RSS

Digital Magazine: Riding the Wave!

07 May

“Pembaca harus bangga dengan bacaannya. Lihat saja, businessman begitu bangga menenteng The Economist atau Financial Times yang warna kertasnya pink. Selain memberikan content yang berguna untuk pengetahuan bisnisnya, mereka juga bangga dengan nama besar media itu. Kalau media kalian belum bisa memberikan pengetahuan lebih dan kebanggaan bagi pembaca, berusahalah lebih keras!” (Graham Watts. Berlin: 2005)

Bila dibandingkan dengan kawan-kawan pers lainnya, saya bukan apa-apa. Karir jurnalistik saya baru seumur jagung. Rasanya belum pantas disejajarkan dengan jurnalis papan atas semacam Gunawan Muhammad, Bambang Harimurti, Uni Lubis, atau Desi Anwar yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

Saya hanya seorang Sarjana Ekonomi yang beruntung bisa menjadi Pemimpin Redaksi sebuah majalah entrepreneurship. Dibilang beruntung karena saya hanya butuh tak lebih dari delapan tahun untuk mencapai posisi tertinggi di sebuah institusi pers, setelah merangkak dari posisi paling dasar: Reporter. Tapi, ini jeleknya, saya tidak suka beredar dan tak terlalu vokal, jadi orang tak mengenal nama saya. Selain itu, saya tak memiliki riwayat bekerja di media main stream yang sudah punya nama. Jadi, makin tak terkenal lah saya. Saya memilih bermain di bawah radar saja.

Mengawali karir dari bawah membuat saya paham seluk beluk industri pers. Dari soal teknis sampai intrik-intrik industrinya, meski belum semua. Ketika saya mendapat kepercayaan untuk memimpin sebuah majalah entrepreneurship, yang waktu itu (baru) empat tahun berada di pasar dengan catatan sales dan pendapatan iklan yang tidak terlalu mengesankan, saya sempat bengong. Tapi, kita tidak akan pernah tahu kemampuan jika tidak pernah mencobanya, bukan?

Perusahaan pers, seperti halnya perusahaan lain di dunia ini juga berpatokan pada hukum bisnis dan aplikasi teori manajerial. Masalah yang dihadapi juga sama. Setiap perusahaan pasti memiliki masalah klasik seperti yang tertera di buku-buku manajemen – yang tebalnya bisa bikin seekor anjing cihuahua mati kalau kena timpuk.

Ketika pertama kali in charge, langkah pertama yang saya lakukan adalah memperbaiki penampilan produk. Alasannya simpel saja. Pertama, orang komersial nggak bakal bisa jualan iklan kalau produknya jelek. Kedua, konsumen juga nggak bakal melirik majalah kami kalau tampilannya kucel. People still judge a book by its cover.

Saya bersikeras no more ‘dangdut style’ on cover. Harus elegan. Meski segmen pembacanya pengusaha dan calon pengusaha skala UKM (namun saya suka menyebutnya sebagai start up business), bukan berarti mereka ‘rela’ disuguhi produk tak berkualitas, baik dari sisi cover, layout, dan content. Ini soal pencitraan produk.

Saya masih ingat kata Graham Watts, dosen sekaligus kolega jurnalis saya dari Inggris, “Pembaca harus bangga dengan bacaannya. Lihat saja, businessman begitu bangga menenteng The Economist atau Financial Times yang warna kertasnya pink. Selain memberikan content yang berguna untuk pengetahuan bisnisnya, mereka juga bangga dengan nama besar media itu. Kalau media kalian belum bisa memberikan pengetahuan lebih dan kebanggaan bagi pembaca, berusahalah lebih keras!” Well, okay, sir. I’ll do my best.

Singkat cerita, produk yang saya gawangi mulai membaik, kendati masih banyak PR yang harus dilakukan. Tapi, saya tahu betul, membuat citra produk tidak bisa dilakukan dalam satu-dua tahun, apalagi hitungan bulan. Belum lagi saya tak dibantu konsultan profesional. Semua saya lakukan berdasarkan pengetahuan dari buku dan naluri saja (kalau ada konsultan manajemen dan desain yang kebetulan membaca blog ini, bantu saya yaaa…).

The Economist sudah menemani pembaca sejak September 1843, sedangkan FT sudah berdiri sejak 1888. Yup, keduanya sudah lebih dari satu setengah abad berdiri. Usianya jauh banget dari majalah yang saya pimpin, yang Mei ini baru genap berusia enam tahun. Sialnya, dotcom booming membuat industri pers yang berbasis kertas mulai kolaps.

Menurut data Business Insider, industri pers AS mengalami penurunan oplah rata-rata 20%, sedangkan pendapatan iklan turun 30%. Pada 2009, terdapat 105 surat kabar yang gulung tikar. Pada 2010, 151 koran tutup. Dan, di tahun selanjutnya, 152 koran memutuskan untuk mennghentikan operasional. Sayang, saya belum mendapatkan data dari industri pers Indonesia. Kita tak boleh lupa, industri pers juga berpedoman pada hukum pengeluaran dan pemasukan. Besar pasak daripada tiang hanya akan membuat bangunan bergoyang dan pada akhirnya roboh.

Bisa dikatakan hal-hal buruk yang mendera media cetak merupakan efek teknologi. Kini, orang lebih suka mengakses internet demi mendapatkan informasi lebih cepat dan gratisan. Vocus Media Research Group menyatakan masih ada harapan untuk bisnis majalah, selama mereka menggaet pembaca digital yang selama ini mengakrabi iPad. Belakangan, media online (yang memiliki basis masa) justru merambah bisnis media cetak. Mereka menawarkan versi tablet secara gratis sebagai komplimen pembelian edisi cetak.

Dari hasil riset itu, mau tak mau, atas nama teknologi dan demi menyelamatkan catatan penjualan, saya harus turut menunggangi ombak. Saya harus membuat majalah versi digital, memperkuat edisi online, dan memberdayakan social media. We’re living in digital world.

Saya menyukai proses, bukan hasil instan. Saya enggan ‘men-jablay-kan’ majalah dan diri saya demi akselerasi prestasi. Strategi bisnis tak harus melumuri tangan saya dengan hal-hal kotor. Orang bilang saya terlalu idealis, biarkan saja.

 
1 Comment

Posted by on May 7, 2012 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , ,

One response to “Digital Magazine: Riding the Wave!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: