RSS

Suatu Saat di Kuta, Bali

30 May

Sejak saat itu hatiku tak mampu membayangkan rasa diantara kita. Di pasir putih kau genggam jemari tanganku, menatap mentari yang tenggelam…

Ada perasaan yang bergelora di dalam dada setiap kali saya mendengarkan lagu Kuta, Bali milik Andre Hehanusa. Lirik lagu yang romantis dan denting piano yang bening berhasil membuai emosi. Tanpa ragu, saya pun menjadikan lagu tersebut sebagai salah satu original soundtrack (OST) sepenggal kisah hidup saya.

Fakta bahwa Indonesia memiliki lebih dari 17.500 pulau ternyata tak berpengaruh pada saya. Sepanjang hidup, setidaknya hingga 15 tahun pertama, saya hanya bertahan di satu pulau saja, Jawa. Paling banter ke Madura, pulau tetangga. Itu pun karena saya bisa naik kapal feri Potre Koneng ke Bangkalan, makan soto ayam (tak ada soto Madura di pulau Madura), lalu kembali lagi ke Surabaya. That’s it. Kalau boleh meminjam slogan Keluarga Berencana di era pak Harto, Dua Pulau Cukup.

Hingga kemudian, menjelang kelulusan SMP, saya memiliki kesempatan untuk menjejak pulau ketiga: Bali. Terlahir di negara tropis, yang seringkali menjadi destinasi wisata dunia, ternyata tak berpengaruh pada pengetahuan pariwisata saya. Waktu itu, akses informasi belum sebanyak sekarang. Maka tiga hal teratas di benak saya mengenai Bali hanyalah pantai, matahari terbenam (sunset), dan indah.

Beberapa saat setelah EBTANAS, saya bersama rombongan satu sekolah menuju Pulau Dewata. Waktu itu, kalau tidak salah, sekolah kami menyewa enam bus AC. Perjalanan Surabaya – Bali harus kami tempuh hampir sehari semalam, karena rombongan tertahan di Banyuwangi, menunggu giliran menyeberangi selat Bali.

Sepanjang perjalanan, bus kami memutar lagu-lagu yang tengah nge-hits. Salah satu artis yang sedang naik daun di masa itu adalah Andre Hehanusa. Salah satu kawan yang pandai memainkan gitar tak bosan menirukan aksi nyong Ambon itu, ia terus menyanyikan lagu KKEB, Kuta Bali, atau Bidadari sepanjang perjalanan.

Sambil terkantuk-kantuk, otak saya memproses lagu Kuta, Bali di alam bawah sadar. Ah, ya, Bali is beautiful. Bali is romantic. Bali is good. Dalam imaji saya, rombongan kami akan menghabiskan waktu di Kuta untuk menyaksikan tenggelamnya matahari. Semburat jingga. Debur ombak. Bergandengan tangan. Sayang, waktu itu saya masih polos, sehingga tak ada niatan untuk selingkuh. (Maksudnya?)

Sesuai jadwal, di hari kedua, kami menikmati sunset di pantai Kuta sebelum makan malam di tempat yang telah ditentukan. Dalam perjalanan dari penginapan, saya tersenyum penuh arti. “Pasti nanti kayak di lagunya mas Andre Hehanusa..” begitu pikir saya. Bayangan pantai Kuta yang indah dan romatis menari-nari di benak. Saya bahkan sudah mengincar kawan tetangga kelas yang ganteng untuk berfoto bersama. Sebagai misi memanaskan emosi cowok saya yang terlalu terkontrol itu.

Tapi, begitu kaki menginjak bumi, plasss.. bayangan yang indah itu langsung menguap. Senyuman manis serta merta berubah menjadi senyum kecut. Sepanjang mata memandang, saya hanya bisa melihat bus-bus pariwisata memenuhi pinggir pantai Kuta. Debur ombak telah tertutup derum bus yang berancang-ancang untuk parkir. Pantai berpasir putih telah berubah menjadi lautan manusia. Semburat jingga warna mentari yang akan tenggelam telah menjelma menjadi payung-payung besar bertuliskan Teh Botol Sosro yang juga berwarna jingga. Saya terpedaya Kuta.

…Suatu saat di Kuta Bali

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: