RSS

Menghitung Hari

13 Dec

langkah-kaki Ketika seorang pasien divonis hanya memiliki waktu hidup kurang dari setahun, karena sakit yang dideritanya, ia akan cenderung menikmati dan mengisi waktu yang tersisa sebaik-baiknya. Entah itu makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menghabiskan quality time dengan keluarga, atau melakukan hal-hal yang belum sempat dilakukan — seperti di film The Bucket List itu tuh. Berharap ada 72 jam dalam sehari agar jatah hidup bisa lebih lama.

Sebaliknya, seorang narapidana yang menunggu waktu pembebasan akan cenderung berharap waktu cepat berlalu. Kalau perlu cukup ada 6 jam dalam sehari. Wuzz wuzz wuzz ujug-ujug moro-moro tiba-tiba udah dibebaskan. Setelah keluar dari penjara, ia bisa bebas melakukan segala sesuatunya. Entah itu mempersiapkan aksi kejahatan berikutnya atau benar-benar ingin mengabdi pada bangsa dan negara — sebagai tebusan akan kesalahan di masa lalu. Tobat.

Keduanya memiliki kesamaan: menghitung hari. Yang satu menghitung hari untuk bertemu Sang Pencipta, yang satu menghitung hari untuk bertemu mereka yang dicinta. Ada target. Ada kepastian waktu — meski kita tahu tak ada yang tahu persis kapan tanggal kita akan meninggal dunia. Ada kejelasan di situ, mau mati atau mau hidup bebas. Ada pengharapan di situ.

Lalu, bagaimana dengan seseorang dengan kondisi yang tak memiki kepastian, kejelasan, dan harapan? Ngapain menghitung hari? Memangnya mau bertemu siapa? Memangnya abis ini mau melakukan apa? Diakui atau tidak, kita pasti pernah merasakan menghadapi situasi seperti ini. Gamang. What will be will be lah. Pasrah. Mau waktu berjalan lambat atau cepat, terserah.

Memang, sungguh tidak nyaman hidup dalam ketidakpastian. Sungguh tidak nyaman hidup tanpa tahu kondisi di depan. Ibaratnya, lebih baik kita berada di kondisi ekstrem, seperti si pasien yang udah tahu bakal mati atau si narapidana yang udah tau bakal bebas. Clear.

Saya bukan motivator super hebat yang selalu punya nasihat super indah. Saya juga bukan wanita karir super keren yang selalu punya target, to-do list yang rapi, dan punya stok semangat setinggi langit sap tujuh. Saya cuma manusia separuh. Tapi, saya meyakini satu hal: ketika otak tak lagi bisa merasionalisasi segala hal, dengarkan hati. Biarkan ia mengayun langkah kaki kita..

“Wherever you go, go with all your heart.” (Confucius)

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2012 in Random Thought

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: