RSS

Kekasih yang Tak Pernah Bersua

07 May

Sungguh beruntung pasangan kekasih jaman sekarang. Walau terpisah oleh jarak dan waktu, teknologi memungkinkan keduanya untuk terus berkomunikasi. Sebut saja, mulai dari sekadar berbalas pesan lewat SMS, mendengar suara via telepon, hingga menatap mata kekasih hati melalui jalur internet berkamera. Apapun halangannya, komunikasi jalan terus, beib!

Tak perlu jauh mundur ke jaman baheula ketika merpati pos masih menjadi backbone komunikasi, kurang dari dua dasawarsa lalu, saya masih sempat mengalami masa menelepon pacar dari telepon umum koin atau wartel (karena ponsel belum ditemukan) dan menjalani periode surat menyurat. Rasanya gimanaaa gitu saat kita menerima surat dari Pak Pos. Imajinasikan saja Pak Pos-nya masih naik sepeda kumbang dengan tas surat disampirkan di kursi belakang, persis di film Laskar Pelangi saat Ikal menerima surat (yang datangnya telat) dari Aling. Pantas saja lagu tante Vina Panduwinata yang berjudul Surat Cinta pernah merajai tangga lagu Indonesia, di masanya.

Surat menyurat memang membutuhkan waktu. Kalau masih dalam kota, bisa sampai kurang dari satu minggu. Kalau tujuannya ke luar kota, bisa lebih dari seminggu baru sampai ke tangan penerima. Kalau ke luar negeri, tergantung negara tujuannya, bisa seminggu, sebulan, atau tidak akan pernah sampai tujuan. Kalau alamat penerima berada di daerah konflik ya anggap saja suratnya hilang, karena Pak Pos-nya keburu mati ketembak oknum gerilyawan yang baru tahu cara menggunakan senjata.

Tapi, di situlah seninya. Ada momen harap-harap cemas menanti kabar dari sang kekasih. Di masa kuliah, saya sempat membaca Surat-Surat Cinta kepada May Ziadah, antologi 23 surat cinta Kahlil Gibran kepada May Ziadah, kekasih hatinya. Kendati sama-sama berasal dari Libanon, keduanya terpisah jarak ribuan kilometer. May bermukim di Mesir, sedangkan Kahlil berada di Amerika Serikat. Hubungan cinta jarak jauh antara kedua insan sastrawi ini berlangsung cukup lama, hingga seperempat abad. Surat pertama Kahlil ditulis pada 2 Januari 1914 sedangkan surat terakhirnya untuk May tertanggal 10 Desember 1929.

Saya merasa ini fenomenal sekali. Luar biasa! Orang jaman sekarang rata-rata hanya tahan berhubungan jarak jauh dalam hitungan bulan, sebelum merengek-rengek ingin bertemu muka atau akhirnya mendua. Di jaman itu, Kahlil meluapkan rasa hatinya kepada May lewat rangkaian kalimat tertulis selama berpuluh-puluh tahun. Kendati demikian, surat-surat cinta mereka nyaris tak terkesan seperti surat cinta pada umumnya yang berisi rayuan gombal. Diksi yang digunakan sungguh mengagumkan. Memiliki nilai sastra yang tinggi. Bahkan, orang yang membaca kumpulan surat mereka pun turut terhanyut dalam larutan pekat cinta keduanya. Mereka membicarakan rasa yang agung dengan cara yang agung pula.

Semula, surat-menyurat Kahlil kepada May berupa ulasan karya-karya, seperti Sang Nabi (The Prophet), Taman Sang Nabi (The Garden of the Propeth), hingga Sayap-sayap Patah (The Broken Wings). Disamping, tentu saja, membicarakan keadaan yang terjadi di sekitar mereka. Pada cetakan pertama Sayap-Sayap Patah, Kahlil mempersembahkan khusus untuk May. Sayap-Sayap Patah memberikan pengaruh besar di dunia Arab. Karena, dalam karya itu, untuk pertama kalinya perempuan Arab yang dinomorduakan memiliki kesempatan berbicara dan memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam pernikahan.

Kegiatan surat menyurat yang intens menumbuhkan perasaan cinta di antara mereka keduanya. Hubungan jarak jauh dalam periode panjang itu menciptakan rasa saling mengagumi dan saling pengertian. Hingga pada akhirnya menimbulkan rasa cinta yang amat mendalam, selaras, seimbang, penuh kesadaran, indah, sekaligus mengharukan. Sebab, hingga akhir hayat, pasangan kekasih itu tak pernah bersua. Sang Penguasa Semesta hanya mengizinkan Kahlil hidup di dunia selama 48 tahun. Pria yang terlahir dari keluarga Katolik-Maronit ini menyerah pada tuberkulosis dan sirosis hepatis yang telah lama menggerogoti tubuhnya.

 

 Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murca. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah menjadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya…

 (Kahlil Gibran, Sayap-Sayap Patah)

 
Leave a comment

Posted by on May 7, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: