RSS

Peta Rute Warna dan Oper Kereta: Kebiasaan Baru Para Roker

10 Apr

Too often travel, instead of broadening the mind, merely lengthens the conversation. ~Elizabeth Drew

Saya masih ingat betapa para roker (rombongan kereta) bersungut-sungut membaca pengumuman di stasiun, akhir tahun lalu. Rute berubah!

Para roker kasak-kusuk, mencoba mendefinisikan pola baru ala PT KAI Commuter Jabodetabek. Ketika kami, para roker, bertanya pada mbak atau mas security yang selalu ada di tiap gerbong, mereka juga menggeleng tanda tak tahu. Inilah Indonesia, negeriku tercinta. Rakyat harus menunggu, harap-harap cemas, tanpa ada kepastian, dan mencoba mengartikan sendiri sebuah aturan baru. Mungkin bagi para petinggi KAI sosialisasi itu berarti memasang spanduk di tiap stasiun.

Mulai 5 Desember 2011, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) memperkenalkan peta rute kereta dengan sistem warna, bersamaan dengan peluncuran pola Loop Line (jalur jingkar). Pola Loop Line, yang diuji coba (hanya) dalam waktu empat hari – antara 1 hingga 4 Desember ini, mengharuskan penumpang dinamis berpindah (oper) kereta di stasiun transit.

Misalnya orang Depok yang ingin ke Bekasi, maka ia harus naik kereta line merah sampai Manggarai lalu oper ke line biru untuk tujuan Bekasi. Sedangkan orang Serpong yang ingin ke Bekasi, ia harus naik kereta line hijau sampai Tanah Abang, lalu oper ke line oranye (tujuan akhir Bogor) tapi hanya sampai Manggarai, lalu oper lagi ke line biru untuk tujuan Bekasi. Terlihat membingungkan? Ah, tidak juga.

Sistem warna dan transit (oper, pindah peron) ini sebenarnya sudah lama dianut perusahaan perkeretaapian di kota atau negara lain, seperti Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Seoul, Berlin, London, atau Paris. Di luar negeri, instead of menyebutkan kereta tujuan mana, mereka lebih senang menyebutkan warna line kereta, misalnya naik line biru hingga stasiun X lalu oper line merah dengan stasiun tujuan akhir Y, dsb.

Hanya saja, di negeri yang penuh kejutan ini, sistem oper tidak dibarengi dengan fasilitas memadai, seperti petunjuk rute (baru setelah beberapa bulan aturan berjalan, petunjuk baru terpasang) atau peron yang tak sesuai tinggi kereta – yang menyebabkan penumpang yang oper harus buru-buru naik turun kereta. Di awal pemberlakuan sistem, banyak mbak-mbak bersepatu tinggi harus rela kakinya keseleo karena terdorong dan terjatuh dari tangga kereta. Wah!

Pola Loop Line membuat rute perjalanan kereta menjadi lebih simpel. KCJ membabat habis 37 rute perjalanan menjadi hanya enam rute saja. Nah, enam rute ini yang kemudian ditandai dengan warna merah (Bogor/Depok-Manggarai-Jakarta Kota), oranye (Bogor-Manggarai-Jatinegara), biru (Bekasi-Manggarai-Jakarta Kota), hijau (Parungpanjang/Serpong-Tanah Abang), cokelat (Tangerang-Duri), dan ungu (Tanjung Priok-Jakarta Kota).

Hanya ada enam rute berarti tidak terlalu banyak persimpangan di stasiun transit, yang kadang membuat kereta harus menunggu untuk mendapatkan jalur kosong. Setidaknya ada lima stasiun transit, yaitu Jatinegara, Manggarai, Tanah Abang, Duri, dan Kampung Bandan. Di stasiun-stasiun inilah biasanya terjadi “huru-hara” penumpang yang akan turun dan naik, terutama pada rush hour.

Sebenarnya, pola Loop Line adalah lanjutan dari pola Single Operation yang diperkenalkan KCJ sebelumnya. Saya pernah posting tahun lalu, kereta dari Bogor ke Jakarta Kota punya tiga ‘kasta’, yaitu ekonomi, ekonomi AC, dan ekspress. Mulai Juli 2011, cuma ada dua kasta saja yakni ekonomi dan commuter line (kereta ekspress ditiadakan dan digabung dengan ekonomi AC, yang berhenti di tiap stasiun.

Pola Single Operation memungkinkan seluruh kereta (baik AC maupun non AC) berhenti di tiap stasiun dan perjalanannya berurutan. Tidak ada kereta lagi yang berhenti di sebuah stasiun hanya untuk memberi jalan kereta yang kastanya lebih tinggi. Kebijakan ini sempat ditentang roker Bogor yang kebiasaan ‘tidur manis’ di kereta ekspres Pakuan, begitu bangun mereka sudah sampai Gondangdia atau bahkan Jakarta Kota. Adanya pola Single Operation membuat roker Bogor harus menambah durasi perjalanan sekitar 30-45 menit lebih lama untuk rute dan tujuan yang sama, karena kereta harus berhenti di tiap stasiun.

Ah, tiap kebijakan baru tentu ada yang senang dan susah. Tapi, susah itu toh cuma sementara. Ini cuma karena belum terbiasa aja

 
1 Comment

Posted by on April 10, 2012 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , , ,

One response to “Peta Rute Warna dan Oper Kereta: Kebiasaan Baru Para Roker

  1. DJ

    December 12, 2014 at 4:13 pm

    Naik kereta krl sudah tapi bagaimana kalo coba naik trem.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: