RSS

Label di Jidat

05 Jul

Beberapa hari ini warung tegal (warteg) depan kantor tutup. Seorang pekerja warteg tengah mengalami kedukaan. Walhasil, saat jeda makan siang tiba, jadilah kami seperti semut kebingungan yang keluar dari sarang. Semburat. Ada yang menuju warung sunda, warung padang, atau warung soto betawi.

Saya cermati, setiap kali warteg depan kantor tutup, selalu ada kisah-kisah menarik di balik perjuangan mencari makan siang. Seperti yang terjadi kemarin siang. Salah satu anak saya bercerita bahwa ada kawan dari lantai lain yang enggan mencari makan bersamanya. Dengan bangga, si mbak ini berkata setiap hari dia memilih makan di pusat perbelanjaan terdekat atau rumah makan di depan gang, yang mayoritas pengunjungnya bermobil. Jadi, mau warteg depan kantor tutup atau tidak, dia tidak ada masalah.

Meski gaya berceritanya datar dan polos, saya bisa menangkap ada sebersit rasa dongkol di dada kawan saya ini. Sebenarnya, bisa saja si mbak itu bercerita tanpa bermaksud pamer. Tapi, si mbak sepertinya lupa bahwa tak semua orang seberuntung dia. Secara tidak sadar, ia telah memposisikan lawan bicaranya inferior. Saya manggut-manggut saja, sepertinya saya tahu apa dan siapa biang kerok yang membuat si mbak dari lantai lain ini – entah sadar atau tidak sadar – melabeli jidatnya dengan tulisan “Awas kasta tinggi” (untung bukan “Awas anjing galak” hehehehe..)

Kasta adalah pelabelan belaka. Tanpa bermaksud menyinggung salah satu kepercayaan yang memegang konsep kasta, saya tak habis pikir ada orang-orang (yang bukan penganut kepercayaan tersebut) justru getol menciptakan kasta dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, kasta baru yang tercipta ini hanya bermuara pada superioritas-inferioritas dalam hubungan pekerjaan dan perkawanan. Ah!

Saya bukan siapa-siapa. Anda juga bukan siapa-siapa. Tak perlulah kita selalu mengangkat dagu dan mengatakan kita yang paling hebat. Superior. Uber alles. Karena di mataNya kita semua ini sama. Hanya sebutir debu di gempita semesta. Nil. Zip.

Kalaupun kita sekarang beruntung berada di posisi superior, tak selayaknya kita memandang sebelah mata pada mereka yang tak berada di posisi sama. Semua ini titipan. Kita memilikinya cuma sementara. Dan kita cuma hidup sementara di kehidupan ini. Sekali label “Awas Kasta Tinggi” di jidat diambil si Empunya Hidup, kita bisa apa? Berharap ada yang mengukir label itu di batu nisan kita?

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2012 in Random Thought

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: