RSS

Sebetis, Sedengkul, Sepaha

17 Jan

Evakuasi korban banjir JakartaOrang Indonesia memang cerdas dan kreatif. Bahkan, cenderung suka break the rule. Bila di negara lain ketinggian air banjir diukur dengan centimeter atau meter, orang kita punya ukuran sendiri. Tak percaya? Coba saja simak para penyiar yang rajin memperkenalkan satuan ukuran terbaru. Banjir terendah akan ditandai dengan kata semata kaki. Lebih tinggi dari semata kaki adalah sebetis. Berikutnya berturut-turut sedengkul (atau selutut), sepaha, sepinggang, sedada, dan seleher. Adapun ukuran banjir paling tinggi adalah seatap rumah.

Untuk ukuran yang berkaitan dengan bagian tubuh (sebetis, sedengkul, sepaha, dan sebagainya) biasanya akan diikuti embel-embel “orang dewasa”. Hal ini untuk menghindari kebingungan, sedengkul orang dewasa atau sedengkul anak kecil ya? Pasti bakalan beda ketinggian airnya. Sedengkul orang dewasa bisa jadi setara dengan sedada anak kecil.

Bagi penikmat blog naningisme yang kebetulan kurang paham dengan ukuran ketinggian banjir paling mutakhir versi penyiar berita televisi, berikut padanan ukurannya:

Semata kaki = sekitar 5-10 cm
Sebetis = sekitar 15-20 cm
Sedengkul (selutut) = sekitar 40-50 cm
Sepaha = sekitar 60-70 cm
Sepinggang = sekitar 80-90 cm
Sedada = sekitar 100-120 cm
Seleher = sekitar 140-150 cm
Seatap rumah = sekitar 3-4 meter

Ukuran tersebut memang tidak akurat. Tapi, bagi orang Indonesia mungkin lebih mudah membayangkan ketinggian air yang Sebetis daripada harus mengkira-kira 20 cm itu setinggi apa. Oya, ukuran sebetis sering juga dipadankan separo ban mobil. Kreatif bukan? Harus diakui kemampuan analogi matematis para penyiar televisi (dan penonton televisi) di negeri ini jauuuhhh di atas rata-rata.

Baidewei, kok saya jadi teringat satuan ukuran yang dipakai di jaman Majapahit ya? Sedepa, sehasta, selemparan batu…

 
2 Comments

Posted by on January 17, 2013 in Random Thought

 

Tags:

2 responses to “Sebetis, Sedengkul, Sepaha

  1. gojin

    January 27, 2014 at 12:05 pm

    jadi kalau banjir, saya harus bawa2 penggaris besi gitu tuk mengabari keadaan kl ada yg tanya kondisi banjir yg saya alami ? No thanks deh..

     
  2. naningisme

    January 27, 2014 at 12:15 pm

    Bukan begitu konteksnya mas, saya mengkritisi penyiar televisi ketika memberitakan berita bencana. bukan untuk masyarakat awam yang kudu bawa-bawa penggaris besi🙂

    Nantinya, para penyiar itu yang harus mengkonversi keterangan warga (korban banjir) kepada para pemirsa bahwa ketinggian banjir sekian centimeter atau sekian meter. Sebab ini adalah tugas jurnalis untuk memberikan berita secara akurat.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: