikasikan harga Big Mac di kota-kota besar dunia. Pada Juli 2011, terlihat bahwa nilai franc Swiss 63% lebih mahal dibandingkan dolar AS. Sebaliknya, rupee India 53% lebih murah, adapun rupiah 35% di bawah dolar AS.

Sebelum penggunaan Big Mac sebagai alat ukur nilai tukar, ada konsep yang lebih tua, yakni purchasing power parity (PPP). Intinya, jika tidak ada hambatan perdagangan internasional, harga barang identik di berbagai tempat akan konvergen. Harga Big Mac seharusnya sama di semua negara. Agar harga Big Mac di Indonesia sama dengan di AS, rupiah harus menguat ke Rp5.540 per dolar AS.

Memakai PDB

Tentu Big Mac hanya satu di antara ribuan barang di pasar global. Oleh karena itu jauh dari memadai sebagai satu-satunya dasar untuk mengatakan rupiah kuat atau lemah. Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah komponen non-tradables. Contohnya, upah buruh di negara maju umumnya lebih maju umumnya lebih tinggi dan sewa bangunan lebih mahal ketimbang di negara berkembang. Kita dapat memakai produk domestik bruto (PDB) per kapita untuk mengoreksi perbandingan harga Big Mac.

Dengan koreksi ini, peringkat franc Swiss sebagai mata uang termahal di dunia jatuh ke peringat ke-6. Mata uang termahal di dunia adalah real brasil, yakni 1,5 kali nilai dolar AS. Mata uang yang termurah adalah dolar Hongkong, 43% di bawah dolar AS. Dan, rupiah justru 24% lebih kuat dari dolar AS. Untuk mencapai paritas dengan dolar AS, di Juli 2011, rupiah harus turun ke nilai Rp11.215.

Meskipun sederhana, penggunaan Big Mac sebagai ilustrasi lemah-kuatnya mata uang suatu negara terbukti akurat. Misalnya, pada Juli 2011, rupiah terlalu kuat, yang terjadi selanjutnya rupiah melemah. Tentunya hal ini terjadi karena banyak sebab. Namun, perlu disadari, nilai rupiah sekarang di posisi Rp9.200 per dolar AS masih ditopang derasnya arus masuk valuta asing ke saham dan obligasi pemerintah.

Mengingat inflasi di Indonesia umumnya lebih tinggi dari hampir semua negara rekan dagang kita, wajar jika rupiah melemah dari waktu ke waktu. Jadi, penguatan nilai tukar dari Rp9.000 di awal 2011 ke posisi Rp8.500 di pertengahan 2011 tidak lain karena arus modal yang masuk. Sebaliknya, pelemahan yang terjadi belakangan ini, juga karena keluarnya sebagian dana tersebut.

Meski neraca perdagangan kita umumnya positif, neraca berjalan sering nol atau minus. Ini karena arus dana keluar untuk membayar jasa transportasi, asuransi, dan imbalan modal asing di Indonesia. Ke depan, kita harus meningkatkan porsi domestik, paling tidak di asuransi, transportasi perdagangan internasional, dan penyediaan jasa lain. Sebelum itu terjadi, nilai tukar rupiah akan terus bergejolak seiring arus dana jangka pendek.

Namun, di jangka pendek, jika Anda ingin menikmati Big Mac, sebaiknya membeli di Jakarta saja untuk menghemat biaya perjalanan ke Kiev.

(writen by Kahlil Rowter, chief economist PT Bakrie and Brothers Tbk. As published on Kompas, 3 Februari 2012).

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2012 in Random Thought

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: