RSS

Monthly Archives: November 2012

Gado-Gadoku Dimuat..

Sering saya terheran-heran dengan ulah narasumber yang begitu antusias ketika tulisan mengenai dirinya dimuat di majalah. Beberapa membeli puluhan majalah – kebanyakan dengan memohon-mohon untuk dapat diskon hehehe.. – untuk dibagikan kepada sanak saudara. Ada yang mengunggah foto artikel yang dimuat ke jejaring sosial. Bahkan, ada yang menggunting artikel tersebut, menaruhnya ke dalam bingkai, lalu memasang di dinding. Nggak segitunya kaleee..

Bagi saya yang pekerjaan utamanya menulis di majalah, hal-hal seperti itu menjadi aneh dan absurd. Mungkin karena sudah terbiasa menemukan tulisan sendiri muncul di majalah. Jujur, ketika majalah yang saya kelola beredar, saya tidak membaca tulisan yang ada di dalamnya. Lha wong saya yang mengedit artikel-artikel itu. Ibaratnya, letak titik komanya juga inget hehehehe..

Hal pertama yang saya lakukan ketika membuka majalah yang baru keluar dari percetakan adalah mencium bau harum kertasnya. Mhmm, ini tak akan bisa dirasakan kalo majalah udah berubah format menjadi digital. Cium noh gadget.. Hal kedua adalah memeriksa hasil cetakan, terutama untuk foto. Saya bisa ngomel-ngomel panjang lebar kalau foto yang udah bagus ketika sudah dicetak hasilnya jadi under (terlalu buram, kehitaman) atau over (terlalu terang). “Ini gimana sih bla bla bla bla..” Manajer cetak dan desainer saya sudah hafal dengan kebiasaan buruk ini. Hal ketiga adalah menaruh majalah itu begitu saja di meja. Hanya dibaca bila perlu. Maksudnya kalau ada pembaca atau klien iklan yang mengirimkan e-mail atau menelepon, kita bisa memberikan respon terbaik.

That’s it. Jadi, saya masih terheran-heran dengan ulah narasumber. Setidaknya, sampai tadi pagi…

Dengan spontan saya berteriak kegirangan, “Gado-Gadoku dimuat Femina!” Sebenarnya, ini sudah kesekian kali tulisan saya muncul di majalah perempuan itu. Tapi, baru kali ini berupa tulisan panjang dan, ahem, dapat honor hehehehe.. Tak ada respon heboh dari teman-teman redaksi. Mungkin pikiran mereka sama dengan saya, “Nggak segitunya kaleee…” Hanya satu respon berbeda dari seorang reporter baru, “Memang ibu punya bisnis gado-gado?” Gubrak! Ah, tak apalah.. Namanya juga anak baru.

 

Tips Menulis untuk Rubrik Gado Gado

  1. Rubrik Gado Gado di majalah Femina, sesuai namanya, topik bahasannya beragam. Kadang jenaka, kadang menyentuh. Namanya juga rubrik kiriman pembaca, yang nulis pun beda-beda. Pilihan topik bisa apa saja, mulai soal matinya kucing kesayangan sampai pengalaman naik kereta.
  2. Bagi mereka yang tidak terbiasa menulis, coba untuk membuat outline tulisan: pembuka-isi-penutup. Hal ini menjadi penting agar tulisan tidak loncat-loncat. Klimaks tulisan bisa di awal atau di akhir. Bila klimaks berada di bagian akhir, usahakan agar pembaca tidak bisa menebak ending-nya. Bukankah kita menyenangi kisah yang tak mudah ditebak?
  3. Untuk judul, pilih satu atau dua kata. Jangan terlalu panjang, nanti halamannya nggak cukup. Paling penting pilihan kata untuk judul harus catchy atau menimbulkan rasa penasaran.
  4. Format penulisan:
    • Panjang naskah 2-3 halaman (2.500-3.000 karakter), spasi ganda, font Arial size 12.
    • Satu paragraf maksimal tiga kalimat.
    • Satu kalimat maksimal 15 kata.
    • Tidak ada sub judul.
    • Sisipkan kata-kata ekspresif, seperti Aduh, Wah, Oh, dan sebagainya.
    • Kirim ke kontak@femina.co.id
  5. Pihak redaksi Femina akan menghubungi penulis empat bulan setelah pengiriman artikel (via e-mail). Baik untuk memberitahu artikel akan dimuat atau tidak dimuat.
  6. Bila dimuat, penulis akan diminta mengirimkan surat pernyataan di atas materai bahwa tulisan belum pernah dimuat di media lain (termasuk blog) dan merupakan karya orisinal (bukan terjemahan, apalagi jiplakan!). Oleh karena artikel yang saya kirim pernah diterbitkan di blog ini, pihak Femina meminta tulisan “diturunkan” terlebih dahulu dari blog sampai tulisan dimuat di majalah tersebut.
  7. Setelah mengirimkan surat pernyataan, penulis harus menunggu empat minggu sebelum tulisannya dimuat.
  8. Dan, sekitar satu minggu setelah pemuatan, penulis tinggal menunggu transferan honor penulisan. Manteb to?
 
8 Comments

Posted by on November 28, 2012 in How to..

 

Tags: , ,

The Invisible Hand

Saya tidak sedang membicarakan teori Adam Smith. Tapi saya ingin mengisahkan seorang tukang cuci yang berhasil menjelaskan teori invisible hand versinya – yang berhasil membuat hati saya mencelos.

Siang itu, didorong oleh keisengan akut (yang dibelakangnya ada tekanan kegalauan akut), saya menghabiskan waktu di stasiun Jakarta Kota. Senang rasanya bisa menikmati arsitektur peninggalan jaman Belanda. Adem bin semilir. Selain itu, saya selalu menikmati peran sebagai pengamat kehidupan. Cukup duduk manis di kursi tunggu stasiun, melihat hiruk pikuk di sekitaran. Terdiam di keramaian. Bagi saya itulah universitas kehidupan sebenar-benarnya.

Hampir satu jam duduk manis dan melewatkan tiga perjalanan kereta, membuat ibu yang duduk di sebelah bertanya-tanya, hendak ke mana mbak-mbak satu ini. Percakapan pun tercipta dari hanya sekadar menanyakan tujuan dan jam keberangkatan kereta. Dari situ saya mengenal si ibu, yang tololnya saya lupa bertanya siapa namanya, adalah tukang cuci di salah satu keluarga keturunan Arab yang bermukim di wilayah Kota. “Saya nggak perlu jauh-jauh ke Arab udah jadi bisa TKW. Majikan saya orang Arab, mbak,” kata si ibu, yang saya perkirakan berusia sekitar 60 tahun ini, terkekeh, memamerkan gigi ompongnya.

Dulu, ia adalah korban gempa Yogyakarta, pada 2006. Seluruh keluarganya meninggal, kecuali dia dan dua cucu kembarnya yang masih berusia 3 bulan. Kebingungan melanjutkan hidup, dia hijrah ke ibukota, ke tempat anak bungsunya. Apa daya, si anak bungsu tak sanggup memuliakan ibundanya dengan kehidupan sebaik ketika beliau di kampung halaman. Seorang tetangga pun menawarkan pekerjaan. Tak perlu ijasah, tak perlu pengalaman, cukup skill. Ada lowongan menjadi tukang cuci!

Merasa itu pekerjaan yang ia mampu lakukan, si ibu pun mengambil kesempatan. Masalah berakhir? Belum. Rumah anak bungsu si ibu ini ada di Bekasi, sedangkan tempat kerjanya di Jakarta Kota. Untuk menghemat biaya, si ibu naik kereta ekonomi dengan jadwal keberangkatan pukul 5.15. Sampai stasiun Kota satu jam kemudian, ia lalu melanjutkan berjalan kaki sampai rumah majikan. Hitung-hitung olah raga pagi, katanya. “Kalau pagi saya naik angkot, ongkos nggak nyampai mbak. Saya naik angkotnya kalau pulang aja. Udah capek kerja. Kalau naik angkot harus oper dua kali. Bisa-bisa saya pulang gak bawa uang,” akunya, polos. Meski si majikan menawarkan gaji bulanan, si ibu bersikeras mengambil gaji harian. Menurutnya itu lebih bisa menyenangkan anak cucunya. Hampir separo gaji harian yang Rp20.000 itu dihabiskan untuk ongkos perjalanan.

Dia bercerita, majikannya sering membawakan makanan dan perlengkapan sekolah untuk cucu kembarnya. Bahkan, siang itu, dengan bangga, ia menunjukkan dua pasang kaos kaki putih dan tempat pensil murah meriah yang terbungkus tas kresek hitam dari majikannya. “Majikan perempuan sebenarnya kasihan sama saya, sudah tua harus kerja. Udah gitu rumahnya jauh lagi. Tapi saya bilang, kalau saya diberhentikan, anak cucu saya makan apa?” Plak! Tamparan pertama seakan mendarat di pipi saya. Setahun terakhir saya merajuk ingin berhenti bekerja hanya gara-gara masalah kantor yang carut marut dan berhasil memarut tingkat kewarasan saya. Dengan ego setinggi Monas tumpuk tujuh, saya bersikeras mundur meski bakal miskin mendadak karena tak lagi terima duit. Kalimat si ibu langsung terngiang, tapi kali ini dengan dubbing suara saya, “Nanti saya dan orang tua saya makan apa?” Jleb!

“Setiap pekerjaan selalu ada masalah, mbak” kata si ibu, seakan bisa membaca pikiran saya. Mungkin di jidat saya ada tulisan Lagi Banyak Masalah. Si ibu melanjutkan ceritanya, bagaimana dia sebenarnya sudah tidak mampu lagi berdiri lama saat menyetrika baju dan kakinya yang sering pedih terkena air bekas cucian. Untung si majikan yang budiman tahu diri, tak seperti oknum majikan garang yang sering menyiksa TKW di luar negeri sono. Si ibu hanya mencuci dan menyetrika baju harian, sisanya di-laundry atau dicuci sendiri oleh si anak majikan dengan mesin cuci canggihnya. Itu pun berselang-seling, hari ini si bu mencuci, besok menyetrika, dan seterusnya. “Memang ibu masih kuat bekerja?” tanya saya, menyelidik. Saya tak yakin dengan penampilan ringkih di balik baju muslimah amat sederhana itu. “Ya dikuat-kuatin lah mbak. Saya kerja juga banyak dibantu sama tangan-tangan yang nggak kelihatan, mbak. Niat ingsun saja. Bismillah,” kata dia. Plak! Tamparan kedua seakan mendarat di pipi. Aduh, ibu, cukuupp.. cukuuupp.. Teriak batin saya.

Dia bilang tangan-tangan yang nggak kelihatan itu yang membantunya masuk gerbong kereta kelas ekonomi super penuh, meringankan langkah kakinya ke rumah majikan, melancarkan pekerjaannya, hingga memberinya rejeki yang tak diduga-duga. Ia memamerkan tas kresek putih yang dibawanya, “Ini barusan ada ibu-ibu ngasih saya mangga. Cucu saya pasti senang.”  Katanya, ibu-ibu ini mengaku sering bertemu dengannya di stasiun Kota. Oh, ibu, mungkin pemberi buah itu adalah seorang malaikat.

“Rejeki sudah ada yang mengatur, mbak,” kata si ibu, dengan senyum sumringah. Ia melanjutkan, Gusti Allah selalu paring rejeki dari pintu yang tak terduga. Kadang apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Tapi kita justru mendapatkan lebih dari yang kita harapkan. “Kalau itu rejeki kita, mau dikorupsi sama orang lain, kita pasti dapat gantinya,” kata si ibu, yang saya yakin juga enek dengan berita korupsi pejabat. Gusti Allah sudah mengatur rejeki, jodoh, dan mati manusia, lanjut dia. Tangan-tangan yang tidak kelihatan itulah yang bekerja, memberi kita rejeki atau memberikan jalan mendapatkan rejeki.

Percakapan terus berlanjut. Dengan hati dan pikiran yang seakan dikucek-kucek, saya mendengarkan obrolan si ibu dengan saksama. Namun, begitu mendengar pengumuman kereta AC jurusan Depok akan tiba, saya segera minta ijin untuk menuju peron. Ia mengatakan harus menunggu 10 menit lagi untuk jadwal keberangkatan kereta ekonomi Bekasi pukul 15.15. Bukan tak ingin menemaninya lebih lama, buru-buru saya ijin pulang karena sudah ada cairan yang mulai menggenangi sudut mata.

Bahasan mata kuliah Invisible Hand disampaikan tepat 30 menit. Ibu ‘dosen’ yang kebetulan tukang cuci korban gempa itu benar-benar menyampaikan materi kuliah dengan studi kasus yang nyata. Kalau saya ibarat baju yang ia cuci, mungkin saya udah digiles berulang kali di penggilesan, dicelup ke air sabun berulang-ulang, dikucek, diperas, dan dijemur di terik matahari sebelum disemprot Trika dan disetrika. Benak yang tadinya menghitam jadi putih kembali. Entah mengapa langkah saya menuju kereta menjadi lebih ringan. Terima kasih, ibu. Ketika saya menengok ke arah kursi tunggu, si ibu masih di sana dan memberikan senyum terbaiknya. Mungkin dia malaikat. Mungkin dia God’s invisible hand yang membimbing saya. Siapa tahu.


Catatan:
Invisible hand merupakan pemikiran ekonomi modern dari Adam Smith dalam The Wealth of Nations, pada 1776. Adam Smith menyatakan bahwa sebuah sistem besar akan mengatur dirinya sendiri, dengan aktivitas masing-masing, tanpa harus mendapatkan arahan tertentu. Pemikiran invisible hand masih menjadi pusat gagasan ekonomi pasar dan kapitalisme hingga saat ini.

 
1 Comment

Posted by on November 27, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

Notok Tembok Mentok Jedok

Bagi penikmat blog naningisme yang gak ngerti arti judul di atas, hehehehe.. sama. Saya sendiri sebenarnya juga gak ngerti artinya. Suddenly comes up on my mind, mak tuing! Kalo dilihat dari kacamata bahasa Suroboyoan, kalimat di atas menunjukkan kondisi yang emang udah notok tembok mentok jedok alias udah gak bisa gerak maju lagi. Ibarat nyawa udah koma 40 hari 40 malam, tinggal dibacain surat Yasin aja biar tenang – entah itu kembali ke alam Dunia atau lanjut ke Nirwana.

Sepertinya, kalimat itu cocok banget untuk menggambarkan diri saya sekarang ini. Jujur, kalau dilihat dari akal sehat, saya gak tau gimana caranya saya bisa hidup minggu depan. Tanpa harus diaudit pun saya tahu kalo saya lagi bangkrut. Tapi, kalau ditinjau dari akal tidak sehat, saya selalu yakin saya bisa bertahan hidup sampai akhir bulan, sampai akhir tahun. Entah dari mana datangnya, saya selalu yakin akan selalu ada tangan-tangan tak kasat mata yang memudahkan perjalanan hidup saya. Tuhan menjamin hidup umatNya. Semut kecil aja dikasih hidup dengan cara lolos dari injakan sepatu atau semprotan Baygon, meski probabilitas hidup matinya mungkin lebih gede matinya.

Kadang, saya menyesal menjadi orang yang (sok) mandiri dan selalu berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri. Lone ranger. Saya menjadi orang yang tidak terbiasa untuk meminta bantuan orang lain. Rasanya nggak banget kalo minta tolong sama orang, meski itu hanya sekadar mbenerin genting bocor atau empedu bocor. Halah! #eh

Hanya untuk minta bantuan saja, saya udah menghadapi mixed feeling, antara jengah (karena gak biasa minta tolong), malu, sungkan, hingga ketakutan sendiri kalau pertolongannya gak dateng-dateng. I found this simple act so difficult, but I don’t know, it takes strength to ask for help. Hingga seorang sahabat berkata, it’s okay to ask for help. Asking for help does not mean that we are weak or incompetent. It usually indicates an advanced level of honesty and intelligence. That’s what makes us human.

I think I need a help…

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

Gerbong Perempuan: Serba Pink dan Selalu Wangi

Sebenarnya, adanya gerbong khusus perempuan adalah alasan saya menjadi roker sedari Februari 2010 lalu. Kalau terpaksanya harus jadi pepes di kaleng berpendingin, mending berdesakan dengan sesama perempuan. Lagian penumpang perempuan itu wangi. Minimal mereka bakal nyemprotin cologne murah meriah yang bisa dibeli di Indomaret sebelum ngantor atau pulang kantor. Beda banget ama kebanyakan penumpang pria yang boro-boro pake parfum, pake pewangi ketek aja ogah.

Sejak Akhir 2009, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) bikin gerbong khusus perempuan yang (sementara ini) hanya ada di rangkaian kereta berpendingin. Pria yang boleh naik gerbong ini cuma anak-anak aja (alayers cowok wajib pindah gerbong sebelah). Gerbong khusus perempuan ini adanya di gerbong paling depan (kereta 1) dan di gerbong paling belakang (kereta 8). Ciri khasnya dinding luar gerbong khusus perempuan ini dicat pink mencolok dengan tulisan Kereta Khusus Wanita (KKW) berwarna putih. Jadi pria-pria yang buta huruf pun – selama mereka gak buta warna – gak salah naik kereta. Memang harus diakui, masih ada beberapa rangkaian kereta yang gak ada penandanya. Tapi, aturan gerbong khusus perempuan tetap berlaku.

Kalau ada penumpang pria yang nyasar naik gerbong perempuan, biasanya mereka yang buru-buru naik karena kereta keburu berangkat, akan berjalan pelan-pelan menuju gerbong sebelah. Kalau kebetulan penuh, mereka biasanya bakal turun dan berpindah gerbong di stasiun berikutnya. Kalau ada penumpang pria yang bandel biasanya akan ditegur petugas – yang biasanya juga perempuan. Kalau si pria ini menolak, siap-siap aja diomelin – minimal dipelototin – penumpang perempuan. Jangan salah penumpang perempuan biasanya bakal sadis kalo ada pria-pria yang dengan sengaja naik gerbong khusus perempuan. Oya, para transgender juga biasanya akan diminta naik gerbong campur. Mereka masih punya ‘senjata’ pria di balik rok mininya cyynnn hehehehe…

Ada enak dan gak enaknya berada di gerbong khusus perempuan. Enaknya, jelas, semua sejenis. Jadi gak risih kalo harus dempet-dempetan pas rush hour. Udah begitu mereka wangi dan murah senyum. Gak enaknya, karena semua penumpangnya perempuan mereka jadi terasa lebih “kejam”, gak mau ngasih duduk. Beda ama kalo perempuan ada di gerbong campur, biasanya kita bakal dikasih duduk ama mas-mas yang kebetulan lagi duduk di depan kita. Ladies first hahahaha..

Kenyamanan buat penumpang perempuan juga bertambah pas manajemen KCJ mengoperasikan rangkaian kereta khusus perempuan, mulai 1 Oktober 2012. Gak cuma dua gerbong aja tapi bener-bener delapan gerbong full. Mantep gak sih? Tapi adanya cuma di jam-jam tertentu aja. Dan, sebagai roker sejati sebenernya saya menginginkan lebih banyak jadwal kereta, bukan cuma nambah dua rangkaian kereta khusus perempuan. Lagian jadwal keberangkatannya bukan di jam sibuk. Cuma ada satu kereta perempuan yang lewat di jam sibuk. Hmmm…

 
1 Comment

Posted by on November 15, 2012 in Wheels on the Road

 

Tags: , , ,

5 Aturan Dasar Naik Kereta Ekonomi

Dulu saya ketakutan setengah mati kalau disuruh naik KRL ekonomi. Udah gak pake AC, penumpangnya sampe tumpe-tumpe [jupe mode_on], banyak copet, dan seorang kawan saya mati didorong copet keluar dari kereta. Saya harus mikir 1.000 kali untuk menaiki kereta subsidi pemerintah itu. Gimana gak disubsidi, perjalanan dari Bogor sampe Jakarta cuma Rp2.000! Hare gene mana ada transportasi murah meriah antar kota antar propinsi?

Setelah jadi roker dan mengerti beberapa aturan dasar-dasar keselamatan KRL Ekonomi, saya mulai berani naik kereta sejuta umat itu. Memang, ada beberapa peraturan yang harus dipahami penumpang awam sebelum uji nyali naik kereta ekonomi di jam-jam sibuk. Aturan pertama dan utama adalah selalu waspada terhadap copet yang kita nggak tahu ada di mana. Biasanya copet ambil posisi di dekat pintu. Sebisa mungkin begitu masuk langsung meringsek ke dalam, apapun yang terjadi, dorong orang depan sampe dia ngomel dan melototin pun sah-sah aja. Mending dipelototin daripada HP dan dompet melayang bukan?

Aturan kedua, jangan berpenampilan mencolok. Itu cincin berlian ama gelang emas ronceng mending dicopot dulu deh.. Saya selalu sedia tas kain buluk ke mana pun pergi. Kalau kepepet naik kereta ekonomi dan kebetulan pake tas mahal yang harganya jutaan rupiah (halah!), saya selalu masukin tas mahal itu ke dalam tas buluk. Nenteng tas buluk terasa lebih aman. Toh di dalam kereta ekonomi gak ada paparazi yang bakal masukin foto kita ke majalah Indonesia Tatler. Lagian itu fotografer niat amat sampe nguntit ke kereta ekonomi sambil bawa-bawa kamera, padahal ngliat kaki sendiri aja gak bisa hehehehe.. Kalau bawa ransel taruh di depan badan. Ini bukan MRT Singapura, bung!

Aturan ketiga, fleksibelkan badan untuk meliuk ke kanan-kiri-depan pas tukang jualan lewat. Harap diingat di kereta ekonomi yang namanya tukang jualan dan pengamen itu tetep berkeliaran. Gak peduli kereta super penuh, sampe penumpangnya berasa jadi pepes pun mereka tetap berbisnis. Ada yang jual buah-buahan, minuman dingin (lengkap dengan boks pendingin yang ada esnya), makanan, kartu perdana selular, kamus Indonesia-English-Indonesia, mainan anak-anak, sampe DVD lagu-lagu Islami (sayangnya saya belum nemu yang jualan DVD porno di atas kereta hehehe..). Naluri kewirausahaan yang patut diacungi empat jempol.

Aturan keempat, apapun yang terjadi anggep aja itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Tetaplah tegar meski bau ketek penumpang sebelah lebih ampuh untuk melumpuhkan diri ketimbang amoniak yang disemprot ke sapu tangan (kok jadi inget adegan film-film spionase jadul ya?). Begitu pula pas kaki keinjek atau badan dipres dari kiri-kanan — anggep aja itu treatment pelangsingan tubuh murah meriah.

Aturan kelima, jangan sekalipun angkat telepon atau balas SMS apalagi BBM. Udah tau kereta isinya banyak copet masih juga pamer smartphone? Nantang maut itu mah.. Mending diomelin klien atau pakbos ketimbang kehilangan data-data penting. Kalaupun apesnya kena todong gerombolan copet yang terkutuk, pasrah aja (naudzubillahimindzalik, ketok meja tiga kali). Jangan melawan. Seorang kawan harus meregang nyawa gara-gara dia mempertahankan ponselnya.

Saran saya jangan lupa banyak baca doa kalau harus naik kereta ekonomi dan jangan tunjukkan wajah ragu-ragu. Inget, copet bisa baca wajah penumpang mana yang kira-kira gampang dijadikan mangsa. Tapi, apapun itu naik kereta ekonomi itu fun! Bule aja berani hehehehe..

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in How to..

 

Tags: ,

Kisah Alayers di Alam Kubur

Image

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags:

Kado dari Langit

Entah mengapa saya menyukai hujan. Selalu ada perasaan aneh setiap kali memandang mendung tebal yang tampak kerepotan menampung ribuan galon air di dalam kapas hitam itu. Saya selalu ingin berkata, ayolah, turunkan air kehidupan itu ke bumi. Sirami kami. Basahi kami. Bahagiakan kami dengan kado surgawi yang membasuh debu di genteng, jatuh meresap ke dalam tanah lalu mengisi sumur-sumur penyimpan persediaan air, dan mengalir ke sungai yang bermuara ke laut.

Bau tanah sebelum maupun sesudah hujan membasuh bumi selalu berhasil melenakan jiwa. Aromatherapy yang tak perlu dibeli. Pepohonan yang tak bisa lari berteduh pun memberikan pemandangan indah. Dedaunan seperti menari di ujung ranting, bergoyang ke kiri dan kanan menimbulkan gemerisik. Simfoni original karya Sang Pencipta yang tak perlu mengunduhnya dari 4Shared.

Ternyata, hujan juga mampu mengalirkan keuntungan bagi bocah-bocah ojek payung, abang-abang penjaja makanan dan minuman hangat, atau simbah-simbah pawang hujan yang laris saat hajatan. Ah, kado dari langit pun mampu menyisipkan berlembar-lembar rupiah bagi mereka yang mengandalkan keberuntungan alam. Indahnya.

Tapi, jujur, saya tak suka hujan yang menghempas bumi di hari Jumat malam. Ini bukan masalah Jumat Kliwon atau Jumat Legi, tapi hujan menjelang akhir pekan di saat ribuan pekerja buru-buru meninggalkan kantor itu amat menyiksa. Belum lagi saluran air yang tak sempurna di Jakarta berhasil menyiksa para penghuninya dengan sempurna. Saya suka hujan, tapi saya tak suka banjir.

Apapun itu, kita sendirilah yang membuat urusan air yang tumpah dari langit menjadi complicated. Bukan begitu?

Let the rain kiss you. Let the rain beat you upon your head with silver liquid drops. Let the rain sing you a lullaby. (Langston Hughes)

 
Leave a comment

Posted by on November 12, 2012 in Random Thought

 

Tags: