RSS

Lucia Donda Hutagalung: Terinspirasi Tukang Sprei Keliling

19 Apr

Karena ingin menjamin gizi dan pendidikan lebih baik untuk kedua anaknya, saat istirahat makan siang, Donda Hutagalung menjajakan sprei dari kantor ke kantor. Dari situ ia mendapatkan kesempatan memasok ratusan sprei untuk sebuah perusahaan pertambangan. Kini, ia adalah pemasok pakaian khusus untuk dunia pertambangan.

Kisah berawal pada 1991. Di masa itu, Lucia Donda Yuniar Hutagalung memiliki dua anak yang masih berusia di bawah tiga tahun, yakni Gabriella Adindadinanti dan Stephanie Aditawinanti. Jauh di lubuk hati Donda, ia ingin menjamin gizi dan pendidikan yang layak untuk kedua buah hatinya. Tapi, kondisi ternyata tak mudah. “Gaji saya hanya cukup untuk hidup hingga tanggal 20, setiap bulan. Untuk mencapai tanggal 30, saya terpaksa harus memakai tabungan semasa gadis,” kenangnya. Saat itu, Donda bekerja sebagai Sekretaris di PT Ficorinvest, sebuah Lembaga Keuangan milik Bank Indonesia.

Sedikit demi sedikit tabungan Donda dalam bentuk perhiasan pun habis. Hal ini dilakukannya demi membesarkan kedua putrinya. “Bagi saya, anak-anak harus dibesarkan dengan cara terbaik. Anak-anak saya harus makan bergizi agar cerdas dan sehat, pendidikan di rumah dan di sekolah harus bagus. Anak-anak harus lebih baik dari orangtuanya di dalam segala hal. Saya berpikir keras bagaimanakah caranya mendapatkan uang tambahan agar tekad saya bisa tercapai yaitu dengan berbisnis,” papar lulusan LPK Tarakanita ini.

Hingga suatu hari Donda melihat seorang pedagang seprei sistem cicilan yang datang ke kantornya. Ia pun membeli satu set sprei. Sesampainya di rumah, perempuan kelahiran Jakarta, 9 Juni 1965 membongkar sprei itu untuk memperhatikan pola dan jahitan. “Sepertinya cukup mudah. Rasanya saya juga bisa,” kata Donda, pada waktu itu.

Segera, ia mempelajari produk itu sekaligus berburu penjahit. Untuk mendapatkan modal, Donda menjual sebagian besar perhiasan miliknya, yang waktu itu ditaksir senilai Rp2 juta. “Modalnya saya pakai untuk kulakan bahan sprei di Pasar Tanah Abang,” kenangnya.

Perjuangan ibu dua anak itu tidak mudah. “Pulang-pergi naik angkot sendiri. Bahan sprei saya potong sendiri, tengah malam, karena menunggu anak-anak tidur dulu. Subuh saya berangkat kerja, potongan sprei saya bawa ke penjahit di dekat rumah kami. Setelah selesai sprei saya tawarkan ke teman-teman di kantor,” urai Donda, mengenang.

Beruntung, dagangan Donda laris manis, karena harga dan kualitas bersaing. Ia memegang prinsip “Sedikit sedikit, lama lama menjadi bukit.” Biar margin keuntungan sedikit, namun Donda amat mengejar volume. Perlahan tapi pasti, penghasilan Donda menggunung. “Saya bisa hidup sampai tanggal 35,” katanya, terbahak. Artinya, berkat bisnis sprei itu, ia bisa menabung.

Durian Runtuh dari Kantor Seberang

Sayangnya, membaiknya kondisi keuangan Donda justru menimbulkan masalah baru. Satu tahun setelah memulai bisnis, ia membawa anak bungsunya imunisasi. Diagnosa dari dokter begitu mengagetkannya. Stephanie mengalami kekurangan berat badan (underweight) akibat kurangnya waktu bersama sang ibunda. “Saya seperti tertampar. Saat itu juga saya berpikir untuk mengundurkan diri dari perusahaan agar bisa memiliki lebih banyak waktu untuk anak dan bisnis,” kata dia.

Akan tetapi, keberanian Donda masih maju-mundur. Ia lalu berpikir ulang. “Kalau saya membuka bisnis sendiri, saya pasti akan memiliki lebih banyak waktu bersama anak-anak. Tapi, bisnis belum tentu memberikan penghasilan pasti. Berbeda jika saya tetap jadi karyawan kantoran,” pikir dia, saat itu. Setelah meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, Donda memutuskan untuk mundur dari pekerjaan demi mengembangkan bisnis dan anak-anak. “Saya harus berani mengambil risiko. Demi anak saya,” tegas dia.

Sayangnya, keputusan mundur belum diamini tempat dia bekerja pada waktu itu. Alhasil, Donda menjalani kuadran ganda. “Saya menjalani profesi sebagai pebisnis sebatas istirahat makan siang, menuju lokasi yang bisa ditempuh dengan jalan kaki,” ungkap dia. Tanpa merasa sungkan dan malu, Donda menawarkan dagangannya ke kantor-kantor lain. Hingga pada suatu ketika, ia melangkahkan kaki ke PT Freeport Indonesia (PT FI) yang gedungnya berseberangan dengan kantor Donda, pada waktu itu.

Bak mendapat durian runtuh, ia mendapatkan informasi bahwa PT FI membutuhkan ratusan sprei setiap tahun. Donda melihatnya sebagai peluang emas. Dalam beberapa hari, ia menyusun strategi untuk bisa memasok kebutuhan perusahaan tersebut. “Mungkin ini jalan untuk merintis bisnis sendiri dan menjadi full time entrepreneur,” kenang Donda.

Segera Donda mempersiapkan diri untuk menjadi vendor PT FI dengan membangun perusahaan yang legal. Awalnya Donda meminjam badan hukum milik Ayahnya yang sudah lama tidak aktif, CV Mardohar. Pada 2004, Donda pun mendirikan PT Anugraha Wening (ANWECA) yang banyak berkecimpung di bidang penyedia pakaian untuk perusahaan.

Spesialis Apparel Perusahaan Tambang

Seiring berjalannya waktu, Donda tidak hanya memasok sprei untuk perusahaan itu. Ia kemudian sedikit mengubah bisnis inti menjadi garmen, seragam dan pakaian pekerjaan berat (uniform and heavy duty working clothes), khususnya untuk perusahaan pertambangan.

Semenjak itu, bisnis Donda semakin moncer. Pada 2007, Donda termasuk salah satu dari 200 pengusaha yag diminta oleh pemerintah untuk memperbaiki rapor merah ekspor impor. ”Karena saya belum melakukan ekspor, maka saya berusaha mencari hal lain sebagai penggantinya, yaitu dengan mengurangi impor. Sejak itu saya berusaha untuk mencari, memproduksi, dan memasarkan produk yang selama ini masih impor agar menjadi kandungan lokal,” jelas wanita usia 46 tahun ini.

Donda pun menerapkan kriteria yang sangat ketat untuk produknya. Demi membangun produk yang bermutu tinggi, Donda harus rela melakukan riset dengan biaya sendiri bahkan belajar hingga ke China dan Kanada. Namun, usahanya untuk mengetatkan kriteria ini membuahkan hasil positif. Dirinya berhasil mendapatkan sertifikat internasional dari UK untuk kategori EN 471—safety vest pertama di Indonesia dan EN 533 untuk flame resistant protective clothing pertama di Indonesia.

Pada 2008, bisnis Donda berkembang dan mendirikan PT Deva Datta Dinda yang bergerak di bidang trading. Selain itu juga memasok safety awards (hadiah dari perusahaan untuk para karyawan atas keselamatan yang dijaga) seperti jam tangan, komputer, tas, produk elektronik dan lainnya. Perusahaan yang namanya diambil dari nama putri sulungnya ini juga memproduksi decomposable rainwear dan comfort safety shoes.

Di tahun yang sama, Donda juga mendirikan PT Deva Datta Dita yang sejatinya didedikasikan untuk putri bungsunya, Stephanie. Perusahaan ketiganya ini memasok safety apparel atau pakaian kerja wajib untuk keselamatan yang berstandar internasional. Seraya penuh harap, Donda ingin bisa mengekspor produknya dengan bantuan angel investor merupakan salah satu impiannya. “Agenda jangka pendek saya adalah meningkatkan kesejahteraan karyawan dan mengusahakan tabungan pensiun untuk mereka,” kata perempuan pemenang penghargaan Ernst and Young Entrepreneurial Women 2011 ini.

Kesuksesan memang telah digenggaman Donda. Namun, ini semua bukanlah cita-cita awal Donda. ”Cita-cita saya dulu adalah menjadi sukarelawan pendidikan di pedalaman Papua, mengajari anak membaca, menulis dan pendidikan non formal untuk memperkaya batin. Tapi sekarang saya justru bahagia dengan menjadi entrepreneur ini, lebih banyak hal yang bisa saya lakukan daripada cita-cita saya dahulu,” pungkasnya. $$$ LALA KRISMANTARI (KONTRIBUTOR)

Anweca
PT Anugraha Wening Caranadwaya
Jl. Lapangan Bola No. 3-A,
Kebon Jeruk, Jakarta 11530
Telp : 021-535 5353
Faks : 021-536 1938
http://www.anweca.com

(As published on Majalah DUIT! ed 11/November 2011)

 
3 Comments

Posted by on April 19, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

3 responses to “Lucia Donda Hutagalung: Terinspirasi Tukang Sprei Keliling

  1. Nis

    May 22, 2012 at 9:42 pm

    Lucia Donda masih menikah dengan bapa anak-anaknya s/d tahun 2006.

     
    • naningisme

      May 23, 2012 at 10:24 am

      Terima kasih atas informasinya.

       
  2. anto

    April 6, 2014 at 3:10 pm

    Sungguh hebat perjuangannya Ibu.
    I like it’s

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: