RSS

Antara Gramofon dan Napster

02 Apr

Syahdan, Thomas Alfa Edison pernah dituntut sekumpulan musisi dengan tuduhan pembajakan. Gramofon, penemuan Edison, dianggap sebagai biang keladi tindakan pelanggaran hukum. Ketika baru dirilis, banyak pemilik radio membeli alat yang ditemukan pada 1877 ini untuk memutar kembali musik yang dimainkan para musisi secara live di panggung-panggung pertunjukan. Para musisi merasa tak terima pemilik radio memutar musik tanpa seijin mereka. Mereka pun ramai-ramai menghujat Edison karena dianggap menciptakan teknologi yang memudahkan pembajakan.

Bila tak ada gramofon dan pemilik radio yang kreatif merekam show para musisi, mungkin kita tak pernah mengenal industri rekaman. Betapa repotnya pemilik radio jika mereka harus mendatangkan musisi secara langsung untuk menyanyikan sebuah lagu? Musisi pun jelas repot. Mereka harus pontang-panting ke sana ke mari hanya untuk menyanyikan lagu yang sama, berulang-ulang, sepanjang waktu, setiap hari. Wah!

Zaman berubah. Bila seabad silam masyarakat menyalahkan gramofon sebagai alat yang membantu ‘kejahatan’, satu dasawarsa silam masyarakat modern menyalahkan Napster. Jaringan jasa penyedia musik yang didirikan Shawn Fanning ini memungkinkan pecinta musik berbagi lagu dalam format MP3 dengan mudah. Orang bisa mengunduh lagu tanpa harus membayar. Walhasil, musisi (dan label rekamannya) menuduh Napster melakukan pelanggaran hak cipta berat.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa teknologi selalu berkembang. “Standar” pembajakan pun bisa saja mengalami pergeseran. Namun, ada satu titik temunya, tuduhan pembajakan akan timbul bila ada pihak yang mengalami kerugian, baik itu moril maupun materiil.

Tanpa bermaksud mengapresiasi pelaku kejahatan, para pembajak ini sebenarnya memiliki insting bisnis yang bagus. Mereka hanya akan membajak karya yang berpotensi mendapatkan keuntungan besar.

Dalam sebuah kesempatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan industri kreatif erat kaitannya dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Ada 14 subsektor industri kreatif, yakni musik; games; software; televisi dan radio; film, video dan fotografi; fashion; pasar dan barang seni; seni pertunjukan; kerajinan; arsitektur; desain; periklanan; riset dan pengembangan; serta penerbitan dan percetakan. Kata Menteri Mari, produk ekonomi kreatif perlu dilindungi dan didokumentasikan agar mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sepakat! Kendati tak ada kewajiban untuk mendaftarkan HAKI, pelaku industri kreatif harus melindungi aset intelektualnya. Menurut Wahyu Aditya, pemenang International Young Creative Entrepreneur of The Year 2007 , bila dihitung secara materi, pembajakan jelas merugikan. Akan tetapi, hal yang menyakitkan adalah pencurian hasil karya intelektual mereka yang tak ternilai harganya.

 
Leave a comment

Posted by on April 2, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: