RSS

Jurnalisme ‘Kloning’

08 May

Ketika saya masih baru menjadi reporter dan sering wira-wiri di acara konferensi pers, saya suka ikutan mengerubungi narasumber. Rasanya kayak jadi jurnalis beneran. Seperti yang terlihat di tipi-tipi itu hehehe…

Beberapa jurnalis, lengkap dengan rekorder dan kamera, mengerubungi satu narasumber. Dalam kamus slang jurnalisme, cara wawancara semacam ini disebut sebagai ‘door stop’. Mungkin diambil dari terjemahan ‘menghentikan seorang narasumber di pintu untuk meminta statement’.

Target door stop biasanya tokoh terkenal, entah itu karena jabatannya atau kasus yang sedang dihadapinya. Pokoknya orang penting dan diburu jurnalis. Para pemburu biasanya berasal dari media mingguan, harian, atau detikan yang dikejar waktu untuk mendapatkan berita.

Kalau media dua mingguan, bulanan atau media bersegmen khusus biasanya lebih memilih untuk menjadwalkan waktu untuk wawancara dengan si tokoh. Namun, sah-sah saja mereka mengikuti prosesi door stop. Bisa saja si tokoh terlalu sibuk dan tak bisa menyediakan waktu sebelum tenggat waktu penulisan, padahal statement wajib didapatkan.

Dalam prosesi door stop terjadi beberapa kali tanya jawab (entah mengapa jurnalis lebih suka bertanya di luar forum tanya jawab yang selalu diadakan dalam rangkaian konferensi pers. Mungkin lebih nyaman). Kalau sudah mulai ‘mati angin’ karena pertanyaan yang diajukan mulai menyerempet hal-hal yang kurang mengenakkan atau karena durasinya kelamaan, si tokoh akan mengeluarkan kalimat saktinya, “Sudah ya..” sambil buru-buru ngeloyor pergi.

Segerombolan jurnalis, yang kadang masih dalam formasi mengerubungi si tokoh, ikutan berlari mengimbangi kecepatan kaki si tokoh. Apapun dilakukan demi sebuah berita! Perjuangan akan terhenti jika si ajudan (atau kadang orang PR yang mengadakan acara) turut menghalau. Kalau masih belum puas, para jurnalis pun akan kompak berseru “Pak, pak, satu pertanyaan lagi, pak..” Dan, si tokoh pun akan melambai dengan senyum kemenangan, meninggalkan segerombolan jurnalis yang tak terpuaskan.

Prosesi bubar? Belum. Beberapa jurnalis biasanya saling meng-kroscek kalimat si bapak, terutama kalau berkaitan dengan angka. Daripada diomelin redaktur karena beritanya tidak akurat. Prosesi kroscek ini juga dilakukan oleh jurnalis yang telat atau tidak ikut prosesi door stop.

Dan, saudara-saudara, jurnalisme kloning pun dimulai. Jurnalis yang tidak ikut prosesi door stop akan meng-kloning (baca: menyalin) statement yang dikeluarkan si tokoh. Sah-sah saja. Selama yang disalin itu tepat seperti yang dikatakan oleh si tokoh.

Selain jurnalisme kloning, reporter (biasanya reporter baru) sering terjebak pada dosa jurnalisme copas dan jurnalisme kabar burung (twitter). Sesuai namanya yang berasal dari kata copy paste, para jurnalis ini hanya meng-copy paste apa yang ada pada press release. Itu sebabnya, saya sering menemui banyak berita, dari berbagai media, memiliki beberapa kalimat yang sama persis. Bahkan, kadang, sampai dua paragraf berturut-turut. Edan!

Dan, saya pun sering ketawa ngakak bila ada artikel yang mengutip ‘berita’ dari twitter. ‘Berita’ dari lini masa boleh saja dijadikan bahan sekunder, tapi lakukan konfirmasi dong ke orangnya. Belakangan, saya prihatin dengan kualitas berita yang beredar, entah dari sisi akurasi maupun teknik penulisan. Media televisi dan online memang memiliki tenggat waktu yang lebih ketat daripada media cetak. Tapi, itu bukan apologi dan alasan untuk membuat kesalahan.

Saya selalu menekankan cek-recek-rerecek kepada para reporter, terutama untuk angka dan nama. Siapa yang mau diberitakan rugi Rp158 miliar padahal ia hanya rugi Rp15,8 juta, misalnya? Atau siapa yang mau muncul di berita tapi namanya salah? Satu huruf tidak sama itu sama dengan salah.

Selain soal angka dan nama, tentu ada berbagai hal penting yang selalu dicek-recek-rerecek. Ihwal jurnalisme adalah data dan fakta. Bila kedua hal itu tidak akurat, maka bisa dipastikan artikel berita yang dihasilkan pun tak akurat. Itu sebabnya, seorang jurnalis yang baik selalu bangga bila mampu melakukan investigasi mendalam demi mendapatkan data dan fakta. Tugas jurnalis adalah mengabarkan. Bukan mengaburkan.

 
 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: