RSS

Bloody Hell dan Asal Muasal Bahasa

06 Jun

Saya selalu penasaran mengenai asal muasal bahasa. Adanya bahasa membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Siapa yang menciptakannya? Mengapa bahasa bisa berbeda antara sekelompok manusia dengan kelompok yang lain? Apakah perbedaan ini demi sebuah kerahasiaan informasi yang dikuasai kelompok bersangkutan?

Asal muasal bahasa yang digunakan manusia adalah topik menarik karena tak ada petunjuk kapan bahasa mulai resmi ditemukan, terlalu banyak hipotesis yang beredar. Pada 1866, Linguistic Society of Paris sempat melarang debat mengenai subjek itu. Sementara Johanna Nichols, ahli bahasa dari University of California, Berkeley memperkirakan bahasa vokal sudah muncul sekitar 100.000 tahun lalu. Penemuan ini secara independen didukung oleh ahli genetika, arkeologi, dan paleontologi bahwa bukti bahasa muncul di suatu tempat di sub-Sahara, Afrika di jaman batu pertengahan, kira-kira sejaman dengan perkembangan spesies Homo Sapiens.

Dulu, saya tak mau ambil jurusan Bahasa di SMA. Ada beberapa alasan, mulai dari kesan anak IPA lebih pintar dari jurusan lain (aha!), tak punya bayangan mengambil jurusan lain karena keluarga besar berlatar belakang eksakta yang kuat (ambil jurusan non eksakta = minoritas), dan memang tak ada jurusan Bahasa di SMA saya (cuma ada enam siswa yang tertarik, tak memenuhi kuota jadi kelas ditiadakan).

Namun, selain mencintai Fisika, hati saya terpaku pada Bahasa, entah itu Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Dan, jadilah saya anak IPA dengan NEM mata pelajaran Bahasa Indonesia tertinggi di sekolah. Bukan sebuah prestasi yang membanggakan. Toh dari lahir jebret orang Indonesia udah bisa Bahasa Indonesia. Ini sesuai dengan teori Noam Chomsky, profesor linguistik dari MIT, yang berpendapat bahwa manusia lahir dengan Tata Bahasa Universal yang terkoneksi ke otak mereka. Ini menjelaskan bagaimana anak-anak mampu mengakuisisi bahasa yang didengarnya di awal periode dengan lebih baik.

Ketika ibu saya sedang mempersiapkan kemampuan bahasa asing, sebagai syarat mendapatkan beasiswa belajar di universitas ‘emaknya Obama’, ayah saya membelikan buku-buku dan sekotak kaset alat bantu belajar Bahasa Inggris. Waktu itu kursus bahasa asing masih terbatas, tak seperti saat ini. Di antara buku-buku itu, ada salah satu buku conversation delapan bahasa utama dunia. Dan, saya yang waktu itu masih umur 7 tahun menjadikannya sebagai bacaan favorit, selain novel Enyd Blyton. Pokoknya baca terus sampe kumel.

Sayangnya, saya tak memperdalam bahasa asing dengan sungguh-sungguh. Saya hanya bisa satu bahasa asing. Salut untuk kawan-kawan yang menguasai banyak bahasa asing. Sempat saya bisa bahasa, baca, dan tulis Korea saat kuliah (demi sang mantan yang wajahnya tak pernah tersentuh pisau bedah), tapi kemudian melupakan kemampuan sebagai bagian dari proses melupakan dirinya.

Sekarang menyesal setengah modar. Kalau saja masih bisa bahasa Korea, saya bisa menambah pundi-pundi kekayaan dengan menjadi penerjemah paruh waktu KDrama. Lagi banyak orderan, cyynn.. Begitu pula dengan bahasa Jerman yang separo-separo. Ah, sepertinya jika urusan pekerjaan “selesai” saya harus menghadiahi diri dengan mengikuti kursus bahasa asing, sampai tamat, nggak pake acara sok melupakan-melupakan segala demi alasan geje. Titik.

Saya sempat minder dengan aksen ‘ngindonesia’ ketika berbicara Bahasa Inggris, bahasa persatuan Bumi. Menurut saya aksen yang ‘benar’ ya seperti yang di film-film Hollywood itu. Tapi, saya selalu suka aksen British. Terdengar seksi. Kadang, kalau sedang sebal, saya suka mengumpat, “Bloody hell!” dengan aksen British totok, seperti yang sering dikatakan Ron Weasly, kawan Harry Potter (ingat, ucapkan Potter dengan penekanan di huruf “P”).

Hingga kemudian saya menyadari bahwa tiada gading yan tak retak. Meski sama-sama bule, kalau bukan warga negara Amerika atau Inggris, aksennya pasti terdengar ‘aneh’ di telinga. Perhatikan saja pasti ada suara sengau-sengau geje ketika bule Perancis ngomong English, bule Italia yang tanpa sadar menambah huruf “e” di tiap kata, atau bule Jerman yang selalu “ber-qolqolah kubro” di beberapa bagian kalimat. Itu masih aksen di seputar bule. Belum lagi ‘keanehan’ aksen bangsa-bangsa Asia atau Afrika, yang membuat saya sering harus berkata “Excuse me” atau “Please say it again” ketika mereka bicara. Well, ini soal kebiasaan mendengarkan aksen saja.

Rasa penasaran mengenai ribuan bahasa di dunia sempat berujung pada sebuah pertanyaan: Bagaimana Tuhan bisa mengetahui isi doa manusia yang menggunakan bahasa berbeda? Saya sendiri lebih suka berdoa dengan menggunakan Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia ketimbang merapalkan doa dengan Bahasa Arab yang saya kurang pahami bahasanya.

Saya sempat mengira Tuhan pasti punya malaikat-malaikat yang khusus bertugas sebagai penerjemah (diterjemahkan ke bahasa apa ya? English or Arabic?). Saya lalu menyadari bahwa DIA adalah pencipta segalanya, termasuk juga soal bahasa. Jadi, bahasa apapun yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan-Nya, tak harus satu bahasa tertentu, pasti akan didengarkan. Jika doa belum dikabulkan, itu bukan soal pilihan bahasa atau kalimat yang digunakan, melainkan karena DIA memiliki rencana lain yang lebih indah untuk kita. Percayalah, He understand our prayer even we can’t find the word to say them.

 
2 Comments

Posted by on June 6, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: , , , ,

2 responses to “Bloody Hell dan Asal Muasal Bahasa

  1. Nini mediera

    August 16, 2013 at 4:22 pm

    Saya lebih suka american english kang.
    Lebih mudah utk dipahami, karena terbiasa nonton pilem holiwut.

     
    • naningisme

      August 17, 2013 at 1:21 pm

      Thanks to pilem-pilem holiwut deh..🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: