RSS

Monthly Archives: April 2012

The Bumblebee Theory

Bumblebee adalah nama sejenis lebah dari genus Bombus yang mudah dikenali karena tubuhnya yang besar, berbulu lebat, dan bersayap kecil. Di Indonesia, bumblebee dikenal dengan banyak nama, mulai tawon kumbang, tawon endas, hingga bambel – pelafalan langsung dari bahasa Inggris.

Dari dalam laboratorium canggih, para ilmuwan mengatakan ukuran sayap yang terlalu kecil tidak mungkin mengangkat badan bumblebee yang bongsor itu. Menggunakan rumus dan teori apapun, mulai gaya aksi reaksi, hingga teori aerodinamika, hasil yang didapat akan sama: bumblebee dinyatakan tidak bisa terbang!

Akan tetapi, si tawon bongsor ini telah melakukan sesuatu hal yang mustahil secara perhitungan di atas kertas. Karena tidak tahu bahwa sebenarnya ia tidak bisa terbang, bumblebee tetap mengepakkan sayap mungilnya seperti biasa. Dan, ternyata ia memang bisa terbang. Mungkin, jika si bumblebee mengetahui fakta bahwa ia dinyatakan tidak bisa terbang, ia tidak akan pernah mencoba mengepakkan sayap karena sudah putus asa terlebih dahulu.

Kisah bumblebee yang tak bisa terbang merupakan metafora hidup. Seseorang tak perlu memedulikan kesimpulan mustahil dari orang-orang sekitar. Jika Bumblebee Theory diadopsi ke ranah bisnis, seorang entrepreneur harus mampu melawan apa yang dinyatakan Mustahil oleh ‘lawan’ bisnisnya. Tetap merintis bisnis meski orang lain mencibir. Tetap berinovasi kendati pihak lain menjiplak produk karya kita. Tetap bersemangat menyusun dan menjalankan strategi bisnis, meski di atas kertas kompetitor dinyatakan lebih unggul. Dan, tentu saja, kita harus tetap bersemangat menjalankan segala aktivitas.

 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2012 in Random Thought

 

Living on a Binary World

Saya yakin apapun agama yang kita anut pasti mengajarkan mengenai kesabaran dan keikhlasan, meski dengan diksi yang berbeda. Pelajaran yang amat mendasar, modal penting untuk mengarungi kehidupan. Bahkan, kata-kata “Sabar yaa..” seakan menjadi mantra sakti saat menghadapi kawan yang tengah kesusahan. Ngomong sih gampang, tapi ngejalaninya? Beuh!

Semakin bertambah umur, manusia akan makin banyak menemui kegagalan, kesedihan, kehilangan, keputusasaan, disamping mendapatkan keberhasilan, kebahagiaan, dan pertemuan-pertemuan yang mampu mendongkrak semangat. Itulah kehidupan.

Satu hal yang kita harus pahami bahwa di dunia ini semua terjadi berpasangan, berkebalikan, dan saling mengisi. Yin-yang, baik-buruk, panas-dingin, kosong-isi. Tidak akan ada pahlawan jika tak ada penjahat. Tidak akan ada jawaban jika kita tidak pernah mengajukan pertanyaan. Tidak akan ada kegembiraan dalam sebuah perayaan bila belum pernah mengecap kegagalan. Bila menganalogikan dengan binary numeral system, seluruh hal di dunia ini diwakili oleh 0 dan 1. Ada kosong (nol), ada isi (satu).

Setelah memahami konsep tersebut, kita akan lebih mudah memahami dan mempraktekkan pelajaran paling mendasar dalam kehidupan: Sabar dan Ikhlas. Sabar saja dulu, nanti kita akan mendapatkan jawabannya. Ikhlaskan saja, nanti kita akan mendapatkan penggantinya. Life seems easier? Yes. But it’s not that easy to practice. Well, practice makes perfect.

Saya bukan tipe orang yang menggampangkan sesuatu. Ini bukan masalah simplifikasi masalah atau tidak. Tapi, memudahkan kita untuk melanjutkan hidup tanpa terbelenggu karat hati. Everything happens for a reason. Jika suatu hal terjadi (entah baik atau buruk), pasti ada alasannya. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa apa yang kita alami ini akan terkoneksi dengan orang lain, yang bahkan kita tidak kenal sebelumnya

Once you make decision, the universe conspires to make it happen (Ralph Waldo Emerson)

 

 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2012 in Random Thought

 

Tags:

Memimpin dengan Hati

“Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.” (Widjajono Partowidagdo)

Itu status yang saya unggah di akun jejaring sosial, Senin (23/4) pagi. Baru sekian detik mengunggah, sudah ada beberapa orang yang memberikan jempol tanda suka. Ada beberapa alasan mengapa terjadi serangan jempol bertubi-tubi pada status itu. Pertama, karena status itu dikutip dari seorang Widjajono Partowidagdo, mantan wakil menteri ESDM baru saja meninggal dunia saat melakukan pendakian Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (21/4). Jadi orang masih dalam masa bela sungkawa. Kedua, karena masyarakat merindukan pemimpin yang menyayangi orang-orang yang dipimpinnya. Ketiga, karena kata-katanya makjleb banget. Boleh jadi, ketiga alasan di atas benar.

Belakangan, negeri ini kehilangan sosok pemimpin (bangsa) yang bisa dicintai sekaligus mencintai rakyatnya. Dulu, kita sempat punya presiden Soekarno. Dari kisah yang saya dengar, karena saya belum lahir, bagaimana orang Indonesia mendengarkan pidato pak Karno dengan saksama, setia menunggu beliau lewat, dan seterusnya. Sekarang? Boro-boro. Kalau ada pejabat ngomong kepanjangan di televisi, tangan rasanya gatal ingin memindah channel. Pencitraan! Begitu pula saat ada iring-iringan pejabat lewat, tak ada lagi antusiasme menanti di pinggir jalan sambil mengibarkan bendera-bendera kecil. Pengennya sih si pejabat segera lewat biar jalanan bisa kembali dilewati khalayak ramai.

Saya melihat ada pintalan rasa di sini. Ketika masyarakat mendapatkan cinta dan kasih sayang pemimpin, maka ia akan mencintai dan menyayangi pemimpinnya. Vice versa. Sebenarnya ini pengetahuan dasar banget. Dalam ilmu agama, dijelaskan. Di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (kemudian berubah menjadi PPKn – yang aku terlalu malas untuk mengingat kepanjangannya), juga dijelaskan. Sayangnya, kini banyak oknum pemimpin yang tak lagi memiliki hati untuk mencintai orang-orang yang dipimpinnya. Entah itu pemimpin di ranah pemerintahan, perusahaan, hingga urusan ‘akamsi’ (baca: anak kampung sini).

Hingga kemudian, pak Widjan memberikan warisan kalimat di milis Ikatan Alumni ITB. Sebelum ke Tambora, pak Widjan sempat mengirimkan e-mail, yang diduga merupakan tulisan terakhir beliau. Saya copas saja yaa..

Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.

Saya biasa tidur jam 20.00 WIB dan bangun jam 02.00 WIB pagi lalu salat malam dan meditasi serta ceragem sekitar 30 menit, lalu buka komputer buat tulisan atau nulis email. Dalam meditasi biasa menyebutkan: “Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, aku sayang kepadaMu dan sayangilah aku… Tuhan Engkau Maha Pencipta, segala kehendak-Mu terjadi…” Lalu saya memohon apa yang saya mau… (dan diakhiri dgn mengucap) “Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.”

Subuh saya salat di masjid sebelah rumah lalu jalan kaki dari Ciragil ke Taman Jenggala (PP sekitar 4 kilometer). Saya menyapa satpam, pembantu dan orang Jualan yang saya temui di jalan dan akibatnya saya juga disapa oleh yang punya rumah (banyak pejabat, pengusaha dan diplomat), sehingga saya memulai setiap hari dengan kedamaian dan optimisme karena saya percaya bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan saya selain sudah memohon dan bersyukur juga menyayangi ciptaan-Nya dan berusaha membuat keadaan lebih baik. Oh ya, Tuhan tidak pernah kehabisan akal, jadi kita tidak perlu kuatir. Percayalah…

Ternyata, rambut awut-awutan pak Widjan tak seawut-awutan hatinya. Koleganya, Jero Wacik, sang Menteri ESDM yang murah senyum itu mengatakan bahwa Widjajono memulai kedamaian dengan cara sederhana. Ia menyapa orang-orang yang ditemuinya, baik itu satpam, tukang sapu, atau yang lain. Sungguh berbeda dengan sejumlah pemimpin yang saya kenal secara personal. Beberapa enggan lagi menyapa orang-orang yang ‘tak sekasta’ dengannya.

Ah, dari pada saling tunjuk hidung, mending kita memulai dari diri sendiri saja. Jika kita sudah jadi pemimpin yang punya hati, alhamdulillah. Mari kita lanjutkan. Tapi kalau belum, tak ada salahnya untuk memulai kebaikan dari sekarang. Detik ini. Sekarang juga. Sapa dan senyum ke orang-orang yang kita pimpin. As simple as that. Kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkan dan menggantungkan nasib pada mereka.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Sisir Untuk Pak Wamen

Saya pernah jatuh cinta kepada pak Widjan. Bukan dalam arti cinta ‘menye-menye‘ ala sinetron yang digilai sejuta ibu rumah tangga Indonesia, melainkan jatuh cinta pada sikap dan isi otak seorang Prof. DR. Widjajdono Partowidadgdo, Ph.D. Saya mengaku (pernah) mengidolakan mantan wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang meninggal tepat di peringatan Hari Kartini, 21 April 2012 silam, saat mendaki Gunung Tambora, NTB.

Cinta pada pandangan pertama, mungkin itu istilah yang tepat. Saya termasuk orang yang ‘kurang beruntung’ karena baru mengenal pak Widjan ketika Presiden Susilo Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet, yang membuat beliau terpilih menjadi mantan Menteri ESDM. Rambut gondrong awut-awutan, tas warna hitam yang sudah buluk, kemeja yang amat sederhana – untuk ukuran orang yang bergelut di dunia migas, dan ini yang saya suka masih suka naik angkot ketika berangkat kerja. He’s different!

Soal tas, ia pernah menunjukkan tas jinjing yang bagian atasnya robek kepada sejumlah wartawan saat makan di kantin belakang DPR. Soal gayanya itu, Widjajono pernah berujar. ”Saya lebih suka berpenampilan seperti ini. Menurut saya, seseorang itu dihargai bukan karena pakai baju mahal atau mobil mewah, tapi dari perilakunya.”

Jujur, saya menyukai orang-orang yang aneh, original, dan (sedikit) bertipikal pemberontak. Menurut saya, orang-orang dengan tipe seperti ini memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata manusia normal. Mereka ini – biasanya – tidak puas dengan kondisi sekitar lalu melampiaskan ketidakpuasannya dengan menunjukkan gaya “Ini saya. Kalau mau terima, alhamdulillah. Tapi, kalau nggak terima, ya sudah…” Bahasa mudahnya: punya prinsip.

Gila aja ada pejabat pemerintahan, wakil menteri pula, yang rambutnya gondrong awut-awutan. Setelah pak Widjan mangkat, atasannya, Jero Wacik baru mengaku bahwa dia gagal meyakinkan wakilnya untuk potong rambut. “Banyak yang SMS kepada saya, ‘Pak Wacik, suruh Wamen cukur!’ Saya bilang rambutnya memang kusut, tapi dalamnya nggak kusut. Saya gagal meyakinkan pak Wamen,” aku Jero, seperti yang dikutip Vivanews.com (23/4).

Ya, isi otak pak Widjan tidak kusut. Ilmunya mumpuni. Lihat saja berderet-deret gelar yang dipajang media massa, profesor-doktor-piejdi. Itu yang dipajang, yang tidak dipajang mungkin lebih banyak. Mari kita telusuri. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Teknik Perminyakan dari ITB pada 1975, ia mendapatkan beasiswa dari Caltex (sekarang Chevron) untuk melanjutkan kuliah di University of Southern California (USC), AS, untuk mendapatkan gelar Msc petroleum engineering, Msc operations research, MA ecomomics, hingga PhD engineering. Beasiswa, bo.. beasiswa.. Ini sudah cukup menunjukkan bahwa isi otak mantan Guru Besar ITB ini tidak bisa dibilang awut-awutan.

Meski belum pernah bertemu secara personal, saya merasa beruntung pernah membaca karyanya yang dipublikasikan terbatas. Berkat kebaikan seorang kawan yang bekerja di sektor migas, saya bisa mendapatkan buku karya pak Widjan (walau tanpa tanda tangan beliau hiks hiks..). Buku itu, meski terlihat amat sangat teknis, sampai-sampai kawan saya ini berpesan “Jangan dipaksakan untuk baca kalau memang bikin pusing”, tetap mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Terkesan sekali bahwa buku itu ditulis oleh orang yang amat menguasai detil dan teknis di sektor migas. Penjelasannya runtut dan mudah dipahami.

Baru kelar membaca bab kedua saya melonjak kegirangan! Ternyata, buku pak Widjan adalah seluruh jawaban dari pertanyaan yang ada dalam diktat mata kuliah Covering Oil waktu saya menimba ilmu Financial Journalism dulu hehehehe… Oalah, pak, pak, mbok aku baca bukumu sejak dulu…

Tapi, ada satu hal yang saya amat sesali. Saya belum sempat menyerahkan kado istimewa untuk beliau. Bersama beberapa kawan, beramai-ramai kami melontarkan ide gila untuk membelikan sebuah sisir untuk pak wamen. Saweran. Rencananya, sisir baru akan diberikan saat harga BBM benar-benar naik. Sisir sudah terbeli, tapi pak Widjan terlebih dulu pergi…

Seorang wakil menteri mati, di atas gunung. Tempat yang selalu ia ingin kembali, saat politik dan birokrasi membuatnya frustasi. Selamat jalan, bapak..

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Random Thought

 

Lucia Donda Hutagalung: Terinspirasi Tukang Sprei Keliling

Karena ingin menjamin gizi dan pendidikan lebih baik untuk kedua anaknya, saat istirahat makan siang, Donda Hutagalung menjajakan sprei dari kantor ke kantor. Dari situ ia mendapatkan kesempatan memasok ratusan sprei untuk sebuah perusahaan pertambangan. Kini, ia adalah pemasok pakaian khusus untuk dunia pertambangan.

Kisah berawal pada 1991. Di masa itu, Lucia Donda Yuniar Hutagalung memiliki dua anak yang masih berusia di bawah tiga tahun, yakni Gabriella Adindadinanti dan Stephanie Aditawinanti. Jauh di lubuk hati Donda, ia ingin menjamin gizi dan pendidikan yang layak untuk kedua buah hatinya. Tapi, kondisi ternyata tak mudah. “Gaji saya hanya cukup untuk hidup hingga tanggal 20, setiap bulan. Untuk mencapai tanggal 30, saya terpaksa harus memakai tabungan semasa gadis,” kenangnya. Saat itu, Donda bekerja sebagai Sekretaris di PT Ficorinvest, sebuah Lembaga Keuangan milik Bank Indonesia.

Sedikit demi sedikit tabungan Donda dalam bentuk perhiasan pun habis. Hal ini dilakukannya demi membesarkan kedua putrinya. “Bagi saya, anak-anak harus dibesarkan dengan cara terbaik. Anak-anak saya harus makan bergizi agar cerdas dan sehat, pendidikan di rumah dan di sekolah harus bagus. Anak-anak harus lebih baik dari orangtuanya di dalam segala hal. Saya berpikir keras bagaimanakah caranya mendapatkan uang tambahan agar tekad saya bisa tercapai yaitu dengan berbisnis,” papar lulusan LPK Tarakanita ini.

Hingga suatu hari Donda melihat seorang pedagang seprei sistem cicilan yang datang ke kantornya. Ia pun membeli satu set sprei. Sesampainya di rumah, perempuan kelahiran Jakarta, 9 Juni 1965 membongkar sprei itu untuk memperhatikan pola dan jahitan. “Sepertinya cukup mudah. Rasanya saya juga bisa,” kata Donda, pada waktu itu.

Segera, ia mempelajari produk itu sekaligus berburu penjahit. Untuk mendapatkan modal, Donda menjual sebagian besar perhiasan miliknya, yang waktu itu ditaksir senilai Rp2 juta. “Modalnya saya pakai untuk kulakan bahan sprei di Pasar Tanah Abang,” kenangnya.

Perjuangan ibu dua anak itu tidak mudah. “Pulang-pergi naik angkot sendiri. Bahan sprei saya potong sendiri, tengah malam, karena menunggu anak-anak tidur dulu. Subuh saya berangkat kerja, potongan sprei saya bawa ke penjahit di dekat rumah kami. Setelah selesai sprei saya tawarkan ke teman-teman di kantor,” urai Donda, mengenang.

Beruntung, dagangan Donda laris manis, karena harga dan kualitas bersaing. Ia memegang prinsip “Sedikit sedikit, lama lama menjadi bukit.” Biar margin keuntungan sedikit, namun Donda amat mengejar volume. Perlahan tapi pasti, penghasilan Donda menggunung. “Saya bisa hidup sampai tanggal 35,” katanya, terbahak. Artinya, berkat bisnis sprei itu, ia bisa menabung.

Durian Runtuh dari Kantor Seberang

Sayangnya, membaiknya kondisi keuangan Donda justru menimbulkan masalah baru. Satu tahun setelah memulai bisnis, ia membawa anak bungsunya imunisasi. Diagnosa dari dokter begitu mengagetkannya. Stephanie mengalami kekurangan berat badan (underweight) akibat kurangnya waktu bersama sang ibunda. “Saya seperti tertampar. Saat itu juga saya berpikir untuk mengundurkan diri dari perusahaan agar bisa memiliki lebih banyak waktu untuk anak dan bisnis,” kata dia.

Akan tetapi, keberanian Donda masih maju-mundur. Ia lalu berpikir ulang. “Kalau saya membuka bisnis sendiri, saya pasti akan memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anak. Tapi, bisnis belum tentu memberikan penghasilan pasti. Berbeda jika saya tetap jadi karyawan kantoran,” pikir dia, saat itu. Setelah meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, Donda memutuskan untuk mundur dari pekerjaan demi mengembangkan bisnis dan anak-anak. “Saya harus berani mengambil risiko. Demi anak saya,” tegas dia.

Sayangnya, keputusan mundur belum diamini tempat dia bekerja pada waktu itu. Alhasil, Donda menjalani kuadran ganda. “Saya menjalani profesi sebagai pebisnis sebatas istirahat makan siang, menuju lokasi yang bisa ditempuh dengan jalan kaki,” ungkap dia. Tanpa merasa sungkan dan malu, Donda menawarkan dagangannya ke kantor-kantor lain. Hingga pada suatu ketika, ia melangkahkan kaki ke PT Freeport Indonesia (PT FI) yang gedungnya berseberangan dengan kantor Donda, pada waktu itu.

Bak mendapat durian runtuh, ia mendapatkan informasi bahwa PT FI membutuhkan ratusan sprei setiap tahun. Donda melihatnya sebagai peluang emas. Dalam beberapa hari, ia menyusun strategi untuk bisa memasok kebutuhan perusahaan tersebut. “Mungkin ini jalan untuk merintis bisnis sendiri dan menjadi full time entrepreneur,” kenang Donda.

Segera Donda mempersiapkan diri untuk menjadi vendor PT FI dengan membangun perusahaan yang legal. Awalnya Donda meminjam badan hukum milik Ayahnya yang sudah lama tidak aktif, CV Mardohar. Pada 2004, Donda pun mendirikan PT Anugraha Wening (ANWECA) yang banyak berkecimpung di bidang penyedia pakaian untuk perusahaan.

Spesialis Apparel Perusahaan Tambang

Seiring berjalannya waktu, Donda tidak hanya memasok sprei untuk perusahaan itu. Ia kemudian sedikit mengubah bisnis inti menjadi garmen, seragam dan pakaian pekerjaan berat (uniform and heavy duty working clothes), khususnya untuk perusahaan pertambangan.

Semenjak itu, bisnis Donda semakin moncer. Pada 2007, Donda termasuk salah satu dari 200 pengusaha yag diminta oleh pemerintah untuk memperbaiki rapor merah ekspor impor. ”Karena saya belum melakukan ekspor, maka saya berusaha mencari hal lain sebagai penggantinya, yaitu dengan mengurangi impor. Sejak itu saya berusaha untuk mencari, memproduksi, dan memasarkan produk yang selama ini masih impor agar menjadi kandungan lokal,” jelas wanita usia 46 tahun ini.

Donda pun menerapkan kriteria yang sangat ketat untuk produknya. Demi membangun produk yang bermutu tinggi, Donda harus rela melakukan riset dengan biaya sendiri bahkan belajar hingga ke China dan Kanada. Namun, usahanya untuk mengetatkan kriteria ini membuahkan hasil positif. Dirinya berhasil mendapatkan sertifikat internasional dari UK untuk kategori EN 471—safety vest pertama di Indonesia dan EN 533 untuk flame resistant protective clothing pertama di Indonesia.

Pada 2008, bisnis Donda berkembang dan mendirikan PT Deva Datta Dinda yang bergerak di bidang trading. Selain itu juga memasok safety awards (hadiah dari perusahaan untuk para karyawan atas keselamatan yang dijaga) seperti jam tangan, komputer, tas, produk elektronik dan lainnya. Perusahaan yang namanya diambil dari nama putri sulungnya ini juga memproduksi decomposable rainwear dan comfort safety shoes.

Di tahun yang sama, Donda juga mendirikan PT Deva Datta Dita yang sejatinya didedikasikan untuk putri bungsunya, Stephanie. Perusahaan ketiganya ini memasok safety apparel atau pakaian kerja wajib untuk keselamatan yang berstandar internasional. Seraya penuh harap, Donda ingin bisa mengekspor produknya dengan bantuan angel investor merupakan salah satu impiannya. “Agenda jangka pendek saya adalah meningkatkan kesejahteraan karyawan dan mengusahakan tabungan pensiun untuk mereka,” kata perempuan pemenang penghargaan Ernst and Young Entrepreneurial Women 2011 ini.

Kesuksesan memang telah digenggaman Donda. Namun, ini semua bukanlah cita-cita awal Donda. ”Cita-cita saya dulu adalah menjadi sukarelawan pendidikan di pedalaman Papua, mengajari anak membaca, menulis dan pendidikan non formal untuk memperkaya batin. Tapi sekarang saya justru bahagia dengan menjadi entrepreneur ini, lebih banyak hal yang bisa saya lakukan daripada cita-cita saya dahulu,” pungkasnya. $$$ LALA KRISMANTARI (KONTRIBUTOR)

Anweca
PT Anugraha Wening Caranadwaya
Jl. Lapangan Bola No. 3-A,
Kebon Jeruk, Jakarta 11530
Telp : 021-535 5353
Faks : 021-536 1938
http://www.anweca.com

(As published on Majalah DUIT! ed 11/November 2011)

 
3 Comments

Posted by on April 19, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

Trusting God’s Timing

Waiting for God for His perfect timing can be a bit daunting and distressful, but I know at the end, it’s always the most beautiful moment we’ve ever experienced with Him. I took it from a blog post. It really is a good read, especially for the “galauers” who’s still single at 30s.

Check this post out, especially if you are waiting for God’s answer to your prayers.

 

 

Trusting God’s Timing

When are You going to bring me a mate? GOD, when is my business going to take off? When are my dreams going to come to pass?

We can relax knowing that God is in control, and at the perfect time He is going to make it happen. The scripture says, The vision is for appointed time. Though it tarry wait earnestly for it, for it will come to pass. “Appointed Time.”

But whenever it is we can rest assured that it will be in God’s perfect timing. It’s not going to be one second late. At exactly the right time, God is going to bring the perfect person into your life, and he will not be one second late. Be patient, It’s not the right time. Simply remain faithful and keep doing the best we can. Consider the possibility; we may be ready for what God has for us, but somebody else who is going to be involved is not ready yet. Just stay in an attitude of faith and learn to trust His timing. Don’t get in a hurry or try to force things.

To live our best life now, we must learn to trust God’s timing. Learn to trust His timing. Don’t go in a hurry; don’t grow impatient; don’t try to force doors to open. Don’t try to make things happen in our own strength. Let God do it His way.

The sad truth is, if we push hard enough, and if we’re so stubborn that we must have things in our way, God will sometimes allow us to undertake a project without His blessing or at the wrong time. The problem with that, of course, is when we start something in our own strength andin we’re own timing, we’re going to have to finish it and maintain it in our own strength.

When we let God start something, He’ll finish it for us. He’ll provide everything we need. When we try to force open doors and make things happen in our own strength, the end result is a constant strain on us and a drain on our resources. Life becomes a constant struggle. Nearly all joy, peace, and victory dwindle from our existence. That is not a place of contentment and satisfaction. Be careful! If God isn’t in what we are doing, we need to make a change.

Here is where many people miss God’s favor. They know God has spoken to them; He has placed a dream within their hearts. But they then set about trying to fulfill God’s plan on their own.

We must be aware that if we get out of God’s timing, it’s the same as getting out of God’s will. We need to be patient and let God bring His plan together at the appointed time. But when it’s God timing, it doesn’t matter what the surrounding circumstances look like. It doesn’t matter what people are telling us. If God says it’s time, then He will bring it to pass.

Understand, when we get out of God’s timing, we are stepping out of His favor. When we step out of His favor, we are operating on our own in the dark. I’m not saying that when we do something for God we’re not going to have adversity. But fighting the good fight of faith outside God’s timing can leave us constantly struggling, never having anything go in our way, never having any joy.

On the other hand when we’re in God’s timing, we can be in the midst of the biggest challenge of our life, and we’ll still be filled with joy. God will give us all the grace we need. If we will learn to trust His timing, He’s promised that at the right time, He will bring our dreams to pass and answer our prayers.

The answer will come, and it will be right on time…

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2012 in Random Thought

 

Tags: , ,

Jalur KRL Jabodetabek: Menantikan Kereta Jurusan Bandara

jalur bandara

Awal tahun 2012, Pemerintah via Kementerian Perhubungan memberikan kabar baik. Pemerintah tengah mempersiapkan jalur kereta rel listrik (KRL) menuju Bandara Soekarno-Hatta. Menurut Kepala Humas PT KAI Pusat Sugeng Priyono, proyek kereta api Bandara sedang dalam proses studi konsultan untuk teknik dan finance – alias belum dikerjakan. Targetnya, jalur ini baru akan dikerjakan pada 2013. Sungguh molor dari rencana semula yang dikatakan jalur ini bakal selesai pada 2013.

Nantinya, stasiun Bandara merupakan jalur tambahan dari stasiun Tangerang (rute cokelat: Tangerang-Duri). Selain itu, jalur KRL juga dibangun dari arah Pluit. Pemerintah menyediakan dana pembangunan sebesar Rp1,7 triliun dari APBN, yang merupakan bujet patungan antara BUMN (PT KAI) dan Kementerian Perhubungan. Dana ini tidak termasuk pengadaan 160 unit KRL. Nantinya, akan ada dua jenis kereta yang melayani rute bandara, yakni Commuter Line (tambahan dari jalur Duri-Tangerang, sepanjang 7 km) dan Ekspress (dari Pluit, sepanjang 40 km). Kereta rute bandara ini bakal melintas tiap 15 hingga 30 menit sekali.

Tapi, itu baru tahun depan yaaa…

Direktur Utama PT. Angkasa Pura II (Persero) Tri Sunoko menunjukan kepada sejumlah wartawan rencana gambar pengembangan dan perluasan

 

Bagi Anda yang ingin tahu cara naik KRL Jabodetabek, mulai harga tiket sampai rute, bisa baca di artikel Panduan Naik KRL Jabodetabek buat Pemula. Enjoy!

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2012 in Wheels on the Road

 

Tags: , ,