RSS

Sindrom Pekerja Pabrik

04 Apr

Beberapa tahun lalu, sejumlah eksekutif Amerika melakukan perjalanan ke Jepang. Mereka kagun dengan motivasi, antusiasme, dan dedikasi para buruh Jepang. Mister-mister Amerika ini lalu bertanya, “Mengapa orang kita (Amerika) tidak seperti mereka (Jepang)?”

Setelah berembuk, mereka kemudian menemukan jawaban gamblang. Mereka menyadari bahwa perbedaan itu disebabkan oleh sistem penghargaan yang diterima para buruh.

Umumnya, buruh Jepang tahan bekerja bertahun-tahun di satu perusahaan yang sama. Biasanya, mereka bekerja di sebuah perusahaan besar yang memiliki jaminan kerja seumur hidup. Sementara itu, sekitar 40% pendapatan tahunan perusahaan ditentukan oleh profit dan produktivitas pabrik. Jika perusahaan berkinerja bagus, para buruh akan turut menikmati hasilnya. Jika perusahaan jatuh, pendapatan mereka akan kecil – tapi tidak sampai mengalami pemecatan.

Teknologi mutakhir, seperti sistem komputerisasi dan robot tidak mengancam ladang pekerjaan para buruh Jepang. Ketika teknologi otomatisasi bakal menggantikan pekerjaan lama, para perusahaan akan memberitahu para buruh dan memberikan pelatihan kepada mereka. Mereka ditugasi pekerjaan baru dan masih tetap bisa ikut menikmati profit perusahaan.

Oleh karena itu, para buruh berani menerima dan mencari cara baru untuk menjadikan pabrik lebih produktif. Sebab, mereka tahu, bila pabrik lebih produktif, profit meroket, dan mereka pun bisa makin makmur. Singkatnya, pabrik-pabrik Jepang mendapatkan produktivitas tinggi karena mereka menghargai produktivitas tinggi.

Di lain pihak, mayoritas pabrik Amerika beroperasi dengan sistem penghargaan yang berbeda. Pertama, tidak ada (atau kecil sekali) jaminan kerja. Ketika perusahaan menghadapi masa sulit, para buruh menjadi pihak yang lebih dulu terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kedua, mayoritas pekerja tidak digaji berdasarkan apa yang diproduksi dan dijual, melainkan berdasarkan jam kerja.

Apakah mereka dihargai ketika menunjukkan produktivitas tinggi, kendati waktu bekerja pendek? Biasanya tidak. Selain itu, mayoritas buruh pabrik harus melakukan protes, pemogokan mengancam, mengeluh, dan menggunakan aktivitas-aktivitas kontraproduktif (misalnya ikut demo buruh hehehe…) agar mendapatkan kenaikan upah atau tunjangan.

Karena buruh pabrik Amerika tidak mendapatkan jaminan kerja yang memadai, mereka memandang hadirnya teknologi baru sebagai ancaman dan bukan sebagai aset bagi kelangsungan hidup mereka. Komputer atau robot baru cenderung menggantikan para buruh di jalur perakitan pabrik. Ini membuat para buruh tidak akan memikirkan cara baru melakuan pekerjaan yang dapat menghemat tenaga kerja. Ini sama saja bunuh diri secara ekonomi!

Intensif mereka adalah menciptakan jumlah minimum guna menjaga pekerjaannya, menciptakan aturan kerja yang kaku, memuntut tunjangan lebih besar, dan menolak perubahan teknologi. Siapa yang dapat menyalahkan mereka? Sistem penghargaan yang berlaku memang mendorong mereka untuk bersikap seperti itu.

Tak perlu dikatakan lagi, sistem penghargaan di Jepang memiliki imbalan yang menyehatkan. Sebagai contoh, anggota Serikat Pekerja Otomotif Amerika membutuhkan 200 jam kerja untuk membuat dan merakit bagian-bagian kendaraan sampai terbentuk sebuah mobil made in Amerika. Sementara itu, di Jepang, mereka hanya butuh 100 jam kerja untuk menyelesaikan perkerjaan tersebut, hanya separuhnya! Dan, banyak pihak bahkan mengatakan bahwa hasil buruh Jepang jauh lebih baik.

Dari kisah klasik di atas, saya melihat, kebanyakan perusahaan Indonesia justru mengadopsi sistem penghargaan Amerika. Ada kecenderungan, para pengusaha di negeri ini lebih senang melihat hasil print out absensi ketimbang menganalisa berapa waktu yang dibutuhkan tiap pekerja untuk menyelesaikan satu proses produksi. Buruh yang tahan duduk berjam-jam akan lebih dihargai, meskipun mereka hanya menghasilkan output ‘pas’ target. Tidak ada penghargaan bagi buruh cerdas yang berhasil menemukan cara untuk menghasilkan output lebih, tentunya dengan kualitas tetap terjaga. Hasilnya, buruh akan bekerja sesuai argo.

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: