RSS

Aliran Cadelisme: Ciyus? Miapah?

05 Nov

Ini entah saya yang makin tua atau anak jaman sekarang makin kreatif bikin bahasa baru. Hampir tiap tahun ada tren bahasa baru. Dulu di jaman saya masih ABG bahasa gaul masih berupa lah, la yauw, atau terakhir sumpeh lo yang bertahan beberapa lama. Tapi kini, tren bahasa gaul hitungannya hanya bulan. Dan, kini ada dua aliran bahasa gaul terbaru, yakni aliran “ciyus, miapah” dan “gue harus bilang wow”.

Di tengah-tengah kesibukan bikin business plan *eh, serius ini*, saya akan menerangkan mengenai gejala bahasa aliran ciyus miapah. Bagi para penikmat blog naningisme yang berada di luar negeri atau kurang paham tren bahasa gaul terkini, saya ingin memberikan penjelasan dan sejarah singkat. Tren bahasa ciyus miapah awalnya berkembang di kalangan kaskuser lalu ke berbagai forum online lainnya. Dari forum online, bahasa ini merambah jejaring social media, seperti twitter, koprol, baru kemudian facebook.

Lalu, bisa ditebak, dari dunia maya bahasa alay ini menuju ke dunia nyata (baca: dipakai dalam bahasa pergaulan sehari-hari, meski baru di kalangan terbatas saja). Bahkan, beberapa iklan televisi pun ikutan menggunakan bahasa alay ini. Sebalnya, iklan provider telepon selular yang saya pakai pun menggunakan gejala bahasa ciyus miapah ini. Cungguh menjengkelkan!

Sebenarnya, agak sulit merumuskan aturan gejala bahasa alay termutakhir ini. Sebab, tak ada prinsip mutlak. Kalau bahasa alay sebelumnya adalah menggunakan angka untuk menggantikan huruf, sekarang lebih merujuk pada bahasa balita yang masih cadel. Huruf S akan dilafalkan menjadi C (“sungguh” menjadi “cungguh”), huruf R menjadi L atau Y (“beneran” menjadi “enelan” atau “serius” menjadi “ciyus”), atau memendekkan beberapa kata (“demi apa” menjadi “miapah”).

Kalau kita ngeh asal-usulnya (bahasa cadelisme), kita pasti bisa menebak arti sesungguhnya “bahasa planet” itu. Dan, inilah daftar arti bahasa alay paling mutakhir:

Ciyus = Serius
Miapah = Demi apa?
Cungguh = Sungguh
Maacih = Terima kasih
Macacih = Masak sih
Macama = Sama-sama
Enelan = Beneran
Cemungudh = Semangat
Unyu = Lucu
Binun = Bingung
Lahacia = Rahasia
Amaca = Ah, masa?
Macapah = Sama siapa?
Cendili = Sendiri
Kiyim = Kirim
Lefo = Lemot info
Ca oong cih = Masa bohong sih
Camplet = Kampret

Kalo ngikut anjuran bang Samsudin Berlian, seorang pemerhati makna kata, dalam rubrik bahasa Kompas, ia mengatakan dalam bahasa yang hidup, kata-kata lahir dan mati seiring dengan perkembangan dunia pemakainya. Kalau memang begitu, sepertinya saya harus bersabar dan menebalkan kuping sebentar. Saya bakal dianggap lebay kalau berani-beraninya nabok si pencipta bahasa cadelisme itu. Biarkan saja. Toh kalau sudah bosan dengan kelucuannya, bahasa cadelisme bakal menghilang dengan sendirinya. Ciyus? Miapah?

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: