RSS

Kroket Untuk Santa: Dilarang Memendam Dendam

14 May

Adakalanya kita merasa muak, jenuh, enek, empet dengan pekerjaan atau kehidupan sehari-hari atau dengan orang yang hobinya menyusahkan. Belakangan, saya sering merasakannya. Kalau sudah begini, biasanya otak saya mendadak tidak sinkron. Saya langsung kepikiran untuk berlibur ke kampung halaman Santa Claus di Kutub Utara sana.

Bagi gadis yang sepanjang hidupnya tinggal di negeri Tropis, sepertinya menantang bisa menghabiskan waktu di daerah super dingin semacam Kutub. Beli tiket sekali jalan, karena tak tahu bakal pergi berapa lama, tapi yang pasti bakal menghabiskan jatah cuti tahunan. Lalu, di Rovaniemi, kampung halaman Santa, saya akan membantu eyang Santa untuk mengumpulkan catatan kelakuan baik anak-anak sedunia dan membungkus kado yang bakal dibagikan saat Natal akhir tahun. Ah, sepertinya khayalan saya terlalu tinggi hehehe..

Sesuatu yang terlalu itu tidak baik. Tak punya khayalan (baca: mimpi) membuat kita tak pernah punya cita-cita atau target tertentu dalam hidup. Tapi, kalau khayalannya terlalu tinggi (berlibur di kampung halaman eyang Santa, misalnya) itu sama dengan hanya memuaskan imajinasi tanpa berniat memenuhi janji.

Terlalu lama memendam dendam atau sakit hati juga tidak baik. Itu sama dengan menyimpan kentang berhari-hari dalam sebuah kantong (bayangkan kantongnya Santa Claus!). Lama-lama kentang akan membusuk dan baunya menyengat. Kantong – yang sebenarnya masih baru itu – bakal rusak terkena ragi kentang.

Kisah klasik tentang guru TK yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menyimpan dendam pada orang lain, pasti semua sudah tahu. Ibu guru akan berkata, “Anak-anak, maafkanlah mereka yang menyakitimu. Lupakan yang pernah mereka lakukan. Jadikan hal itu sebagai pembelajaran dalam hidup kalian. Dendam sama seperti kentang-kentang busuk itu, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah.”

Tapi, lain ibu guru, lain pula saya, mantan premanwati. Sebelum kentang membusuk, daripada terlalu lama menyimpan kentang dalam kantong, saya sarankan untu merebus kentang-kentang itu. Setelah kentang lunak, kupas kulit, lalu ulek kentangnya. Kerahkan semua kekuatan. Anggap saja Anda ngunyek-ngunyek orang yang berani-beraninya bikin masalah dengan Anda.

Setelah kentang halus, isi dengan ragout ayam, lapisi dengan tepung panir, lalu goreng di minyak panas. Maka Anda telah berhasil menyajikan kroket kentang! Sesuatu yang berguna daripada Anda hanya menyimpan dan membuang kentang busuk ke tempat sampah.

Jadi, inti kisah ini adalah jangan memendam dendam. Jangan menyimpan perasaan, entah itu negatif atau positif. Kalau ingin marah, marahlah. Kalau ingin menangis, menangislah. Kalau ingin tertawa, tertawalah. Anda dan saya adalah manusia biasa yang memiliki perasaan. Hanya saja, poin penting dalam postingan ini adalah ‘jangan over’. Kendalikan diri. Pastikan segala sesuatunya sesuai takaran.

Part of being a winner is knowing when enough is enough. Sometimes, we have to give up the fight and walk away, and move on to something that more productive. (Donald Trump)

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2012 in Random Thought

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: