RSS

Solusi Keledai untuk Urusan Kedelai

30 Jul

Akhirnya bisa makan tempe lagi. Akhir pekan lalu, di negeri yang sering menyebut diri sebagai “Bangsa Tempe” ini, tahu dan tempe menjadi barang langka. Kalau pun ada, harganya melambung. Ini gara-gara harga kedelai melonjak tajam, akibat kekeringan yang melanda benua Amerika – sebagai eksportir terbesar kedelai di Indonesia.

Aneh bin ajaib. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini ternyata kedelainya masih diimpor dari luar negeri. Dari Amerika Serikat pula. Makan tempe mendoan berasa makan steak sirloin kualitet premium, bahan bakunya sama-sama dikapalkan langsung dari luar negeri.

Seperti dilansir Reuters, harga kedelai di bursa berjangka Chicago Board of Trade (CBOT) diperdagangkan US$16,66 per busher, turun 6% dari rekor tertinggi US$17,77 yang terjadi Jumat (20/7) lalu. Sedangkan komoditas jagung, yang juga digunakan sebagai bahan baku tambahan untuk tempe, diperdagangkan US$8 per busher, turun lebih dari 3% dari catatan rekor US$8,28.

Kekeringan paling parah selama setengah abad terakhir di AS ini telah menyebabkan kemerosotan produksi kedelai dan jagung. Pemerintah AS – yang merupakan pengekspor bahan pangan terbesar di dunia ini, mengkhawatirkan tak bisa memenuhi kebutuhan dunia. Khususnya untuk perusahaan pengolahan makanan, pengolahan pakan ternak, dan perusahaan pembuat bioetanol. Imbasnya, tentu saja merembet ke negara-negara pengimpor bahan pangan, seperti Indonesia.

Menurut kang Asep Nurdin, Ketua I Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di pasaran mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya paling mahal hanya Rp5.500.

Walhasil, biaya produksi yang tadinya hanya berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000, akhir pekan lalu melonjak menjadi Rp48.000. Dan, tahu tempe pun menghilang… Sebab, para perajin tahu dan tempe di sejumlah daerah sepakat mogok masal sejak Rabu hingga Jumat, 25-27 Juli 2012.

Tetiba saya ingat ketika masih di Jerman. Untuk mendapatkan tahu dan tempe, saya harus blusukan ke toko-toko Asia. Baru di minggu ketiga, saya berhasil menemukan toko yang menjual tahu dengan harga termurah. Untuk tahu berukuran 15 x 15 cm kalau dikurs ke rupiah harganya Rp24.000. Lebih dahsyat lagi, untuk mendapatkan tempe, saya harus naik kereta ke Belanda.

Indonesia adalah negeri ironi. Ketika masyarakatnya memilih untuk makan tahu dan tempe, tapi bahan baku utamanya justru diimpor dari luar negeri. Negeri yang mengaku negara agraris ini justru memiliki ketergantungan besar terhadap impor bahan pangan. Adanya ketergantungan kedelai dari luar negeri ini merupakan indikasi Indonesia tengah dilanda krisis pangan, meski pemerintah enggan mengakuinya.

Saat ini, kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2,2 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri baru bisa menyediakan sepertiganya saja, alias hanya 700.000 ton. Sisanya impor. Krisis kedelai berakhir ketika pemerintah akhirnya menyiapkan langkah taktis mengatasi permasalahan kelangkaan dan melambungnya harga kedelai saat ini. Salah satunya, dengan membebaskan tarif bea masuk untuk impor kedelai hingga akhir tahun. Tepok jidat!

 

“The ultimate goal of farming is not the growing of crops, but the cultivation and perfection of human beings.” (Masanobu Fukuoka, The One-Straw Revolution)

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2012 in Random Thought

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: