RSS

Dan Newsweek pun Mengakhiri Era Media Cetak

22 Oct

Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya begitu terpukau pada komik Pak Janggut yang menjadi sisipan majalah Bobo. Di komik itu, pak Janggut memiliki cermin yang bisa melihat masa depan. Ada lukisan yang gambarnya bisa bergerak – yang 25 tahun kemudian “lukisan” itu baru saya sadari sebagai televisi layar plasma yang bisa digantung dengan anggun di dinding ruangan. Ada pula gambar orang yang membaca majalah dari sebuah papan, yang kini saya sadari ia tengah membaca digital magazine. Pak Janggut mengatakan majalah dan koran yang berbasis kertas sudah lama punah.

Rasanya, tak perlu menunggu sampai satu abad untuk membuktikan kata-kata tokoh kartun itu. Bisnis media cetak berbasis kertas lambat laun mulai punah. Dan, sebagai penanda adalah ketika majalah terkemuka di Amerika Serikat, Newsweek memutuskan menghentikan edisi cetaknya, akhir tahun ini. Dan, kata-kata Tina Brown, editor Newsweek makin mengukuhkan “kebenaran” cerita Pak Janggut itu. “Era cetak majalah dengan tinta akan berakhir di Newsweek pada 31 Desember 2012,” kata Tina, seperti dikutip Huffington Post, Kamis (18/10).

Newsweek bukan majalah kemarin sore. Mereka telah menemani pembaca selama 80 tahun. Newsweek juga bukan majalah sembarangan. Mereka memiliki empat edisi Bahasa Inggris dan 12 edisi global dengan bahasa yang disesuaikan dengan area sirkulasi, seperti Bahasa Jepang, Korea, Polandia, Rusia Spanyol, Arab, dan Turki.

Masih menurut mbak Tina, pembaca setia Newsweek masih tetap membaca dan berlangganan majalah tersebut. Namun, pembaca tak bisa lagi merasakan sensasi wangi kertas atau melipat halaman untuk menandai hal penting. Sebab, majalah akan berformat digital dan hanya bisa diakses melalui smartphone, tablet, laptop, maupun PC. Newsweek pun akan berubah nama menjadi Newsweek Global, karena bisa diakses secara global melalui jaringan internet.

Dalam catatan resminya, Tina menyatakan dengan format digital, Newsweek akan dapat merengkuh lebih banyak pembaca dari seluruh dunia. Apalagi sudah banyak yang melek teknologi dan menggunakan gadget teknologi. Tapi, tentu saja, penghentian edisi cetak akan mau tak mau akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan. Paling mudah saja, publisher tak lagi butuh orang-orang yang bekerja di percetakan – yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, bila mereka melayani cetak majalah dalam jumlah besar. Ingat, dalam hal ini oplah Newsweek sempat menyentuh 4 juta eksemplar sekali terbit.

Mengapa Newsweek berhenti mencetak? Alasannya, kemerosotan oplah. Berdasarkan perhitungan Biro Audit Sirkulasi, media bermarkas di New York ini terus merugi. Menurut catatan Biro Audit Sirkulasi seperti yang dikutip ABC News, pada tahun 2000, oplah Newsweek mencapai 3.134.046 eksemplar. Tujuh tahun kemudian, oplahnya masih stabil di angka 3.128.391 eksemplar. Dan, pada semester I/2012, oplah merosot hingga separuhnya, hanya 1.527.157 eksemplar!

Prestasi pada semester I/2012 benar-benar memukul Newsweek. Sebab, sebagai posisi runner up majalah dengan sirkulasi terbesar di AS, capaian Newsweek hanya separo oplah Time, sang jawara, yang oplahnya masih mencapai 3.276.822 eksemplar. Padahal, tim redaksi sudah melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan kapal, mulai dari melakukan redesain tampilan dan konten. Sebagai pemimpin redaksi, Tina sudah menegaskan bahwa majalahnya akan melakukan reportase in-depth dan analisa, tak hanya sebatas pada rubrik politik dan hubungan internasional, tapi juga untuk pop culture dan fashion. Ternyata, itu tak banyak menyelamatkan penjualan.

Kerugian yang diderita tiap edisi Newsweek terus meningkat. Bahkan, setelah majalah diambil alih oleh Sidney Harman, seorang tokoh audio berusia 92 tahun, pada 2010 tak terlihat perubahan berarti. Harman akhirnya ikut bergabung dengan Tina Brown dan mendirikan The Daily Beast, sebuah situs Web yang dimiliki oleh IAC/Inter ActiveCorp.

Masa suram Newsweek makin terlihat ketika Harman meninggal pada musim semi 2011. Saat itu, ahli warisnya mengatakan akan terus mendukung Newsweek meski terseok-seok. Tapi, pada musim panas lalu, keluarga mengumumkan tidak akan berinvestasi lagi pada Newsweek. Kabarnya, Newsweek memiliki kerugian hingga US$40 juta per tahun. Sialnya, Barry Diller, pemimpin IAC serta pemilik The Daily Beast dan Newsweek, mengatakan, tidak akan menanggung terus kerugian tersebut.

Tina dengan pengalaman yang seabrek, ia pernah menjadi editor di majalah Vanity Fair, The New Yorker, dan Talk, ternyata harus angkat tangan. Ia mengatakan bahwa dia tak memiliki kontrol atas apa yang terjadi pada industri majalah yang lebih luas. “Anda tidak bisa langsung mengubah era informasi yang begitu cepat. Tidak ada satu pun orang yang mampu menyanggah dengan tren digital,” katanya.

Menurut Richard Stengel, managing editor Time, majalah cetak merupakan benda yang sangat mahal. Untuk membuat satu majalah diperlukan proses pembabatan pohon, penuangan tinta di atas kertas, penyusunan dalam kontainer, dan barulah sampai ke tangan pembaca. Ya, saya setuju dengan pendapat Richard. Ongkos cetak yang makin melambung membuat tiap bulan saya harus sakit perut melihat tagihan dari percetakan. Kini, pilihannya hanya ada dua: berubah atau mati. Itu saja.

“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.”
(Albert Einstein)

Baca juga:  Digital Magazine: Riding the Wave!

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: