RSS

Kuliers yang Menyebalkan

23 May

Baiklah, kita sekarang belajar vocabulary dalam kamus slang Penumpang Setia Kereta Api Indonesia. Roker merupakan singkatan dari rombongan kereta, yang berarti orang-orang yang setiap hari menggunakan jasa transportasi masal tersebut. Kuli adalah kursi lipat. Sedangkan Kulier adalah orang-orang yang duduk di kursi lipat (kuli).

Sebenarnya, tak ada salahnya memiliki kuli. Saya sendiri punya satu kuli berwarna biru. Bagi para roker, ada anekdot memiliki kuli berarti mereka sudah ‘sah’ menjadi komunitas roker. Saya sendiri bingung logikanya bagaimana, tapi mungkin saja memiliki kuli berarti seorang anggota roker bisa tetap duduk meski tak mendapatkan kursi di dalam kereta.

Setidaknya, di pasar tersedia dua jenis kuli, yakni yang berbahan dasar besi dan plastik. Keduanya sama-sama ringan dan mudah dimasukkan ke dalam tas. Untuk kuli dari besi, misalnya, setelah dilipat besarnya tak lebih besar dari majalah Intisari. Soal harga, rata-rata Rp25.000 per buah. Kondisi lebih mahal atau lebih murah barang itu tergantung kemampuan menawar saja.

Sebenarnya, pihak PT KAI Jabodetabek melarang penggunaan kuli. Seperti yang terpampang di poster yang banyak ditempel di dinding gerbong, terutama kereta kelas AC. Penumpang tak boleh duduk di lantai dan di kuli, selain itu ada juga larangan membawa senjata tajam dan senjata api serta bahan yang mudah terbakar (ya iyya lah..), membawa hewan peliharaan, mencorat-coret gerbong, hingga larangan untuk mengamen.

Di kereta Commuter Line, petugasnya saklek. Ini yang membuat pengamen dan pedagang asongan tak berani memasuki kereta AC. Tapi, tingkat kegarangan para petugas berkurang saat menghadapi kuliers. Para petugas mungkin maklum, daripada capek berdiri lebih baik duduk di kursi yang dibawa sendiri dari rumah.

Kulier yang baik adalah mereka yang tahu situasi. Saat kereta mulai penuh, kursi akan dilipat dan disimpan dalam tas. Saya sering bete kalau menemukan kuliers yang tak tahu diri. Sudah tahu kereta penuh tapi mereka tetap saja duduk santai di atas singgasananya. Padahal, space untuk satu kuli bisa cukup untuk dua penumpang berdiri.

Kalau sudah begini, biasanya, solidaritas penumpang yang berdiri di sekitar kuliers akan tumbuh. Tanpa dikomando, mereka akan dengan sengaja mundur hingga menubruk para kuliers yang duduk di belakangnya atau menggerakkan tas ke arah badan (bahkan malah kepala) para kuliers. Buk! Dan, tanpa dikomando pula, para kuliers akan berdiri dan segera melipat kulinya. Time is up. Stand up.

Tapi, memang, ada satu dua kuliers yang nekat. Entah tak punya hati, tak punya otak, atau tak punya malu, mereka tetap duduk santai (saya tak bisa menyebutnya sebagai nyaman) di kulinya, kendati kereta sudah penuh sesak dan mendapatkan ‘kekerasan’ dari sekelilingnya. Bahkan, kadang, para kuliers bandel ini tak peduli peringatan petugas (sayang, petugas tak punya hak untuk menghukum atau mendenda mereka). Wah, ini mah memang benar-benar kuliers yang menyebalkan.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2012 in Wheels on the Road

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: