RSS

Monthly Archives: October 2012

Are We Ready For the End of the Newspaper?

Think back 10, 15 years. How did you get your news? Chances are you got it by either newspaper or magazine. The channels for obtaining information were relatively few, the Internet still in its infancy. Fast-forward to the present and the entire news landscape is different. Services like Facebook and Twitter dominate our lives — kids and adults alike use both services to get information about their favorite bands, celebrities, brands and even politicians.

New technologies make it easier than ever for anyone to make a website and start writing about whatever they want, when they want and how they want. Now to most that seems great, but what about getting the hard, cold facts? What if you want the reassurance that what you’re being told is accurate and isn’t the fabrication of a 13-year-old playing around on his laptop? Your local newspaper is your answer. Staffed by editors, reporters, printing personnel and advertising reps, these people make up the trusted institutions that have delivered the news to us for more than a century. Their livelihood is reporting and producing the news and they hold themselves accountable for the news they produce. However, a tremor has hit our society, threatening to throw off the balance in the type of news we receive and how we get it.

Traditionally, newspapers such as the New York Times and the Wall Street Journal have been the gatekeepers of information — the people who decided the issues that are most critical to the public and require their attention. That no longer holds true. In today’s day and age, all that is required is a Twitter hashtag to get thousands of people to stand together against corruption and greed. There are now websites that cater to all kinds of denominations — conservatives, liberals, independents, feminists, libertarians, anarchists, environmentalists, sports fans and the list goes on. People now have access to more specialized news sources, thus enabling them to bypass the big news outlets. This hasn’t gone unnoticed.

According to a 2011 Pew Research Center Project for Excellence in Journalism report, estimates suggest that “weekday circulation fell about four percent and Sundays fell one percent for the six-month period ending September 30.” The report did go on to note: “Newspaper websites are popular and total audience reach is staying steady.” However, the current model is unsustainable for these newspapers. Newspapers are cutting back more than ever, whether it be by cutting the Sunday issue or reducing staff. Many are shifting their focus to the Web and forcing their reporters and staff into the 24-hour news cycle. This is something usually reserved for cable news networks. However, making a steady profit off the Web has become increasingly hard.

While online advertising helps to support these media organizations, many have resorted to creating pay walls which prevent you from viewing articles unless you’re a paying subscriber. The results are mixed at best. New York newspaper Newsday reported in 2010 that they only had 35 subscribers to their website. Some household names like the New York Times have had success but most medium and small-sized newspapers are still experiencing issues. When thousands of websites offer you news for free, it’ll be very hard justifying the extra expense to a public already reeling in the face of economic distress.

Whether people realize it or not, we need newspapers. They keep us informed and they keep up us honest. They’ve uncovered corruption, showed us miracles, helped bring about change and helped protect those who have lacked the means to protect themselves.

The pen is truly mightier than the sword. We can’t let it run out of ink.

 (as published on huffingtonpost, Aug 28, 2012. Matthew Maron)

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

Dan Newsweek pun Mengakhiri Era Media Cetak

Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya begitu terpukau pada komik Pak Janggut yang menjadi sisipan majalah Bobo. Di komik itu, pak Janggut memiliki cermin yang bisa melihat masa depan. Ada lukisan yang gambarnya bisa bergerak – yang 25 tahun kemudian “lukisan” itu baru saya sadari sebagai televisi layar plasma yang bisa digantung dengan anggun di dinding ruangan. Ada pula gambar orang yang membaca majalah dari sebuah papan, yang kini saya sadari ia tengah membaca digital magazine. Pak Janggut mengatakan majalah dan koran yang berbasis kertas sudah lama punah.

Rasanya, tak perlu menunggu sampai satu abad untuk membuktikan kata-kata tokoh kartun itu. Bisnis media cetak berbasis kertas lambat laun mulai punah. Dan, sebagai penanda adalah ketika majalah terkemuka di Amerika Serikat, Newsweek memutuskan menghentikan edisi cetaknya, akhir tahun ini. Dan, kata-kata Tina Brown, editor Newsweek makin mengukuhkan “kebenaran” cerita Pak Janggut itu. “Era cetak majalah dengan tinta akan berakhir di Newsweek pada 31 Desember 2012,” kata Tina, seperti dikutip Huffington Post, Kamis (18/10).

Newsweek bukan majalah kemarin sore. Mereka telah menemani pembaca selama 80 tahun. Newsweek juga bukan majalah sembarangan. Mereka memiliki empat edisi Bahasa Inggris dan 12 edisi global dengan bahasa yang disesuaikan dengan area sirkulasi, seperti Bahasa Jepang, Korea, Polandia, Rusia Spanyol, Arab, dan Turki.

Masih menurut mbak Tina, pembaca setia Newsweek masih tetap membaca dan berlangganan majalah tersebut. Namun, pembaca tak bisa lagi merasakan sensasi wangi kertas atau melipat halaman untuk menandai hal penting. Sebab, majalah akan berformat digital dan hanya bisa diakses melalui smartphone, tablet, laptop, maupun PC. Newsweek pun akan berubah nama menjadi Newsweek Global, karena bisa diakses secara global melalui jaringan internet.

Dalam catatan resminya, Tina menyatakan dengan format digital, Newsweek akan dapat merengkuh lebih banyak pembaca dari seluruh dunia. Apalagi sudah banyak yang melek teknologi dan menggunakan gadget teknologi. Tapi, tentu saja, penghentian edisi cetak akan mau tak mau akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan. Paling mudah saja, publisher tak lagi butuh orang-orang yang bekerja di percetakan – yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, bila mereka melayani cetak majalah dalam jumlah besar. Ingat, dalam hal ini oplah Newsweek sempat menyentuh 4 juta eksemplar sekali terbit.

Mengapa Newsweek berhenti mencetak? Alasannya, kemerosotan oplah. Berdasarkan perhitungan Biro Audit Sirkulasi, media bermarkas di New York ini terus merugi. Menurut catatan Biro Audit Sirkulasi seperti yang dikutip ABC News, pada tahun 2000, oplah Newsweek mencapai 3.134.046 eksemplar. Tujuh tahun kemudian, oplahnya masih stabil di angka 3.128.391 eksemplar. Dan, pada semester I/2012, oplah merosot hingga separuhnya, hanya 1.527.157 eksemplar!

Prestasi pada semester I/2012 benar-benar memukul Newsweek. Sebab, sebagai posisi runner up majalah dengan sirkulasi terbesar di AS, capaian Newsweek hanya separo oplah Time, sang jawara, yang oplahnya masih mencapai 3.276.822 eksemplar. Padahal, tim redaksi sudah melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan kapal, mulai dari melakukan redesain tampilan dan konten. Sebagai pemimpin redaksi, Tina sudah menegaskan bahwa majalahnya akan melakukan reportase in-depth dan analisa, tak hanya sebatas pada rubrik politik dan hubungan internasional, tapi juga untuk pop culture dan fashion. Ternyata, itu tak banyak menyelamatkan penjualan.

Kerugian yang diderita tiap edisi Newsweek terus meningkat. Bahkan, setelah majalah diambil alih oleh Sidney Harman, seorang tokoh audio berusia 92 tahun, pada 2010 tak terlihat perubahan berarti. Harman akhirnya ikut bergabung dengan Tina Brown dan mendirikan The Daily Beast, sebuah situs Web yang dimiliki oleh IAC/Inter ActiveCorp.

Masa suram Newsweek makin terlihat ketika Harman meninggal pada musim semi 2011. Saat itu, ahli warisnya mengatakan akan terus mendukung Newsweek meski terseok-seok. Tapi, pada musim panas lalu, keluarga mengumumkan tidak akan berinvestasi lagi pada Newsweek. Kabarnya, Newsweek memiliki kerugian hingga US$40 juta per tahun. Sialnya, Barry Diller, pemimpin IAC serta pemilik The Daily Beast dan Newsweek, mengatakan, tidak akan menanggung terus kerugian tersebut.

Tina dengan pengalaman yang seabrek, ia pernah menjadi editor di majalah Vanity Fair, The New Yorker, dan Talk, ternyata harus angkat tangan. Ia mengatakan bahwa dia tak memiliki kontrol atas apa yang terjadi pada industri majalah yang lebih luas. “Anda tidak bisa langsung mengubah era informasi yang begitu cepat. Tidak ada satu pun orang yang mampu menyanggah dengan tren digital,” katanya.

Menurut Richard Stengel, managing editor Time, majalah cetak merupakan benda yang sangat mahal. Untuk membuat satu majalah diperlukan proses pembabatan pohon, penuangan tinta di atas kertas, penyusunan dalam kontainer, dan barulah sampai ke tangan pembaca. Ya, saya setuju dengan pendapat Richard. Ongkos cetak yang makin melambung membuat tiap bulan saya harus sakit perut melihat tagihan dari percetakan. Kini, pilihannya hanya ada dua: berubah atau mati. Itu saja.

“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.”
(Albert Einstein)

Baca juga:  Digital Magazine: Riding the Wave!

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , , , ,

5 Media Cetak yang Runtuh Diterjang Internet

Kemudahan yang ditawarkan internet dinilai mengancam media cetak. Bagaimana tidak? Akses berita via internet bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, dengan berbagai gadget yang mendukung koneksi internet. Bahkan, peralihan ke jagat online ini bikin kelabakan media cetak besar. Terbukti majalah berita mingguan terkenal Newsweek, memutuskan sepenuhnya akan meninggalkan edisi cetak pada akhir 2012 dan beralih menerbitkan edisi online pada awal 2013.

Sebelumnya, sudah ada beberapa media yang beralih ke dunia online dan berpaling dari edisi cetak. Berikut beberapa di antaranya:

1. Seattle Post-Intelligencer

Seattle Post-Intelligencer adalah media besar yang beroperasi di kota Seattle, Amerika Serikat. Media ini juga sudah berumur tua, didirikan pada tahun 1863. Awalnya media ini punya oplah cukup bagus. Namun pada Januari 2009, Hearst Corporation yang membawahinya menyatakan Seattle PI merugi tiap tahun sejak tahun 2000. Hearst pun ingin menjualnya, namun tidak menemukan pembeli serius. Akhirnya Hearst memutuskan bahwa Seattle PI hanya akan terbit dalam edisi online saja.

Maret 2009, edisi cetak terakhir Seattle PI diterbitkan yang juga mengumumkan mereka hanya akan beroperasi secara online. Sampai kini, Seattle PI tetap eksis sebagai media online. Pada September 2010, mereka punya 2,8 juta unique visitor dan 208 ribu pengunjung setiap hari.

2. Christian Science Monitor

The Christian Science Monitor (CSM) adalah media yang meliput berita internasional. Media yang berbasis di Boston ini didirikan pada tahun 1908. Awalnya, CSM terbit dalam edisi cetak setiap hari. Namun akhirnya kesulitan meraih pembaca dan malah membukukan rugi yang cukup besar. Bulan Oktober 2008, CSM mengumumkan kerugian USD 18,9 juta. Pengelola CSM pun mengumumkan tidak lagi menerbitkan media cetak harian dan hanya akan terbit mingguan.

Edisi media cetak harian diterbitkan terakhir kalinya pada bulan Maret 2009. CSM tetap menawarkan berita setiap hari, namun melalui media online. Meski memang tidak sepenuhnya meninggalkan media cetak, boleh dibilang CSM sekarang lebih mengutamakan media online untuk menjangkau lebih banyak pembaca.

3. Times Picayune

Times Picayune termasuk koran tertua di Amerika Serikat. Media ini berdiri pada tahun 1837 di New Orleans. Awalnya, Times Picayune menyapa pembacanya setiap hari dalam edisi cetaknya. Namun semuanya berubah ketika era internet membuat sirkulasi mereka kian menurun.

Pada 24 Mei 2012, Advance Publications selaku pemilik Times Picayune mengumumkan bahwa mereka hanya akan menerbitkan edisi cetak tiga kali dalam seminggu. Kemudian, Times Picayune akan fokus pada pemberitaan via website mereka. Transisi ini sempat berujung pada pemecatan beberapa pegawainya.

4. Rocky Mountain News

Rocky Mountain News adalah media cetak harian yang terbit sejak tahun 1859 di Denver, Amerika Serikat. Namun pada 27 Februari 2009, media ini menjadi almarhum. Pada Desember 2008, E.W. Scripps & Co selaku pemiliknya ingin menjual koran tersebut karena berbagai sebab. Namun gagal menemukan pembeli hingga akhirnya ditutup.

Mantan karyawan Rocky Mountain News kemudian mendirikan sebuah website online bernama INDenver News. Meski tidak memiliki banyak pembaca, media online baru ini tetap eksis sampai sekarang. Awalnya INDenver News mengandalkan pemasukan dari biaya langganan. Namun kemudian memutuskan akan meraih pendapatan dari iklan.

5. Cincinnati Post

Cincinnati Post yang juga dikenal dengan nama Kentucky Post berdiri pada tahun 1881. Media ini meliput berita di wilayah Ohio, Amerika Serikat. Pada tahun 2004, tanda-tanda Cincinnati Post mengalami masa suram mulai tampak. Mereka mulai menghentikan distribusi koran di berbagai wilayah. Karena berbagai faktor, Cincinnati Post akhirnya tidak lagi terbit edisi cetaknya semenjak 31 Desmber 2007. Namun mereka tetap menjaga edisi online di KYPost.com. Berbagai faktor membuat Cincinnati Post menjadi almarhum. Di antaranya penurunan jumlah pembaca dan anjloknya pemasukan dari iklan.

 

(As published on detikinet, Jumat, 19 Oktober 2012)

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2012 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , , , , , ,

Obsessed with Possessions

Once, the philosopher Erich Fromm forecast a society that was obsessed with possessions. He believe that human beings had two basic orientations: having and being. A person with a having orientation seeks to acquire and possess things, property, even people. But a person with a being orientation focuses on the experience. They derive meaning from exchanging, engaging, and sharing with other people.

Unfortunately, Fromm also predicted that a culture driven by commercialism, like the one we live in today, is doomed to the having orientation, which leads to dissatisfaction and emptiness. People is now easier to get what they wanted. However, to share, to offer, to give, or to sacrifice things they have to someone else is not that easy.

When we consider that in 1960, there was no such thing as public storage in America. Today, there’s over two billion square feet dedicated to it, makes us think Fromm had a point. My room is also seems smaller than ten years ago when I was first moving here, because I put more and more thing in it. Things don’t have to mean everything, nor they have to devoid the meaning. They are one of they ways in which we can experience and enjoy life.

 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Kekalahan itu Tidak Kekal

Hidup adalah perubahan. Tak ada hidup yang diam, statis. Hidup itu selalu berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Dalam bahasa Sansekerta padanan kata hidup adalah bhava, yang juga memiliki arti proses yang terus menerus.

Sebagai manusia, kita pasti pernah dihina, dicaci, dikecewakan, atau difitnah. Memang, persepsi keliru merupakan sumber segala penderitaan. Kita pun lantas merasa diserbu tim GEGANA (GElisah, GAlau, meraNA), plus sedih, kecewa, atau marah. Lengkap sudah. Tapi kalau kita memahami bahwa hidup itu tidak kekal, kita akan menjadi tabah. Toh, itu hanya kondisi sementara.

Marah boleh, tapi jangan terlalu lama. Kalau marahnya terlalu lama, nanti dada akan menjadi panas dan bakal tercipta konflik baru. Tenangkan hati dan pikiran, lalu cari penyebab mengapa orang lain melakukan hal itu. Jangan asal nerimo saja. Begitu pula ketika kita berada di atas, senang, sukses, kita tidak perlu menjadi jumawa. Karena bisa saja senang menjadi sedih, begitu pula sebaliknya. Perubahan adalah hukum alam. Kalau semua dianggap kekal, ketenangan bisa hancur.

Ihwal kehidupan adalah berubah untuk mencapai ketenangan, di mana kita bisa menempatkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dalam proporsinya. Sementara capaian ketenangan tertinggi adalah ketika kita tidak lagi terkejut melihat perubahan. Tidak silau menghadapi ketidakkekalan. Dengan memahami bahwa hidup tidak kekal maka kita akan terus berjuang untuk mencapai hidup yang lebih baik. Terus berusaha dan bergerak. Perkara gagal atau berhasil itu urusan belakangan.

 

But there is suffering in life, and there are defeats. No one can avoid them. But it’s better to lose some of the battle in the struggles for your dream than to be defeated without ever knowing what you’re fighting for. (Paulo Coelho)

 
Leave a comment

Posted by on October 14, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

8 Kesalahan Saat Memulai Usaha

Bisnis kecil yang baru saja Anda buka membawa banyak harapan untuk meraih kesuksesan. Kata “kegagalan“ barangkali hanya terlintas sekali dua kali. Lagipula siapa, sih, yang mendambakan kegagalan? Padahal menghitung risiko kegagalan jauh lebih aman daripada tidak sama sekali. Hitung-hitung Anda mempunyai benteng pertahanan yang lebih kuat agar bisnis tak mundah runtuh.

Selain bersikap tak mau tahu tentang risiko kegagalan, apa saja, sih, yang membuat para entrepreneur gagal di bisnisnya? Berikut di antaranya.

1. Memulai dengan alasan keliru

Coba tanya diri sendiri, apa alasan Anda memulai bisnis sendiri? Menginginkan uang yang lebih banyak daripada penghasilan yang didapatkan saat ini? Waktu luang dengan keluarga yang lebih banyak ketimbang bekerja di perusahaan orang lain? Atau, Anda bosan diperintah? Jika Anda mengangguk pertanda setuju dengan alasan-alasan tadi, maka pikirkan kembali.

Anda mempunyai kesempatan yang lebih bagus untuk sukses di bisnis baru jika:

  • Anda mempunyai passion atau kecintaan akan sesuatu yang Anda lakukan. Passion ini akan menggiring Anda untuk memiliki kemauan tingkat tinggi, kesabaran, dan perilaku yang positif.
  • Kesuksesan juga akan terjadi ketika Anda percaya bahwa produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan Anda memang mempunyai peluang di pasarnya. Tentunya keyakinan ini didasarkan pada riset yang dilakukan secara profesional, bukan asumsi belaka.
  • Fit secara fisik dan mental, sehingga Anda siap menyambut tantangan apapun yang menghampiri di masa depan.
  • Ketika Anda gagal, Anda tak lantas mengibarkan bendera putih. Anda justru mencari tahu di mana letak kesalahannya, dan berupaya memperbaikinya.
  • Anda bisa mengambil keputusan di saat yang genting, termasuk mengenal usaha Anda luar. Jadi jika sewaktu-waktu staf yang dibutuhkan sedang berhalangan, Anda tak kehilangan kendali. Malah, Anda bisa mengambil alih.

2. Buruknya manajemen

Kegagalan berbisnis yang dialami para pemula biasanya disebabkan buruknya manajemen. Para entrepreneur yang masih hijau memang cenderung meraba-raba area manajemen bisnis. Sebut saja rencana bisnis, keuangan, pembelian, penjualan, produksi, hingga perekrutan karyawan. Padahal hal-hal ini sangat diperlukan untuk membangun sebuah usaha menjadi lebih matang. Pengetahuan tentang manajemen juga dibutuhkan untuk menghindarkan Anda dari penipuan.

Untuk mengejar ketinggalan ini, Anda memang harus belajar dari nol. Mengais ilmu dari berbagai pelatihan manajemen bisnis yang kredibel atau bertukar pendapat dengan teman yang sudah lebih dulu terjun ke dunia bisnis, bisa Anda lakukan.

Hal lain yang harus Anda ingat adalah manajemen juga berarti mengatur diri sendiri menjadi pemimpin yang sukses. Ia harus bisa menciptakan suasana kerja yang kondusif sehingga pegawainya pun semangat bekerja. Pemimpin juga diwajibkan mampu berpikir strategis, berani menghadapi perubahan, dan mencari peluang baru yang lebih menguntungkan.

3. Modal yang kuat

Kesalahan terfatal pada entrepreneur pemula adalah modal yang tidak mencukupi. Seorang pemilik perusahaan, meski kecil, harus bisa menghitung berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk memulai dan menghidupi usahanya, selama belum menghasilkan keuntungan yang terasa. Jadi, jangan dulu berkhayal akan mendapatkan keuntungan yang fantastis jika Anda baru memulai sebuah usaha.

4. Memilih lokasi

Kalimat bijak yang mengatakan bahwa lokasi menentukan prestasi memang benar adanya. Jika Anda mendirikan toko di lokasi yang strategis, meski banyak pesaing, namun setidaknya Anda masih bisa bertahan. Lain halnya dengan lokasi yang buruk, bisa-bisa mimpi menjadi entrepreneur gagal di awal jalan.

Nah, apa saja yang perlu diperhitungkan ketika memilih lokasi usaha?

  • Pastikan pelanggan tak terhambat lalu lintas yang padat, mudah diakses, disertai area parkir, dan lampu jalan yang memadai.
  • Pastikan kompetitor di sekeliling lokasi tak terlalu banyak sehingga peluang Anda masih terbuka lebar.
  • Pastikan gedung atau ruangan yang disewa terjamin keamanannya.
  • Carilah lokasi usaha yang memang mempunyai peluang pasar yang bagus. Anda bisa mengetahuinya dengan melakukan riset terhadap calon pelanggan yang berada di sana.

5. Kurang terencana

Semua orang yang sukses membangun usahanya dari nol pasti paham betul bahwa perencanaan matang dan kerja keras memegang peranan penting. Selain harus memperhitungkan segala kendala, perencanaan juga harus dibuat realistis, akurat, terkini, dan memperhitungkan target di masa depan.

Anda juga harus mencari tahu bagaimana cara mempromosikan barang atau jasa yang dijual perusahaan kecil Anda. Salah satu metode paling sederhana namun teruji adalah membuat business plan yang tersusun rapi.

6. Buru-buru ekspansi

Suatu hari tanpa diduga, usaha melesat sukses dan Anda memutuskan untuk meningkatkan produksi barang. Di saat yang sama, Anda lupa memperhitungkan kemampuan produksi. Sehingga pada akhirnya Anda kewalahan dan kehilangan pelanggan setia. Jadi, jika memang belum mampu untuk melakukan ekspansi, bersabar saja dulu. Karena bagaimanapun perkembangan usaha yang lambat tapi fokus lebih baik daripada terburu-buru tanpa kepastian.

7. Absen di dunia maya

Zaman sekarang masih malas untuk mempunyai situs atau akun jejaring sosial usaha Anda? Rasanya Anda harus segera mengubah pemikiran sempit ini. Apalagi pengguna internet semakin banyak. Malah online shopping makin digemari karena kepraktisannya. Mala, posisikan situs dan akun jejaring sosial adalah toko Anda di dunia maya.

Luangkan waktu dan sisihkan biaya untuk membuat situs usaha Anda yang representatif. Sehingga siapapun di belahan dunia ini bisa mengetahui produk yang Anda jual. Peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari situs yang dimiliki juga bukan isapan jempol semata. Iklan-iklan mungil di situs juga bisa memberi penghasilan yang tak sedikit bagi pemilik situs. Aktifkan juga jejaring sosial Anda dan sesuai fungsinya, gunakan untuk berinteraksi para anggota laman Anda. Jangan ragu untuk memperbanyak promosi produk Anda di dunia maya.

8. Mengenal kompetitor

Di tengah banyaknya pesaing, langkah-langkah berikut harus Anda lakukan agar tak tergerus kompetisi. Pertama, menjadi pembeli untuk mengetahui keinginan pembeli. Caranya mudah, intip saja “toko sebelah” yang merupakan pesaing Anda. Dengan melakukan ini, setidaknya Anda tahu bagaimana cara para pesaing memasarkan produknya, harga yang dipasang, melayani pelanggan, sampai trik promosinya. Bukan untuk ditiru, ya! Justru Anda harus mencari celah lain agar toko Anda berbeda dan lebih menarik meski barang jualannya sama. Eksekusi yang matang dan berkonsep sudah pasti membuat orang-orang lebih tertarik.

Berjualan tak cukup jalan di tempat. Sesekali cobalah ikuti bazar. Pilihlah bazar dengan lokasi strategis yang sudah pasti dikunjungi banyak pengunjung. Bazar juga tak hanya berjualan, di event ini Anda bisa mengumpulkan jaringan yang lebih kuat sembari (lagi-lagi) melihat bagaimana para pesaing berjualan. Bukan tak mungkin, Anda menjadi lebih termotivasi untuk melakukan gebrakan-gebrakan bisnis yang baru, kan? Selain itu, rajin-rajinlah mengadakan promosi untuk menggaet pelanggan baru dan menyenangkan pelanggan lama. Misalnya, cukup dengan mengunggah foto pelanggan memakai baju muslim dari toko Anda di situs jejaring sosial, Si Pelanggan mendapatkan voucher diskon.

(as published on female.kompas.com, 26 Januari 2012)

 

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , , ,