RSS

Kesetaraan Gender = Kesetaraan Hak Duduk?

21 May

Long weekend adalah waktu yang tepat untuk menikmati Jakarta tanpa hiruk pikuk. Berbekal percaya diri yang tebal, saya naik KRL Ekonomi ke arah Kota. “Tenang saja, ini hari libur, nggak bakalan jadi pepes,” begitu pikir saya.

Dan, benar saja. Kereta Ekonomi di hari Kamis, pukul 9.00, yang bila tak libur membuat para penumpangnya tak bakalan bisa melihat kaki sendiri, pagi itu begitu lengang. Mungkin, jika ada Bambang Pamungkas dan Okto Maniani naik kereta ekonomi yang saya tumpangi pagi itu, mereka pasti bakal main bola di dalam gerbong.

Begitu menaiki kereta yang hanya berhenti setengah menit itu, saya segera menuju ke arah sambungan kereta. Menurut pengalaman, itu adalah ‘teritori’ yang relatif aman bila dibandingkan berdiri di dekat pintu. Komunitas roker reguler, terutama yang memiliki jarak tempuh jauh, biasanya mengambil tempat di dekat sambungan kereta (bordes). Mereka akan menggelar kuli (kursi lipat), meski sebenarnya dilarang, lalu melanjutkan tidur sampai stasiun tujuan.

Jika mengikuti kaidah safety, area dekat sambungan kereta cukup berbahaya. Tapi, bagi komunitas roker, wilayah itu aman dan terlindungi dari orang yang naik turun. Di KRL Ekonomi, hanya pedagang asongan dan ‘preman’ lokal yang melewati sambungan kereta. Sementara itu, di KRL AC, yang lewat hanya petugas atau penumpang yang ingin berpindah gerbong, tapi jumlahnya bisa dihitung jari.

Berdasarkan perhitungan dan pengalaman, saya pun menuju area sambungan kereta. Hanya ada satu lelaki duduk di area itu, sisanya perempuan. Wah, kesempatan dapat tempat duduk di kereta ekonomi yang lengang, di pagi hari pula, makin terbuka lebar. Senyum saya merekah. Sumringah. Saya langsung ambil posisi berdiri yang paling nyaman di depan mas mas itu.

Satu menit, dua menit, satu stasiun, dua stasiun, tiga stasiun. Saya masih dalam posisi berdiri. Tanpa ada tanda-tanda bakal ditawari duduk. Sial! Ini laki-laki normal nggak sih otaknya? Saya mulai menggerutu dalam hati. Senyum sumringah mulai menguap tak berbekas. Di stasiun keempat, makin banyak penumpang menjejali kaleng sarden tak ber-AC itu.

Hingga kemudian ada ibu-ibu sepuh yang menuju arah saya. Si ibu baru saja naik dari stasiun keempat. Ia pasrah saja berdiri berpegangan tiang di dekat pintu, karena kereta sudah mulai penuh dan ia kesulitan menembus pagar manusia. Eh, bukannya berdiri dan memberikan tempat pada perempuan yang lebih tua, si mas mas ini justru asyik makan duku yang baru saja dibelinya.

Ia cuek saja membuang kulit duku ke lantai, tepat di kaki ibu sepuh itu. Anjrit! Ini laki-laki benar-benar tak tahu sopan santun. Ada perempuan yang usianya mungkin setara dengan ibunya, tak juga dipersilakan duduk. Saya bertekad kalau sampai kulit duku jatuh di atas sepatu saya, saya akan hajar dia di tempat. Saya segera meraba tas warna hitam yang tergantung di pundak. Sempurna. Di dalamnya ada satu novel keluaran Pustaka Silat setebal 1.013 halaman dengan sampul tebal (hard cover). Cukup bisa bikin bibir musuh jontor kalau tas ini saya arahkan dengan saksama.

Singkat cerita, saya tak jadi melakukan kekerasan ala preman di dalam kereta ekonomi jurusan Bogor – Jakarta itu. Entah mengapa, si mas mas itu memasukkan satu kresek duku ke dalam tas kain miliknya. Mungkin dia melihat raut muka saya yang mengeras, seperti Gengis Khan yang siap menggempur musuh. Bagus, tak akan ada kemungkinan kulit duku jatuh ke kaki saya.

Sementara itu, si ibu sepuh berhasil mendapatkan duduk setelah diberi tempat oleh seorang perempuan muda yang duduk di samping mas mas geje itu. Namun, saya masih juga berdiri. Pikiran saya pun mengembara. Saya jadi berpikir, apakah ini “teguran” Sang Penguasa Semesta karena saya selalu sok ingin disetarakan dengan laki-laki?

“Kalau mau disejajarkan dengan laki-laki ya jangan berharap mendapatkan keistimewaan tertentu. Jangan berharap dibukakan pintu saat keluar masuk mobil atau mal, jangan berharap diberi tempat duduk di kendaraan umum, jangan berharap tas belanjaan dibawakan orang lain, jangan berharap ada cuti haid, jangan berharap ada slogan Ladies First.”

Saya merutuki diri sendiri. Hati saya mencelos. Saya pernah merasakan kehidupan di tengah belantara bersama sekompi lelaki berambut cepak, yang membuat saya paham betul gimana ‘jadi’ laki-laki. Kali ini saya tak mau diingatkan soal Kesetaraan Gender atau ‘jadi laki’. Di sebuah kereta kelas ekonomi yang penuh penumpang itu, saya, sebagai perempuan, menyatakan masih ingin mendapatkan keistimewaan seperti halnya perempuan lainnya. Gak ada istilah kesetaraan-kesetaraan gender segala, maunya ladies first! Saya ingin diberi tempat duduk oleh laki-laki sehat walafiat yang enak-enak duduk sambil makan duku di depan saya.

Setelah sekian lama, akhirnya saya mendapatkan kursi. Seorang perempuan berkerudung di belakang saya, mencolek dan mempersilakan saya duduk di kursinya. Si mbak berkerudung merah itu akan turun. Memang, di stasiun kelima, biasanya akan terjadi penurunan jumlah penumpang besar-besaran. Pagi itu, hampir sepertiga penumpang di gerbong berwarna oranye ngejreng itu mengakhiri perjalanan, termasuk si mas mas tak tahu diri itu.

Sekilas saya perhatikan dia. Sepertinya ada yang ganjil. Ia memegang alat cukur dan sisir dua ribuan yang baru dibelinya erat-erat di depan dada, seperti anak TK yang memamerkan permen lolipop ke kawannya. Celana yang dipakainya kedodoran dan agak melorot hingga terlihat kancut berwarna merah (FPI mana FPI? Ada yang menunjukkan aurat di tempat umum). Tak cuma itu, di pintu kereta yang sempit itu, tas besar miliknya menyenggol penumpang lain. Isiden ini berujung makian ababil yang juga hendak turun, tapi tak ada ekspresi bersalah dari si penyenggol.

Kereta kembali berjalan. Gerbong kembali lengang. Pengamen kereta mulai beraksi. Kali ini mereka membawakan lagu “Karena Wanita Ingin Dimengerti” punya Ada Band. Well, okay, sebuah kebetulan yang manis. Si mbak yang duduk di sisi kanan kursi yang semula ditempati si mas-mas itu, tersenyum ke arah saya. Memberi simpati. Ia tahu saya sebal sekali dengan orang yang duduk di sebelahnya. Ia menganggukkan kepala dan sekilas menggerakkan jari telunjuk ke arah dahinya. “Maklum mbak, (dia) agak kurang (waras),” saya membaca gerak bibir tanpa gincu itu. Aaaarrrggg!!

(Note: tulisan ini kemudian dimuat di rubrik Gado-Gado, majalah Femina akhir November 2012)

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2012 in Wheels on the Road

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: