RSS

Memimpin dengan Hati

26 Apr

“Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.” (Widjajono Partowidagdo)

Itu status yang saya unggah di akun jejaring sosial, Senin (23/4) pagi. Baru sekian detik mengunggah, sudah ada beberapa orang yang memberikan jempol tanda suka. Ada beberapa alasan mengapa terjadi serangan jempol bertubi-tubi pada status itu. Pertama, karena status itu dikutip dari seorang Widjajono Partowidagdo, mantan wakil menteri ESDM baru saja meninggal dunia saat melakukan pendakian Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (21/4). Jadi orang masih dalam masa bela sungkawa. Kedua, karena masyarakat merindukan pemimpin yang menyayangi orang-orang yang dipimpinnya. Ketiga, karena kata-katanya makjleb banget. Boleh jadi, ketiga alasan di atas benar.

Belakangan, negeri ini kehilangan sosok pemimpin (bangsa) yang bisa dicintai sekaligus mencintai rakyatnya. Dulu, kita sempat punya presiden Soekarno. Dari kisah yang saya dengar, karena saya belum lahir, bagaimana orang Indonesia mendengarkan pidato pak Karno dengan saksama, setia menunggu beliau lewat, dan seterusnya. Sekarang? Boro-boro. Kalau ada pejabat ngomong kepanjangan di televisi, tangan rasanya gatal ingin memindah channel. Pencitraan! Begitu pula saat ada iring-iringan pejabat lewat, tak ada lagi antusiasme menanti di pinggir jalan sambil mengibarkan bendera-bendera kecil. Pengennya sih si pejabat segera lewat biar jalanan bisa kembali dilewati khalayak ramai.

Saya melihat ada pintalan rasa di sini. Ketika masyarakat mendapatkan cinta dan kasih sayang pemimpin, maka ia akan mencintai dan menyayangi pemimpinnya. Vice versa. Sebenarnya ini pengetahuan dasar banget. Dalam ilmu agama, dijelaskan. Di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (kemudian berubah menjadi PPKn – yang aku terlalu malas untuk mengingat kepanjangannya), juga dijelaskan. Sayangnya, kini banyak oknum pemimpin yang tak lagi memiliki hati untuk mencintai orang-orang yang dipimpinnya. Entah itu pemimpin di ranah pemerintahan, perusahaan, hingga urusan ‘akamsi’ (baca: anak kampung sini).

Hingga kemudian, pak Widjan memberikan warisan kalimat di milis Ikatan Alumni ITB. Sebelum ke Tambora, pak Widjan sempat mengirimkan e-mail, yang diduga merupakan tulisan terakhir beliau. Saya copas saja yaa..

Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.

Saya biasa tidur jam 20.00 WIB dan bangun jam 02.00 WIB pagi lalu salat malam dan meditasi serta ceragem sekitar 30 menit, lalu buka komputer buat tulisan atau nulis email. Dalam meditasi biasa menyebutkan: “Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, aku sayang kepadaMu dan sayangilah aku… Tuhan Engkau Maha Pencipta, segala kehendak-Mu terjadi…” Lalu saya memohon apa yang saya mau… (dan diakhiri dgn mengucap) “Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.”

Subuh saya salat di masjid sebelah rumah lalu jalan kaki dari Ciragil ke Taman Jenggala (PP sekitar 4 kilometer). Saya menyapa satpam, pembantu dan orang Jualan yang saya temui di jalan dan akibatnya saya juga disapa oleh yang punya rumah (banyak pejabat, pengusaha dan diplomat), sehingga saya memulai setiap hari dengan kedamaian dan optimisme karena saya percaya bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan saya selain sudah memohon dan bersyukur juga menyayangi ciptaan-Nya dan berusaha membuat keadaan lebih baik. Oh ya, Tuhan tidak pernah kehabisan akal, jadi kita tidak perlu kuatir. Percayalah…

Ternyata, rambut awut-awutan pak Widjan tak seawut-awutan hatinya. Koleganya, Jero Wacik, sang Menteri ESDM yang murah senyum itu mengatakan bahwa Widjajono memulai kedamaian dengan cara sederhana. Ia menyapa orang-orang yang ditemuinya, baik itu satpam, tukang sapu, atau yang lain. Sungguh berbeda dengan sejumlah pemimpin yang saya kenal secara personal. Beberapa enggan lagi menyapa orang-orang yang ‘tak sekasta’ dengannya.

Ah, dari pada saling tunjuk hidung, mending kita memulai dari diri sendiri saja. Jika kita sudah jadi pemimpin yang punya hati, alhamdulillah. Mari kita lanjutkan. Tapi kalau belum, tak ada salahnya untuk memulai kebaikan dari sekarang. Detik ini. Sekarang juga. Sapa dan senyum ke orang-orang yang kita pimpin. As simple as that. Kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkan dan menggantungkan nasib pada mereka.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: