RSS

DeKlappie: Klappertaart Halal von Meruya

01 Aug

Berawal dari mixer yang rusak, Dian akhirnya memasak klapertaart untuk sajian untuk tamu. Ia pun tak menambahkan putih telur dan rum ke dalam adonan. Tak disangka, resep itu kemudian jadi awal bisnisnya. Kini, bisnis De Klappie mampu menghasilkan omzet Rp9 juta per bulan.

Klapertaart merupakan kue khas Manado yang berbahan dasar kelapa, tepung terigu, susu, mentega, telur, dan sedikit rum. Resep adonan tersebutmerupakan pengaruh saat zaman pendudukan Belanda di Manado. Di Indonesia, sudah banyak pemain di bisnis kuliner yang menyajikan menu klapertaart. Pemainnya tak melulu orang Manado. Salah satunya, ada Dian Kusumaning Tyas, perempuan kelahiran Denpasar yang besar di Surabaya.

Ide mendirikan bisnis klapertaart ala Dian boleh dibilang tidak direncakan. Awalnya, pada 2008, ia membuat Klappertaart untuk kawan-kawannya dari Surabaya yang hendak berkunjung ke rumahnya. “Saya bingung hendak menyajikan apa. Di rumah, mixer sedang rusak. Akhirnya, saya bikin Klapertaart karena tak perlu menggunakan mixer,” jelasnya. Ia juga tak menambahkan putih telur dan rum ke dalam adonan.

Tidak disangka respon dari teman-temannya cukup bagus, bahkan sebagian dari mereka menyarankan Dian untuk dijual. “Waktu itu, saya belum percaya diri untuk membisniskan klapertaart tanpa putih telur dan rum ala saya,” kenang Sarjana Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini. Menurutnya, masih banyak yang harus dipelajari untuk mendapatkan resep dan teknik terbaik dalam pembuatan klapertaart. Belum lagi, Dian sendiri tak begitu suka dengan klapertaart yang selama ini banyak beredar di pasar.

Ternyata, kendati Dian masih enggan membisniskan klapertaart tanpa putih telur dan rum itu, kawan-kawannya justru berinisiatif memasarkan kue buatan Dian. Mereka mulai menceritakan kedahsyatan klapertaart buatan Dian di berbagai forum dan akun jejaring sosial. “Bahkan, mereka melengkapinya dengan foto. Katanya, ‘no pic = hoax’,” kata Dian, terbahak. Tak cuma itu, kawan-kawan Dian ada yang memasarkan bisnis klapertaart di sebuah BlackBerry Group (BBG) dan Broadcast Message (BM), tanpa sepengetahuannya. “Pagi itu banyak yang meng-invite PIN BB saya. Di tengah keheranan menerima invitasi mereka, semua orang yang meminta berteman itu ingin memesan klapertaart. Makin heran lah saya,” kenang dia. Usut punya usut, Dian pun akhirnya mengetahui bahwa Ali Akbar, pemilik Bisma Center sekaligus salah satu kawan Dian, yang mem-BM bisnisnya.

Singkat cerita, bisnis klapertaart Dian pun makin sering mendapatkan pesanan. Namun, ia pernah mendapatkan protes karena klapertaart buatan Dian tidak seperti klapertaart Manado yang memakai putih telur dan rum. Beberapa pihak memintanya untuk tidak menggunakan nama klapertaart karena dianggap tak memenuhi resep klapertaart. Tak patah akal, Dian pun mengubah tagline De’Klappie, dari sebelumnya “Halal, Tasty, and D’licious” menjadi “Bukan Klapertaart”.

Adanya kritikan tersebut tidak meredupkan bisnis Dian. Justru hal ini membuat perempuan berkerudung ini makin kreatif dalam urusan pemasaran produk. Embel-embel “Bukan Klapertaart” ini yang membuat diferensiasi produk Dian di antara produk lain.

Besar Karena Teman dan Komunitas

Pada sekitar 2010, Dian pun memutuskan bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA). Ia merasa harus bergabung dengan komunitas bisnis agar pengetahuan dan kemampuan bisnisnya makin baik. Maklum, sebelumnya tak pernah ada niatan untuk membisniskan hobi memasaknya. Baru setahun kemudian, Dian makin serius dalam menjalankan bisnis. “Saya mulai memikirkan untuk membuat logo, boks, mempekerjakan karyawan, dan menerima pesan antar,” kata istri Beni Agus Permana ini.

Dian mengaku mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-teman saat mewujudkan ide bisnis ini. Kurang dari satu tahun dari sekadar ide bisnis menjadi sebuah bisnis, menurut Dian, merupakan waktu yang singkat. Ketika mengawali bisnis, ia mengaku mengeluarkan modal Rp2,2 juta untuk membeli oven dan bahan baku, seperti kelapa, tepung terigu, tepung tapioka, telur, dan sebagainya. “Modal itu saya dapat dari suami. Istilahnya, utang sama suami,” aku dia, tertawa.

Untuk pemasaran, Dian sangat memaksimalkan gadget BlackBerry. Melalui BBG dan BM, Dian banyak menerima pesanan untuk De’Klappie. “Sebenarnya saya hanya melanjutkan apa yg dilakukan teman-teman saya di awalnya,” jelas perempuan yang pernah bekerja di PT Surveyor Indonesia sebelum memutuskan resign untuk mengelola bisnis keluarga. Saat ini, Dian tengah fokus menggarap pemasaran De’Klappie melalui Twitter.

Sejauh ini, Dian mengaku ada beberapa tantangan yang ia hadapi dalan menjalaninya bisnisnya itu. Tantangan pertama adalah faktor harga. “Masih banyak yang menganggap produk De’Klappie itu mahal,” kata Dian. Menurutnya, harga yang tinggi itu karena ia hanya menggunakan bahan baku terbaik. Oleh karena ‘keluhan’ mahal dari sebagian pihak, Dian pun akhirnya fokus melayani segmen menengah atas yang tidak sensitif harga namun mementingkan kualitas dan pelayanan terbaik.

Dian mematok produknya dari kisaran Rp5.000 hingga Rp105.000. Tentu saja, harga termurah untuk produk dengan ukuran paling mini. Selain rasa original, klapertaart ala De’Klappie juga tersedia dalam berbagai varian rasa, seperti cokelat, keju, dan durian. “Favorit konsumen adalah rasa keju dan durian,” jelas Dian, yang mengaku produknya merupakan makanan sehat karena menggunakan bahan baku tepung tapioka.

Tantangan kedua, faktor SDM. Ia pernah direpotkan dengan pesanan yang membeludak namun kurang orang untuk mengantarkan pesanan. “Ramadan 2010, saya mendapatkan order cukup banyak. Tapi, akhirnya tidak bisa maksimal karena tak punya kurir yang mengantarkan pesanan,” aku ibu empat anak ini. Kadang, Dian harus mengantarkan sendiri pesanan ke rumah pelanggan. “Kalau harus mengantarkan sendiri ke wilayah yang belum pernah saya kenal, saya suka keder,” kata Dian. Dari tantangan ini, Dian mendapatkan pembelajaran mengenai manajemen waktu dan SDM.

Tantangan ketiga, penjiplakan. Di awal pendirian bisnis, Dan mengaku bisnisnya pernah dijiplak oleh temannya sendiri. Komposisi bahan, brand, dan logo dijiplak habis-habisan. “Saya merasa cukup terpukul dengan kejadian itu, tapi saya ambil hikmah positifnya saja,” katanya, tegar. Kasus penjiplakan itu kemudian membuat Dian lebih hati-hati dalam membagi resep rahasia, meski kepada kawan terdekat. Juga membuatnya lebih kreatif dan inovatif dalam berbisnis. “Mungkin, kalau produk saya tak dijiplak, takkan ada De’Klappie seperti saat ini,” imbuh dia. Saat ini, Dian tengah dalam proses pendaftaran bisnis di Ditjen HAKI. Selain itu, ia ingin memakai batok kelapa sebagai kemasan produk agar lebih ramah lingkungan.

Bisnis yang dikerjakan di dapur rumah Dian mampu memberikan penghasilan tambahan Rp9 juta per bulan.Ia menargetkan omzet akan terus berkembang di kemudian hari. Ke depan, ia ingin mendirikan gerai di bandara Soekarno Hatta. Sebab, menurutnya De’Klappie berpotensi untuk dijadikan oleh-oleh khas Jakarta. “Gerai di bandara akan memudahkan saya untuk mendistribusikan produk. Selama ini, saya sering ke bandara untuk mengantarkan pesanan konsumen yang akan pergi ke luar kota atau luar negeri sesaat sebelum mereka take off,” jelasnya, menutup pembicaraan. $$$ EKO SATRIO WIBOWO DAN ARI WINDYANINGRUM

De’Klappie
Komplek Walikota Blok E6 No. 1
Meruya – Kembangan
Jakarta
Telp : 087886761010, 081311572055
e-mail : dktyas@ymail.com , dktyas@gmail.comTwitter : @DianDeKlappie
http://www.de-klappie.com

(As published on Majalah DUIT! ed 7/Juli 2012)

 
2 Comments

Posted by on August 1, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

2 responses to “DeKlappie: Klappertaart Halal von Meruya

  1. dianDeKlappie

    December 9, 2012 at 4:15 pm

    tengkiyuuuu mb naniiiing… baru baca niii

     
    • naningisme

      December 12, 2012 at 6:45 pm

      Sama-sama mbak Dian. Sukses terus bisnisnya yaaaa.. *peluk*

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: