RSS

2 Jam untuk 5 Menit

25 Aug

Menyandang predikat sebagai old city, bila dilihat dari sejarah pendiriannya, Ngayogyakarta Hadiningrat selalu memberi pelajaran baru bagi siapa saja yang singgah. Seperti lebaran kali ini, saya dan keluarga mudik ke Jogja. Lahir di Surabaya lalu berkarir di Jakarta, membuat “darah” Jogja saya sedikit “luntur” (Baca: tipikal Putri Keraton yang sabar telah musnah, dan berganti menjadi tipikal Premanwati yang gabrukan hehehehe..).

Sepertinya, keluarga besar tahu strategi untuk “mengembalikan” saya ke jalan yang benar adalah dengan Diplomasi Sepiring Nasi.  Malam itu, kami berencana makan bakmi Jowo. Tante sudah melakukan reservasi sejak pukul 18.00. Batin saya, ini restoran semegah apa sih, mau makan aja wajib reservasi.

Hanya butuh sepuluh  menit untuk mencapai Bakmi Jowo Pak Furqoni yang terletak di kawasan Jogokaryan. Tak ada yang istimewa. Hanya warung kecil dengan empat meja yang berada di teras sebuah rumah. Di gerobak nasgor, tergantung tiga ekor ayam bugil yang sudah dinyatakan tewas. Ini sih gak ada bedanya dengan warung nasgor yang ada di Jakarta.

Namun kemudian saya melihat dua anglo dengan dua wajan kecil yang nangkring di atasnya. Perasaan saya langsung nggak enak. Begitu tante saya muncul, si ibu penjual langsung menyapa ramah. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini:

“Jeng-jeng, kapan makanan kami siap?” tanya tante.

“Sebentar ya jeng (langsung liat buku catatan). Sekitar jam tujuh seprapat ya jeng..” jawab si ibu.

Saya langsung melihat jam dinding yang dipasang tepat di dekat pintu masuk. Set dah, sejam lagi? Perut sudah mulai kukuruyuk.  Seporsi demi seporsi makanan dimasak. Ternyata, di warung Bakmi Jowo Pak Furqoni ini memang memakai sistem reservasi. Meski yang beli belum datang, makanan sudah dimasak terlebih dahulu. Si ibu penjual, yang merangkap sebagai kasir dan manager on duty, selalu memberikan ancar-ancar waktu kapan makanan siap.

Semenit, dua menit, sepuluh menit berlalu. Teh manis hangat yang berada di depan saya perlahan menyusut. Isinya berpindah ke dalam tubuh. Sabar.. sabar.. ini namanya ujian kesabaran ya nduk. Satu jam berlalu, saya mulai harap-harap cemas. Mudah-mudahan prediksi ibu penjual pas. Abis ini makanan kami siap.

Ternyata oh ternyata, sebelum kami reservasi ada satu keluarga yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu, datang tak lama setelah kami duduk. Serombongan 10 orang! Dan, ini parahnya, tiap-tiap orang punya special request. Ada yang pesen bihun rebus gak pake vetsin (ini mah biasa), ada yang pesen mi goreng tapi sayurannya dimasukin terakhir biar masih kriuk-kriuk, ada yang pesen magelangan tapi mi-nya campur antara mi kuning dan bihun, ada yang  mau mi rebus dengan telur bebek ceploknya ¾ matang, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Sebenarnya mau ada special request atau tidak, sama saja. Karena si bapak koki memasak seporsi demi seporsi. Jika satu porsi lama pembuatannya sekitar 5 menit, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 10 porsi? Silakan hitung sendiri. Tapi, ini untungnya, ada dua anglo yang tersedia.

Makin malam, makin banyak pengunjung yang hadir, selain telepon masuk untuk reservasi . Si ibu penjual selalu sigap membaca buku catatan sebelum menjawab, “Nanti makanan baru bisa dimasak pukul 21.30 yaaa..” Padahal waktu si pengunjung datang, jarum jam belum genap menunjukkan pukul 20.00. Walah! Ini sih bener-bener ujian kesabaran. Tak terhitung lagi calon konsumen yang memilih balik kanan ketimbang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan pesanannya. Tampaknya, si bapak penjual tak masalah ketika menghadapi banyak pengunjung yang batal pesan.

Tepat pukul 20.10, sepiring cabe rawit terhidang. Makanan pembuka? Bukaann.. ini adalah pertanda makanan kami tengah disiapkan. Lima menit kemudian, dua porsi nasi goreng terhidang. Alhamdulillah, setelah menunggu dua jam… Penantian yang sepadan. Rasanya memang enak.

Kisah selesai? Belum. Ternyata, saya hanya butuh lima menit untuk menghabiskan sepiring nasi goreng Jawa — yang saya nantikan selama dua jam! “Ini masih mending, sekarang ada dua anglo. Beberapa bulan lalu, masih satu anglo,” kata om saya, sembari menikmati Bakmi Jowo rebus yang fenomenal itu. Sabar.. sabar.. sabar…

“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese proverbs)

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2012 in Smartpreneur

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: