RSS

Undercover Boss

26 Mar

Laporan di atas kertas seringkali tak sama dengan kondisi di lapangan. Dan, begitu ‘pakbos‘ memutuskan sesuatu berdasarkan data-data yang tersedia di atas kertas, kadangkala, dampak di lapangan (jauh lebih) buruk ketimbang hasil perhitungan komputer.

Setiap Minggu malam, saya tak pernah absen mantengin BBC Knowlegde. Ada satu serial yang sepertinya patut ditonton orang-orang yang mengaku menduduki jabatan tertinggi di perusahaan atau instansinya, Undercover Boss. Garis besar reality show ini adalah ‘pakbos’ atau ‘bubos’ harus turun langsung ke garda depan. Bukan mengenakan identitas sebagai petinggi perusahaan, tapi mereka harus menyamar!

Bagi CEO atau direksi yang wajahnya familiar, mereka harus rela mengecat rambut atau menumbuhkan kumis dan jambang. Berbahagialah pemimpin baru yang menyamar, karyawan bawah biasanya belum kenal (atau merasa gak penting banget kenal ama bos, yang penting gajian lancar tiap akhir bulan hehehe..).

Menarik. Bagaimana melihat ekspresi CEO Subway diomelin anak buahnya karena sama sekali tidak terampil meracik hotdog, Presdir Clugston Group yang ternganga karena keputusan memecat orang justru akan membuatnya bekerja ekstra keras di lapangan, atau Managing Director Poundworld yang dimaki konsumen yang tak puas dengan pelayanan toko ‘epriting-goceng’ ini.

Acara ini bukan soal ‘kelucuan’ para petinggi perusahaan yang ternyata tak cakap menyelesaikan pekerjaan kasta bawah. Tapi, lebih dari itu. Kita bisa melihat komunikasi perusahaan selama ini tidak lancar seringkali menjadi biang keladi permasalahan perusahaan. Ada buffer komunikasi antara atasan dan bawah. Ada aspirasi dari bawah tidak sampai ke atas. Ada masalah di level grass root tidak sampai puncak karena mereka yang berada di posisi tengah juga ingin aman – atau tidak tahu bagaimana cara meneruskan informasi tersebut sampai ke meja direksi tanpa harus mengorbankan karir mereka.

Banyak ironi yang terjadi. Ada perusahaan yang begitu mendewakan pelayanan pelanggan tapi mereka tidak pernah melayani karyawannya. Para karyawan harus makan siang di ruangan sempit (yang disebut sebagai ruang makan) dengan peralatan serba rusak dan kursi tak layak untuk diduduki. Bagaimana mungkin karyawan bisa melayani pelanggan setulus hati jika hati mereka dongkol?

Sementara itu, banyak ide-ide segar berasal dari bawah. Karena mereka yang selama ini berada di garda depan, berhadapan langsung dengan konsumen atau klien. Seperti Dick, manajer konstruksi Clugston yang akan pensiun tahun depan, menyayangkan tak adanya pekerja muda yang masuk industri konstruksi. Menurut Dick ini karena perusahaan konstruksi dipandang tak menggiurkan dari sisi pendapatan. “Dengan penghasilan yang sama setiap jam, anak muda jaman sekarang tentu lebih memilih bekerja di McDonald’s daripada harus mengaduk semen atau mengangkat batu,” kata dia. Di jam makan siang, tanpa tahu bahwa yang sedang makan burger di seberang mejanya adalah presdir perusahaannya, Dick mengusulkan perusahaan konstruksi memberikan stimulus khusus untuk anak muda agar banyak ‘darah segar’ yang masuk.

Sementara itu, karyawan lain merasa tak tahu nasibnya minggu depan karena perusahaan sedang rajin memecat orang demi efisiensi. “Mengapa hanya pekerja kelas bawah yang dipangkas habis? Pekerjaan kami menjadi makin berat tapi mereka menaikkan standar pelayanan. Mengapa bukan karyawan yang berada di kantor saja yang dikurangi? Toh, mereka mendapatkan gaji lebih tinggi daripada kami..”

Tulisan ini bukan untuk mereview acara Undercover Boss. Tapi sekadar mengingatkan para (calon) bos bahwa karyawan bukan sekadar angka. Mereka juga manusia yang memiliki pikiran, hati, dan suara. Ketika kalian, para (calon) bos puyeng mengadapi masalah dengan regulasi pemerintah atau penjualan yang tak kunjung mencapai target, para karyawan bawah juga puyeng mengatur uang yang masuknya tak seberapa tapi kebutuhan tetap sama (bahkan makin tinggi akibat inflasi).

Tak ada salahnya pemimpin turun langsung ke lapangan, tanpa membuat jarak, tanpa harus menggunakan jasa para penjilat yang ABS. Bukan untuk pencitraan! Dengarkan suara mereka. Bukan tidak mungkin, ide-ide segar dari bawah akan memberikan solusi jitu yang menyelamatkan perusahaan dari hantaman krisis.

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: