RSS

Merinding Indonesia Raya

03 Sep

Entah mengapa, saya selalu merinding tiap kali mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Apalagi jika dibawakan dengan instrumen pengiring lengkap (genderangnya jangan lupa) atau dinyanyikan ketika kita jauh dari Indonesia. Rasanya tiada yang lebih agung daripada lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman itu.

Seperti Minggu (2/9) malam tadi di Konser Kemerdekaan 2012 yang dihelat di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, intro lagu Indonesia Raya dibuka dengan petikan sasando Djitron Pah. Sayang, lengkingan mike yang beradu dengan sound system sedikit mengganggu awal yang syahdu. Tapi, tak apalah. Toh, di keadaan sesungguhnya, kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia juga masih kerap mendapatkan gangguan. Sampai kini, malah.

Dan, *drum roll, please* sambung menyambung vokal indah Vina Panduwinata, Sara Djojohadikusumo, Kikan Namara, INDivo, dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) & Alumni ITB membentuk satu lagu Indonesia Raya yang megah lagi indah.

Saya langsung teringat perkataan saya kepada seorang sahabat, beberapa minggu sebelumnya, “Aku jarang banget denger lagu Indonesia Raya, nih.” Secara refleks sahabat saya balik bertanya, “Masa sih? Segitunya..” Dia mengaku sering mendengar alunan lagu kebangsaan, terutama saat menjelang ‘rapat penting’ dengan pejabat negara. Maklum, ia pegawai BUMN. Beda dengan saya yang punya bos (keturunan) bule.. #eh.

Selama beberapa detik, pikiran saya mengembara ke masa lalu. Di jaman sekolah, saya adalah dirigent abadi (baca: dari SD sampai SMA gak pernah lepas dari tugas memimpin paduan suara). Menyanyikan atau mendengarkan lagu Indonesia Raya adalah kegiatan rutin tiap minggu. Ketika tugas belajar di luar negeri, mendengarkan lagu Indonesia Raya di KBRI itu sesuatu banget. Paling tidak, dada sesak menahan haru, tangis, dan ingin pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Kembali ke konser malam itu, hampir genap 10 menit seluruh penonton berdiri ketika lagu Indonesia Raya berkumandang – dengan intro dan prelude yang panjang. Semua melakukannya dengan ikhlas. Tak ada yang protes. Di tengah kegelapan, mata saya masih mampu menangkap beberapa penonton yang bahunya naik turun – sebagai pertanda ia tengah menahan haru atau ikut menyanyi tanpa bersuara (mungkin malu kalau terlihat ingin menandingi suara tante Vina).

“Kini kita tidak lagi berperang melawan penjajah seperti yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita sampai titik darah penghabisan. Penjajah Indonesia yang harus kita lawan saat ini adalah budaya luar yang mulai menggerogoti nilai-nilai luhur Pancasila.” (Dedi Panigoro, pendiri Yayasan Musik Sastra Indonesia)

 
Leave a comment

Posted by on September 3, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: