RSS

‘Long Nose Become a King’

06 Jun

Saking cintanya terhadap Bahasa Indonesia, di era 1990an, mantan Presiden Soeharto pernah memerintahkan penggunaan padanan Bahasa Indonesia untuk bahasa asing. Jadilah, waktu itu terjadi gerakan peng-indonesia-an berbagai merek dagang, papan reklame, nama toko, nama kawasan, hingga nama gedung di negeri ini. Ada padanan kata yang menarik, tapi ada juga yang terdengar konyol, ngawur, dan dipaksakan.

Jaringan ritel Indomart kemudian mengubah merek menjadi Indomaret, perumahan Green Garden berubah menjadi Taman Gren, Holland Bakery menjadi Holland Bakeri. Terdengar janggal. Kalau ada Indomaret berarti bakal ada Indodesember, kalau mau meng-Indonesia-kan Green Garden seharusnya Taman Hijau bukan Taman Gren (Gren = Hijau?), dan oh no, ini menakutkan sekali bakeri menggantikan bakery, seperti halnya laundri dan mal untuk menggantikan laundry dan mall.

Namun, saya senang menerjemahkan secara bebas sebuah bahasa, bahkan saking bebasnya hingga mencapai limit ngawur. Untuk urusan joke, tentu saja. Karena saya sengaja tak tak memperhatikan keabsahan grammar, terjemahkan saja kata per kata. Untuk lagu Adele yang berjudul “Set Fire to the Rain” saya pernah menerjemahkan menjadi “Buatlah Api Unggun di Saat Hujan”. Konyolnya banyak yang percaya terjemahan ini. Padahal arti sesungguhnya adalah burning the pain and getting rid of it.

Begitu pula ketika saya melihat ketidakbecusan seorang pemimpin, saya segera menciptakan idiom “Long nose become a King” yang berasal dari kalimat “Petruk dadi ratu”. Lakon carangan episode Mahabarata yang memperlihatkan seseorang yang tidak layak menjadi pemimpin mendadak mendapatkan tongkat komando.

Lalu ketika saya enek melihat kelakuan OKB, saya segera menerbitkan idiom “Poor man climbing wooden springbed” terjemahan super ngawur dari kalimat “kere munggah bale.” Tak usah repot-repot mencari artinya di kamus atau menerjemahkan via Google Translate, karena kedua kalimat itu memang hasil ilmu ngawurologi.

Dan ketika saya menyadari tengah mengetik blog ini di gadget bermerek BlackBerry, saya langsung tersenyum jahil. Baiklah saya mengetik di piranti Beri Hitam. Untung BlackBerry belum tenar di era pak Harto. Bila BlackBerry sering disingkat menjadi BB, maka setelah di-Indonesia-kan Beri Hitam akan disingkat menjadi.. BH! Bayangkan saja jika kita berada di sentra penjualan ponsel lalu menanyakan harga BH keluaran terbaru atau para perempuan bakal tersipu malu saat mengatakan “Wah, saya nggak pakai BH.”

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: