RSS

The Invisible Hand

27 Nov

Saya tidak sedang membicarakan teori Adam Smith. Tapi saya ingin mengisahkan seorang tukang cuci yang berhasil menjelaskan teori invisible hand versinya – yang berhasil membuat hati saya mencelos.

Siang itu, didorong oleh keisengan akut (yang dibelakangnya ada tekanan kegalauan akut), saya menghabiskan waktu di stasiun Jakarta Kota. Senang rasanya bisa menikmati arsitektur peninggalan jaman Belanda. Adem bin semilir. Selain itu, saya selalu menikmati peran sebagai pengamat kehidupan. Cukup duduk manis di kursi tunggu stasiun, melihat hiruk pikuk di sekitaran. Terdiam di keramaian. Bagi saya itulah universitas kehidupan sebenar-benarnya.

Hampir satu jam duduk manis dan melewatkan tiga perjalanan kereta, membuat ibu yang duduk di sebelah bertanya-tanya, hendak ke mana mbak-mbak satu ini. Percakapan pun tercipta dari hanya sekadar menanyakan tujuan dan jam keberangkatan kereta. Dari situ saya mengenal si ibu, yang tololnya saya lupa bertanya siapa namanya, adalah tukang cuci di salah satu keluarga keturunan Arab yang bermukim di wilayah Kota. “Saya nggak perlu jauh-jauh ke Arab udah jadi bisa TKW. Majikan saya orang Arab, mbak,” kata si ibu, yang saya perkirakan berusia sekitar 60 tahun ini, terkekeh, memamerkan gigi ompongnya.

Dulu, ia adalah korban gempa Yogyakarta, pada 2006. Seluruh keluarganya meninggal, kecuali dia dan dua cucu kembarnya yang masih berusia 3 bulan. Kebingungan melanjutkan hidup, dia hijrah ke ibukota, ke tempat anak bungsunya. Apa daya, si anak bungsu tak sanggup memuliakan ibundanya dengan kehidupan sebaik ketika beliau di kampung halaman. Seorang tetangga pun menawarkan pekerjaan. Tak perlu ijasah, tak perlu pengalaman, cukup skill. Ada lowongan menjadi tukang cuci!

Merasa itu pekerjaan yang ia mampu lakukan, si ibu pun mengambil kesempatan. Masalah berakhir? Belum. Rumah anak bungsu si ibu ini ada di Bekasi, sedangkan tempat kerjanya di Jakarta Kota. Untuk menghemat biaya, si ibu naik kereta ekonomi dengan jadwal keberangkatan pukul 5.15. Sampai stasiun Kota satu jam kemudian, ia lalu melanjutkan berjalan kaki sampai rumah majikan. Hitung-hitung olah raga pagi, katanya. “Kalau pagi saya naik angkot, ongkos nggak nyampai mbak. Saya naik angkotnya kalau pulang aja. Udah capek kerja. Kalau naik angkot harus oper dua kali. Bisa-bisa saya pulang gak bawa uang,” akunya, polos. Meski si majikan menawarkan gaji bulanan, si ibu bersikeras mengambil gaji harian. Menurutnya itu lebih bisa menyenangkan anak cucunya. Hampir separo gaji harian yang Rp20.000 itu dihabiskan untuk ongkos perjalanan.

Dia bercerita, majikannya sering membawakan makanan dan perlengkapan sekolah untuk cucu kembarnya. Bahkan, siang itu, dengan bangga, ia menunjukkan dua pasang kaos kaki putih dan tempat pensil murah meriah yang terbungkus tas kresek hitam dari majikannya. “Majikan perempuan sebenarnya kasihan sama saya, sudah tua harus kerja. Udah gitu rumahnya jauh lagi. Tapi saya bilang, kalau saya diberhentikan, anak cucu saya makan apa?” Plak! Tamparan pertama seakan mendarat di pipi saya. Setahun terakhir saya merajuk ingin berhenti bekerja hanya gara-gara masalah kantor yang carut marut dan berhasil memarut tingkat kewarasan saya. Dengan ego setinggi Monas tumpuk tujuh, saya bersikeras mundur meski bakal miskin mendadak karena tak lagi terima duit. Kalimat si ibu langsung terngiang, tapi kali ini dengan dubbing suara saya, “Nanti saya dan orang tua saya makan apa?” Jleb!

“Setiap pekerjaan selalu ada masalah, mbak” kata si ibu, seakan bisa membaca pikiran saya. Mungkin di jidat saya ada tulisan Lagi Banyak Masalah. Si ibu melanjutkan ceritanya, bagaimana dia sebenarnya sudah tidak mampu lagi berdiri lama saat menyetrika baju dan kakinya yang sering pedih terkena air bekas cucian. Untung si majikan yang budiman tahu diri, tak seperti oknum majikan garang yang sering menyiksa TKW di luar negeri sono. Si ibu hanya mencuci dan menyetrika baju harian, sisanya di-laundry atau dicuci sendiri oleh si anak majikan dengan mesin cuci canggihnya. Itu pun berselang-seling, hari ini si bu mencuci, besok menyetrika, dan seterusnya. “Memang ibu masih kuat bekerja?” tanya saya, menyelidik. Saya tak yakin dengan penampilan ringkih di balik baju muslimah amat sederhana itu. “Ya dikuat-kuatin lah mbak. Saya kerja juga banyak dibantu sama tangan-tangan yang nggak kelihatan, mbak. Niat ingsun saja. Bismillah,” kata dia. Plak! Tamparan kedua seakan mendarat di pipi. Aduh, ibu, cukuupp.. cukuuupp.. Teriak batin saya.

Dia bilang tangan-tangan yang nggak kelihatan itu yang membantunya masuk gerbong kereta kelas ekonomi super penuh, meringankan langkah kakinya ke rumah majikan, melancarkan pekerjaannya, hingga memberinya rejeki yang tak diduga-duga. Ia memamerkan tas kresek putih yang dibawanya, “Ini barusan ada ibu-ibu ngasih saya mangga. Cucu saya pasti senang.”  Katanya, ibu-ibu ini mengaku sering bertemu dengannya di stasiun Kota. Oh, ibu, mungkin pemberi buah itu adalah seorang malaikat.

“Rejeki sudah ada yang mengatur, mbak,” kata si ibu, dengan senyum sumringah. Ia melanjutkan, Gusti Allah selalu paring rejeki dari pintu yang tak terduga. Kadang apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Tapi kita justru mendapatkan lebih dari yang kita harapkan. “Kalau itu rejeki kita, mau dikorupsi sama orang lain, kita pasti dapat gantinya,” kata si ibu, yang saya yakin juga enek dengan berita korupsi pejabat. Gusti Allah sudah mengatur rejeki, jodoh, dan mati manusia, lanjut dia. Tangan-tangan yang tidak kelihatan itulah yang bekerja, memberi kita rejeki atau memberikan jalan mendapatkan rejeki.

Percakapan terus berlanjut. Dengan hati dan pikiran yang seakan dikucek-kucek, saya mendengarkan obrolan si ibu dengan saksama. Namun, begitu mendengar pengumuman kereta AC jurusan Depok akan tiba, saya segera minta ijin untuk menuju peron. Ia mengatakan harus menunggu 10 menit lagi untuk jadwal keberangkatan kereta ekonomi Bekasi pukul 15.15. Bukan tak ingin menemaninya lebih lama, buru-buru saya ijin pulang karena sudah ada cairan yang mulai menggenangi sudut mata.

Bahasan mata kuliah Invisible Hand disampaikan tepat 30 menit. Ibu ‘dosen’ yang kebetulan tukang cuci korban gempa itu benar-benar menyampaikan materi kuliah dengan studi kasus yang nyata. Kalau saya ibarat baju yang ia cuci, mungkin saya udah digiles berulang kali di penggilesan, dicelup ke air sabun berulang-ulang, dikucek, diperas, dan dijemur di terik matahari sebelum disemprot Trika dan disetrika. Benak yang tadinya menghitam jadi putih kembali. Entah mengapa langkah saya menuju kereta menjadi lebih ringan. Terima kasih, ibu. Ketika saya menengok ke arah kursi tunggu, si ibu masih di sana dan memberikan senyum terbaiknya. Mungkin dia malaikat. Mungkin dia God’s invisible hand yang membimbing saya. Siapa tahu.


Catatan:
Invisible hand merupakan pemikiran ekonomi modern dari Adam Smith dalam The Wealth of Nations, pada 1776. Adam Smith menyatakan bahwa sebuah sistem besar akan mengatur dirinya sendiri, dengan aktivitas masing-masing, tanpa harus mendapatkan arahan tertentu. Pemikiran invisible hand masih menjadi pusat gagasan ekonomi pasar dan kapitalisme hingga saat ini.

 
1 Comment

Posted by on November 27, 2012 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

One response to “The Invisible Hand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: