RSS

Berita Kepada Kawan

17 Jan

Saya suka lagu-lagu Ebiet G. Ade. Liriknya yang sederhana memiliki makna yang mendalam. Selain itu, lagu-lagu Ebiet selalu mengingatkan pada ayah saya. Di masa mudanya, ayah saya merupakan fans berat Ebiet. Ia mengoleksi puluhan album, yang masih berbentuk kaset, dan tiada bosan memutar di tape jadul milik keluarga kami. Mungkin, gara-gara itu saya jadi kebawa suka.

Ebiet G. Ade merupakan penyanyi yang jarang muncul di televisi, apalagi di acara musik pagi yang isinya para ababil itu. Meski demikian banyak orang mengenal karya-karyanya. Entah mengapa, lagu Berita Kepada Kawan milik om Ebiet selalu diputar saat saat Indonesia tertimpa bencana alam. Mungkin, para editor televisi swasta itu merasa lirik lagu Berita Kepada Kawan cukup tepat untuk mewakili kondisi terburuk yang menimpa umat manusia.

Berikut lirik lagu Berita Kepada Kawan:

Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Penyanyi yang memiliki nama asli Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far ini menciptakan lirik lagu Berita Kepada Kawan pada Juni 1978, sesaat setelah bencana gas beracun melanda Dataran Tinggi Dieng. Sejak saat itu, lagu Berita Kepada Kawan sering dijadikan OST berita bencana alam, termasuk bencana banjir besar yang melanda Ibukota beberapa hari ini.

Namun, yang menjadi ganjalan, banjir yang membuat jutaan warganya tak lagi punya tempat tinggal ini tidak semata terjadi karena alam yang mengamuk. Tapi juga ada faktor kelalaian manusia. Di pintu air Manggarai, misalnya, ada kasur dan sofa yang mengambang di sungai! Segitunya ya manusia Jakarta.. Sungai sudah menjadi bak sampah raksasa. Apa aja bisa dibuang di sungai.

Selain itu, pemerintah DKI Jakarta – di kepemimpinan Gubernur sebelum Jokowi, lebih tepatnya– sepertinya tidak pernah mengurusi drainase kota, apalagi mengeruk sungai-sungai yang di tepiannya sudah didiami jutaan warga. Lahan-lahan terbuka yang seharusnya menjadi tempat resapan air justru dibangun pusat-pusat perbelanjaan atau perumahan.

Dengan diputarnya lagu tersebut, seakan-akan kita mengatakan bahwa bencana terjadi karena faktor alam yang beringas. Faktor Tuhan yang sedang murka. Bukankah ada faktor manusia yang lalai dalam bencana banjir yang melanda Ibukota hari ini? Ya, curah hujan memang tinggi, badai memang terjadi, tapi air tidak sekonyong-konyong menerobos dan menggenangi Jakarta jika sungai dan saluran air tidak tersumbat.

Mungkin, kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang untuk mendapatkan jawaban kapan banjir akan berhenti mendekap Jakarta…

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: