RSS

Sisir Untuk Pak Wamen

26 Apr

Saya pernah jatuh cinta kepada pak Widjan. Bukan dalam arti cinta ‘menye-menye‘ ala sinetron yang digilai sejuta ibu rumah tangga Indonesia, melainkan jatuh cinta pada sikap dan isi otak seorang Prof. DR. Widjajdono Partowidadgdo, Ph.D. Saya mengaku (pernah) mengidolakan mantan wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang meninggal tepat di peringatan Hari Kartini, 21 April 2012 silam, saat mendaki Gunung Tambora, NTB.

Cinta pada pandangan pertama, mungkin itu istilah yang tepat. Saya termasuk orang yang ‘kurang beruntung’ karena baru mengenal pak Widjan ketika Presiden Susilo Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet, yang membuat beliau terpilih menjadi mantan Menteri ESDM. Rambut gondrong awut-awutan, tas warna hitam yang sudah buluk, kemeja yang amat sederhana – untuk ukuran orang yang bergelut di dunia migas, dan ini yang saya suka masih suka naik angkot ketika berangkat kerja. He’s different!

Soal tas, ia pernah menunjukkan tas jinjing yang bagian atasnya robek kepada sejumlah wartawan saat makan di kantin belakang DPR. Soal gayanya itu, Widjajono pernah berujar. ”Saya lebih suka berpenampilan seperti ini. Menurut saya, seseorang itu dihargai bukan karena pakai baju mahal atau mobil mewah, tapi dari perilakunya.”

Jujur, saya menyukai orang-orang yang aneh, original, dan (sedikit) bertipikal pemberontak. Menurut saya, orang-orang dengan tipe seperti ini memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata manusia normal. Mereka ini – biasanya – tidak puas dengan kondisi sekitar lalu melampiaskan ketidakpuasannya dengan menunjukkan gaya “Ini saya. Kalau mau terima, alhamdulillah. Tapi, kalau nggak terima, ya sudah…” Bahasa mudahnya: punya prinsip.

Gila aja ada pejabat pemerintahan, wakil menteri pula, yang rambutnya gondrong awut-awutan. Setelah pak Widjan mangkat, atasannya, Jero Wacik baru mengaku bahwa dia gagal meyakinkan wakilnya untuk potong rambut. “Banyak yang SMS kepada saya, ‘Pak Wacik, suruh Wamen cukur!’ Saya bilang rambutnya memang kusut, tapi dalamnya nggak kusut. Saya gagal meyakinkan pak Wamen,” aku Jero, seperti yang dikutip Vivanews.com (23/4).

Ya, isi otak pak Widjan tidak kusut. Ilmunya mumpuni. Lihat saja berderet-deret gelar yang dipajang media massa, profesor-doktor-piejdi. Itu yang dipajang, yang tidak dipajang mungkin lebih banyak. Mari kita telusuri. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Teknik Perminyakan dari ITB pada 1975, ia mendapatkan beasiswa dari Caltex (sekarang Chevron) untuk melanjutkan kuliah di University of Southern California (USC), AS, untuk mendapatkan gelar Msc petroleum engineering, Msc operations research, MA ecomomics, hingga PhD engineering. Beasiswa, bo.. beasiswa.. Ini sudah cukup menunjukkan bahwa isi otak mantan Guru Besar ITB ini tidak bisa dibilang awut-awutan.

Meski belum pernah bertemu secara personal, saya merasa beruntung pernah membaca karyanya yang dipublikasikan terbatas. Berkat kebaikan seorang kawan yang bekerja di sektor migas, saya bisa mendapatkan buku karya pak Widjan (walau tanpa tanda tangan beliau hiks hiks..). Buku itu, meski terlihat amat sangat teknis, sampai-sampai kawan saya ini berpesan “Jangan dipaksakan untuk baca kalau memang bikin pusing”, tetap mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Terkesan sekali bahwa buku itu ditulis oleh orang yang amat menguasai detil dan teknis di sektor migas. Penjelasannya runtut dan mudah dipahami.

Baru kelar membaca bab kedua saya melonjak kegirangan! Ternyata, buku pak Widjan adalah seluruh jawaban dari pertanyaan yang ada dalam diktat mata kuliah Covering Oil waktu saya menimba ilmu Financial Journalism dulu hehehehe… Oalah, pak, pak, mbok aku baca bukumu sejak dulu…

Tapi, ada satu hal yang saya amat sesali. Saya belum sempat menyerahkan kado istimewa untuk beliau. Bersama beberapa kawan, beramai-ramai kami melontarkan ide gila untuk membelikan sebuah sisir untuk pak wamen. Saweran. Rencananya, sisir baru akan diberikan saat harga BBM benar-benar naik. Sisir sudah terbeli, tapi pak Widjan terlebih dulu pergi…

Seorang wakil menteri mati, di atas gunung. Tempat yang selalu ia ingin kembali, saat politik dan birokrasi membuatnya frustasi. Selamat jalan, bapak..

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Random Thought

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: