RSS

Sayang Masih So Young

13 Dec

yang mudaSaya ingat persis ketika masuk SD usia saya baru menginjak enam tahun. Waktu itu, haram hukumnya bagi anak yang belum berusia tujuh tahun untuk bisa duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak patah arang, ayah saya melakukan satu hal yang menurut saya WOW banget.. Beliau membuatkan akta kelahiran “aspal”! Yup, usia saya dituakan satu tahun agar saya bisa masuk SD.

Singkat cerita, saya bisa masuk SD favorit. Bisa mengikuti pelajaran. Bisa jadi ketua kelas. Bisa jadi juara kelas. Tak ada yang mempermasalahkan tahun lahir di rapor hingga suatu ketika eyang saya mencak-mencak. Mungkin kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kekinian bunyinya bakal begini, “Gimana ceritanya kamu lahir Agustus 1979? Orang tua kamu aja baru married November 1979. Memang kamu lahir sebelum ortu kamu nikah?” Ups, dianggep anak di luar nikah nih saya.

Akhirnya, tahun kelahiran di rapor saya pun dikoreksi.  Manajemen sekolah yang tadinya bersikukuh siswa yang masuk harus berusia tujuh tahun atau lebih menjadi luluh dan memberi kelonggaran. Toh saya bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan selalu mencapai angka jauh di atas rata-rata kelas. Secara resmi, jadilah saya Siswa Termuda.

Sejarah menjadi yang termuda tak berakhir di situ. Ketika kuliah, saya mengulangi prestasi serupa. Saya hanya butuh 3,5 tahun untuk meraih gelar kesarjanaan dengan nilai di atas rata-rata. Jadilah saya menjadi salah satu Wisudawan Termuda.

Begitu juga ketika bekerja. Suatu ketika, manajemen kantor sedang kesambit malaikat. Sekali dalam sejarah (lebay, tak perlu dikonfirmasi), mereka mengadakan sebuah acara yang isinya bagi-bagi hadiah untuk karyawan. Mulai dari karyawan dengan masa kerja terpanjang, paling setia berada di satu divisi, paling tua, paling muda, hingga karyawan dengan minus kaca mata paling tinggi. Waktu itu saya ikutan naik ke atas panggung untuk mendapatkan kado untuk gelar Karyawan Termuda.

Lagi-lagi, sejarah menjadi yang termuda berulang kembali. Pakbos mempercayai saya untuk memimpin sebuah penerbitan pers. Jadilah saya Pemred Termuda. Usia belum genap 30 tahun, tapi sudah membawahi staf yang usianya ada yang dua kali lipat usia saya. Di masa awal kepemimpinan, tak ada masalah berarti. Everything is under control. Seiring berjalannya waktu, masalah mulai muncul. Ah, masalah selalu ada di tiap pekerjaan (mengutip tukang cuci yang berhasil menerangkan teori “The Invisible Hand” di Stasiun Kota).

Namun, pada suatu ketika gelar Termuda benar-benar menyulitkan saya. Ada yang tak suka gaya kepemimpinan saya. Entah benar-benar tak suka gaya kepemimpinan atau tak suka dipimpin orang yang lebih muda, saya tak tahu. Ada yang meremehkan strategi yang saya susun, kebijakan yang saya ambil, you name it.

Ketika keputusan yang saya ambil memberikan dampak positif, dianggap berkah. Alhamdulillah ya sesuatu. Tapi, begitu keputusan yang saya ambil memberikan dampak negatif, jedaarrr… Tudingan mengenai umur, ketidakbecusan, ketidakbijaksanaan, kekurangpengalaman menjadi jampi-jampi untuk memojokkan diri saya, persis seperti tikus di pojokan tembok yang ditodong bazooka.  Tembakkan bazooka sekali maka yang luluh lantak tak hanya si tikus, tapi juga tembok dibelakangnya. Udah mati gosong, kerubuhan tembok pula. Apes.

Tapi, apakah salah menjadi anak muda? Apakah salah menjadi yang termuda? Apakah salah menjadi pemimpin di usia muda? Apakah salah ketika yang muda harus memimpin mereka yang usianya lebih tua? Apakah si pemimpin muda ini harus terus-terusan berhasil agar kepemimpinannya diakui? Apakah anak muda tak boleh salah? Apakah anak muda tak boleh gagal?

Memang, saya mengakui saya memiliki banyak kekurangan. Saya baru sanggup mengelola emosi setahun terakhir. Saya masih suka jiper ketika harus bertemu orang banyak, karena sebetulnya saya ini pemalu bin introvert  (haqqul yaqqin banyak yang protes hehehe..). Saya belum banyak makan asam garam di dunia bisnis. Saya masih harus banyak meng-upgrade pengetahuan dan pengalaman. Saya masih harus banyak belajar. Saya mengaku belum mencapai tingkat kebijaksanaan setara dewa-dewa di langit.

Pengalaman saya, ketika menjadi yang termuda kita harus bekerja dua kali lebih keras. Ini bukan soal intelegensia, tapi lebih kepada pembuktian: ini bukan soal umur, cyn. Meyakinkan yang saya raih ini bukan soal nasib baik a.k.a keberuntungan saja, ada kerja keras di belakangnya. Menurut pengalaman saya yang masih muda belia ini, dalam kepemimpinan selalu ada problematikanya. Gak mudah bagi seorang pimpinan untuk menyikapi segala sesuatu yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Apalagi saat menghadapi realitas yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ujian maha pelik bagi seorang pemimpin, apalagi buat pemimpin yang masih bau kencur dan yang dipimpin usianya berlipat-lipat, adalah ketika kita menghadapi situasi yang tidak nyaman, baik itu konflik dengan diri sendiri maupun konflik yang terjadi dalam institusi yang dipimpinnya.

Menurut profesor Robert J. Sternberg, istilah bijak atau wisdom diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan kecerdasan dan pengalamannya untuk mencapai kebaikan dan keseimbangan antara intrapersonal, kepentingan pribadi, dan ekstrapersonal. Kemampuan-kemampuan tadi wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Sternberg tidak pernah mengklaim wisdom melulu berkaitan dengan age.

Oleh karena ini bukan blog ajang bela diri, saya mengaku disamping pernah mencapai segala keberhasilan, saya juga pernah mengalami kegagalan. Saya cuma manusia biasa. Bukan dewa. Akan tetapi, yang pasti, segala kegagalan (dan begitu juga keberhasilan) yang saya alami itu adalah serangkaian pembelajaran agar saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi di masa depan — catat: manusia ya, bukan dewa! Proses never ending learning inilah yang akan menjadikan saya lebih objektif ketika menghadapi segala masalah (yang kadang bikin miris dan hati teriris-iris).

“Wisdom doesn’t automatically come with old age. Nothing does – except wrinkles. It’s true, some wines improve with age. But only if the grapes were good in the first place.” (Anonymous)

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: