RSS

Monthly Archives: December 2012

If Tomorrow Never Comes

ImageMenurut ramalan Suku Maya, hari ini 21 Desember 2012 adalah jadwalnya Kiamat. Sebagai orang yang lahir jebret sebagai Suku Jawa, saya gak percaya ramalan suku sebelah. Saya kok melihat “jadwal kiamat” hari ini sengaja dihembuskan untuk pengalihan isu di suatu wilayah tertentu atau demi aktivitas komersial semata. Masa bodoh kalo saya dianggep sebagai penganut conspiracy theory. Tapi soal kiamat hari ini, besok, atau lusa, saya ikuti jadwal yang sudah dipatok Kanjeng Gusti mawon.

Setahun terakhir, beberapa kanal saluran TV berbayar rajin menayangkan program yang berkaitan dengan Doomsday alias End of the World alias Kiamat. Bagi saya, tak perlu muluk-muluk mempersiapkan stok makanan setahun penuh di bunker. Kalau emang jatahnya mati ya mati aja, jatahnya kiamat ya kiamat aja. The end of story. Potensi kemungkinan itu ada. Bahkan harus ada karena pada akhirnya semesta memang harus dikembalikan kepada si Empunya Kehidupan.

Tapi, bagaimana jika setelah saya mengunggah artikel ini lalu tiba-tiba langit runtuh? If tomorrow never comes, what would you do? Saya memang bukan seorang religius, tapi setidaknya saya tahu indahnya bersyukur padaNya atas segala yang Ia berikan kepada kita, apapun itu. Ketika tengadah ke langit, kita bisa melihat betapa ajaibnya ‘atap dunia itu’ bisa berubah warna dari biru terang, jingga, keunguan, hingga kemudian menghitam dan ada pendar perak di atas sana. Ketika kita melihat hujan, kita melihat betapa luar biasanya ada air yang jatuh begitu saja dari langit. Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Kalau seluruh keajaiban alam saya tulis semua, bisa-bisa blog ini akan jadi buku pegangan mata pelajaran Sains dasar.

Apa yang kita lihat Biasa saat ini, bukan tidak mungkin akan menjadi Luar Biasa puluhan atau ratusan tahun lagi. Gak usah jauh-jauh, dulu kita masih bisa melihat sungai berair bening. Bahkan ada kawan yang mengaku belajar berenang d kali saat masih kecil. Tapi, sekarang mana bisa? Semua buthek. Udah gitu bau dan banyak sampah mengapung di sana. Lalu, gimana sungai 10 tahun lagi? Jadi bak sampah raksasa? Dulu, kalau malam saya bisa melihat banyak bintang di langit. Sekarang bisa nemu lima bintang di langit udah bersyukur banget. Langit makin buthek. Kalau pake istilah orang desain, black-nya gak 100%. Saya baru bisa lihat taburan bintang kalau berada di tempat yang jauh dari sumber polusi. Segitu parahnya ya bok?

Bisa jadi kiamat terjadi bukan karena meteor seukuran 10 lapangan bola yang bakal nabrak Bumi (tapi kalo memang demikian, kirim aja orang-orang migas yang jago drilling untuk ngledakin meteor kayak di film Armageddon itu hehehe..). Bukan karena planet Nibiru iseng mencium Bumi yang biru. Bukan pula karena puluhan gunung api yang meletus berbarengan, atau gempa yang kompak menggoyang bumi. Bisa jadi kiamat terjadi secara perlahan. Pada suatu ketika, Mother Earth takkan lagi bisa memangku anak-anaknya dengan penuh kasih sayang karena kita telah menyakitinya berulang kali, tanpa kita sadari..

Forget not that the earth delights to feel your bare feet and the winds long to play with your hair. (Khalil Gibran)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2012 in Random Thought

 

Tags: , ,

Sayang Masih So Young

yang mudaSaya ingat persis ketika masuk SD usia saya baru menginjak enam tahun. Waktu itu, haram hukumnya bagi anak yang belum berusia tujuh tahun untuk bisa duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak patah arang, ayah saya melakukan satu hal yang menurut saya WOW banget.. Beliau membuatkan akta kelahiran “aspal”! Yup, usia saya dituakan satu tahun agar saya bisa masuk SD.

Singkat cerita, saya bisa masuk SD favorit. Bisa mengikuti pelajaran. Bisa jadi ketua kelas. Bisa jadi juara kelas. Tak ada yang mempermasalahkan tahun lahir di rapor hingga suatu ketika eyang saya mencak-mencak. Mungkin kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kekinian bunyinya bakal begini, “Gimana ceritanya kamu lahir Agustus 1979? Orang tua kamu aja baru married November 1979. Memang kamu lahir sebelum ortu kamu nikah?” Ups, dianggep anak di luar nikah nih saya.

Akhirnya, tahun kelahiran di rapor saya pun dikoreksi.  Manajemen sekolah yang tadinya bersikukuh siswa yang masuk harus berusia tujuh tahun atau lebih menjadi luluh dan memberi kelonggaran. Toh saya bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan selalu mencapai angka jauh di atas rata-rata kelas. Secara resmi, jadilah saya Siswa Termuda.

Sejarah menjadi yang termuda tak berakhir di situ. Ketika kuliah, saya mengulangi prestasi serupa. Saya hanya butuh 3,5 tahun untuk meraih gelar kesarjanaan dengan nilai di atas rata-rata. Jadilah saya menjadi salah satu Wisudawan Termuda.

Begitu juga ketika bekerja. Suatu ketika, manajemen kantor sedang kesambit malaikat. Sekali dalam sejarah (lebay, tak perlu dikonfirmasi), mereka mengadakan sebuah acara yang isinya bagi-bagi hadiah untuk karyawan. Mulai dari karyawan dengan masa kerja terpanjang, paling setia berada di satu divisi, paling tua, paling muda, hingga karyawan dengan minus kaca mata paling tinggi. Waktu itu saya ikutan naik ke atas panggung untuk mendapatkan kado untuk gelar Karyawan Termuda.

Lagi-lagi, sejarah menjadi yang termuda berulang kembali. Pakbos mempercayai saya untuk memimpin sebuah penerbitan pers. Jadilah saya Pemred Termuda. Usia belum genap 30 tahun, tapi sudah membawahi staf yang usianya ada yang dua kali lipat usia saya. Di masa awal kepemimpinan, tak ada masalah berarti. Everything is under control. Seiring berjalannya waktu, masalah mulai muncul. Ah, masalah selalu ada di tiap pekerjaan (mengutip tukang cuci yang berhasil menerangkan teori “The Invisible Hand” di Stasiun Kota).

Namun, pada suatu ketika gelar Termuda benar-benar menyulitkan saya. Ada yang tak suka gaya kepemimpinan saya. Entah benar-benar tak suka gaya kepemimpinan atau tak suka dipimpin orang yang lebih muda, saya tak tahu. Ada yang meremehkan strategi yang saya susun, kebijakan yang saya ambil, you name it.

Ketika keputusan yang saya ambil memberikan dampak positif, dianggap berkah. Alhamdulillah ya sesuatu. Tapi, begitu keputusan yang saya ambil memberikan dampak negatif, jedaarrr… Tudingan mengenai umur, ketidakbecusan, ketidakbijaksanaan, kekurangpengalaman menjadi jampi-jampi untuk memojokkan diri saya, persis seperti tikus di pojokan tembok yang ditodong bazooka.  Tembakkan bazooka sekali maka yang luluh lantak tak hanya si tikus, tapi juga tembok dibelakangnya. Udah mati gosong, kerubuhan tembok pula. Apes.

Tapi, apakah salah menjadi anak muda? Apakah salah menjadi yang termuda? Apakah salah menjadi pemimpin di usia muda? Apakah salah ketika yang muda harus memimpin mereka yang usianya lebih tua? Apakah si pemimpin muda ini harus terus-terusan berhasil agar kepemimpinannya diakui? Apakah anak muda tak boleh salah? Apakah anak muda tak boleh gagal?

Memang, saya mengakui saya memiliki banyak kekurangan. Saya baru sanggup mengelola emosi setahun terakhir. Saya masih suka jiper ketika harus bertemu orang banyak, karena sebetulnya saya ini pemalu bin introvert  (haqqul yaqqin banyak yang protes hehehe..). Saya belum banyak makan asam garam di dunia bisnis. Saya masih harus banyak meng-upgrade pengetahuan dan pengalaman. Saya masih harus banyak belajar. Saya mengaku belum mencapai tingkat kebijaksanaan setara dewa-dewa di langit.

Pengalaman saya, ketika menjadi yang termuda kita harus bekerja dua kali lebih keras. Ini bukan soal intelegensia, tapi lebih kepada pembuktian: ini bukan soal umur, cyn. Meyakinkan yang saya raih ini bukan soal nasib baik a.k.a keberuntungan saja, ada kerja keras di belakangnya. Menurut pengalaman saya yang masih muda belia ini, dalam kepemimpinan selalu ada problematikanya. Gak mudah bagi seorang pimpinan untuk menyikapi segala sesuatu yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Apalagi saat menghadapi realitas yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ujian maha pelik bagi seorang pemimpin, apalagi buat pemimpin yang masih bau kencur dan yang dipimpin usianya berlipat-lipat, adalah ketika kita menghadapi situasi yang tidak nyaman, baik itu konflik dengan diri sendiri maupun konflik yang terjadi dalam institusi yang dipimpinnya.

Menurut profesor Robert J. Sternberg, istilah bijak atau wisdom diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan kecerdasan dan pengalamannya untuk mencapai kebaikan dan keseimbangan antara intrapersonal, kepentingan pribadi, dan ekstrapersonal. Kemampuan-kemampuan tadi wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Sternberg tidak pernah mengklaim wisdom melulu berkaitan dengan age.

Oleh karena ini bukan blog ajang bela diri, saya mengaku disamping pernah mencapai segala keberhasilan, saya juga pernah mengalami kegagalan. Saya cuma manusia biasa. Bukan dewa. Akan tetapi, yang pasti, segala kegagalan (dan begitu juga keberhasilan) yang saya alami itu adalah serangkaian pembelajaran agar saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi di masa depan — catat: manusia ya, bukan dewa! Proses never ending learning inilah yang akan menjadikan saya lebih objektif ketika menghadapi segala masalah (yang kadang bikin miris dan hati teriris-iris).

“Wisdom doesn’t automatically come with old age. Nothing does – except wrinkles. It’s true, some wines improve with age. But only if the grapes were good in the first place.” (Anonymous)

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , ,

Menghitung Hari

langkah-kaki Ketika seorang pasien divonis hanya memiliki waktu hidup kurang dari setahun, karena sakit yang dideritanya, ia akan cenderung menikmati dan mengisi waktu yang tersisa sebaik-baiknya. Entah itu makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menghabiskan quality time dengan keluarga, atau melakukan hal-hal yang belum sempat dilakukan — seperti di film The Bucket List itu tuh. Berharap ada 72 jam dalam sehari agar jatah hidup bisa lebih lama.

Sebaliknya, seorang narapidana yang menunggu waktu pembebasan akan cenderung berharap waktu cepat berlalu. Kalau perlu cukup ada 6 jam dalam sehari. Wuzz wuzz wuzz ujug-ujug moro-moro tiba-tiba udah dibebaskan. Setelah keluar dari penjara, ia bisa bebas melakukan segala sesuatunya. Entah itu mempersiapkan aksi kejahatan berikutnya atau benar-benar ingin mengabdi pada bangsa dan negara — sebagai tebusan akan kesalahan di masa lalu. Tobat.

Keduanya memiliki kesamaan: menghitung hari. Yang satu menghitung hari untuk bertemu Sang Pencipta, yang satu menghitung hari untuk bertemu mereka yang dicinta. Ada target. Ada kepastian waktu — meski kita tahu tak ada yang tahu persis kapan tanggal kita akan meninggal dunia. Ada kejelasan di situ, mau mati atau mau hidup bebas. Ada pengharapan di situ.

Lalu, bagaimana dengan seseorang dengan kondisi yang tak memiki kepastian, kejelasan, dan harapan? Ngapain menghitung hari? Memangnya mau bertemu siapa? Memangnya abis ini mau melakukan apa? Diakui atau tidak, kita pasti pernah merasakan menghadapi situasi seperti ini. Gamang. What will be will be lah. Pasrah. Mau waktu berjalan lambat atau cepat, terserah.

Memang, sungguh tidak nyaman hidup dalam ketidakpastian. Sungguh tidak nyaman hidup tanpa tahu kondisi di depan. Ibaratnya, lebih baik kita berada di kondisi ekstrem, seperti si pasien yang udah tahu bakal mati atau si narapidana yang udah tau bakal bebas. Clear.

Saya bukan motivator super hebat yang selalu punya nasihat super indah. Saya juga bukan wanita karir super keren yang selalu punya target, to-do list yang rapi, dan punya stok semangat setinggi langit sap tujuh. Saya cuma manusia separuh. Tapi, saya meyakini satu hal: ketika otak tak lagi bisa merasionalisasi segala hal, dengarkan hati. Biarkan ia mengayun langkah kaki kita..

“Wherever you go, go with all your heart.” (Confucius)

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2012 in Random Thought

 

Tags: